Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
177


__ADS_3

Satu jam menuju pesawat landing.


Bram dan Kiara duduk manis di bangku penumpang sudah ready memakai safety belt.


"Sayang, aku mencintai mu." ucap Bram menatap Kiara gemas.


"Aku juga mencintai mu, suami tampan ku." balas Kiara menggombal suaminya.


Cup.


Baru saja bibir menempel sudah ditarik lagi berhubung Daniel dan Icha bergabung duduk di bangku seberang mereka.


"Mana si Yudi, apa belum selesai lagi urusan buat bayinya?" tanya Bram nada kesal.


"Sabar Bram masih ada waktu." jawab Daniel, membawa Icha duduk duluan.


"Memangnya Yudi sudah sadar, babe?"


Tanya Icha menoleh heran pada Daniel sambil memasang safety belt nya, Daniel mengangguk lalu duduk di samping Icha.


"Sudah! Cuma otaknya korslet gak ingat apa-apa." Bram yang jawab nada ketus.


"Kasian Laras." Kiara nada sedih.


"Kasihan apanya, semua si Yudi lupa tapi buat bayi dengan temanmu itu tidak lupa!" jawab Bram masih nada ketus.


"Kamu jangan marah-marah, Bram." ujar Kiara suara lembut menepuk pundak suaminya pelan.


Cis, mendengar kata buat bayi Marissa merengut buang muka.


Semua dapat enak bahkan orang yang hilang ingatan, cuma aku doang yang dianggurin.


Dalam hatinya menggerutu, lalu menepis tangan Daniel yang menggenggam jemarinya.


Daniel senyum dikulum maklum menatap geli dengan sikap Icha yang ngambek, habis mau gimana lagi dia takut kualat lalu menoleh pada Bram.


"Itu bisa jadi titik terang Bram, semacam tali sumbu pada benang yang menggulung membentuk bola besar. Harus pelan-pelan mengurai nya, tidak boleh dipaksa nanti malah nyangkut dan tambah kusut." jelas Daniel.


Hm. "Apa kita perlu membawa nya ke psikiater atau psikolog, Dani?" tanya Bram memberi ide pada Daniel.


Daniel menggeleng. "Tidak perlu Bram, ini bukan masalah mental. Nanti pulang ke jakarta tunjukkan saja padanya rekaman CCTV yang ada di rumah besar dan di kantor untuk bantu mengingat apa saja yang dilakukan sebelum hilang ingatan."


Jelas Daniel khawatir juga kalau ada yang tau Yudi berbeda.


Bisa rame dunia maya maupun dunia nyata, dalam hatinya.


*


Laras tergesa mengganti pakaian Yudi dari seragam rumah sakit memakai pakaiannya biasa. Karena Yudi tidak mau lagi berbaring di kasur seolah pesakitan.


"Laras darimana kamu dapat pakaian ini, keren sekali. Apa aku selalu setampan ini?"


Tanya Yudi berputar-putar gak puas-puas memandang versi dewasa dirinya.

__ADS_1


Hah, Kirain tadi minta masuk sudah gak hilang ingatan lagi.


Dalam hati Laras mendesah. "Cepat Bang, entar aja mengagumi diri sendiri." suara Laras nada kesal dengan sikap Yudi kembali kekanakan.


"Ini baju abang sendiri, mari sini."


Laras menyentak Yudi agar menghadap nya, memakaikan bedak dan memoles sedikit lip gloss dibibir Yudi. Tak lupa menyisir rambutnya ke arah yang dicukur untuk menutupi gundul bekas operasi.


Bekas lukanya kenapa gak ada,


Dalam hati Laras heran juga namun sudah gak sempat nanti sajalah mikirin itu, dalam hatinya.


"Ayo Bang." segera Laras menyeret tangan Yudi keluar dari ruang perawatan.


"Terima kasih, Kakak."


Ucap Laras pada asisten Daniel sebelum keluar, si asisten membalas tersenyum membatin.


Syukurlah Tuan Yudi sudah bangun walaupun jadi aneh.


Dalam hatinya sambil membereskan ruangan perawatan.


"Adek Laras, kamu jangan jauh-jauh dariku ya. Aku tidak mengenal siapa-siapa di dunia ini." mohon Yudi pada Laras, pasrah saja dirinya diseret.


