Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
33


__ADS_3

Di kamarnya, sebelum membuka pintu Alisha menarik napas dalam.


Cklek. "Ma."


Pintu dibuka bersamaan dengan suara Bram. "Ada apa Bram kamu bangunin Mama malam-malam gedor-gedor pintu keras-keras?" tanya Alisha akting mengantuk.


"Ma, apa maksud Mama ngirim intel pada Kiara, gak cukup Mama ngawasin Bram saja. Mama mau bagaimana, bukankah Bram sudah setuju nikah sama Evita? Gara-gara Mama ngikutin Kiara, Raharja juga ngirim mata-matanya. Sedikit saja Kiara terluka, Bram anggap ini salah Mama!" ujar Bram memberondong Alisha marah-marah.


Alisha membuang muka melipat tangan memeluk tubuhnya kemudian menatap dingin putranya."Sebelum pernikahan dengan Evita digelar Mama harus waspada Bram. Jaga-jaga, jangan sampai kamu berbuat rencana mau gagalin Pernikahan kamu dengan Evita." ujar Alisha dengan sombongnya.


Bram merah padam menahan marah.


"Ayo ikut Bram ke ruang kerja." ujarnya tak sabar menarik tangan mamanya keluar dari kamar.


Dalam pada itu beberapa pelayan rumah tangga sudah bangun mendengar keributan di lantai dua, Samsir menyuruh mereka kembali ke kamar masing-masing.


"Tutup pintu, tutup mata, tutup telinga, tutup mulut! Kalau masih mau bekerja di rumah Wijaya. Berani membantah, siap-siap tutup usia." tegas Samsir.


Dengan tergesa para pelayan segera ngacir semua masuk ke kamar masing-masing.


Begitu juga dengan Dwi, mendengar keributan jadi terbangun dan segera keluar dari kamarnya. Melihat Bram menyeret Alisha, ada apa?


"Bram, lepas! Tangan Mama sakit Bram." rengek Alisha kesakitan.


Bram bergeming, membawa Alisha masuk ke ruang kerja kemudian Yudi menutup pintunya.


"Lihat baik-baik Ma!" ujar Bram menyalakan TV menyambungkan USB ke slot koneksinya.


Di layar flat tv yang super lebar terlihat gambar organ intim seorang wanita sedang dipreteli sejelas-jelasnya.


"Ahh, apa ini Bram!?" Alisha terkesiap menutup mulutnya dengan tangannya.


"Ini kelakuan calon menantu Mama si Evita. Apa Mama mau cucu Mama lahir dari wanita seperti itu?" ujar Bram sinis pada Mamanya.


Alisha memucat tubuhnya goyah terhuyung kebelakang, Bram menahannya membawa Mamanya duduk di sofa.


Yudi menekan bel ke dapur minta pelayan membawakan air minum. Karena pelayan gak ada yang berani keluar, mau gak mau Dwi ke dapur mengambil air putih di dalam gelas membawanya keruang kerja.


Bram menerima gelas dan memberi mamanya minum, setelah itu dengan tidak terduga Bram berlutut pada Dwi.

__ADS_1


"Bibi, maafin Bram." ucapnya.


Dwi bingung wajahnya kaku gak mengerti, menarik diri menjauhkan kakinya dari tempat Bram berlutut.


*Ke*napa nak Bram berlutut padaku, kesalahan apa yang sudah dilakukannya, dalam hati Dwi.


Alisha mengerutkan dahi buru-buru berdiri menarik Bram juga ikut berdiri.


"Dwi, boleh tolong tinggalkan kami!" pinta Alisha pada Dwi lebih kepada memerintah dari pada memohon.


Dwi mengangguk dan segera keluar dari ruangan kerja dibantu Yudi. Sebentar Dwi melirik ke layar tv kemudian membuang muka karena malu.


"Mama! Bram mau minta izin pada Bibi mau menikahi Kiara!" tegas Bram pada mamanya.


Alisha menatap Bram tak berdaya.


"Bram, kamu baru nanda tangani kontrak ratusan triliun itu berkat Sibolon company, jangan membuat masalah dulu sampai keadaan perusahaan benar-benar stabil." mohon Alisha pada putra kesayangannya itu.


Ah, Bram mengusap wajahnya kasar.


"Ma, untuk apa Mama mau uang banyak-banyak, gak nyangka Mama menjual anak Mama demi harta pada wanita busuk lagi. Maaf Ma, tolong pernikahan dengan Evita dibatalkan, Bram gak sudi menikahi Evita." tegas Bram memandang mamanya dengan sorot mata yang tajam.


