Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
186


__ADS_3

Di rumah tamu 2, Yudi membuka pintu kamar.


Sepi, kemana Laras.


Yudi membuka pintu kamar mandi, kelihatan Laras sedang berendam di bathtub mata terpejam sangat seksi dengan tubuh yang molek. Yudi lalu menutup pintunya.


Namun ada yang menahan nya. Seolah ada yang menuntun nya membuka pakaian. Sehingga polos, Yudi membuka lagi pintu kamar mandi berjalan ke sisi bathtub.


Laras membuka matanya saat terasa sesuatu menyentuh kulitnya.


"Bang Yudi."


Seketika Laras buang muka saat terlihat lonceng Yudi tepat di depan matanya, deg jantung Laras berdebar.


"Geser." ujar Yudi, dengan kakinya.


Hm, Laras beringsut memberi ruang bagi Yudi tak berani menatap nya.


Yudi duduk di samping Laras, bersentuhan. "Kamu sangat indah Laras." bisik Yudi di telinga Laras.


Laras menoleh pada Yudi yang juga sedang menatap nya tersenyum genit mirip aktor korea Kim Beom.


Laras ingat Yudi pernah mengucapkan kalimat itu, seketika ia kangen sentuhan dan belaian Yudi.


Yudi menjepit anak rambut di wajah Laras menyampirkan nya di belakang telinga.


"Besok jam berapa penerbangan?" tanya Laras menepis rasa gugupnya.


"Habis mandi kita lihat, kamu mau jam berapa?" Yudi bertanya.


Tangannya meraih pinggang menarik ke arahnya, dada six pack bertemu dada montok, tatapan Yudi ke arah bibir ranum.


"Pagi." jawab Laras, jantungnya deg degan.


"Cis, kamu mau buru-buru kabur dariku ya." Yudi mencolek dagu Laras.


"Hm." angguk Laras.


"Walau bercerai, kita kan masih bisa berteman Laras." ujar Yudi di wajah Laras sudah gak tahan ingin menempelkan bibirnya.


"Untuk apa? entar aku gak bisa move on."


Cis, Yudi tergelak. "Bagus kan, kita bisa rujuk."


"Apa kamu gak mau balikan sama Olivia?" suara Laras pelan, hatinya bagai teriris pisau tajam.


"Jangan tanya sesuatu yang membuat hatimu sakit Laras. Yudian 35-an tidak meninggalkan kenangan tentangnya jadi aku gak akan kembali padanya."


Jawab Yudi, lagian orangnya juga sudah mau nikah. Sesaat Yudi ragu-ragu ingin memberitahu Laras atau tidak. Diputuskan nya untuk tidak memberitahu, agar tidak membuat Laras galau dengan keputusan nya.


Laras termangu. "Sekarang kamu Wahyudi, bukan Yudian. Pertama kali kamu bangun yang kamu khawatirkan Olivia dan ingin menelpon nya, kalian punya anak. Suganda itu orang jahat, kamu harus mencegah Olivia menikahi nya."


Suganda si biang kerok? Barusan Tuan muda mengatakan dengan Arjit, mana yang benar.


Dalam hati Yudi, ia sudah membaca file tentang siapa Suganda. "Maukah kamu mendengar satu cerita?" tanya Yudi, Laras mengangguk.


"Dengar baik-baik Laras." ujar Yudi memulai ceritanya.


"Wahyudi dan Yudian adalah saudara kembar identik. Saat masih bayi, orang tua mereka dibunuh gengster untuk mengambil hartanya. Gengster adalah dua bersaudara, lalu masing-masing mengambil satu anak dan berbagi harta orang tua dari bayi-bayi malang itu.


Setelah mendapatkan harta, orang Tua yang mengadopsi Wahyudi bertobat pindah ke ibu kota dan membuka usaha.


Sedangkan yang mengadopsi Yudian masih tetap dengan profesinya di daerah sebagai gengster bahkan semakin bertambah sadis dan kejam.


Meminjamkan uang dengan bunga yang tinggi pada teman maupun lawan bisnisnya lalu membuat usaha mereka bangkrut untuk mengambil alih lalu dijual lagi dengan harga lelang.


Karena Krisis moneter 98, orang Tua wahyudi pailit, usaha pertokoan nya ikut terkena imbas dari keganasan massa yang berdemonstrasi.


Orang Tua Yudian meminjamkan sejumlah modal. Merasa saudara, orang tua wahyudi tidak curiga niat jelek dari orang tua Yudian.

__ADS_1


Namun setelah usaha orang tua Wahyudi berjalan normal orang tua Yudian mulai melancarkan aksinya, membuat orang tua wahyudi semakin terlilit utang.


Yudian dididik orang tuanya menjadi gengster sejati, wajah tampannya membuat ia memiliki banyak wanita sekaligus banyak musuh karena kekejaman nya.


