Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
196


__ADS_3

Di Penthause Daniel, beberapa saat sebelum heli mendarat.


Kiara menunggu kedatangan Laras sambil bermain bersama kedua bayinya di kasur ditemani mama mertuanya Alisha.


Sementara Bram sengaja memanggil pamannya Arjit melakukan pekerjaan kantor di ruangan berbeda sehingga ia tidak perlu bertemu Laras.


Bram hanya ingin menjaga dirinya agar tidak salah bersikap pada istri dari asisten kesayangannya itu sehingga tidak menimbulkan banyak pertanyaan dari Kiara mengapa ia tidak menyukai teman istrinya itu.


Dwi, Icha, Sabit dan Sora, yang menunggu Laras di Mension segera dijemput ke Penthause.


Padahal mereka sudah siap siap menunggu Laras dan bayinya di Mansion, memberikan surprise telah mendekor kamar bayi dengan berbagai mainan dan juga menu masakan nusantara.


"Mana sih, kok belum ada juga." gerutu Sora menciumi bayi Kiara gak puas puas.


"Sora, jangan diciumi terus debayi nanti bau jigong kamu." seru Sabit.


"Mana bau, aku dah gosok gigi!" Sora suara gak bisa pelan, sehingga kedua bayi terkejut mendengar nya.


"Kaget kan anakku, tante Sora jangan kencang kencang suaranya."


Kiara mengomeli Sora, mengusap kedua wajah bayinya. Teringat saat masih kecil main boneka bonekaan, sekarang memiliki bayi beneran rasanya sangat menakjubkan kedua makhluk imut itu keluar dari dalam dirinya.


"Idih, manggil tante lagi!" protes Sora gak senang merasa dirinya tua.


"Hahaha."


Sabit yang duduk di Sofa menertawakan Sora, begitu juga Dwi dan Alisha menanggapi tersenyum dengan kehebohan nya.


"Lo kan adik gue, anak gue ya manggil lo tante. Mau dipanggil nenek!" Kiara tersenyum jail melihat wajah kesal Sora.


"Gak mau, manggil kakak lah!"


Jerit Sora makin marah, kedua bayi terkejut bibir mewek seperti mau menangis.


"Oh cup cup cup, anakku sayang." pujuk Kiara pada bayinya.


"Duduk yang jauh Sora, suara kamu membuat anakku ketakutan." Kiara menepis Sora.


"Hahaha."


Gantian Sora tertawa melihat wajah mewek bayi Kiara sangat lucu. "Ups, sorry dedek." ucap nya lalu kabur dari kasur duduk di sofa bergabung dengan Sabit, Dwi dan Alisha.


"Sora, nakal." Sabit menjewer telinga Sora.


"Aaa!" Sora menjauh dari sabit, kembali fokus pada ponselnya.


Mendengar heli sudah mendarat dengan selamat di atap sebelah utara gedung, Kiara antusias tak sabar ingin berjumpa Laras.


"Ara, kamu baru lahiran duduklah yang tenang!" suara ibunya Dwi nada khawatir.


"Iya sayang sabarlah, mereka pasti kemari." Alisha suara lembut pada Kiara.


~


Begitu juga dengan Laras gak sabar campur deg degan turun dari heli, belum belum buliran bening jatuh di sudut matanya.


Yudi menggenggam jemari Laras sedih, tau Tuan muda semakin tidak menyukai Laras karena barusan dia membaca tenyata bosnya itu sengaja menghindar, hah!


Zainal yang ikut turun mengikut di belakang jadi terharu, ia coba menebak apa yang akan terjadi jika dua sahabat itu bertemu, sudah pasti ada drama.


Salah seorang Bodyguard membukakan pintu untuk Yudi dan Laras masuk ke ruangan kiara, Zainal memilih duduk di bangku tunggu luar.


Laras tak kuasa menahan tangis berdiri di depan pintu, semua mata tertuju ke arahnya.


Kiara beranjak dari kasur, menghambur memeluk teman dari masa kecilnya itu, ikut menangis sedih dan pilu. Dwi dan Alisha beranjak ke kasur menggantikan Kiara menjaga bayinya.


Sabit dan Sora termangu di Sofa, Mama Laras kelihatan berbeda mungkin karena kurus jadi tampak semakin kecil.


"Syukurlah lo baik baik saja, sekarang gue lega Ras..hiks hiks." ujar Kiara masih sesenggukan, mengurai pelukan.