"Bram!"


Plakk!


Alisha menampar wajah Bram. Bram terkejut, Alisha lebih terkejut. Seumur hidup baru ini ia menampar putranya itu. Alisha menatap tangannya yang perih dan tiba-tiba menangis histeris.


Bram menatap iba, merasa kasihan pada mamanya. Pipinya yang panas akibat tamparan mamanya ia lupakan kemudian Bram memeluk mamanya.


"Bukankah Bram sudah ingatkan, jangan campuri urusan pribadi Bram maka Bram akan nurut sama Mama. Tapi Mama sudah melampaui batas, ngirim mata-mata ngawasin Kiara. Bagaimanapun nyawa kekasih Bram bisa terancam gara-gara Mama. Kalau sesuatu terjadi pada Kiara Bram gak akan maafin Mama."


Mendengar itu, Alisha mengurai pelukan Bram dan mendorongnya. Wajahnya basah air mata, menatap nanar pada Bram putra kesayangannya. Hanya karena Kiara, kini Bram berani melawan mamanya bahkan mengecamnya.


"Ayo kita bahagia bersama Ma, tanpa harta berlimpah juga bisa. Hidup sederhana seperti Bibi Dwi dan Kiara." pujuk Bram mengulur tangannya mengusap wajah mamanya yang sembab.


"Bisakah Kamu tunggu sampai perusahaan benar-benar stabil Bram, kontrak baru ditanda-tangani tunggulah sampai berjalan. Tolong menikahlah dengan Evita, ulur lah waktu." mohon Alisha masih belum rela.


Bram mendorong mamanya menatap dingin dengan perasaan jijik kemudian memanggil Yudi masuk ke ruang kerja.

__ADS_1


Yudi masuk menghadap bos kecilnya, menunggu perintah. "Bawa Kiara kemari segera, beserta wali nikah, malam ini juga aku ingin menikahinya, di sini! Di rumah ini!" perintah Bram.


"Bram!" teriak Alisha.


"Jangan khawatir Ma, kalau Mama gak buka suara Raharja dan Evita juga gak akan tau. Mama ingin Bram tetap menikahi Evita ini syaratnya, Mama juga harus terima Bram menikahi Kiara." tegas Bram.


"Asal Mama tau Bram sudah meniduri Kiara." lanjutnya lagi, langsung memberi kode agar Yudi segera bergerak ke rumah Kiara.


Walaupun Alisha sudah menduganya, tetap saja dia shock saat Bram sendiri yang memberitahunya. Tubuhnya bergetar. Ya Tuhan..


Alisha teringat pada suaminya. Baru sebulan ia ditinggalkan berdua dengan Bram, sudah terjadi huru-hara.


"Saya permisi menjemput Nona Tuan." Ujar Yudi menunduk pada Bram dan Alisha kemudian keluar dari ruang kerja.


Bram menoleh ke mamanya kemudian ikut keluar dari ruangan meninggalkan Alisha yang terduduk di lantai sambil memegangi dadanya.


Sesaat Bram keluar dari ruang kerja, Alisha membuat panggilan pada intelnya memberi perintah.


"Bawa Kiara ke luar dari rumahnya segera, sembunyikan di New Mansion!"


******


Di rumah Kiara, dua temannya Laras dan Zainal di ruang tengah sedang tertawa-tawa, menikmati cemilan dan menonton acara lawakan di televisi.


Kemudian ada yang mengetuk pintu. Zainal bangun berjalan ke pintu disusul Laras, kemudian Zainal membuka pintunya.


"Ya, ada apa Pak?" tanya Zainal.


"Permisi, kami dipesan Nyonya Alisha. Ibu Nona Kiara tiba-tiba pingsan di rumah besar, kami diperintahkan membawa Nona Kiara, segera!" kata pria yang mengetuk pintu.


Laras dan Zainal terpelongo tatap-tatapan. Dari tadi Kiara belum keluar dari kamarnya. "Sana panggil." titah Zainal pada Laras.


Setelah mengangguk Laras masuk ke dalam, mengetuk di pintu kamar Kiara.


"Ra ada tamu, katanya ibu Dwi pingsan di rumah Wijaya." panggil Laras dari balik pintu.


***** tbc


hi , readers. Terima kasih yang sudah Vote dan Like. Semoga jadi berkah.

__ADS_1


Yang ngikutin tapi gak Like gapapa, semoga dibuka pintu hatinya untuk Like juga.😂🙏


__ADS_2