Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
27


__ADS_3

Bram menyukai acara memasak dan merupakan kepuasan tersendiri baginya apabila orang lain menikmati masakannya.


Yudi melangkah duluan membukakan pintu pada bos kecilnya, memasuki lift khusus mereka turun ke bawah.


Bram selalu pulang dari pintu rahasia, jadi tidak banyak karyawan yang pernah menatap wajahnya. Kalau ada tamu Yudilah yang akan turun menyambutnya sehingga tidak sedikit tamu bisnis yang merasa tersinggung karenanya.


Di dalam mobil bersama Yudi.


"Bagaimana persiapan nikah?" tanya Bram lagi pada Yudi.


"Tinggal menunggu perintah menjemput nona bos." jawab Yudi melajukan mobilnya ke hotel WJ.


"Baiklah, selesai memasak kita jemput Kiara." Bram menyandarkan punggungnya dengan mata terpejam sambil senyum-senyum.


Saat Yudi memindai otak Bram, dia langsung buang muka.


Lebih baik fokus mengemudi, dalam hati Yudi.


*******


Kiara memacu mobilnya ke rumah besar, ingin segera menemui Ibunya. Minta tanda-tangan agar urusan kepergiannya ke cabang cepat selesai.


Kiara ingin memulai hidup baru di kota kembang. Bagaimana pun perasaannya pada Bram seperti kata Ibunya, seiring waktu akan membantunya melupakan semuanya.


Menunggu Bram menjadi orang ketiga di dalam rumah tangganya, ia tak akan melakukan hal yang sia-sia itu. Kiara cukup tau siapa dirinya, anak yatim piatu yang kebetulan dipungut Ayah Burhan dan ibu Dwi.


Anak yang ditinggal Ibu kandungnya bunuh diri karena tidak sanggup menanggung beban malu dan frustasi karena patah hati.


Apakah kejadian itu akan terulang padaku, aku telah melakukan hubungan badan beberapa kali tanpa pengaman. Kemungkinan hamil pasti ada.


Oh Tuhan, jangan sampai itu terjadi.  Aku akan bunuh diri bahkan sebelum anak itu lahir.


Dalam hati Kiara, sambil mengemudi ia mengusap matanya yang tiba-tiba berair.


***


Mobil Kiara memasuki halaman luas rumah besar dan parkir bersebelahan


dengan beberapa mobil milik keluarga Wijaya lainnya.


Sekuriti yang sudah mengenal Kiara sangat baik sehingga tidak perlu lagi melakukan pemeriksaan formalitas standart.


Kiara duduk di ruang tengah bersama Ibunya Dwi dan Tante Alisha. Mengeluarkan map berkas kontraknya dan meletakkannya di meja.


"Bu, tolong Ibu tanda tangani berkas kontrak ini ya." pinta Kiara lembut pada Ibunya.


Dwi tercengang menatap Alisha, Alisha tersenyum kecut pada Dwi menyembunyikan raut senangnya.


"Nak ibu gak setuju kamu pergi, kenapa harus tanda-tangan? Gak, ibu gak mau tanda tangan!" ujar Dwi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


Kiara juga tak kuasa menahan haru.


"Ibu, ini tugas kerja Bu, Ara sudah terikat kontrak. Melanggar kontrak kena denda ratusan juta." jelas Kiara.


"Yah, beri saja tabungan ayahmu Ra! Jangan takut Nak, kita ada uang." ujar Dwi bersikeras.


Entah kenapa firasat Dwi gak enak, bahwa Kiara tidak hanya pergi enam bulan. Seolah-olah anak ini akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


"Ibu, hanya untuk enam bulan tidak harus mengorbankan jerih payah ayah. Ara gak mau, tolong lah Bu! Ara janji akan berusaha pulang dua minggu sekali menjenguk ibu. Kota kembang tidak jauh Bu!" mohon Kiara memujuk ibunya.


"Iya Dwi, izinkanlah!" Alisha ikut menimpali.


"Kita bisa ke kota Kembang sekali-sekali mengunjungi Kiara, katanya kuliner kota kembang enak-enak lho Wi." lanjut Alisha lagi.


Dwi tak sanggup berkata-kata, masalahnya tidak sesederhana itu. Kepergian Burhan yang tiba-tiba tak sesedih hatinya berpisah dengan Kiara. Seperti ada yang mengorek hatinya membuat lubang yang dalam. Kosong dan terasa hampa.


