Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
164


__ADS_3

Di rumah besar, di kamar Yudi Laras tidak bisa tidur.


Hatinya gelisah menunggu kabar dari Zainal, sudah bertemu belum dengan rombongan Yudi?


Tadi setelah kepergian Yudi, karena khawatir Laras menghubungi Zainal dengan bercucuran air mata.


Zainal yang frustasi karena belum bisa move on dari Laras mau saja diajak oleh genk motornya melakukan balapan di Jalan Baru untuk melepaskan stresnya. Pada dasarnya juga ia masih menyukai Laras jadi jatuh kasihan berjanji akan membantu nya.


Jalan menuju pulau reklamasi bersebelahan dengan Jalan Baru, yaitu jalan tol menuju air port pulau reklamasi masih tertutup untuk umum, lengang dan tidak ada polisi juga masih belum dipasangi CCTV.


Banyak anak remaja tanggung menghabiskan malam unjuk kebolehan bermotor mereka sambil taruhan, lumayan berbahaya juga kegiatan mereka bisa-bisa nyawa melayang.


Saat hendak balapan mendapat tugas dari Laras dengan imbalan sejumlah uang yang tidak sedikit, Zainal mengatur genk motornya agar berpencar mencari mobil sesuai plat yang diberikan Laras.


Karena jarak yang dekat sehingga mereka bisa segera menemukan mobil Yudi, lalu panggilan video masuk di ponsel Laras.


"Hallo Zai, gimana?" tanya Laras gak sabar.


"Tenanglah Nyonya, suami anda dalam keadaan sehat dan selalu merindukan anda begitu juga saya yang jadi pecundang berharap sekali dapat pelukan hangat dari anda setelah ini."


Jawab Zainal meracau menoleh ke Mobil Yudi yang berjalan beriring di samping motornya.


Cis, "Mana, gue pengen lihat."


Laras semakin gak sabar, soalnya ia juga menghubungi Yudi tapi kenapa panggilan nya tidak diangkat.


Lalu nampak di layar ponsel Laras Yudi sedang menyetir melambaikan tangan pada nya, cis.


Yudi yang melihat wajah Laras sembab, menghembuskan nafas berat.


Kenapa Laras malah menelpon si kunyuk ini, kelihatan nya juga dia sedikit mabuk, hm apa segitu dalam rasa cintanya pada Laras.


Dalam hati Yudi menatap Zainal intens padahal ia sengaja tidak menerima panggilan Laras untuk tidak membuat nya khawatir tapi ternyata malah semakin tambah khawatir.


Apakah mungkin sebenarnya di hati Laras ada cinta untuk Zainal cuma dia belum menyadari nya saja. Kalau aku mati di sini bukan tidak mungkin Laras akan menerima Zainal sebagai pengganti ku.


Dalam hati Yudi, sekarang malah ia yang cemburu menduga-duga seberapa penting arti Zainal di hati Laras.


"Tidurlah ayang mbeb, mimpikan aku sayang." Zainal meracau lagi.


"Jangan khawatir gue bawa rombongan, ratusan anak motor lengkap dengan awak media yang siap meliput setiap kejadian perkara. Cecurut-cecurut itu tidak akan berani melakukan apa-apa, oke sayang."


Seolah sengaja Zainal bicara kuat-kuat agar Yudi cemburu. Dia tidak tau, tidak bicara saja pun isi kepala otaknya Yudi bisa tau.


"Iya terima kasih ya Zai, lo kirimin gue nomor rekening entar gue transfer sekedar buat jajan."


Ucap Laras, akhirnya ia bisa tenang melihat di layar banyak nya motor yang menemani Yudi.


"Siap Nyonya, tidurlah yang nyenyak bye, mmuuach!"


Zainal memutus sambungan tersenyum meledek pada Yudi yang sedang menatap nya, sinis.


Cih, Yudi mendengus kesal.


*


Di dalam mobil tak jauh dari pinggiran jalan baru, melihat melalui smart softlens nya seorang anak remaja mengepal tangannya geram.

__ADS_1


Bagaimana Yudi menahan laju mobilnya sebelum sampai pada anak buah Suganda yang telah menunggu di tempat persembunyian nya di sisi jalan menuju pulau reklamasi


Anak buah Suganda adalah campuran. Sisa anak buahnya yang kebetulan tidak ikut terciduk saat penggerebekan di kediamannya tempo hari dan juga sisa anak buah Bryen yang sakit hati atas tertangkap nya bos mereka.


Karena, tertangkapnya kedua Bos preman itu salah satu penyebabnya adalah atas laporan Yudi.


Junior mendekati Suganda untuk membalaskan dendam pada Yudi atas sakit hati Mom Olivia kemudian akan menghabisi Suganda yang telah menodai Mom's nya dengan tangannya sendiri.


Padahal kalau Olivia tidak ternoda dia juga tidak akan lahir ke dunia namun itu tidak masuk di akalnya, ia hanya tidak tahan setiap kali melihat Mom Olivia menangis diam-diam di kamarnya.


Begitulah rencana Junior namun ternyata Yudi bukan orang yang bisa dianggap remeh olehnya, seolah punya indra keenam yang bisa mengetahui masa depan.


Padahal ia sudah meminta anak buah Suganda dan Bryen agar menjaga jarak pandang dari jalan utama.


Bagaimana Yudi bisa menyadari bahaya yang mengintai nya.


