Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
101


__ADS_3

Ke luar dari kamar Yudi.


Bram melotot pada Kiara sambil menggendong istrinya itu. Karena tubuhnya kecil dan imut, Bram jadi seperti menggendong anak kecil. Bram berhenti melangkah, menekan tubuh Kiara ke dinding kaca lorong.


Bram mendekatkan wajahnya, Kiara yang salah tingkah mengecup kilas bibir suaminya. Bram mendengus dari hidungnya.


"Sayang kamu jangan lagi makan pedas itu, ngerti Kiara."


Ujar Bram kembali menyusuri lorong dengan tetap menggendong Kiara ke kamar mereka.


Kiara mengangguk, memeluk di leher suaminya, menempelkan bibirnya di daun telinga Bram lembut dan menghirup wangi tubuhnya. Ia ingin mengunyah seperti yang sering dilakukan Bram tapi Kiara malu. Kiara paling tidak tahan jika Bram mulai mengunyah daun telinganya, darahnya langsung berdesir.


Sebenarnya tinggi Kiara 158cm di bandingkan Bram yang 190cm memanglah jauh kalau mau berjalan bergandengan, atau kalau mau ciuman berdiri, Bram mesti menunduk banyak walau Kiara jinjit juga.


Makanya Bram suka menggendong Kiara agar wajah mereka sejajar. Kalau posisi bercinta, ah sudahlah gak penting juga kali dibahas. Karena selama ini lancar-lancar jaya, gak ada hambatan mau gaya-gayaan gimana juga.


Lumayan Laras, tinggi 165 cm jika dipasangkan dengan Yudi yang 180 cm masih sebanding, kalau berdiri kening Laras di ujung bibir Yudi.


Mumpung cerita tinggi, masih tinggian Marissa 170 cm dan Daniel 180cm serupa Yudi, serasi gak sih, gaess?


Sementara Beno si bule 192cm, Lucita 175cm. Tapi mereka bukanlah pasangan kekasih, hanya Bos dan pelayan...hais!


Tidakkah Beno bisa melihat perasaan Lucita padanya atau Lucita yang terlalu pandai menyimpan perasaannya, ah.


Sejak kehadiran Kiara, ada rasa yang berbeda di hati Lucita. Perhatian Beno pada Kiara, membuat segumpal daging di dalam dadanya itu terluka. Luka tidak berdarah, tapi sakitnya menyesakkan jiwa.


Lucita menyadari pengabdian nya pada Majikannya itu bukan lagi karena tugas semata namun ada unsur lain yang di sebut perasaan atau cinta


Lucita tua satu tahun dari Beno, walaupun Beno menyadari perasaan Lucita, bisa saja ia bukanlah tipe Beno. Lebih baik menyerah, dalam hati Lucita membuang jauh khayalan dan harapannya.


(Maaf, narasi masih nyambung gak ya?)


Di depan pintu kamarnya ponsel di saku blazer Bram berbunyi, Kiara mengurai pelukannya. Bram menurunkan Kiara, namun genggaman tangannya, tetap. Setelah membuka pintu Bram menyeret istrinya itu masuk ke kamar mereka.


Bram duduk di sisi tempat tidur dan Kiara berdiri di antara sela kakinya. Bram memeluk di pinggang istrinya lalu mengeluarkan ponselnya, ada panggilan dari Daniel. Bram mengernyit membuka panggilan.


"Dani." panggil Bram.


"Hallo." suara Marissa.


Ck, "Ada apa kamu!" Bentak Bram.


"Ais, pelan ngapa suaranya." gerutu Marissa di ujung panggilan.


"Yam, kalau Papi nelpon nanya gue, bilang gue di rumah besar ya." lanjut Marissa memohon.


"Ngapain gue mesti bohong, entar juga ketahuan." ketus Bram.


"Please, bram. Lo tau kan kalau Papi itu masih kuno."

__ADS_1


"Kalau masih kuno, lo nya gak segede gini kali. By the way, Paman gak ada nanya tuh, jadi lo gak usah ke-geeran." Bram masih ketus.


"Cis, seumpamanya nanyak bahlul." Panggilan di tutup.


Sialan,


Umpat dalam hati Bram melempar ponselnya di nakas lalu menoleh pada istrinya. Bram menarik Kiara ke pelukannya, mendekatkan wajah mereka.


Kiara menutup bibirnya dengan tangannya. "Sayang aku ke kamar mandi dulu mau siram badan dan sikat gigi, gerah baru makan pedas." ujar nya dari balik jemarinya.


"Hm." gumam Bram menatap istrinya sayu, lalu menanggalkan gaun Kiara dan juga underwear nya satu persatu.


"Jangan lama-lama Kiara." ujar Bram menelan ludah.


Kiara langsung kabur ke kamar mandi, malu dengan tubuhnya.


Hais, Bram menarik nafas berat.


Kenapa Kiara sangat menggemaskan, bisa gila lama-lama.