Dia diasingkan ke kampung ibunya Sabit saat jadi buronan, berlagak baik lalu menikahi nya. Setelah kasusnya reda, Yudian kembali ke kelompoknya meninggalkan ibu sabit yang saat itu mengandung anaknya.


Pada dasarnya Yudian adalah orang baik, namun ayahnya mendidik nya jadi penjahat. Setiap kali ada tugas pembantaian, Yudian akan minum alkohol ringan jadi dia sadar dengan apa yang dilakukan nya namun tidak hilang keberanian.


Saat itu 15 tahun yang lalu bertepatan dengan hari ulang tahun si kembar wahyudi dan Yudian yang ke 20 tahun, Yudian mendapat tugas membantai keluarga wahyudi.


Yudian sudah lama ingin keluar dari lingkaran kejahatan ayahnya. Melihat kemiripan wajahnya dengan wahyudi, Yudian mendapat ide ingin bertukar tempat. Kebetulan sekali, lalu Yudian membagi tugas.


Yudian akan membantai orang tua wahyudi, dan memerintahkan anak buahnya menghajar Wahyudi tapi jangan sampai mati, cacat boleh lah untuk ditunjukkan pada ayahnya agar ia bisa kabur.


Karena kemiripan wajahnya dengan Wahyudi, Yudian jadi mudah melancarkan aksinya membunuh orang tua Wahyudi.


Lalu Yudian menghampiri Wahyudi yang hilang kesadaran dihajar anak buahnya. Saat meraba tubuhnya seolah sudah mati, Yudian bertukar pakaian dengan nya seolah dialah yang mati lalu meninggalkan nya begitu saja.


Yudian bertemu Olivia yang menyangka dirinya Wahyudi lalu membawa nya ke Apartemen nya. Olivia yang dibutakan oleh cinta tidak merasa curiga dengan penampilan wahyudi yang mabuk dengan pakaian bersimbah darah, hatinya miris merasa prihatin menganggap itu rasa putus asa Wahyudi karena diputuskan oleh nya.


Tidak adanya luka di tubuh Yudian membuat Olivia bernafas lega. Mereka melakukan apa yang diinginkan Olivia, membuat tanda ikatan cinta. Dengan senang hati Yudian melayani nya hingga tak sadarkan diri karena mabuk bercinta.


Dari Apart Olivia, Yudian dibawa anak buahnya ingin kabur ke luar negri seperti rencana nya. Namun rencana mereka dapat diendus oleh ayah Yudian, di tengah jalan mereka dicegat oleh anak buah yang loyal kepada ayahnya.


Kejar-kejaran ditambah hujan, mobil Yudian tergelincir masuk jurang. Setengah sadar Yudian berhasil keluar dari mobil sesaat sebelum mobil meledak, Yudian terlempar jauh.


Dasar memang nasib baik masih memihak padanya, Yudian jatuh ke air deras lalu hanyut ditemukan oleh seseorang dalam keadaan masih bernyawa, wajahnya hancur tak dapat dikenali.


Setelah sembuh, Yudian kembali menyusup ke kelompok ayahnya. Wajahnya yang buruk namun ketrampilan nya yang jago berkelahi membuat Yudian diterima menjadi anggota.


Lalu Yudian membunuh ayahnya karena dendam pribadi dan juga dendam atas kematian Wahyudi saudara kembarnya dan mengambil alih kepemimpinan dengan versi yang berbeda, lebih manusiawi lah walaupun masih kejam pada orang yang berani mengkhianati nya.


Setelah kelompoknya berjalan stabil, Yudian melakukan operasi memperbaiki kerusakan di wajahnya jadi seperti gambaran yang ada dipikiran kamu ini." Yudi mengakhiri ceritanya menyentil kening Laras.


Aaa! Laras terpekik. "Dari mana kamu tau?" tanya nya.


"Jadi Laras, Wahyudi Yudian suamimu ini pasti sangat mencintai mu. Aku berani katakan karena hanya kamu yang tersisa di ingatanku." lanjut Yudi.


"Lalu kenapa kamu setuju bercerai?"tanya Laras.


"Karena kamu yang minta. Kamu tau sebelum ini, wajah cantikmu ini sangat tertekan. Sekarang lebih relaks." Yudi mencubit pipi Laras pelan.


"Kalau kamu mau berubah pikiran sekarang saja." lanjut nya.


"Tidak akan, bicara dengan mu seperti bicara dengan orang lain namun itu membuat hatiku jadi plong seperti teman." ujar Laras.


"Tapi aku mau masuk Laras." Yudi suara berat menatap sayu Laras.


"Aku istri Yudian, bukan wahyudi." jawab Laras.


