
Masuk rumah besar Yudi membawa Mobil dari pintu belakang, di sisi sebelah kamar Bram. Karena itu area privasi jadi tidak ada pengunjung yang diperbolehkan masuk ke sana. Lagian di sekat dengan pagar besi dan kawat ditambah tanaman Mawar berduri keliling taman.
Dua pria konyol masuk buru buru lewat jendela kamar Bram, walau kesal mau gak mau ia harus setuju kamarnya jadi perlintasan karena dua pria konyol itu gak mau disuruh lewat pintu dapur.
Beno dan Yudi berebutan hendak masuk toilet.
"Siapa yang mengijinkan kalian menggunakan toiletku." sergah Bram.
"Maaf, sudah kebelet." jawab Beno mendorong Yudi menerobos masuk duluan.
Sementara Yudi mengalah, ia keluar langsung ngacir ke kamarnya yang berada di pojok lorong agak jauh dari kamar Bram. Hampir saja ia terkencing di celana.
Sedangkan Laras dan Marissa melalui pintu dapur saling diam. Marissa mencari Papinya Arjit sementara Laras menuju ruang keluarga, menyalakan tv layaknya rumah sendiri. Laras kagum dengan televisi di rumah besar, gedenya seperti layar bioskop sinema.
Tinggal Bram dan Kiara, dengan Beno yang masih di toilet.
"Sayang, gimana masih sakit, aku panggilkan dokter ya." ujar Bram mengambil ponsel ingin membuat panggilan pada dokter keluarganya.
Kiara menahan tangan suaminya.
"Telpon ibu saja Ka, biar dipanggil tukang urut. Sekalian mau urut perut kenapa haidnya macet-macet gak lancar."
Bram mengerutkan dahi. "Begitu, yang urut laki-laki atau perempuan?" tanya Bram.
"Bi Hana, ya pere kakak." jawab Kiara mentoel hidung Bram, sempat-sempatnya dia cemburu.
"Kalau gitu berapa nomornya?" tanya Bram.
Gak lama Beno keluar dari kamar mandi, mendengar percakapan Bram dan Kiara, ia bicara. "Biar saya panggil Lucita, Kiara. Dia ahli dalam mengurut." ujar nya.
Bram menoleh menatap Beno. "Bagaimana kamu tau, apa kamu sering diurut nya?" tanya nya sinis.
"Bukan, selain ahli beladiri Lucita juga belajar cara mengurut." jelas Beno.
"Sana kamu keluar, jangan alasan!" sergah Bram gak senang.
"Hei, jangan marah-marah! Baiklah aku keluar, terima kasih kamar mandinya." ujar Beno menatap sedih Kiara.
"Kiara, aku hanya ingin membantu. Lucita akan menjemput aku di sini kamu bisa minta dia mengurut kamu nanti."
Selesai berkata Beno keluar meninggalkan Bram dan Kiara.
Lagian aku gak tahan lama-lama di kamar ini, kalau bukan karena kebelet pipis. Aku gak sanggup membayangkan hal hal erotis yang terjadi antara Kiara dan suaminya.
Dalam hati Beno, di lorong ia bertemu dengan Yudi yang ternyata sudah selesai juga dengan urusannya.
"Wah, kerja bagus bro." ujar Beno menepuk bahu Yudi sok akrab.
__ADS_1
Tentu Yudi tau maksudnya adalah tentang ciuman tadi. Yudi hanya cengengesan, mereka berdua berjalan menuju ruang keluarga.
Setelah Beno keluar, Bram melucuti pakaian Kiara hanya meninggalkan cdnya. Ia memeriksa tubuh istrinya, ada memar di bagian panggulnya.
Aku akan membuat perhitungan nanti,
Dalam hati Bram merasa miris sekaligus marah pada dua gadis yang berantam.
"Sayang sebentar ya." ujar Bram berjalan ke laci nakasnya, ia membawa medikal kit mengeluarkan balsam berwarna hijau tua.
"Ini obat apa Bram, warnanya aneh." tanya Kiara.
"Ini obat lebam sayang, gak ada rasa apa-apa. Balsam nya dingin, coba Kamu telungkup." ujar Bram.
Bram mengoles Balsam dengan lembut di panggul Kiara, menelan ludahnya melihat pantat istrinya seketika di tubuhnya ada yang gelisah.
