Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
119


__ADS_3

Tiba di rumahnya, Laras turun dari motor Zainal, tergesa membuka pintu.


"Laras tunggu!" panggil Marissa yang juga turun dari motor satunya.


Ck, Laras menoleh. "Lo kenapa ikut, kan ditunggu sama Daniel." Laras mengomeli Marissa masuk ke dalam rumah, langsung menuju dapur.


Hehe, "Penasaran, pengen tau rumah lo sejelek apa."


Hais, bacot minta di gampar.


Batin Laras berpikir-pikir, di mana kira-kira ibunya menyimpan duitnya sehingga dia tidak perlu membongkar barang, kerena repot mau mengembalikan ke tempat semula.


Zainal dan temannya menunggu di luar berjaga-jaga kalau-kalau ada yang datang.


Satuan pengaman juga mengawasi dari gang yang bisa kelihatan dari rumah Laras begitu sebaliknya sambil terus memberi laporan pada Yudi.


"Ras."


Panggil Icha bergidik melihat dapur Laras hatinya miris. Sebenarnya dia sudah mau muntah tapi ditahan. Lebih kurang serupa rumah kakek Sabit, untungnya ruang tamu Laras masih layak duduk, lah dapur.


"Hm." gumam Laras mengitari pandangan nya.


"Lo buang aja ini barang-barang rongsokan, bikin sarang nyamuk tau gak! Kecoak, kelabang, jangan-jangan ada ular."


Aaaa!!


Serentak mereka berdua menjerit, melompat.


"Hais, lo bikin kaget aja." sentak Laras.


Namun begitu otak Laras jadi terbuka saat terpandang pada keranjang berisi koran-koran bekas.


"Cha, bantuin gue narik keranjang keluar!"


"Ya udah ayok."


Terpaksa Marissa bernafas melalui mulutnya agar tidak mencium bau-bau tak sedap dari kolong meja makan yang penuh keranjang-keranjang, ada yang dari bambu ada yang dari plastik dan juga alat-alat memasak.


Benar saja di bawah koran terbungkus karung, tas duit ditemukan.


"Pegang bentar, Cha." Laras memberi Icha tas duit.


"Huh, berat juga. Habis ini lo traktir gue makan di restoran mewah." ujar Icha masih bernafas dengan mulutnya, sehingga suaranya sengau.


"Iya tenang aja, lo sih! Di suruh jangan ikut."


Ujar Laras gak jadi tersinggung, maklum mengingat si Icha memang orang kaya tulen. Dirinya sendiri aja sejak sering main ke rumah besar, merasa miris melihat rumahnya gembel tak tertolong.


Laras membuka resleting tas, kelihatan duit segepok-gepok.


"Alhamdulillah." Laras bersyukur menciumi duitnya.


"Ngapain sih pegang duit cash gini, repot and ribet gak praktis banget deh." gerutu Icha.


"Icha, gue minta tolong dong bawa nih duit ke rumah besar, gue mau nyimpan di sana aja. Sialnya si Suga baru bulan depan mau nerima duitnya." Laras mengembalikan lagi keranjang ke tempat semula.


"Kenapa gitu, gak simpan di Bank aja?" tanya Marissa heran.


"Repot bolak balik, Suga maunya kas gak mau transfer."


Ucap Laras mengibas tangannya yang berdebu.


Hari gini masih ada orang gagap tekhnologi.


Dalam hati marissa mengerut dahi.


"Gue mau ke rumah sakit jenguk ayah dan buat perhitungan pada paman." ujar Laras.


"Yah! Biar duitnya dititip ke sekuriti oke, gue mau ikut lo ke rumah sakit." rengek Marissa.


"Bukannya lo udah ditunggu Daniel." Laras heran.


Nih anak, kok jadi nempel ke gue sih.


"Ikut lo lebih seru, gue bosan pengen hiburan. Petualangan, memacu adrenalin hehe." Marissa cengengesan.


