Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
150


__ADS_3

Di Apart Bram.


Kiara terperangah begitu pintu lift dibuka sudah disambut dengan banyaknya bunga-bunga menghiasi ruangan. Mulutnya sampai menganga, sebenarnya Bram juga heran ini bukan dia banget.


Apa maksud si Yudi buat surprise begini, aku hanya ingin dibersihin aja debu-debunya sudah lama juga kan gak di sapu pel namun kadung udah dihias, ya sudahlah.


Dalam hati Bram menggendong istrinya ke kamar mereka, lagi lagi Kiara menganga tatkala melihat di kamar juga banyak bunga-bunga bahkan di kasur bunga rose merah bercampur baby rose pink disusun berbentuk love.


Bram pun pura-pura bersikap sok romantis menurunkan Kiara berdiri hadap-hadapan menggenggam jemarinya, mengingat-ingat rayuan pulau kelapa yang terpikir olehnya.


"Sayang, I love you so much. Semoga cinta kita abadi hingga akhir hayat hanya maut yang dapat memisahkan."


Ucap nya tersenyum lebar merasa Kiara tersentuh dengan surprise nya eh bukan, surprise si Yudi ini mah dalam hati Bram karena dia juga kaget.


Kiara menatap Bram sayu, indah memang indah tapi, "Bram, ini pemborosan."


Jawaban Kiara tentu saja bukan yang diharapkan oleh Bram seketika menarik kembali bibirnya yang semula tersenyum jadi mengerucut.


Ah si Yudi minta dipotong gaji, pakai kartu siapa dia membeli semua sampah ini.


Dalam hati Bram jadi kesal karena Kiara menyebutnya pemborosan, hah!


Jangan bilang ini dari kebun bunga si Mama, bayar berapa dia tidak mungkin Danu memberi nya gratis.


Dalam hati Bram mengingat mamanya yang gila duit, dia aja pernah di jual kepada Evita.


"Sayang, bukankah ini namanya romantis?!" tanya Bram lagi masih bersikap manis jangan merusak suasana, walaupun ia sendiri gak yakin, apa itu arti romantis.


"Lebih baik uangnya dibagikan ke panti asuhan tanda bersyukur sudah diberi rejeki yang berlimpah." Kiara menasehati suaminya.


Ck, Bram jadi sakit kuping mendengar nya tiba-tiba Kiara ceramah pula, lalu mengangkat nya melempar istrinya itu ke kasur.


"Ah!"


Pekik Kiara kaget, tubuhnya mental melambung bersama bunga-bunga ke udara lalu turun lagi sampai tiga kali baru dapat keseimbangan dan bunga-bunga tampak berserakan di kasur dan di lantai.


Bram sampai khawatir berjaga di pinggiran kasur takut Kiara terlempar, sambil menyeringai.


"Ini lagi kenapa kasurnya nge-per banget sih!"


Sentak Kiara setengah teriak naik darah tinggi karena gamang, sambil mengutip bunga-bunga dari atas rambutnya.


Hehe, "Mungkin pikir si Yudi biar kita cepat dapat dede bayi sayang, kan goyangannya makin yahud kalau kasurnya nge-per gini."


Jawab Bram cengir ikut lompat ke kasur juga merasa aneh, seketika tubuh Kiara oleng hampir jatuh replek Bram meraih tubuh istirnya.


Kapan aku minta ganti kasur, ah si Yudi awas aja kalau sampai gak enak dibuat goyang.


"Ini balon udara apa gak pecah kalau ditiduri, apa lagi kamu suka ganas."


Sergah Kiara khawatir kalau kalau kasurnya bocor dan kempes pas si Bram lagi menghentak-hentak di atas tubuhnya.


"Sayang ini bukan rencanaku, ini ide si Yudi mungkin dia mengira kamu akan tersentuh dengan kejutan begini seperti perempuan lainnya."


Ujar Bram berusaha menenangkan Kiara dan juga dirinya sendiri yang juga sudah mulai naik darah.


"Sudah jangan merusak mood, ayo kita nikmati aja satu putaran sebelum aku memasak makan malam buat kita."


Ujar Bram menarik Kiara ke pelukannya menciumi istrinya gemas karena gak tahan melihat wajah kesalnya.


Cih, "Merusak mood! Kapan kamu gak mood kalau urusan menyatu." sergah Kiara mendorong wajah Bram.


