
Senin pagi juga di Apartemennya, Bram lagi di dapur sementara Kiara di atas kasur tertidur lemas.
Hehe, aku pingin lihat si Yudi rambutnya gundul, pasti lucu.
Dalam hati Bram terkekeh sambil membuat sarapan, cengar-cengir teringat semalaman dia menindas istri kecilnya itu sampai KO, ternyata si Yudi benar kasurnya memang enak dipakai buat dedek bayi.
Bram berharap semakin banyak benih yang dia tanam semakin cepat Kiara hamil.
"Aku harus menang dari si Yudi." gumam Bram meraih ponselnya membuka satu nomor.
"Hallo Bram, ada apa kamu telpon aku pagi-pagi?" gerutu Daniel di ujung panggilan nada mengantuk.
"Bangunlah, hari sudah terang, nanti rejeki kamu di patok ayam."
Ujar Bram sambil melempar roti ke teflon. Rencananya ia ingin sarapan ringan, roti bakar oles srikaya dan segelas susu.
Ck, "Pepatah kuno itu tidak berlaku bagiku Bram, aku baru selesai operasi istri pengusaha tambang berlian dan batubara, kamu tau berapa uang yang ku peroleh dalam semalam? Ini aku di Kalimantan kalau kau mau tahu jadi aku harap perkara yang ingin kau sampaikan ini penting." sergah Daniel mengomeli Bram karena mengantuk semalaman harus lembur.
Sepertinya hormon si Daniel lagi gak stabil, pasti dia bete gak ada si Icha tempat pelampiasan.
Bram terkekeh dalam hati mendengar Daniel membebel. "Hei, kemarin-kemarin kamu senang sekali kalau aku telpon, wah. Secepat itu hatimu berubah." Bram menggoda Daniel lagi.
"Katakan Bram, ada apa? Siang aku masih ada jadwal. Aku mau tidur, aku tutup ya!" sentak Daniel.
"Eh, tunggu! Ah kamu ini, berikan resep biar istriku cepat hamil."
Dasar, Daniel tambah kesal mendengar nya. "Kenapa tanya padaku, aku bukan dokter kandungan, ah!" sergah nya menutup panggilan Bram.
Sialan, apa dia datang bulan gak biasanya dia marah-marah padaku.
Dalam hati Bram merasa kesal lalu menggoda lagi, mengirimi Daniel chat.
"Mau jumpa Icha, tidak?" tulis Bram di pesan chatnya.
Benar saja seketika ponsel Bram berdering lagi.
Hihi berhasil.
Dalam hati Bram merasa geli. "Masih ada waktu telpon, katanya mau tidur?" Bram meledek Daniel.
"Itu pesan chat kamu maksudnya apa, yang jelas dong!" sergah Daniel galak.
Idih! "Kapan kamu pulang dari kalimantan, info saja. Aku pastikan Icha ada di rumah besar." jawab Bram.
"Malam ini Bram, siang sampai Sore aku ada satu klien lagi. Kamu jangan bohong Bram, awas kalau bohong! Baiklah, aku kasih tips, makan toge banyak-banyak Bram, kamu dan Kiara sama." ujar Daniel memutus sambungan.
Cis, "Toge, gak medis banget."
Gumam Bram merasa sedikit familiar dengan mitos itu lalu membuka kulkas apa ada toge, ternyata ada. Lalu browsing internet, melihat menu toge simpel dan enak.
Aiih, kurang bahan dalam hati Bram, saat ia melihat menu toge goreng bogor keluar selera lalu menelpon satu nomor lagi
"Hallo bos." jawab Yudi.
"Jam berapa kamu menjemput aku!" Bram suara ketus.
Hm, di sebrang panggilan Yudi mengerut dahi melihat jam di dinding, baru 7.30 wib.
"Biasa Bos, jam 09.00wib." jawab Yudi.
"Kenapa lama Yudi?" suara Bram nada memaksa.
Lama! Bukankah biasanya juga jam segitu.
Dalam hati Yudi merasa aneh dengan pertanyaan si bos, mau membaca pikiran bosnya ia malas nanti sajalah saat menjemput nya.
"Apa saya ke sana sekarang, Bos?" tanya Yudi.