Ck, "Ya, udah ayok."


Tak lupa Laras membungkus tas uang dengan plastik hitam gede bekas, bersama Icha ke mobil Satuan pengaman.


"Pak, tolong jagain ini barang ya. Kalau hilang awas aku laporin ke Tuan muda Bram. Kalian tau kan siapa aku!" tegas Marissa sok ngancem.


"Siap nona, kita akan mengawal kemanapun Nona berdua mau pergi!"


Satuan pengaman memberikan lagi kunci mobil pada Marissa. Kelihatan Laras menghampiri Zainal.


"Zai, makasih ya. Lo udah banyak bantuin gue. Ini, pakailah untuk ngontrak rumah sementara kalian tinggal bersama."


Laras memberi segepok uang pada Zainal, sejumlah 10jt.


Zainal dan temannya mendelik. "Ah, gak perlu Ras. Kita ikhlas bantu kok." tolak Zainal segan.


"Anggap minjam deh, pulangin nya entar aja kalau lo dah sukses." ujar Laras.

__ADS_1


"Ya udah, kalau ayang Laras maksa, terima kasih." ucap Zainal memandang temannya tersenyum.


Ck. Laras berdecak, masih aja ayang nya gak ketinggalan.


Dengan semangat Marissa membawa mobil kembali ke rumah sakit, di tengah perjalanan,


"Ras, emang lo pendarahan kenapa?" tanya Marissa penasaran, ia ingat tadi ibu Laras mengatakan kalau Yudi bersikap buruk pada Laras.


Ck, apa sih, ditanyain gitu Laras masih malu, seolah tabu jika membicarakan hal begituan padahal kan perlu ya buat pelajaran.


Seolah mengerti Marissa memberikan tips dan trik bercintanya yang aman dan menyenangkan. "Lo nya jangan tegang, nyantai aja. Nikmatin, walaupun lo berdua ngerasa belum ada cinta."


"Iya, deh."


Jawab Laras menarik bibirnya, teringat wajah Om yudi yang terlalu bersemangat. Walaupun Laras masih ingat rasa sakitnya namun begitu ia juga kepingin mencoba lagi.


*


Di ruangan Bram, Yudi menerima laporan dari satuan pengawal yang dikirim nya mengikuti Laras dan Marissa.


"Hem, ikuti terus jangan lengah." tegas Yudi menutup panggilan. Menarik nafas dalam-dalam, teringat perkataan Bram.


Apa benar aku yang bodoh, sehingga Laras terluka dalam yang parah, dalam hati Yudi.


Bram keluar dari kamar ruangan kantornya, melihat sudah ada Yudi.


"Yudi gimana meeting?" tanya Bram bergabung duduk di sofa.


"Persiapan 99% rampung, proyek berjalan tiga minggu ke depan, diusahakan selesai dalam tiga bulan. Laporan bagian Marketing sudah ada down payment 70% kredit, dan yang cash 30% sudah lunas. Modal yang keluar sudah balik 250% dari target 300%, sehingga bisa lanjut ke tahap II." Yudi menjelaskan hasil rapat.


"Wow good job Yudi." Bram mengulurkan tangan menyalami Yudi.


"Yudi, walaupun kamu tidak jadi menikah dengan si Icha, aku akan tetap membagi saham dengan mu di tahap satu 5% dan tahap dua 5%." tegas Bram.


"Terima kasih Bos." ucap Yudi berdiri menunduk hormat pada Bram.


"Hm, tinggal satu agenda lagi. Kamu belum makan ayo pesan, aku juga lapar. Tambahkan menu yang sesuai dengan lidah Kiara, sebentar dia bangun pasti lapar." Bram menyeringai.


Dasar,


Dalam hati Yudi sangat cemburu pada bosnya yang ahli dalam bersenang-senang, lalu melakukan pesanan pada chef khusus VIP.


"Apa istrimu belum menghubungi?" tanya Bram teringat Laras sambil scroll2 ponselnya.


