Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
16


__ADS_3

Masih di warung mie aceh.


"Makasih Bang." ucap Laras pada pengantar makanan.


"Lo gak bawa mobil, tadi naik apa datang?" tanya Laras mengaduk jus jeruknya menatap Kiara.


"Naik taksi online ." jawab Kiara menyantap mie acehnya yang masih berasap.


"Drivernya ganteng banget, kok mau ya dia ngojek." Laras menyeruput jusnya, mulai menyantap mienya.


Ahh, ternyata si Laras ini lihat tadi aku diantar Bram, tapi masih pura- pura nanya. Dasar, memang gak ada yang bisa ditutupi dari si kepo ini.


"Kenapa memang, ngojek kan kerja halal juga." jawab Kiara.


"Halal sih halal, driver tampan ngojek pake Lambojini itu yang bikin heran."


Dasar manusia satu ini lebih cepat dari google kayaknya kalau masalah gosip.


"Suka-suka dialah." ujar Kiara menyedot habis jus nanasnya.


"Cih! Ra, lo minum asam malam-malam awas kena lambung, tumben sekarang suka jus asam lagi ngidam?Hehe maap." ucap Laras langsung sesaat Kiara melotot padanya.


"Lo tuh ya, bisa gak sekali aja gak kepoin gue." Kiara gerah ditanyain mulu sama Laras.


"Tapi gue masih penasaran deh! kemaren tuh lo nginap di mana, sama siapa, jangan-jangan..." Laras menggantung ucapannya memainkan mata dan tersenyum penuh arti pada Kiara.


Kiara jengah menatap horor pada Laras.


"Sudah ah, cepetan makan udah larut malam entar diomelin sama Ayah Toyo lo pulang kerja kelayapan." Bibir Laras mengerucut menyuapi mulutnya dengan makanannya.


"Ayang Laras! kok belum pulang?" Zainal turun dari motornya menghampiri Kiara dan Laras.


"Eh, si cantik Kiara." sapanya mesra pada Kiara.


"Apa sih Zai, gue ogah jadi ayang lo." sewot Laras pada Zainal.


"Belum pulang Zai, ya udah sana lo pulang bareng Zai." Kiara mengusulkan pada Laras, biasa Laras diantar Kiara tapi sekarang dia lagi gak bawa mobil.


"Terus si cantik Kiara pulang naik apa? "


tanya Zainal genit-genit manja.


"Rumah gue dekat Zai, gampang lah." jawab Kiara.


"Udah sono capcus, mumpung ada Zai." usir Kiara, ia juga mau cepat pulang.


Laras mendengus melotot pada Zainal.


"Ayok!" ujarnya setelah mie dan jusnya kering gak berbekas.


"Baiklah ayang mbeb, kita lets go." ujar Zai tersenyum riang di atas motornya.


Pletakk!!

__ADS_1


Laras mengetuk kepala Zainal dari belakang, "aduh!" pekik Zainal.


Setelah memakai helmnya, Zainal ngegas motornya paling kencang. Mau gak mau Laras pun memeluk Zainal erat di pinggang.


By the way busway, Zainal ngekos di kost-kostan Ayah Laras jadi mereka memang searah.


****


Setelah kepergian Laras dan Zainal Kiara di halte menunggu taksi online yang dipesannya.


Tadi pergi kerja diantar Bram tapi gak janji mau menjemputnya pulang, mau nelpon tapi gak punya nomornya, hm. Kiara mengeluh dalam hati.


tin tin.


Sebuah Mobil berhenti di depannya tapi gak mungkin taksi online yang dipesannya, karena mobil ini sama seperti mobil Bram cuma beda warna.


"Kiara ayo saya antar kamu pulang, masih ingat dengan saya?" teriak seseorang dari dalam mobil.


Kiara terpelongo. Si super duper tampan, Bernard?🤨


"Ayo masuk, apa saya harus bukain pintu buat kamu?" ujar Bernard lagi.


"Ah iya baiklah." Kiara bingung mau duduk di depan atau di belakang.


Akhirnya ia duduk di depan dengan pertimbangan, kalau duduk di belakang takut Bernard tersinggung karena telah dianggap sopir. Kiara pun mengancel taksi onlinenya.


Bernard tersenyum pada Kiara, tiba-tiba mendekat seperti mau nyium. Kiara menahan napas, wajah Bernard hanya hitungan inci dari wajah Kiara.


