
Minggu pagi yang cerah di rumah besar Wijaya.
Alisha di ruang Spa di lantai dua, melakukan perawatan sekalian seleksi karyawan yang akan dipekerjakan di klinik kecantikannya.
Ada 5 orang untuk tahap pertama, bagian facial, scrub massage, menipedi, make up dan rambut. Lumayan dalam hati Alisha kesempatan dapat tenaga gratis untuk memanjakan tubuhnya. Seperti sekarang Alisha sedang di massage scrub lulur oleh pelamar pertama.
Beberapa hari ini ia stres juga mencari keberadaan Dwi seperti hilang di telan Bumi, semua tempat yang kira-kira berhubungan dengan masa lalu Dwi sudah dipasangi nya intel namun tidak ada tanda-tanda Dwi akan muncul begitu juga di Krisant, siapa tau Dwi pulang ke rumahnya.
Hm, kemana dia? Kalau gini aku terpaksa beli jet pakai uang sendiri, ah. Kenapa si Bram itu pelit sekali?
Dalam hati Alisha menggeram mengingat putranya, menyadari bahwa massage pelamar yang ini sangat enak.
"Siapa tadi namanya Mbak?" tanya Alisha.
"Salma Nyonya." jawab si pelamar sambil membuat urutan relaksasi di punggung dan bagian tengkuk Alisha.
"Kamu kerja di mana?" tanya Alisha lagi.
"Saya bekerja di Salon Spa Nyonya."
Jawab Salma, walaupun itu sudah sangat lama sebelum dia hamil anak Suganda langganan spa majikan lamanya yang sering membooking dirinya.
"Kenapa kamu mau pindah kerja?"
"Mau cari pengalaman baru Nyonya." jawab Salma.
"Kamu lumayan, apa bos kamu akan membiarkan kamu keluar dari pekerjaan mu yang sekarang?"
Salma terdiam kelihatan seperti bimbang. "Saya perlu uang lebih untuk menghidupi putri saya Nyonya, di sini Nyonya menjanjikan gaji lebih tinggi." jawab Salma.
Hm, Alisha berpikir-pikir. "Suami kamu kerja apa?"
"Sudah meninggal Nyonya."
Jawab Salma menelan ludah, ini adalah jawaban yang sudah dipersiapkan Salma kalau ada yang nanya tentang suami padanya ataupun kalau anak perempuan kecilnya bertanya, mengapa ia tidak punya ayah.
Karena memang ia tidak pernah menikah, orang yang menghamili nya tidak mungkin mau bertanggung jawab bahkan mengancam akan membunuh nya kalau ia ketahuan hamil. Sudah 7 tahun ini ia harus bersembunyi dari ayah biologis putrinya.
"Salma aku memperkerjakan karyawan untuk kontrak dua tahun, tapi tempatnya bukan di sini. Kamu tidak bisa kemana-mana, apa kamu tidak masalah tidak bertemu anak kamu selama dua tahun?" jelas Alisha.
"Apakah tempatnya di luar negeri?" Salma balik nanya.
"Bukan! Masih di pulau jawa daerah reklamasi baru, saya punya mansion."
"Apakah tidak ada libur Nyonya?" tanya Salma.
"Libur ada satu bulan satu kali tapi tidak boleh ke luar dari mansion kota mandiri yang baru, apa kamu tau? Kamu mau liburan boleh saja, di sana sudah lengkap semua, pusat perbelanjaan, pusat hiburan, pasar juga ada. Syaratnya, hanya tidak boleh ke luar sampai ke Jakarta."
Hm, Salma menarik nafas dalam.
Untuk sementara biarlah Sora di panti dulu, aku cari uang juga untuk masa depan nya. Sudah bosan aku jadi tukang urut panggilan.
Dalam hati Salma teringat putri bawelnya yang ia titip di panti asuhan Al-fallah.
Sebulan lebih yang lalu, ia ditawarin kerja di spa biasa dengan gaji lumayan namun ia juga harus melayani pelanggan pria yang butuh servis tambahan.
Karena kesepian awalnya menyenangkan namun lama-lama membosankan bali tak bali uang habis mempercantik diri agar mendapat pelanggan sampai lupa nabung buat anak, ha!
Seminggu yang lalu ia diberitahu temannya ada lowongan, gajinya fantastis maka dari itu dia mencoba peruntungan, tidak disangka ia mendapat giliran pertama. Jadi tidak mungkin ia menyia-nyiakan kesempatan emas ini.
"Tidak apa-apa Nyonya, putri saya ada bersama neneknya." jawab Salma berbohong.
"Baiklah, selesai ini kamu tanda tangani kontrak mulai besok Senin dihitung hari pertama kamu kerja."
*
Waktu menunjukkan angka 09.30wib.
Di ruang gym Yudi menemani Bram olahraga, ternyata ia sudah baikan seolah tidak terjadi apa-apa pada tubuhnya semalam.