"Saya sudah mengirim pengawal Bos, lagipula Laras bersama Nona Marissa."


Yudi malu mau cerita bahwa penyebab ayah Laras pingsan karena duit nikah yang hilang, hm.


Seharusnya aku tidak meributkan nya,


Benar kata si Bos sepertinya aku memang bodoh,


Dalam hati Yudi, juga men-scroll2 Ponselnya seketika membelalak melihat pesan Email.


"Bos, minggu depan pihak Korsel akan ke Jakarta mau jumpa dengan Bos. Mereka rindu masakan bos." Yudi memberi Bram ponselnya agar membaca Email.


"Tidak bisa Yudi, cepat tolak!" titah Bram.


"Ha!" Yudi memandang Bram.


"Katakan, pulang dari Amrik kita mampir ke Korsel."


Jenius,


Dalam hati Yudi memandang kagum Bos kecilnya yang mesumnya tingkat Dewa itu.


*


Sampai di rumah sakit Laras bersikap biasa di depan ibunya. Ia jadi kasihan menatap ibunya yang lemah dan kurus. Baru nyadar kalau selama ini ibunya lah yang jadi tulang punggung keluarga dengan berjualan makanan dan gorengan.


Ayahnya tidak bekerja hanya mengharapkan uang bulanan kost-kostan, sebulan nya satu kamar 400rb dikalikan lima kamar cuma 2 juta. Hasil dari jualan tak seberapa.


Mana ayahnya susah dibilangin, sudah tau batuk masih kuat merokok.


Laras jadi menyesal memikirkan selama ini ia suka ngeluh. Bagaimana tidak sudah capek-capek kerja duitnya gak pernah bisa terkumpul, karena harus setor ke Ayahnya.


Laras jadi merasa bahwa sebagai anak ia memang belum cukup berbakti.


"Laras, apa kata Tuan Suga Nak?" tanya ibunya.


"Ibu jangan khawatir mengenai utang, baru bulan depan akan dibayar. Mengenai uang rawat inap dan berobat, biar Laras yang mikir. Ibu cukup jaga ayah dan kesehatan ibu sendiri. Walaupun sudah menikah Laras akan tetap ngirim uang bulanan seperti biasa."


Janji Laras. Namun mengingat pekerjaannya, ia jadi benci pada Bram. Gara-gara nya Laras dipecat.


Bagaimanapun aku harus cari kerjaan baru,


Dalam hati Laras hampir jatuh air mata, mungkin ibunya khawatirnya di situ sehingga ia nekad menerima hasutan paman Thamrin.


Kalau uang nikah aja dianggap utang sama Yudi, apa mungkin lagi Laras bisa memberi uang pada keluarga. Bagaimana kalau ibunya tau bahwa ia sudah tidak bekerja, harapan nya adalah gaji bulannya.


"Ras, lo lapar gak?" tanya Icha, baru selesai nelpon dengan Daniel.


"Hem, lo mau makan apa?" tanya Laras.

__ADS_1


"Sebentar Daniel kemari bawa makanan, yes." jawab Marissa.


"Makasih ya, Cha. Udah mau ngantar gue tadi." ucap Laras.


"Hei, santai aja kali. Gue ngelakuin ini bukan buat lo, emang di London juga gue suka jalan."


"What ever." ketus Laras.


Cis, "Oh, sepertinya tangan ayah bergerak." pekik Marissa.


"Iya, udah bangun dia." jawab Ibunya Laras mendekati suaminya.


"Apa tidak perlu dipanggil dokter?" tanya Icha pada ibu Laras heran, karena gak kaget sama sekali.


Laras menekan bel di dinding, memanggil perawat.


"Paman mana Bu?" tanya Laras tidak melihat lagi ada bayangan pamannya.


"Balik ke rumah Tuan Suganda, mau melihat kamu takut kenapa-napa, katanya." jawab ibu Laras menatap suaminya yang mulai siuman.