"Hm, bawa menu toge goreng dari resto, harus ada!" ketus Bram memutus sambungan, melempar ponselnya di atas meja memasaknya.
Lalu Bram membuka celemek nya masuk ke kamar gak jadi masak, setelah memastikan api kompornya padam.
Nunggu toge goreng aja nanti buat sarapan.
Dalam hati Bram melihat Kiara yang tertidur pulas, ia cemburu ingin gangguin lalu naik ke kasur.
"Kiara sayang, aku mau ke kantor bisa temani aku sarapan." panggil Bram sambil menjepit-jepit bibir istrinya gemas.
Wajar sih dia masih ngantuk, tidur aja menjelang subuh.
Dalam hati Bram sebenarnya kasihan. Bram bagaimanapun capeknya, tidur sepuluh menit cukup baginya asalkan pulas. Apalagi sekolah di luar negri sudah terbiasa ia disiplin melatih dirinya sendiri seperti militer. Tidur itu baginya qualiti time bukan quantiti, jadi gak separoh hidup di habiskan buat tidur seperti si Kiara montel ini, ah gemas Bram.
"Sayang, kamu harus banyak olahraga biar gak malas, ayo bangun!" panggil Bram lagi kali ini menyedot bibirnya.
Ck, Merasa terganggu Kiara membuka matanya sayu melihat wajah tampan nan menyebalkan tersenyum padanya, lalu berbalik badan membelakangi Bram.
__ADS_1
Malas katamu, siapa yang mengajak ku olah raga kasur semalaman sampai lemas.
Dalam hati Kiara semakin melingkar.
Plak!
Bram menggeplak bokong gemas lalu menghimpit tubuh Kiara, cara paling seksi membangunkan istri. "Bangun sayang." bisik nya, bahkan mengunyah daun telinga Kiara.
"Bram aku masih ngantuk." Kiara suara malas matanya masih lengket, tidak mau terpancing dengan perlakuan suami nya. Yang dia butuhkan sekarang adalah tidur.
Melihat itu Bram mencari akal, apa kira-kira yang bisa membuat istrinya ini terperanjat lalu bangun, ting!
Sebuah ide muncul di kepalanya. "Sayang, kamu tidak usah pergi daftar kursus ya ikut aku ke kantor saja." suara Bram lembut di telinga Kiara.
Benar saja, walaupun Bram mengucapkan nya lembut mendayu, mendengar itu Kiara langsung membuka matanya mendelok, melotot pada Bram.
Seketika ngantuk nya hilang lalu berbalik badan paksa menghalau Bram dari atas punggungnya.
"Bram, kamu sudah janji!" sentaknya menepuk dada Bram menggertakkan giginya.
Aku mau bertemu ibu, bukan mau kursus, dalam hatinya.
Hehe, Bram bertumpu pada satu tangannya, satu tangan lagi memeluk pinggang Kiara menarik ke arahnya.
"Makanya ayo bangun, nanti tidur lagi. Aku tidak suka teman kamu kemari bawa si Sora lagi, anak kecil itu bicara nya seperti tidak di ajari orang tua." ujar Bram.
Ck, "Bram, memanglah dia kurang perhatian. Ya udah, awaslah aku mau ke kamar mandi."
Sentak Kiara menghalau Bram, jangan sampai batal ia ke Mountain villa lalu turun dari kasur goyang-goyang.
"Ayo, kita mandi bareng." Bram kesenangan mengekor di belakang Kiara.
"Kalau bareng, kamu mana cukup cuma mandi." Kiara menahan tubuh suami nya sebelum Bram sempat masuk lalu mengunci pintunya.
Hais, dor, dor dor.
"Sayang, aku mau ke kantor nanti terlambat kalau harus nunggu kamu, si Yudi sudah otw." teriak Bram alasan.
Cklekk. Pintu dibuka. 'Yes.'
"Ayo masuk!" Kiara nada kesal.
*
Di kamar hotel Yudi mengerut dahi menerima panggilan dari si bosnya, kenapa tiba-tiba mau makan toge goreng.
"Buatkan menu toge goreng untuk sarapan Tuan muda Bram di Apart." titah Yudi sesaat panggilan nya diterima.
