
Pagi di Krisant.
Detik-detik sebelum Bram menelepon Yudi mengajaknya ziarah ke makam ibu kandung Kiara.
Bram yang memang terbiasa bangun pagi sedang berlari keliling komplek untuk menjaga kesegaran serta menjaga kebugaran tubuhnya. Apalagi satu malam-an gak tidur menemani Kiara yang sudah dua malam ini insomnia.
Walaupun ngantuk Kiara tidak berani tidur lagi seperti di rumah besar.
Di rumah besar ia memang Nyonya muda tapi di rumah ibunya ia adalah seorang anak yang harus berbakti pada orang tua.
Sejak dulu ayah ibunya memang tidak pernah menggunakan jasa pembantu walaupun sebenarnya mereka mampu.
Seperti sekarang di dapur Kiara bersama ibunya sedang menyiapkan sarapan. Jadilah ia menguap sambil mengadon tepung dicampur berbagai irisan sayur, seledri dan daun bawang dibantu Soraya yang jadi seksi sibuk berkomentar.
"Kiara lagi buat apa?"
Tanya Sora berdiri di kursi meja makan agar kelihatan apa yang sedang dikerjakan Kiara.
"Bakwan." jawab Kiara dengan tatapan sayu.
"Apa enak, sayurnya apa aja?"
Tanya Sora lagi gak tahan berdiri dia pun duduk di meja makan di depan Kiara, memangku wadah sayur yang belum semuanya tercampur. Liurnya hampir menetes, wajahnya terlalu dekat menunduk ke wadah.
Huahm!
"Sana lo ileran, masuk ke mari entar!" sentak Kiara sambil menguap menepis tangan Sora yang mengaduk-aduk irisan sayur.
"Lo juga ileran, ngapa masih ngantuk semalam gak tidur buat debai ya?" tanya Sora.
He', Kiara mengerut dahi. "Apa itu debai?" tanya Kiara pura-pura bodoh.
"Debai, masa gak tau sih! Kan lo dah nikah, malam-malam ya buat dedek bayi lah." jawab Sora dengan fasih nya.
Kiara melirik ibunya malu, apa semalam kedengaran sampai ke sebelah sehingga si bocil ini pun tau.
Dwi pura-pura cuek sambil menggoreng ayam bumbu lengkuas dan kunyit yang dihaluskan.
"Sora ayo mandi, kamu semalam ngompol." seru Dwi.
"Yah, ngompol!" Kiara mendelik.
"Hehe maaf, mimpi basah." jawab Sora santai.
Astaga, Dwi menggeleng.
Apa aku gak salah ambil ni anak bicaranya terlalu tua dari umurnya.
Hi hi, Kiara terkikik melihat ekspresi ibunya.
"Mau tidur tuh pipis dulu!" Kiara suara keras.
"Udah, Kiara!" Sora balas suara keras.
"Umur lo berapa, manggil gue nama! Panggil gue kakak lah, laki gue lo panggil kaka!" ketus Kiara.
"Beda dong, dia kan laki. Kita sama sesama cewek enakan panggil nama, lo kenapa cantik Kiara?"
__ADS_1
Tanya Sora bantu memasukkan sayur dikit-dikit ke adonan tepung Kiara.
"Emak gue cakep ya gue pasti cantik lah."
Jawab Kiara membanggakan dirinya menunjuk ibu Dwi dengan memonyongkan mulutnya.
"Ah, bo'ong. Kita kan sama anak pungut." jawaban Sora membuat Kiara naik darah tinggi, Ya Tuhan. Hampir aja centong dijetut nya ke kepala Sora.
"Aish!" buru-buru Sora menangkis dengan tangannya.
"Tapi gue masih satu aliran darah sama ibu, tau!" ketus Kiara menggertakkan giginya.
Ups!
Keceplosan Kiara melirik Dwi resah, ibunya itu juga sedang memandang tajam ke arahnya.
"Bawa ibu Ziarah ke makam ibu kandung kamu, Ra." suara Dwi bergetar.
Kiara menggigit bibir bawahnya. "Bu." panggil Kiara takut-takut
"Jadi kamu juga tau, tapi ikut merahasiakan nya dari ibu?" suara Dwi serak hampir jatuh air mata.
Kiara berhenti mengadon lalu buru-buru berlutut di depan Dwi. "Maafkan Kiara Bu." ucap Kiara juga mendung, sedikit lagi hujan air mata.
Sora melongo melihat Kiara tiba-tiba berlutut seperti di drama-drama, dia juga ikut haru melihat kesedihan di depannya.
Bram yang baru masuk ke dalam rumah melihat istrinya berlutut di depan Dwi, mengerutkan dahi, ada apa?
"Sejak kapan kamu tau!?" sentak Dwi suara sedikit agak keras.
"Baru saja Bu." jawab Kiara pelan tubuhnya bergetar.