"Aku Wahyudi dan akulah Yudian. Kamu tau tadi aku sudah ngintip kamu tapi aku tutup lagi pintunya. Namun sepertinya ada yang menuntun ku membuka pakaian dan bayangan saat, kamu tau bayangan saat kamu dan Yudian di bathtub melintas di benakku. Aku rasa Wahyudi menginginkan mu, anggap saja sebagai ucapan perpisahan." Yudi mengedipkan mata.


Cis, "Alasan, aku merasa seperti istri yang sedang selingkuh."


"Selingkuh sama suami sendiri, gak apa kan. Ini hasrat Wahyudi dan Yudian ditambah hasrat ku, apakah kamu sanggup menahan nya. Laras bersiaplah, aku akan mendekatkan wajahku. Jadi silahkan mengelak, kalau tidak aku khawatir besok kamu gak bisa berangkat pagi." desis Yudi di bibir Laras.


"Kamu atur keberangkatan siang." ujar Laras malu-malu mau.


Sesungging senyum di otak Yudi, meraih bibir Laras mencium nya lembut. Yudi memanjakan Laras dengan sentuhan-sentuhan nya, khusus nya di bagian payu dara sangat memabukkan.


Bisa gila kalau aku kehilangan aset berharga ini.


Dalam hati Yudi mengisap seperti bayi kelaparan, dengan satu tangan meremas, geram-geram gemas.


~


Menjelang subuh waktu Amrik barulah mereka selesai.


Dengan ponselnya Yudi mencari tiket, menoleh pada Laras yang tertidur pulas di sampingnya setelah permainan yang melelahkan. Yudi memilih penerbangan Sore lalu baring di samping Laras.

__ADS_1


Semoga Tuan muda tidak menggangu dengan hal yang remeh temeh.


Dalam hati Yudi, teringat saat membaca pikiran Bram hari minggu saat bosnya itu berolah raga, Yudi berkirim pesan bahwa ia belum tidur semalaman.


Bram memberi nya ijin libur, karena bosnya itu juga sibuk dengan proyek dalam rangka menghamili istinya, yes.


*


Di rumah tamu 1.


Koki baru saja mengantarkan makanan namun Bram tidak mengijinkan nya masuk, jadilah ia sendiri yang menyusun nya di meja makan.


Kiara keluar dari kamar mencari suami nya. "Sayang." panggil nya.


"Kenapa belum tidur." jawab Bram.


"Tidak bisa Bram, apa Laras sudah pergi?" tanya Kiara.


"Belum, temanmu itu masih terbaring lemas semalaman membuat bayi. Ayo makan dulu, setelah itu tidur lagi."


Bram membawa Kiara duduk di bangku meja makan bantu menyuapi istrinya itu. Kasian sudah dibantai bertrip-trip ngalahin angkot nyari sewa kejar setoran bolak balik, maju mundur.


Cis, "Bram, aku mau ikut mengantar Laras." ujar Kiara.


"Iya sayang, masih ada waktu nanti sore baru berangkat." jawab Bram.


"Sayang, nanti kita ke rumah sakit Daniel, aku ingin kamu USG siapa tau di dalam sudah ada bayi." ujar Bram.


"Bram, kita masih muda kenapa kamu ingin cepat punya anak?" tanya Kiara.


"Sayang, sebagai anak tunggal kita harus punya banyak anak biar meriah dan rumah tidak sepi."


"Kamu mau berapa?" tanya Kiara.


"Sebelas." jawab Bram.


"Astaga banyak amat. Kamu aja yang hamil." ketus Kiara.


Hehe, "Kita buat kembar enam satu kali, kembar lima satu kali. Cukup dua kali hamil dapat sebelas anak, aaa!" ujar Bram menyuapi istrinya.


"Kita jadi gak punya waktu mesra mesra karena aku akan kerepotan nyusui bayi, apa kamu tahan gak mesum."


"Setelah lahir kita lempar ke baby sitter, beres kan." jawab Bram.


Dasar, "Tidak usah USG ya, pakai alat tes kehamilan aja dulu lihat nya." ujar Kiara.


"Iya, tapi aku mau kita ke dokter juga ya, program bayi tabung kembar enam."


Hm, "Terserah kamu aja Bram, satu bayi aja ngeluarin nya taruhan nyawa gimana enam."


Aish, Bram terenyuh jantungnya berdenyut sakit. "Sayang, kamu mau gak kita pakai ibu pengganti?" tanya Bram.


"Gak mau." jawab Kiara cepat.


"Benih kamu harus tumbuh di rahimku."


Lanjut Kiara mengusap perutnya, agak buncit.


Matilah aku, jangan jangan beneran hamil.


Dalam hati Kiara mendelik pada Bram.


Melihat itu Bram tersenyum. "Terima kasih sayang, i love you." Bram mengecup pipi Kiara.


"love you too."


*****


Hi, pembaca yang setia. jumpa lagi episode selanjutnya. ♥️

__ADS_1


__ADS_2