Ia menyesal, kalau tau dampaknya akan separah ini terhadap suaminya, ia tidak akan mau menerima usulan kakaknya si Thamrin itu.


*


Kiara bangun dari tidurnya, melihat dirinya masih di kamar kantor Bram lalu menjerit dan melompat turun dari tempat tidur. Bram yang lagi nanda tangani sebejibun berkas kaget segera berlari ke dalam kamar.


Di pintu mereka bertemu. "Ka Bram!" Kiara melompat ke tubuh suaminya.


Bram menangkap Kiara. "Iya sayang, apa kamu mimpi buruk?" tanya Bram.


Kiara mengangguk "Ya udah maaf, ayo cuci muka dan cuci tangan terus makan. Lapar kan?"


Bram membawa istrinya itu ke kamar mandi, setelah selesai Bram juga menyuapi Kiara makan, mereka duduk di sofa.


"Yudi mana Bram?" tanya kiara mulut penuh.


"Meeting satu kali lagi." Bram mendelik.


"Oo, ada apa kamu suka nanya Yudi, Kiara!" sentak Bram mendorong sendok di mulut Kiara.


"Aah, sakit!" jerit Kiara.


"Makanya jangan tanya-tanya Yudi lagi, aku gak suka!" ketus Bram.


Cis, "Kenapa kamu gak ikut meeting?" tanya Kiara.


"Kalau aku juga meeting, siapa yang jagain kamu tidur. Tadi menjerit, mimpi buruk apa?" tanya bram.


"Aku takut sendirian." Kiara merengek manja.


"Maaf."


Ucap Bram mencium pipi chubby istrinya itu, kelihatan wajah bangun tidurnya.


Gak lama Yudi masuk ke ruangan. "Sudah beres?" tanya Bram.


Yudi mengangguk tersenyum pada Kiara. Kiara juga membalas tersenyum ke Yudi namun Bram buru-buru menarik wajah Kiara agar menatap nya saja.


Cih, Kiara mengerucut.


*


18.30 wib Laras di rumah sakit menjaga ayahnya. Marissa sudah pulang bersama Daniel.


Karena ayah telah sadar, ibu juga pamit pulang sebentar ke rumah mau mandi dan bawa perlengkapan nginap.


Bagaimana kalau ibu melihat uangnya sudah tidak ada di keranjang, apa akan pingsan juga seperti ayah, hais!


Dalam hati Laras gak tenang lalu menghubungi Zainal agar ke rumah menengok ibunya.


Tidak berapa lama, Kiara muncul di depan pintu. Ada juga Bram dan suaminya Yudi. Laras termangu menatap bingung.


"Kiara." panggil Laras menyapa sahabatnya


"Hm, gimana ayah?" tanya Kiara.


"Udah sadar kok, cuma obatnya bikin ngantuk jadi dia tidur lagi." jawab Laras.


Untungnya walaupun di ruangan ayah Laras ada kasur 4, namun kebetulan cuma ayahnya sendirian yang dirawat di ruangan ini. Sehingga tempat tidur lainnya bisa di pakai buat duduk. Namun para tamunya memilih tetap berdiri, ya sudahlah.


Suasana canggung pun tercipta, terutama antara Laras dan Yudi.


Laras tidak tau bagaimana mau bersikap pada Yudi. Yudi juga diam saja, posisi berdirinya saja di belakang Bram. Seolah-olah ia tidak datang untuk menjenguk istrinya ataupun ayah mertua, namun sebagai pengawal pribadi Tuan muda Bram.


"Kiara, makasih udah datang jenguk ayah, Tuan muda juga terima kasih." ucap Laras.


"Iya."


Jawab Kiara lalu mentoel suaminya. Bram menarik Kiara ke pelukannya dan mengecup pucuk kepala istrinya itu.


Cih, maksud Kiara agar membiarkan Yudi dan Laras mengobrol, bukan ia minta dipeluk.


*****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya, Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2