Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
126


__ADS_3

Di krisant.


Selesai makan seblak, Bram dan Kiara istirahat di kamar Kiara yang dibilang kecil tidak dibilang luas juga tidak. Dibandingkan dengan kamar Bram memanglah jauh.


Apalagi kasur Kiara yang ukuran standar sehingga pas-pasan banget untuk Bram yang tinggi menjulang, bahkan kaki dan kepalanya dari ujung ke ujung sampai mentok.


Busa kasur yang tidak terlalu tinggi membuat Bram seolah tidur di atas papan karena kurang nge-per.


Kiara duduk di lantai beralas karpet di depan lemari pakaiannya sedang melipat bajunya yang berantakan akibat ulah Soraya.


Kiara memandang kasihan pada Bram, yang gak bisa leluasa bergerak seperti di kasur suaminya itu sendiri.


"Bram, kita pulang aja ke rumah besar." ajak Kiara pada suaminya itu sambil menyusun baju yang sudah terlipat rapi.


"Tidak apa sayang satu malam ini kita di sini, aku tau kamu kangen kamarmu." jawab Bram yang menyender di headboard tempat tidur sambil scroll2 ponselnya.


"Aku sudah gak masalah jika anak itu tidur di sini." jelas Kiara.


"Bagaimana kalau kita ajak Bibi menetap di rumah besar sayang, coba kamu tanya. Kasihan dia, di umur segitu harus merawat anak sekecil Sora." usul Bram.


Mendengar itu Kiara bangun dari duduknya, melompat ke tubuh suaminya itu. Dengan senang hati Bram menyambut nya, meletakkan ponselnya.


"Terima kasih sayang, kamu aja yang nanya ya. Mungkin ibu akan segan menolak mu daripada kalau aku yang nanya." lanjut Kiara.


Cup. Kiara mengecup bibir suaminya.


Cis, "Kurang hot."


Bram memonyongkan bibirnya lagi, Kiara menangkup wajah suaminya, menempelkan lagi bibirnya.


Cklekk.


Pintu dibuka, wajah bocah kecil dengan dodot susu nongol di pintu.


Bram terpaksa melepaskan bibirnya, padahal baru saja ia hendak melu mat bibir Kiara, ha!


Melihat Sora sebenarnya Kiara hendak turun dari pangkuan Bram namun Bram memeluk di pinggangnya semakin erat.


Soraya masuk ke kamar manjat ke tempat tidur. Bram membiarkan saja, menunggu apa yang akan dilakukan anak ini.


Di atas tempat tidur Sora duduk di samping Bram, melepas dodot dari mulutnya memandang Kiara yang masih di pangkuan Bram.


"Kiara, sudah gede masih dipangku aku dong enggak." ujarnya dengan pasih pada Kiara.


"Lah kamu ngapa minum susu masih pake dodot?" ketus Kiara.


"Kenapa emang, ada masalah." jawab Sora.


Idih, dalam hati Kiara.


"Terus gue dipangku, ngapa lo yang sewot." balas Kiara.


"Gue kan nanya, ngapa lo marah." balas Sora lagi.


"Sora." panggil Dwi di depan pintu mengulur tangannya meminta agar Sora keluar dari kamar Kiara.


Melihat mertuanya, Bram membiarkan Kiara turun dari pangkuannya duduk di sebelah kiri nya, kerena Sora sudah duduk di sebelah kanan Bram.

__ADS_1


"Bentar Bu, mau main di kamar Kiara."


Soraya menggeleng semakin merapat pada Bram, memasukkan dodot nya lagi ke mulutnya, kepalanya menyender di lengan Bram, cih!


"Tidak apa Bu biar saja."


Kiara turun dari kasur ingin melanjutkan melipat bajunya.


"Lihat nih kerjaan lo, besok-besok lo berantakin lagi gue ikat lo di tiang jemuran."


Ujar Kiara nada mengancam melotot pada Sora.


Astaghfirullah, ngapa aku naik tensi lihat anak ini, dalam hati Kiara.


Sora melepas dodot nya. "Maaf." ucap pelan lalu memasukkan lagi dodot nya.


"Bi, Bibi tinggal dengan kita aja di rumah besar jika merasa sepi disini sendirian." ajak Bram.


Kiara menghampiri ibunya. "Iya Bu, mau ya." mohon Kiara memeluk Dwi menatap ke dalam matanya.


"Ayo Bu katakan iya, Sora mau ikut." sambung Sora dengan pasih nya menatap Dwi, lalu menoleh pada Bram.


"Boleh ya Ka, gue ikut." lanjut Sora tersenyum manis, jari kecilnya memeluk di lengan Bram.