Dalam hati Junior gak habis pikir. Melihat konvoi iring-iringan motor, ia membanting stir membawa mobilnya pergi dari tempat persembunyian nya.


Terserah anak buah Suganda dan anak buah Bryen apa masih mau melanjutkan aksi balas dendam mereka pada Yudi.


*


Sementara itu, mendekati pulau reklamasi Yudi melihat Junior membawa mobilnya menjauh dengan wajah kesal.


Hm, bagaimana Junior bisa tau kita akan bergerak malam ini.


Itu yang ingin coba dibaca Yudi, kelihatan dipikiran Junior tadi siang ia bertemu dengan Sabit di toko buku.


Junior memberi sabit sebuah stiker unik yang ditempel di cover tablet yang dipasangi alat pendeteksi suara, yang bisa menangkap apa saja pembicaraan di sekitar tablet sejauh dua puluh meter


Dalam hati Yudi lalu menghubungi satuan pengaman rumah besar ingin mengetahui keberadaan Sabit ada di mana.


Yudi jadi gelisah saat mendengar laporan dari satuan pengaman bahwa ternyata Sabit menunggui Laras di kamarnya sedang tertidur pulas di Sofa.


Yudi meminta satuan pengaman rumah besar agar siaga satu dan menyisir keadaan lebih teliti. Siapa tau ada penyusup yang mau masuk ke rumah besar.


Yudi dan rombongan sampai di Mansion Nyonya besar dengan tidak kurang suatu apapun.


Sora terbangun, saat digendong keluar dari mobil melihat sekitarnya yang asing ia pun menangis.


Mendengar Sora menangis Salma mengambil Sora dari gendongan anak buah Yudi namun anak itu semakin menangis sambil memukul-mukul kepala Salma.


Akhirnya Yudi menggendong nya barulah Sora sedikit mengecilkan suaranya.


"Ayah." Sora mengalung lengannya di leher Yudi.


"Iya, ini ayah jangan nangis." Yudi memujuk Sora.


Melihat Sora Zainal melebarkan tangannya ingin menggendong nya, ternyata pada Zainal Sora juga mau.


"Mau jalan gak sama Om, naik motor?" tanya Zainal menunjuk motornya, Sora mengangguk.


Zainal menghapus air mata Sora secara replek ia mencium pipinya gemas, tidak disangka ternyata Sora juga balas mencium pipi Zainal, seketika Zainal cekuk-an, hik! hik! hik!


"Hihihi." Sora tertawa cekikik-an.


Alisha keluar menyambut mereka, semalam ia terpaksa nginap di Mansion untuk mengatur segala sesuatu nya.

__ADS_1


Saat dikonfirmasi oleh Samsir tadi bahwa Yudi belum bisa ke Mansion karena ada hambatan, Alisha jadi khawatir.


"Syukurlah Yudi, tidak terjadi apa-apa pada kalian." ujar nya lega, akhirnya sampai juga dengan selamat.


Namun melihat banyak nya motor yang parkir di luar mansion Alisha kembali gusar.


"Kami orang baik Nyonya, jangan khawatir." ujar Zainal menyadari tatapan Alisha.


"Bukankah kamu teman dekat Laras?"


Alisha mengenali Zainal, ingat pernah semeja makan dengan nya saat bersama Beno di malam nikahan Bram.


"Ehm ehm."


Zainal berdehem menangkap tangan Sora yang menusuk-nusuk wajahnya, maksudnya suruh cekuk-an lagi lucu soalnya bagi Sora.


"Anda benar sekali Nyonya, tapi saya ditikung dipertengahan malam di rumah sakit pasar induk." jawab Zainal tersenyum hambar.


Hahaha, "Sabarlah, yang muda ngalah kasih kesempatan pada yang tua."


Ujar Alisha tak kuasa menahan tawa memandang Yudi yang merengut.


"Salma, bawa masuk anak kamu." titah Alisha pada Salma.


"Baik Nyonya." jawab Salma, tapi tidak berani mengambil Sora takut di tabok lagi.


"Ayo Sora kita ke dalam ini juga rumah Tuan muda dan Kiara, rumah lebih besar."


Suara Yudi memujuk Sora, meminta Zainal agar menurunkan Sora dari gendongannya dengan kode kerlingan matanya.


Cis, "Baiklah Sora masuk sana sama Ibu."


Zainal memberi Sora pada Salma, namun Sora memeluk di leher Zainal pandangan ragu-ragu tak mau pada Salma.


Akhirnya Zainal inisiatif yang membawa Sora masuk ke dalam Mansion. "Ayo Mbak." ajak Zainal pada Salma.


Sebelum nya Zainal pamit pada anak motor sebentar ke dalam. "Oke, bro thanks. Mengenai jatah pembagian jangan khawatir." teriak nya.


"Sip!"


Jawab anak geng motor serentak berlalu kembali ke habitatnya, tinggal sisa teman dekat Zainal yang masih menunggu nya di luar Mansion.


Melihat itu Samsir meminta mereka menunggu di halaman dalam bersama anak buah Yudi.


Sementara Yudi, Salma dan Zainal masuk ke dalam Mansion dengan Sora di gendongan Zainal tertawa-tawa gangguin Zainal agar kembali cekuk-an.


Hik hik hik,


Zainal akting cekuk-an, yang mendapat tatapan sinis dari Yudi.


"Hihihi." Sora tertawa-tawa senang.


******


Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua..


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2