Sambil olah raga Yudi memberi laporan hasil kerjanya semalam dan memberi Bram sejumlah berkas untuk ditandatangani di tablet kerja.
"Yudi, bagaimana kerja Publik Relation yang baru?" tanya Bram.
"Belum ada kemajuan yang signifkan, stasiun TV yang membeli acara sudah ada namun sementara masih menggunakan promo dari bagian marketing WJ." jawab Yudi.
__ADS_1
Ia hanya mau mencari ayah kandung dari anaknya, lanjut dalam hati Yudi bergidik.
Semalam makanya Yudi membuang kartu lamanya itu karena Olivia ada berkirim pesan ingin mempertemukan anaknya dengan Yudi hari ini, namun Yudi tidak membalas nya.
Kenapa baru sekarang datang saat aku sudah membuka lembaran hidup baru, hah!
Desah Yudi kembali fokus kepada Bram. "Kemajuan proyek lebih cepat dari target, itu karena Bos menjanjikan mereka banyak bonus." lanjut Yudi lagi.
"Bagus, tapi utamakan keselamatan kerja Yudi, kontrol jangan karena bonus mereka jadi tidak memperhatikan kesehatan." jelas Bram.
"Siap Bos." jawab Yudi.
"Apartemen di proyek kota mandiri tahap dua, kamu boleh cicil satu Yudi nanti down payment nya biar pihak kantor yang atur." ujar Bram.
"Apa Bos mengijinkan saya tinggal di Apart?" tanya Yudi mengerut dahi, siapa tau secara halus dia diusir dari rumah besar.
Bram membesarkan matanya. "Berani kau pindah, artinya kamu juga berani dipecat dari group WJ." sentak Bram serta merta marah.
"Investasi Yudi, investasi!" lanjutnya masih nada marah melotot pada Yudi.
"Maaf Bos, saya tidak berani." ucap Yudi kesenangan, ternyata ia salah menduga.
Yudi sudah nyaman bekerja di group WJ, semakin suka sejak ia jadi asisten bos mesumnya ini. Tinggal dekat Bram lebih mudah melakukan tugasnya sebagai asisten sekaligus pengawal pribadinya.
Sekarang sudah ada Laras di sisinya tinggal buat dedek bayi maka lengkaplah sudah kebahagiaan Yudi.
"Yudi, walaupun Sora adalah anak Suganda karena ia sudah di adopsi Bibi Dwi maka tanggung jawab ku untuk membiayai nya menggantikan Kiara kamu atur Yudi, ngerti."
Ujar Bram sambil masih menandatangani sisa berkas lainnya. "Apa rencana mu?" lanjut Bram bertanya.
"Semalam saya sudah menulis iklan di website, sudah ada juga beberapa resume yang masuk. Senin akan diinterview yang terbaik langsung diterima saja tidak ada waktu menyeleksi lama-lama mengingat jadwal keberangkatan ke Amrik sudah mepet juga." jawab Yudi.
"Ya sudah kamu aturlah, aku berenang dulu." Bram menyerahkan tabletnya
"Hallo semua." suara Daniel lemas masuk ruang gym sesaat Bram mau terjun ke air.
"Ah Dani, kamu tidur di mana semalam aku sakit kamu tidak ada!" tanya Bram nada ketus.
"Di rumah papi, kami di sidang. Icha juga tidak diperbolehkan bertemu dengan ku sampai tanggal menikah."
"Hei, jangan tertawa Bram! Bantu aku agar Icha bisa ikut jumat ini ke Amrik please. Mana bisa aku lama-lama berjauhan darinya, aah. Ini saja sudah rindu." keluh Daniel.
"Secepat itu kau melupakan ku, kenapa aku merasa seperti dicampakkan Dani." goda Bram tersenyum jail atas penderitaan Daniel.
"Ya, sekarang kau berani bicara, kemarin-kemarin kau pura-pura bodoh. Jangan pancing aku kembali menyukai mu Bram." balas Daniel bangun dari duduknya mendekati Bram.
Gleg, Bram menelan ludahnya gak berani menggoda lagi.
"Oke-oke." Bram menahan Daniel dengan tangannya
"Minta si Yudi pikirkan cara nanti aku yang bicara pada Paman, aku mau berenang Dani jangan ganggu oke." Bram langsung lompat ke air.
Cih, dasar bocah,
"Yudi apa idemu?" tanya Daniel menoleh ke Yudi.
"Hm, pertama-tama ambil sampel darah Sabit dan saya dulu, selain itu ada satu lagi anak perempuan kecil saya tidak yakin apakah akan mudah membujuk nya." jelas Yudi.
Hah! "Semua anak-anak itu hasil karyamu, aku jadi penasaran dengan masa lalu mu Yudi. Sebaiknya pagi ini saat aku lapang, siang sampai malam aku ada jadwal."
Ck ck ck, Daniel berdecak.