Ah, nih bocil kalau ikut sama aja, Kiara mendesah.


*


Di hotel WJ.


Gak bisa dipungkirinya, jantung Yudi berdebar kencang seperti abg yang baru jatuh cinta.


Sambil membaca suasana hati Laras memang kelihatan lebih gembira bersama teman sebayanya, lepas bebas. Daripada bersama dirinya Laras seolah menekan perasaan nya.


Yudi berjalan dari arah belakang Laras, mendekati meja anak buahnya, bertemu pandang dengan Marissa yang kebetulan menghadapnya dan juga sedang menatap padanya.


Yudi menunduk hormat lalu duduk tepat di belakang Laras. Laras dan Yudi punggung-punggungan.


Laras tertegun sejenak, mendengus dari hidungnya, menajamkan penciuman nya. Seperti ada bau-bau yang familiar, bau Yudi. Tiba-tiba tubuhnya merinding.


Kayaknya si Laras gak nyadar ada Yudi di belakangnya.


Dalam hati Icha melirik Laras lalu mentoel nya menunjuk ke belakang Laras dengan memonyongkan mulutnya.


Laras penasaran kemudian berbalik badan ingin melihat ada siapa di belakangnya.


Om Yudi!


Seketika wajahnya memucat, seiring jantungnya ikut berdebar, hais.


Kenapa jantungku ini berdetak lebih cepat asal ada Yudi, dalam hati Laras.


Zainal menatap Laras yang gelisah, setelah mengetahui bahwa Yudi ada di belakangnya. Suatu reaksi yang tidak pernah dilihat Zainal saat Laras bersamanya. Seketika Zainal merasa di campakkan.


"Wahyudi." panggil seorang wanita menghampiri meja Yudi yang duduk bersama anak buahnya.


Yudi mendongak, deg!

__ADS_1


Sudah lama sekali tidak bertemu namun wajahnya tidak banyak berubah.


"Hm." gumam Yudi tetap posisi duduk menatap perempuan dari masa lalunya itu.


"Apa kabar Wahyudi?" Perempuan itu mengulurkan tangannya.


"Baik." jawab Yudi namun tidak menerima uluran tangan, sambil membaca suasana hati Laras.


Laras yang duduk di belakang Yudi menatap lekat ke wanita yang memanggil Yudi, dengan sebutan Wahyudi itu. Cantik dan modern, seperti model.


Padahal waktu ijab kabul jelas-jelas Laras mendengar ayahnya menyebut nama Yudi, Yudian.


Dan barusan si Om tidak menampik dipanggil Wahyudi, sepertinya Om Yudi juga mengenal wanita ini.


Dalam hati Laras, membalik badannya menghadap Icha. Nafasnya berat, seperti ada batu yang menghimpit di dadanya.


"Bisa kita bicara Yudi, empat mata!" terdengar suara perempuan itu lagi.


"Bicaralah disini, duduklah itu ada kursi." ujar Yudi menunjuk kursi kosong di sebelah antara dirinya dan anak buahnya.


Namun, perempuan itu tetap berdiri lalu mengetik di ponselnya, gak lama ponsel Yudi berdering, Yudi melihat ke layar keluar satu nama yang lama disimpan nya di dalam hati.


"Sudah lima belas tahun kamu bahkan tidak berganti nomor dan masih tetap menyimpan nomorku."


Ujar perempuan itu berlalu dari hadapan Yudi.


Hm! Yudi menarik nafas dalam-dalam, sepertinya ia hilang selera makan.


Kenapa harus sekarang, disaat aku sudah menyerah pada hatiku.


"Lanjutkan saja makan, kalau ada tugas baru nanti saya kabari."


Ujar Yudi pada anak buahnya lalu berdiri dari duduknya, berjalan ke luar dari resto menuju lobby hotel tidak menoleh sedikit pun lagi pada meja Laras.


*


Di Krisant.


"Bu, ayolah tinggal di rumah besar bersama kita." pujuk Kiara lagi.


Hm, "Tunggulah Kiara, sekolah Sora lebih dekat dari sini."


Dwi menolak halus, sesungguhnya ia berat mau meninggalkan rumahnya.


"Bi, di rumah ada Sabit anak Yudi, gak apa tambah satu anak lagi. Asalkan Bibi ikut kita, semua pasilitas buat anak ini akan disediakan." jelas Bram.


"Bu, punya anak kecil pasti merepotkan bagi Ibu, Kiara gak mau ibu sakit."


Dwi dilema.


Memang iya sih, baru satu hari saja ada Sora tadi sudah kumat encok ku, hm.


*


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiah nya author ucapakan terima kasih.


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2