"Boleh lebih spesifik Tuan." jawab yang menerima telpon.
"Buatkan saja beberapa menu populer, ngerti!" tegas Yudi.
Aku juga tidak diberitahu, maunya toge goreng ya toge goreng, dalam hati Yudi.
Laras keluar membawa Sora yang sudah selesai mandi, sengaja ia beresin Sora terlebih dulu baru kemudian dirinya.
Laras berjongkok agar sejajar dengan Sora mambantu nya memakaikan bajunya, terlihat lagi walk in closet, penasaran dengan banyaknya baju pria bergantungan.
Koleksi siapa ini, apa Yudi? Tidak mungkin, dia baru saja jadi asisten Bram, mungkinkah baju Bram.
Dalam hati Laras sambil Menyisir rambut Sora dan mengoles bedak di wajahnya.
"Sudah, Sora keluar dulu gantian Mama mau mandi." ujar Laras.
"Ma, bajunya bagus." ujar Sora kesenangan melihat dirinya di cermin seperti putri orang kaya.
"Iya, ini dari ayah. Makanya kamu harus jadi anak baik nurut sama ayah seperti bang Sabit, ngerti Sora." ujar Laras.
"Oke." Sora mengangkat jempol nya.
Cup, Laras mengecup pipi Sora.
Cup, gantian Sora mengecup pipi Laras, sesuatu yang tidak pernah dilakukan nya bersama ibunya Salma.
"Ma, kita mau kemana?" tanya Sora sebelum ia keluar dari walk in closet.
"Ikut Kiara jalan-jalan, mau gak?" tanya Laras.
"Hm, mau." jawab Sora kegirangan berlalu dari hadapan Laras.
"Panggil ayah suruh mandi, ya." suara Laras saat Sora sebelum jauh.
"Iya Ma." ucap Sora.
Kelihatan Yudi berpapasan dengan Sora di pintu masuk walk in closet, hanya mengenakan bathrobe, astaga. Laras menelan liurnya.
__ADS_1
"Ayah, sana cepat mau dimandiin sama Mama." ujar Sora mendongak pada Yudi yang tinggi, mengernyit melihat nya curiga.
Mendengar itu Laras merah padam, buru-buru ia masuk ke kamar mandi sengaja tidak menutup pintunya, kalau-kalau Yudi mau masuk.
Hm, "Sora tunggu di luar kalau gitu, duduk yang manis ya." ujar Yudi berjalan ke arah kamar mandi.
Cklekk. Pintu dibuka lalu dikunci.
Laras menunggu dengan berdebar, saat perlahan Yudi menghampiri nya, hm.
Yudi meraih jemari Laras, mereka berdiri hadap-hadapan lalu Yudi mendekatkan bibirnya ke telinga Laras. "Aku sudah mandi tadi waktu mau subuh."
Bisik nya sangat dekat sehingga Laras kegelian, saat Yudi menjepit telinga Laras dengan bibirnya.
Kalau sudah mandi, kenapa masuk kamar mandi pakai jubah mandi lagi, dalam hati Laras beringsut menarik wajahnya.
"Ya udahlah pergi sana, aku saja yang mandi." jawab Laras merengut berbalik badan, Yudi memeluk nya dari belakang.
"Apa kamu mau dimandikan." tanya yudi suara berat menarik perlahan simpul tali jubah tidur Laras.
Di pantulan cermin kelihatan bagian depan Laras yang terbuka, topless tidak pakai Bra. Akhirnya benar-benar polos saat Yudi melepas jubah melempar nya jauh entah ke mana.
Laras berbalik badan malu, seketika memeluk Yudi ingin menutupi bagian penting dirinya. Yudi balas memeluk Laras, mengusap kulit halus punggungnya, sesaat hening.
Laras mengurai pelukan, "Sanalah kalau sudah mandi, tadi aku kangen karena sudah peluk sekarang gak kangen lagi." ujar Laras suara pelan mendorong Yudi keluar.
Seketika Yudi mengangkat Laras, membawa mereka berdua masuk ke bathtub yang kering, lalu membaringkan Laras. Melepas bathrobe nya ikut baring di atas tungkai Laras yang terbuka. Sambil memutar kran air, gerakan slow motion Yudi mencium Laras.