"Ada apa ini, Kiara! Bi." tanya Bram kasihan melihat istrinya memandang Dwi bergantian.
"Bangunlah Kiara, aku adalah bibimu. Panggil aku bibi seperti suami mu memanggilku." tegas Dwi.
"Tidak mau, huuu."
Teriak Kiara menangkap kaki Dwi, akhirnya ia menangis.
"Ada apa Bi, kenapa masalah panggilan jadi persoalan?"
Bram mengangkat tubuh istrinya dari kaki ibu mertuanya itu, namun Kiara bergeming. "Bu, maafkan Kiara Bu huu huu." ratap Kiara pilu.
"Bawa bibi ke makam ibu kandungmu segera. Kamu jangan panggil lagi aku ibu, ngerti Kiara atau aku tidak akan memaafkan kamu." tegas Dwi.
"Tidak Bu, tidak mau!" jerit Kiara berurai air mata menahan kaki ibunya yang hendak beranjak.
"Saya yang akan membawa Bibi segera." janji Bram walaupun ia belum jelas duduk persolan nya.
"Kamu tau sayang makamnya di mana?" tanya Bram pada istrinya, Kiara mengangguk.
Demikianlah makanya Yudi menerima telpon dari Bram mengajak nya ziarah siang hari ini sebenarnya untuk mengantar Dwi.
"Tenanglah Bi, kita akan pergi jam makan siang hari ini juga" jelas Bram setelah mendapat konfirmasi dari Yudi.
Dwi masuk ke kamarnya setelah mematikan kompor, mengunci dirinya.
__ADS_1
Kiara di ruang dapur menangis tersedu di pelukan Suaminya, Sora di atas meja ikut terisak, ingusnya keluar.
Hais, Bram menurunkan nya, membawa kedua anak perempuan yang menangis itu ke pangkuannya.
*
Setelah bersiap Yudi membawa Laras ke Krisant untuk menemani Nyonya muda sekalian menjemput Tuan mudanya berangkat ke kantor.
Tak lupa Laras membawa oleh-oleh sandwich roti bakar sisanya, hehe sayang dibuang baik di jadikan bekal di jalan saat ziarah nanti.
Sampai di rumah Krisant Laras terkejut melihat Kiara di pelukan suaminya bersama seorang anak kecil bertubuh gempal, apalagi wajah mereka berdua sembab masih ada sisa air di mata.
"Lo kenapa Ra?" tanya Laras.
Yudi membaca situasi nya segera mengerti. Ia juga sudah lama tau kalau Kiara anak biologis sekretaris Burhan. Makanya selain Bram, Yudi juga sangat menghormati Kiara.
Karena kalau bukan karena Burhan dan Tuan Pramudya mungkin dia sudah gak ada lagi di dunia ini sekarang atau paling tidak kalau hidup pun ia pasti di kenal sebagai manusia buta.
Kebetulan Bram menikah dengan Kiara, maka lengkaplah sudah kebahagian nya, selama hidup Yudi sudah bersumpah akan mengabdi pada dua keturunan anak manusia yang telah memberinya kesempatan hidup untuk kedua kalinya tanpa mengurangi rasa syukur nya pada Tuhan.
"Bos." panggil Yudi.
Kiara mengurai pelukan, memandang suaminya itu.
"Aku tinggal sebentar ya sayang, nanti siang kita bawa Bibi Ziarah." Bram memujuk istrinya.
Kiara mengangguk turun dari pangkuan Bram membawa Sora turun juga.
Bram mengecup kening istrinya sebelum masuk ke kamar Kiara hendak bersiap pergi ke kantor. Yudi membantu nya dengan perlengkapan yang dibawa nya dari rumah besar.
Laras menemani Kiara di ruang tengah dapur. "Ada apa Ra, kenapa lo nangis?" tanya Laras.
Kiara menggeleng.
"Bibi Dwi mana?" tanya Laras lagi.
Kiara memajukan mulutnya menunjuk ke kamar Dwi, hm.
Laras memandang Sora dengan wajah bangun tidurnya, di matanya masih ada belek dan segaris iler di sudut bibirnya. Kiara juga belum bisa diajak bicara.
"Siapa nama kamu?" tanya Laras langsung pada Sora.
"Soraya." jawab Sora pelan memandang Laras.
Merasa gerah melihat Sora, Laras mengajak nya mandi. "Ayo kakak mandikan kamu mau?" tanya Laras mengulurkan tangannya.
Sora mengangguk menggenggam jemari Laras.
"Bentar ya Ra, gue gak tahan lihat anak dekil." ujar Laras membawa Sora ke kamar mandi dapur.
Mendengar itu Yudi di dalam kamar Kiara menarik ujung bibirnya, setidaknya masalah lain Laras tidak kaku seperti pada dirinya.
****
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote serta hadiah nya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semau.
Jumpa lagi pada episode selanjutnya 🙏
__ADS_1