"Pakai seat beltnya Nona." ujar Bernard dengan suara berbisik bantu masang seat belt Kiara.


"Kita kemana?" tanya Bernard.


"Haa!" Kiara ngeblank.


"Rumahnya arah mana Nona Kiara."  tanya Bernard lembut dengan senyum yang bikin hati setiap wanita normal akan meleleh.


Hah bilang dong, kirain mau ngajak gue kemana.


"Krisant cluster terus lurus nanti ke kanan Pak." jawab Kiara.


"Saya harap kamu bisa ikut saya ke cabang Kiara." ujar Bernard dengan nada serius.


Hm, Kiara menatap Bernard. Pria tampan ini bersikap ramah dan hangat pada orang biasa seperti dirinya.


Sepertinya Bernard bukan Manager biasa seperti Hendra atau Fadil si manager gudang yang arrogant itu.


Outfit yang dipakainya juga brand internasional yang dijual limited.


Wajahnya import, green eyes, apa dia pakai softlens?


Tapi Bram juga tampan wajah campuran, mata coklat Bram sangat teduh dan menenangkan. Setidaknya Bram punya bibir lebih berisi daripada si Bernard seperti garis lurus sangat tipis.


"Belum puas mandangin saya?" sambil mengemudi Bernard melirik ke Kiara.

__ADS_1


"Ah, maaf Pak." Kiara tersipu membuang wajahnya ke depan.


Hehe, mikir apa sih gue.


"Usia kamu baru delapan belas tahun ya." ujar Bernard.


"Benar Pak." jawab Kiara singkat.


"Kiara Rosalinda Burhan, delapan belas tahun, lulusan terbaik Jaguk International School. Dapat beasiswa dari Jaguk International university, kenapa kamu gak ambil dan pergi kuliah dulu Kiara?" tanya Bernard.


"Saya malas kuliah, Pak! Masih ada waktu sampai tiga tahun." jawab Kiara.


"Kanan Pak, nomor delapan rumah saya." lanjutnya saat mobil Bernard memasuki komplek perumahan.


"Ternyata rumah kamu sedekat ini. Baiklah Kiara saya tunggu kabar baik secepatnya agar bisa langsung buka meeting, right."  ujar Bernard sebelum Kiara turun dari mobilnya


Kira-kira kapan mau berangkat ke cabangnya Pak?" tanya Kiara menahan handle pintu sebelum turun.


"Dua minggu dari sekarang Kiara." Bernard menatap Kiara.


Kiara tersenyum datar. "Makasih Pak, tumpangannya." ucapnya.


Lalu Kiara turun dari mobil Bernard. Ia masih mematung di depan rumahnya memandang kepergian mobil Bernard.


****


Di dalam rumah Kiara menjumpai Ibunya belum tidur. Di ruang tengah Dwi lagi membuat cetakan kue yang akan dipanggang di oven.


"Bu, Rara pulang."  ia mencium punggung tangan Dwi siap-siap diinterogasi.


"hm." gumam Dwi.


"Bu maaf, belum sempat ambil mobil."


ucap Kiara mengambil duduk di depan TV.


"Tadi diantar siapa?" tanya Dwi karena tadi Dwi ngintip saat ada mobil berhenti di depan rumah dan itu bukan Bram.


"Manager baru Bu." jawab Kiara singkat.


Dwi mahir membuat masakan dan kue-kue tradisional, langganannya juga sudah banyak. Dwi juga memiliki karyawan part time yang bisa dipanggil jika ia mendapat orderan berskala besar.


Dwi mengambil napas dalam sebelum ia bicara lagi. "Ra, apa kamu pacaran sama nak Bram?" tanya Dwi hati-hati.


Kan, Kiara juga pinginnya terbuka pada Dwi tapi ia gak tau mau mulai dari mana.


Melihat Kiara yang diam, Dwi bisa menyimpulkan. "Ra, Bram itu udah mau nikah Nak. Sebaiknya kalian jangan ada hubungan dekat?" ujar Dwi lembut.


"Siapa yang hubungan dekat Bu! Semalam Ibu sendiri yang nyuruh Ara ikut si Bram!"


Sentak Kiara tiba-tiba emosi seperti wanita yang sedang pms karena hormon gak stabil, meskipun begitu Ia gugup tidak berani menatap Ibunya.


****

__ADS_1


hi..readers, thanks ya. Dukung dengan like dan juga vote ya.


Love you All...🙏🥰


__ADS_2