Hehe. "Kamu betul sekali sayang, aku padamu selalu berselera."


Bram geram menyedot bibir istrinya lalu bangun membuka satu persatu bahan yang melekat di tubuhnya.


"Coba kita rasain sayang enak tidak kasurnya, apa per-nya bikin kamu semakin menjerit-jerit, ah ah ah."


Bram menggoda Kiara mulai menjelajahi tubuh istrinya.

__ADS_1


Hais, "Kamu beralas tikar aja mau sepuluh kali sehari kalau diladeni terus."


Ujar Kiara mengomel pasrah dengan nasibnya.


*


Yudi sampai di halaman rumah besar.


Dengan bergegas ia ke kamarnya, di ruang keluarga bertemu Samsir yang mencegat nya.


"Yudi tadi ibu Sora baru datang, sedang bersama Laras di kamar kamu." beritahu Samsir pada Yudi.


Syukurlah, malam ini aku bisa bersama Laras tanpa gangguan Sora.


Dalam hati Yudi. "Kamu beri dia kamar yang mana?" tanya yudi.


"Atas perintah Nyonya besar, di kamar tamu Bibi Dwi biasa kalau sedang menginap di sini." jawab Samsir.


Hm begitu, "Terima kasih Samsir."


"Ayah, ini tablet Sora tadi dokter nitip kasi ke Ayah." tiba-tiba suara Sabit menghampiri Yudi dan Samsir.


"Kamu pegang dulu Sabit, ayah ada urusan lebih penting."


Ujar Yudi berlari ke lorong ujung sembari memindai kamarnya, pintu yang terbuka memudahkan Yudi masuk.


Sesuai penglihatan nya, Laras lagi di meja makan bersama Salma dan Sora sedang menikmati oleh-oleh yang dibawa Salma yaitu Pizza hot.


"Ayah Yudi." panggil Sora kegirangan.


Laras menoleh ke pintu masuk, begitu juga Salma memandang dengan dada berdebar. Tadi saat Laras memintanya menemui Sora di kamar Yudi, dengan hati berbunga ia berjalan diantar seorang pelayan.


"Makan apa?" tanya Yudi mendekat ke meja makan berdiri antara Laras dan Sora.


"Abang, mau makan pizza?" tanya Laras memberi sepotong ke mulut Yudi, Yudi membuka mulutnya menerima pizza sambil mengusap kepala Laras.


"Terima kasih." ucapnya tersenyum lembut, semua itu tak luput dari perhatian Salma dan dia merasa cemburu.


"Ada, minta sama Sabit di dapur." ujar Yudi.


"Aiih, terima kasih Ayah Yudi."


Ucap nya dengan wajah ceria, Sora turun dari kursi bergegas keluar kamar tujuannya kemana lagi, ya ruang santai dapur.


"Sora jangan lari-lari nanti jatuh." jerit Laras suara keras.


"Tolong jaga anak kamu." Yudi suara tegas pada Salma.


"Baik Tuan." ucap Salma bangun dari duduknya keluar dari kamar Yudi.


Hatinya sih bahagia untuk Sora sudah punya ayah yang menyayangi nya, tapi merasa sedih untuk dirinya kenapa bukan dia yang jadi istri ayah dari putrinya itu. Salma menunggu di balik pintu yang ia biarkan terbuka, ingin menguping.


"Laras ayo bersiap." ujar Yudi menarik Laras ke ruang tidur dan pintunya juga tidak ditutup.


Hm, "mau kemana?" tanya Laras sesampai di ruang tidur.


"Malam ini kita makan malam dan tidur di hotel WJ."


Ujar Yudi masuk ke kamar mandi juga membiarkan pintunya terbuka, menanggalkan pakaiannya sehingga polos lalu mandi buru-buru mengejar waktu.


Laras yang sudah mandi segera membuka lemari pakaian mencari sesuatu yang pantas dipakai untuk makan malam, ia teringat dengan gaun yang dibeli nya sewaktu shoping bersama Icha.


Karena gaun Icha yang pilihkan tentu saja harganya mehong, Laras jadi teringat Icha apa kabarnya dia tidak ada di rumah besar.


Ini pertama kali juga Laras memakai gaun, biasanya jeans dan kaos kalau gak atasan kemeja yang dipadu dengan jaket.


Yudi keluar dari kamar mandi dengan polosnya, sambil mengeringkan tubuhnya dengan handuk menatap Laras tak berkedip seketika melempar handuknya memeluk Laras di pinggang dan mencium bibirnya sangat bernafsu.