__ADS_1


Seketika Laras sadar betapa egoisnya dia selama ini tidak memberi kabar, semakin menangis merasa bersalah telah membuat sahabatnya khawatir dan bersedih terlalu dalam karena dirinya.


Kalau saja bos Beno sampai hari ini masih saja mengikuti sikap kerasku, pasti aku masih bersembunyi.


Dalam hati Laras semakin menyesali dirinya telah membuat khawatir teman yang sedari kecil perduli padanya, yaitu Kiara yang selalu baik tanpa pamrih.


"Maafin gue Ra." ucap Laras mengusap wajahnya yang basah air mata.


"Sudahlah, ini anak lo cantiknya baik budi banget." Kiara mencium pipi Duta di gendongan Laras yang terbengong.


"Baby duta lelaki Kiara." jawab Laras.


"Oh, tampannya."


Kiara meralat ucapannya terpandang Yudi yang berdiri di belakang Laras dengan dua bayi lagi menggantung di dadanya. "Apa mereka juga lelaki?" tanya Kiara pada Yudi.


"Ini Sebira dan Sevira bayi perempuan, Nyonya muda." jawab Yudi.


"Aish, sini dong aku mau gendong satu." pinta Kiara pada Yudi.


Yudi membuka kain gendongan Sevi memberikan nya pada Kiara. Badan Sevi sedang, tidak kurus juga tidak gemuk sangat pas dan enak digendong.


Kiara membawa Sevi ke kasur, diikuti Laras dan Yudi masuk ke dalam ruangan.


"Tante, Bibi Dwi." Laras menyapa Alisha dan Dwi, tak lupa Yudi menunduk hormat pada Alisha.


Hm, Alisha dan Dwi tersenyum mengangguk bareng. "Laras anak kamu cantik cantik ya." ujar Alisha nada datar basa basi.


"Sini bibi mau gendong." Dwi meminta bayi di gendongan Laras. Laras membuka kain gendongan nya memberikan Duta pada Dwi.


"Sini Yudi, saya mau gendong anak kamu juga." Alisha memanggil Yudi ikutan mau menggendong bayi.


"Mirip Yudi banget ini mah." lanjut Alisha lagi menatap bayi di pangkuannya.


"Mama Laras." Sabit menghampiri Laras.


Hm, "Sabit, kamu tambah tinggi."


Sora mendekati bayi Laras di gendongan Alisha. "Mau gendong." pinta nya suara pelan pada Alisha.


"Baiklah Sora, naiklah ke atas kasur." titah Alisha.


Sora manjat ke kasur duduk agak ke dalam lalu Alisha meletak Sebi di pangkuan Sora dalam pengawasan nya. Sora tersenyum kaku karena ini pertama baginya menggendong bayi.


Laras menatap heran pada Sora, ada apa anak itu tidak mau memandang nya.


~


Yudi menghampiri Bram dan Arjit di ruangan tak jauh di sebelah ruangan bayi.


"Tuan muda, manager Arjit." sapa Yudi menunduk hormat pada kedua majikannya itu.


Bram dan Arjit mengangguk bersamaan. "Syukurlah Yudi, akhirnya kamu bisa berkumpul dengan anak anak mu." ujar Bram.


"Belum bos." jawab Yudi nelangsa.


"Apanya yang belum?" tanya Bram nada heran.


Hah!


Yudi menarik nafas berat. "Dua hari tepat sebelum mempertemukan saya dan Laras, Beno meminta nya menanda tangani kontrak kerja dua tahun." jawab Yudi.


Bram dan Arjit mengerut dahi memandang Yudi. "Kenapa dia seperti tidak ikhlas, untuk apa dipertemukan kalau begitu." Bram nada kesal.


"Mungkin Laras sedang hoky, beberapa pemilik Brand ternama berminat dengan tas rancangan nya sehingga Beno ingin Laras bisa mandiri membawa namanya sendiri." lanjut Yudi.


"Kan bagus itu, kamu harus mendukung nya." jawab Bram.


"Bukan saya tidak mendukung Bos, cuma Beno mengharuskan Laras tinggal di mansion nya selama dua tahun." Yudi terdiam merenung Bram.

__ADS_1


"Apa kamu mau resign Yudi?" tanya Bram menatap Yudi intens menangkap maksud dari ekspresi di wajah asistennya itu.


"Tentu saja tidak bos." jawab Yudi cepat.