"Awas kau, kalau Icha gak bisa ikut ke Amrik, biaya pelayanan dokter akan aku charge dengan harga mahal." lanjutnya mengancam Yudi.
"Terima kasih dokter."
Lalu Yudi menghubungi Sabit agar standby di ruang keluarga.
Selesai menghubungi Sabit, Yudi teringat Sora apa sudah bangun. Tadi habis subuh ia baru mengangkatnya balik ke kamarnya. Baiklah nanti menyusul saja, hm atau..
Apa nanti saat bangun Sora mau disuntik.
"Dokter, kalau sedang tidur boleh tidak mengambil sampel darah?" tanya Yudi.
"Sebaiknya jangan Yudi, yang dikhawatirkan saat jarum ditusuk ia terkejut, bayangkan kalau itu terjadi. Sebaiknya dibujuk baik-baik, kamu iming-imingi hadiah atau apa." jelas Daniel.
__ADS_1
Ting! sebuah ide muncul di kepala Yudi, tablet.
"Terima kasih dokter!" ucap Yudi lalu menghubungi salah satu anak buahnya agar mendapatkan satu tablet sama persis seperti tablet Sabit.
Nanti minta Laras yang menemani Sora, lagi apa ya dia?
Dalam hati Yudi mesem-mesem teringat semalam saat buat dedek bayi berdua, Laras sudah mulai agresif semakin bisa mengimbangi dan menikmati permainan.
Si otong aja nembak seperti mercon taun baru, aku harus mengasah bakatnya tiap malam kalau perlu atau, setiap ada waktu berduaan, hehe.
Dalam hati Yudi yang senyum-senyum sendiri, tak luput dari perhatian Daniel sehingga ia cemburu dengan ekspresi Yudi yang memancarkan rona kebahagiaan.
Hm!
Daniel menarik nafas dalam menghembuskan nya kasar.
Hah!
*
Laras di dapur membuat masakan favoritnya, tauco kepah cabe hijau. Nanti mau dimakan dengan nasi hangat, liurnya langsung menetes melihat wajan penuh kepah cabe segar.
Tadi Subuh selesai ehm ehm, saat Yudi mau memindahkan Sora dari kamar Sabit, Laras ikut pergi ke kulkas dapur utama kebetulan ada bahannya ia pun kepingin masak.
Chef sudah menawarkan, mereka saja yang memasak namun Laras bersikeras mau masak sendiri di kamar Yudi.
Terdengar ponselnya berbunyi, Laras mematikan kompornya pergi ke ruang tidur. Laras mengerut dahi membaca pesan Yudi.
Kenapa Sora diambil sampel darah juga, apa ada hubungan nya dengan Yudi atau Sabit.
Dalam hati Laras, menatap Sora yang berbaring di kasur lekat-lekat.
Tadi Subuh, saat Yudi mengangkat Sora dari kamar Sabit ke ruang tidur kelihatan Yudi sangat hati-hati memperlakukan Sora seolah anak kandungnya sendiri. Terlihat kasih sayang di wajahnya yang begitu tulus.
Di Market semalam juga Yudi membelikan pampers buat Sora, tadi pagi karena mau nyambung tidur di kasurnya Yudi memakaikan Sora pampers nya, katanya takut Sora ngompol.
"Apa Sora juga anak Yudi selain Sabit, katanya mau mencari bukti. Masalah Sabit saja belum beres sekarang ada Sora. Lalu bagaimana Bibi Dwi sampai mengadopsi Sora yang ternyata anak Yudi."
Laras bermonolog sendiri menatap Sora memang ada kemiripan dengan Yudi, Sabit juga mirip Yudi banget, astaga.
Seratus persen ini mah anak Yudi, si Sora makin dilihat semakin mirip apalagi saat tidur selama ini aku tidak terlalu memperhatikan.
"Sora, bangun."
Panggil Laras menggoyang tubuh Sora, ia juga penasaran ingin tau kebenarannya.
Jam berapa semalam anak ini tidur, kelihatannya nyenyak banget.
"Sora, bangun." panggil Laras lagi.
"Ibu, mau susu." igau Sora mata masih terpejam membalik badan membelakangi Laras, tuut!
Suara angin beraroma terapi keluar dari pantat Sora, dasar!
"Kamu makan apa sih, bau banget." ujar Laras sambil tutup hidung menepuk bokong Sora yang tebal, sesungging senyum di bibir Sora.
"Ei, bau entut!" tepuk Laras lagi
Hihihi, gak tahan Sora tertawa membuka matanya. "Ibu, mau susu."
Panggilnya berbalik badan, seketika mengerut dahi melihat Laras.
"Mama Laras, mana Ibu?" tanya Sora mewek.
"Tidak ada ibu, ini Mama Laras." jawab Laras.
"Uwaaaa." tiba-tiba Sora menangis berurai air mata.
"Ibuuuu." jeritnya sekuat tenaga.
*****
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏
__ADS_1