Sehingga Laras sesak nafas, barulah Yudi melepas nya. "Kita mau tidur Laras jadi jangan berdandan cantik-cantik, buka baju ini pakai yang biasa atau pakai piyama." titahnya meraih lagi handuknya.

__ADS_1


Astaga, bagaimana mau keluar pakai piyama, ke hotel lagi. Begini dibilang cantik, padahal aku belum sisiran juga bedak-an.


Dalam hati Laras mengernyit menatap Yudi. "Buka!" tegas Yudi lagi membaca pikiran Laras.


Hah! "Jangan pakai piyama ya, malu dilihat orang. Piyamanya nanti saja pas di kamar hotel pakai nya." mohon Laras.


Yudi termangu tidak memperhatikan ucapan Laras, saat ia membaca pikirannya terlihat olehnya di samping pintu kamarnya, Salma berdiri menahan geram tangannya mengepal, hm.


Sepetinya dia tadi mengintip dan sempat melihat tubuh polos ku, dalam hati Yudi.


"Laras ini kamar kita, lain kali kalau mau terima tamu di ruang keluarga atau gak di ruang santai dapur, ngerti."


Ujar Yudi suara keras-keras sengaja biar Salma mendengar nya.


"Maaf." ucap Laras masih mencari baju mana yang cocok. "Kalau Kiara?" lanjut Laras bertanya.


"Seluruh isi rumah ini milik suaminya, terserah dia kalau mau masuk." jawab Yudi.


Mendengar itu Salma berlalu dari pintu kamar Yudi berjalan menyusuri lorong dengan hati yang kecewa.


Laras memakai pakaiannya biasa, kaos dan skinny. Karena semua jaket Laras kecil-kecil sama saja menampakkan bentuk tubuhnya, Yudi membalut Laras dengan jaketnya yang panjang,


Yudi juga sudah mengenakan pakaian dinas nya, karena di mau berjaga malam mengawasi bosnya yang lagi makan malam romantis di Apart.


"Ayo." ajak Yudi menggenggam tangan Laras keluar dari kamar mereka sambil membayangkan reaksi terharu Kiara dengan kejutan yang dibuat nya.


Pasti tambah romantis, dalam hati Yudi.


*


Di ruang keluarga ada Sora dan Sabit masing-masing memegang Tablet, ada juga Salma melihat Sora bermain game di tablet barunya.


Melihat Laras dan Yudi keluar dari lorong, "Mama Laras mau kemana sama Ayah." tanya Sora bangun dari sofa menghampiri mereka.


"Mama mau menemani Ayah kerja." jawab Laras.


"Ayah, Sora juga mau menemani Ayah." suara Sora mulai merengek menatap Yudi memohon.


Melihat itu, "Sora sini sama ibu saja, mari." ajak Salma menarik tangan Sora.


"Tidak mau, ah!" Sora menepis tangan Salma.


"Ayah Yudi, Mama Laras! Aku ikut naik mobil." rengek Sora lagi matanya mulai merah, memeluk Laras.


Hais, dalam hati Yudi kesal kenapa harus berpapasan dengan Sora di ruang keluarga. Laras menoleh ke Yudi yang merengut.


"Mama." panggil Sora lagi suara merengek, sudah keluar air mata.


"Sora, ayo sama Ibu." panggil Salma lagi setengah hati.


"Tidak mau! Huuu." jerit Sora akhirnya menangis semakin memeluk di kaki Laras.


"Bang, biarkan Sora ikut ya."


Mohon Laras serba salah gak tega melihat Sora menangis. Hm, Yudi menarik nafas dalam kemudian mengangguk.


"Boleh saya ikut Tuan menjaga Sora agar tidak mengganggu kebersamaan Tuan dan dek Laras." ujar Salma.


"Tidak perlu." jawab Yudi cepat dan tegas lalu menoleh ke Sabit.


"Sabit kamu ikut, bantu Mama Laras menjaga Sora." titah Yudi pada Sabit.


"Iya Ayah."


Jawab Sabit, tanpa perlu berganti pakaian mengikuti rombongan entah kemana dia pun tidak tau dan gak mau nanya.


Di halaman utama ia masuk mobil duduk di bangku belakang bareng Laras, karena Sora maunya duduk di depan di samping Yudi.


****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, like vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏


__ADS_2