Dalam hati Bram menanggalkan pakaiannya meninggalkan boxernya. Iseng mengintip junior yang terbangun mengejeknya.


*


Di kamar mandi Yudi mengguyur tubuhnya dengan berdiri di bawah shower, ia kepikiran Lucita yang tadi nyatronin rumah besar.


Apa hubungannya ini, dengan pencurian data, dalam hati Yudi, ia melirik ke bathtub.


Baiklah, mari segera lanjutkan yang tertunda, dalam hati Yudi mempercepat mandinya.


Sengaja ia tidak menutup pintu kamar mandi untuk mengetahui apakah Laras sudah masuk ruang tidur. Yudi mempertajam pendengarannya, belum ada tanda-tanda. Yudi mematikan shower, mencari handuk.


Mana, tidak ada satupun di rak handuk...shit!


*


Selesai mengumpulkan mangkok, Laras ngelap meja sofa lalu membawa mangkoknya ke dapur. Terlihat pakaian kotor di atas mesin cuci.


Astaga! Sampai lupa dengan cucian,


Dalam hati Laras, meletakkan nampan mangkoknya di wastafel. Laras membuka pintu masin cuci dan memasukkan pakaian kotor setelah memastikan tak ada baju yang warnanya bisa luntur mengenai pakaian yang lain.


Di bawah kakinya ada yang ketinggalan yaitu boxer Yudi, Laras menelan ludahnya.


Apakah Yudi akan mengeksekusinya malam ini, Laras bergidik membayangkan tonjolan Yudi yang sudah beberapa kali dilihat nya.


"Laras, mana handuk?!"


Tiba-tiba Yudi sudah berdiri di dekat dapur tanpa sehelai benang dengan tubuh basah, air menetes-netes dari atas kepalanya.

__ADS_1


Astaga, apa yang ada di pikiranku terpampang nyata, dasar gak punya malu,


Laras membuang muka.


Ya ampun, barusan handuk masuk mesin cuci gimana ini..,


Salah sendiri ngapain main letak di lantai kirain kotor, memangnya handuk cuma satu apa...


Dalam hati Laras teringat tadi pagi ia ada menjemur handuk di luar, Laras pun bergegas ke pintu dapur.


"Hei, mau kemana!?" sergah Yudi sebelum Laras membuka pintu.


"Mau ngambil handuk." jawab Laras tanpa menoleh.


"Berikan itu!" titah Yudi.


"Ha, mana!?" tanya Laras akhirnya menoleh malu-malu fokus ke wajah Yudi mencoba menahan pandangannya agar tidak melirik ke bawah.


"Itu, yang di leher." tunjuk Yudi.


"Oh."


Laras baru nyadar, ia tadi menggunakan handuknya untuk menutup lehernya dari pandangan Sabit.


Laras meraih handuk dari lehernya, berjalan perlahan menghampiri Yudi dengan tetap menjaga pandangan nya kali ini membuang wajahnya ke samping.


Laras merasa tubuhnya ketarik saat ia menyerahkan handuknya. Ternyata Yudi bukan mengambil handuknya akan tetapi menyentak tangannya, kini tubuh mereka menempel.


"Apa tadi aku bilang, segera ke kamar gak pake lama." bisik Yudi di telinga Laras.


Gleg, Laras menelan ludahnya yang nyangkut di tenggorokan, lututnya gemetar. Kalau saja Yudi tidak memeluk pinggangnya mungkin tubuhnya sudah melorot ke lantai.


Apa sih lo Laras, cemen, "ah!!" pekik Laras lirih.


Yudi mengangkat nya masuk ke ruang tidur dan membaringkan nya di kasur. Lalu Yudi ikut manjat ke atas tubuh Laras dalam kungkungan nya. Dengan nafas yang berpacu tak beraturan Yudi mendekatkan wajahnya dengan tatapan sayu ke arah bibir Laras.


Laras mengunci mulutnya dengan mengatupkan bibirnya, Yudi mengerutkan dahi.


"Om, biarkan aku sikat gigi dulu. Tadi makan daging-daging an ada yang nyangkut." ujar Laras takut-takut menggigit bibir bawahnya.


Yudi mendelik, "hah!!" desah Yudi melempar tubuhnya ke samping Laras, mengusap wajahnya kasar.


Kesempatan itu di gunakan Laras untuk kabur ke kamar mandi dan menutup pintunya.


******


Hai, readers yang Budiman dan baik hati. Habis baca satu bab jangan lupa like nya ya, komentar juga author tungguin lho.


Vote dan hadiahnya author ucapkan banyak terima kasih, baik pada readers yang dukung sebelum kontrak, apalagi yang setelah kontrak ini yang tidak bisa author sebutkan satu persatu. Semoga jadi berkah bagi anda semua.

__ADS_1


Per bab nya biasa 1000 kata lebih dikit, maaf kalau suka gantung, gak sengaja,🤭


jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2