"Tidak apa apa Yudi, kalau kamu segan mau resign aku bisa memecat kamu. Dengan pesangon dan gaji dibayar penuh, mengenai saham terserah kamu mau dilepas atau tidak." Bram menantang Yudi.


"Maaf bos, saya sudah banyak merepotkan anda." ucap Yudi.


"Tidak ada niat saya mau keluar dari WJ, saya sudah diberi amanat oleh mendiang Tuan besar dan juga Senior Burhan agar selalu di sisi anda, mendampingi anda selama saya masih bernyawa." lanjut Yudi suara tegas.


"Itu artinya kamu akan berjauhan lagi dengan anak dan istrimu, tidak apa apa Yudi aku sendiri membebaskan kamu dari janji itu." Bram nada serius.


Seketika Yudi bersimpuh duduk di lantai. "Jangan lakukan itu Bos, saya mohon berikan jalan keluar lain." Yudi sungguh sungguh sampai keluar air mata.


Bukan karena tugas atau terikat janji, tapi Yudi benar benar menyayangi Bram seperti saudara kandungnya sendiri bahkan dengan Yudian Suganda tidak ada perasaan seperti itu.


Aku tidak akan sanggup berpisah dari mu, Bos.


Dalam hati Yudi menatap Bram sendu, kedua bos dan anak buah itu saling menahan pandangan siapa duluan yang berkedip.


*


"Laras!"


Suara Icha masuk ke dalam kamar bersama Daniel. Icha mendekat ke kasur sementara Daniel ke ruangan dimana Bram dan Arjit berada sekalian mau bertanya kabar pada Yudi, penasaran.


Laras menoleh tersenyum pada Icha, melihat perutnya yang buncit teringat saat ia hamil juga gede seperti Icha.


"Maafin gue, Cha." ucap Laras menggenggam tangan Icha.


Marissa mengangguk menatap Laras. "Lo jahat Laras bikin khawatir aja, sumpah gue sempat benci sama lo." Icha mengeluarkan uneg unegnya membawa Laras menjauh duduk di sofa.


"Lo gak tau kan, setahun ini gue gak bisa tenang dengan perasaan bersalah kirain lo diculik penjahat." lanjut Icha.


"Maafin gue, Cha." ucap Laras lagi tambah menyesal telah membuat banyak orang orang baik jadi khawatir.


"Lo kan bisa diam diam telpon, gue paling bisa jaga rahasia." Icha suara pelan.


Kalau Yudi gak bisa membaca pikiran sudah lama gue telpon Cha.


Dalam hati Laras maklum tentu saja Icha gak paham situasinya.


"Jadi gimana lo balikan lagi sama si Yudi?" tanya Icha.


Hm, Laras mengangguk.


"Ya ela, ngapa lo kabur kalau gitu. Sia sia buang waktu setahun."


"Iya, gue juga menyesal."


Jawab Laras, mengingat hidupnya juga gak mudah apalagi saat tau dirinya hamil sedihnya minta ampun. Beruntung Beno mendatangkan Zainal, lumayan sedikit terhibur.


Hah! "Tapi gak apa jadi pelajaran."


Icha menarik nafas berat sedikit banyak ia merasa kesal pada Laras namun setelah bertemu terasa lega mengetahui Laras baik baik saja.


"Tapi gue bersyukur lo gak kenapa napa. Lo tau si Kiara sampai gak bisa bangun dari tempat tidur, betapa dia sangat khawatir saat tau lo hilang. Sebulan gak selera makan mengandalkan selang infus, terus bayinya keguguran." ucap Icha suara berbisik, menutup mulutnya melirik Kiara.


"Ups, beruntung dia tidak dengar."


Icha tersenyum tawar dipandangi Laras yang seolah disambar petir mendengar penuturan nya.


Gak pantes banget aku muncul di sini, sebaiknya aku tidak menampakkan diriku sekalian aja hilang.


Dalam hati Laras semakin merasa bersalah, kembali jatuh air mata.


"Kiara belum tau dia keguguran, Bram merahasiakan nya. Dia drop banget saat itu, Bram memanggil bibi Dwi menghibur nya akhirnya Kiara bisa bangun dan saat hamil kedua Bram menjaga nya sangat ketat. Gue ngomong ini maksudnya, lo juga jangan nyinggung mengenai kehamilan pada Kiara."


Lanjut Icha nada memohon sebenarnya ia pura pura keceplosan tadi agar Laras tau penderitaan Kiara jadi lain kali lebih berpikir panjang dan dewasa dalam bersikap.

__ADS_1


****♥️


__ADS_2