"Atau aku yang tanda tangan untuk Kiara Dwi, Kiara sudah aku anggap seperti putriku sendiri." ujar Alisha lagi.


Dwi menatap nanar pada Alisha.


Kenapa Alisha berharap sekali Kiara pergi, apa dia tau tentang Kiara dan Bram. Tentu saja itu alasannya karena bisa mengganggu rumah tangga putranya. Oh, bagaimana aku harus bersikap.


Alisha menatap Dwi dan tersenyum dengan susah payah.


Kalau gak bisa cara baik-baik membuat anak ini pergi, jangan salahkan aku jika terpaksa menggunakan dengan cara kasar.


Dwi terkesiap menoleh ke Kiara kemudian berkata, "Baiklah Nak, sini ibu tanda tangan." ujarnya lemah. Dibalik kekosongan hatinya, keselamatan Kiara yang lebih utama.


Di manapun kamu berada nak, semoga kamu bahagia.


Dwi membubuhkan tanda tangannya dengan air mata yang berlinang. Kiara tak tega melihat ibunya kemudian menggenggam jemarinya.


Setelah Dwi menandatangani berkas kontrak Kiara, hati Alisha tidak sepenuhnya lega. Ada satu masalah lagi, Bram! Bagaimana kalau Bram nekat mendatangi Kiara ke kota Kembang.


"Dwi, boleh saya pinjam Kiara sebentar." pertanyaan Alisha lebih kepada memaksa.


Walaupun dalam hati Dwi merasa kaget tapi dengan cepat ia bersikap biasa lagi.


"Iya." jawabnya lemah.


Mau bicara apa, di sini saja kan bisa.


Dalam hati Kiara juga merasa kaget.


Seperti maling tertangkap basah, dari tadi ia sudah gugup sekarang bertambah gemetar. Kiara meremas ujung rok seragam kerjanya, jemarinya berkeringat.


"Ayo Kiara ikut tante sebentar." ajak Alisha pada Kiara yang terbengong.


Kiara memandang ibunya. Setelah Dwi mengangguk Kiara mengikuti Alisha ke sebuah ruangan.

__ADS_1


Terlihat sebuah kasur queen size dengan alas kasur yang indah. Cermin rias dan sofa yang berbusa tebal.


Sepertinya ini kamar tante, batin Kiara.


"Duduklah." ujar Alisha menunjuk sofa.


******"


Sementara itu di hotel WJ.


Setelah sampai seorang valet datang mengambil kunci, Yudi langsung memindai lokasi.


Ada dua intel, baiklah. 


Dalam hati Yudi, kemudian mempersilahkan Bram keluar dari mobil dan mengiringinya masuk ke sebuah ruangan yang telah disulap menjadi resto kecil lengkap dengan stove.


Beberapa pelayan menyiapkan dua meja untuk tamu. Masing-masing meja untuk satu kelompok bisnis.


Tamunya adalah Jaguk Company cabang Korsel dan satu lagi group Mossen yang berpusat di Amrik.


Setelah memeriksa persiapan bahan-bahan dan alat-alat memasaknya, Bram duduk menunggu tamunya.


Bram menatap wajah Kiara menyedot es krim di layar ponselnya. Seketika pikirannya menjadi liar, memicu hasrat ingin segera menyatu dengan Kiara.


Sabar dulu sayang, ucapnya pada diri sendiri.


******


Dikamar Alisha.


Kiara duduk di sofa, ia merasa sekarang wajahnya pasti pucat seperti kapas.


Bagaimanapun dia yang salah, sudah tau Bram akan menikah tetap nekat juga menjalin hubungan bahkan sampai hilang perawan. Bukankah itu namanya penggoda.


Apa tante tau aku berhubungan dengan Bram, ahh. Mati aja kau Kiara, batin Kiara.


Alisha mengambil sebuah Map lama di laci nakasnya, warnanya sudah memudar kemudian ia duduk di depan Kiara.


"Bukalah." perintah Alisha memberikan map pada Kiara.


Kiara membuka map, di dalamnya ada sebuah surat tulisan tangan dan satu photo seorang wanita menggendong bayi.


"Ini apa tante?" tanya Kiara yang memang tidak mengerti apa maksudnya.


"Coba kamu perhatikan wajahnya." ujar Alisha.


*****tbc


Hi, readers thanks ya. Ikutin terus , dukung dengan Like dan vote juga ya guys. 🙏

__ADS_1


__ADS_2