Karena melihat bos juga sedang sibuk membuat dedek bayi di kamar mandi, Yudi juga gak mau kalah. Sambil berciuman Yudi memposisikan bagian tersensitif mereka.
Ah!
Laras suara mendesah, seketika Yudi sudah di dalam dirinya.
*
Senin 09.30wib.
Dengan bergegas Yudi membawa Laras dan Sora buru-buru turun dari lantai atas hotel WJ, sudah telat 30 menit waktunya menjemput si bos, hais!
Tidak mau bertemu Olivia dan Junior, terlebih dahulu Yudi memindai lokasi aman! Barulah ia membawa keluarganya jalan.
Sementara Olivia lagi sarapan di kamarnya, juga tidak berminat mau keluar. Dia takut berpapasan dengan Yudi, kerena cemburu dan sakit hati kini ternyata sudah ada seseorang di samping nya.
Semalam Olivia mencoba tegar berdiri di hadapan Wahyudi, namun sampai di kamar ia menangisi kebodohan nya.
Sudah setia menunggu begitu lama hanya untuk membuktikan pada Wahyu bahwa ia masih mencintai nya, apalagi mereka ada tanda cinta, yaitu seorang anak laki-laki yang tampan dan pintar.
Banyak waktu dihabiskan Olivia mencari Wahyudi yang hilang seolah di telan bumi.
Merasa putus asa hampir gila juga ia pernah, karena tak kunjung menemukan jejak Wahyu.
Selama lima tahun ia menghubungi nomor lama Yudi, tidak pernah aktif sehingga ia tidak menghubungi lagi dan fokus pada hidupnya.
Saat akan ke Jakarta, secara tak sengaja Olivia menemukan ponsel lamanya yang ada nomor Yudi, namun dengan dada berdebar ia menahan diri untuk tidak menghubungi nya. Karena sudah begitu lama, ia tidak siap dengan kemungkinan apapun yang bisa terjadi, nanti saja saat di jakarta.
Dan saat ia melihat orangnya langsung di resto hotel WJ, Olivia menekan nomor Yudi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ternyata nomornya aktif dan masih menyimpan namanya. Ada secercah harapan di hati Olivia.
Masih segar di ingatan Olivia, malam itu lima belas tahun yang lalu, ia menahan sakit hanya untuk menenangkan Wahyu yang marah padanya, sampai mabuk pula sesuatu yang gak mungkin dilakukan Wahyu. Hanya karena kata-katanya yang ingin putus pura-pura buat nge prank wahyu.
Akibat mempermainkan perasaan Wahyudi yang tak seberapa itu, aku harus menanggung semua sakit ini. Benarkah itu bukan Wahyu, tapi kembaran nya.
Dalam hati Olivia mengingat-ingat kembali kejadian itu, apa ada yang janggal.
"Mom." panggil Junior membuyarkan lamunan nya.
"Hm." gumam Olivia menoleh pada Juni, mengusap mata basahnya.
"Lupakan saja bajingan itu, aku tidak butuh lagi seorang ayah. You the only one who I need, Mom." ujar Junior.
"Yes, baby. Jangan khawatir, I am oke." Olivia tersenyum dipaksa.
Hm, Junior menarik nafas berat.
Selama di jakarta ia mencoba menyelidiki Yudi, ditambah lagi data yang diberikan anak buah Yudi padanya, sedikit banyak memperjelas duduk permasalahan nya.
Seumpama bukan Wahyudi yang menodai Mom Olivia tapi dia juga menyakiti hati Mom nya. Sama saja, dua-duanya bajingan. Karena Yudian Suganda adalah kembaran wahyudi, setidak nya masih saudara.
Aku tidak sudi punya keluarga bajingan yang telah menyakiti Mom Olivia lahir dan batin. Dua manusia kembar sialan, tunggu saja aku akan menghancurkan kalian.
Dalam hati Junior mengepal tangannya, mengetatkan rahangnya, matanya memerah menahan murka.
*****
Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like vote dan hadiahnya author ucapkan thanks veri much.
__ADS_1
Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