Setelah memoles balsam, di usapnya pangkal paha dalam Kiara.
"Sayang, aku pingin masuk." desis nya merengek.
Bram merengsek menindih kiara, menciumi tengkuk dan punggung istrinya menyelipkan tangan di dadanya.
Ah, Kiara memutar bola mata malas, "Sayang kunci dulu pintunya, di luar banyak tamu." serunya pada suami omes nya itu.
Ia tidak ingin kejadian saat Mama Alisha memergoki mereka ciuman, terulang lagi. Cukup satu kali dan itu sangat memalukan.
"Siapa yang berani masuk sayang, paling juga Mama." desis Bram masih mager dari punggung istrinya.
Kiara dapat merasakan suaminya yang sudah bergairah, napas rendah dan berat di tengkuknya. Kiara merinding saat Bram mengunyah daun telinganya dengan tangan yang bermain di dadanya.
Ah, jangan sampai khilaf, masih pms sialnya!
"Dilihat Mama juga malu, sayang kunci dulu pintunya ya." mohon Kiara lagi sambil berusaha berbalik badan ingin melepaskan diri dari timpaan Bram di punggungnya.
Namun si omes Bram sudah pewe di atas punggung istrinya. Tubuhnya melengkung semakin mengeratkan dekapannya. Gerakannya maju mundur di bokong Kiara.
Ah si omes ini. Dikiranya gak berat apa, dalam hati Kiara
"Sayang bangun dulu, panggulku bisa patah."
Mendengar itu barulah Bram berhenti, susah payah berguling ke kasur di samping Kiara menghempaskan tubuhnya.
Hah!
"Nanti aku minta Mama ganti pintu jadul itu dengan yang otomatis seperti di Apart." gerutunya berusaha meredakan deru napasnya yang memburu.
Kiara segera berbalik badan menutupi tubuh topless-nya dengan selimut. Panggulnya sedikit kaku saat digerakkan tapi ia gak mau meringis, takutnya Bram jadi khawatir.
__ADS_1
"Sayang kita ke dokter, biar memarnya dirontgen." ujar Bram bangun dari baringnya mengambil ponselnya di nakas.
"Ka, jangan berlebihan! Aku mau diurut saja, gak usah panggil dokter ya."
Ck, "Iya sayang, panggil tukang urut panggil dokter juga, dua-duanya aku mau."
Jawab Bram lalu membuat panggilan pada Dani, sekali dering langsung diangkat.
"Hallo little boy, aku baru mau telpon kamu. Selamat ya atas pernikahanmu." suara Daniel di ujung sambungan.
Hm, tau juga dia, dalam hati Bram.
"Kamu lagi di mana Dani?" tanya Bram to the point.
"Di dalam pesawat menuju Thailand, kenapa?"
"Bisa tidak kamu ke Jakarta dulu, aku mau kamu periksa istriku."
"Tentu Bram tapi malam baru sampai, gimana?"
"Hm baiklah. Aku tunggu di rumah Mama."
"Oke Bram, ada lagi?"
"Itu saja Dani, terima kasih."
Panggilan diputus, Bram menuju pintu dan menguncinya. Melepas kemeja dan celana bahannya, meninggalkan singlet dan cangcut nya.
Bram menaikkan AC sedingin kutub utara lalu ke kasur masuk ke dalam selimut meraih Kiara ke dalam pelukannya. Kiara berbantal lengan suaminya.
"Sayangku, tunggulah dokter Daniel akan memeriksa kamu. Sekalian minta obat penghilang bekas luka di lutut ya."
"Iya, telpon ibu Bram. Minta ibu telpon Bi Hana agar datang kemari." pinta Kiara.
"Nanti panggil tukang urut Spa langganan Mama, lebih modern dan lebih steril sayang."
"Gak mau, aku lebih suka Bi Hana." tolak Kiara.
"Oh gitu, gimana darah masih banyak?" Bram meremas segitiga bermuda masih ada pembalutnya.
Ah, "Tadi waktu ganti ada sedikit, cuma bercak." jawab Kiara.
"Bram ambilkan ponselku di dalam tas kecil, aku mau telpon Ibu!" mohon Kiara.
Dari tadi si Bram iya-iya aja tapi gak ditelpon juga.
Dalam hai Kiara menahan kesal.
__ADS_1
********
enjoy reading and see you to the next part. Jangan lupa tekan jempolnya 🙏