Sementara terperangkap di 2021, aku akan baik-baikin gadis ini, apalagi dia mau aja diapa-apain. Mana jago lagi mainnya, hihi. Maafkan aku Olivia, kalau tau seenak ini aku tidak akan menolak kemarin saat kamu ngajak aku.


Tunggu aku balik, aku yakin ada jalan keluar untuk kembali ke tahun 2006.


"Iya, abang." jawab Laras terus menggandeng tangan Yudi menuju bangku penumpang.


"Silahkan Tuan dan Nyonya." Pramugara membantu Laras dan Yudi duduk di bangku penumpang kosong lainnya.


"Hahaha"


Tiba-tiba terdengar suara tertawa, Bram bahkan memegang perutnya yang keram karena geli sampai keluar air mata melihat Yudi.


"Daniel, kenapa rambut Yudi gundul sebelah, hahaha?" tanya nya di sela-sela tawanya.


"Aku bukan tukang pangkas Bram, namanya juga buru-buru mau dijahit ya seadanya saja yang penting lukanya bisa diobati, hihihi." jawab Daniel tak ayal dia juga tertawa.


Marissa yang semula manyun juga jadi tersenyum geli. "Ya Tuhan, Babe tega benar kamu." ujar Icha jadi lupa dengan kesalnya.


"Nanti sampai di bawah sekalian gundul semua, jelek sekali seperti orang idiot hahaha."


Bram geleng kepala, susah payah menahan tawanya, Kiara hanya tersenyum menepuk pundak suaminya kasihan melihat Yudi jadi bahan tertawaan.


"Dia gak sabar melepas perbannya, kan jadi kelihatan, hah!" Desah Daniel masih kepikiran bagaimana cara mengembalikan ingatan Yudi.


"Sepertinya bukan cuma chipnya saja yang lepas, urat malunya juga ikut putus kamu buat Dani. Lihatlah dia cuek aja rambutnya begitu, hahaha."


Bram tertawa lagi lalu buang muka saat Yudi menoleh padanya, seolah ngerti bahwa dirinya lah yang sedang dighibahin.


"Tapi bekas jahitan tidak kelihatan Dani?" Bram bertanya lagi nada heran pada Daniel.

__ADS_1


"Aku kasih obat penghilang bekas luka super Bram." jelas Daniel.


"Memang ada satu hari langsung hilang?" tanya Bram penasaran.


"Ada, harganya satu mobil satu tube kecil gini." Daniel menunjuk telunjuknya.


"What the fak, bullshit!" jawab Bram.


"Tidak percaya sudah, itu aku kasi sisa Nyonya kalimantan kemaren." jelas Daniel lagi.


Sementara Yudi senyum-senyum sendiri perasaan seolah mimpi menatap Laras yang duduk di sebelahnya.


Dari dikejar preman sampai hampir mati, bagaimana hidupku jadi happy ending. Naik pesawat, pakai baju bagus wajah tampan mirip aktor...


Ada gadis yang menemani bisa ena2 seolah di surga, ah.


Mungkin ini balasan amal baikku semasa di dunia menjaga diriku dari zinah, jadi ya saat mati dikasih bidadari.


Hm, lama-lama dilihat manis juga kok.


Dalam hati Yudi memandang Laras tak jemu-jemu, lalu meraih tangan Laras sambil tersenyum sumringah seperti anak baru gede yang lagi jatuh cinta.


Laras membalas senyuman Yudi dalam hatinya miris, sedih bercampur aduk.


*


Pesawat sampai di bandara internasional JFK, New York City sabtu pukul 12.10wib waktu Jakarta artinya sabtu 00.10 waktu Amerika.


Karena Yudi sudah sadar dari komanya, Bram dan rombongan naik heli ke Mansion Daniel tidak jauh dari rumah sakitnya sementara Daniel langsung ke rumah sakit sebentar melihat pasien yang menunggunya.


Di Mansion Daniel rombongan telah ditunggu asisten rumah tangga Daniel.


Bram dan Yudi menempati masing-masing satu rumah tamu di samping rumah utama masing-masing dengan pasangannya, sedangkan Icha mendapat tempat istimewa di kamar Daniel di lantai dua di rumah utama.


Ah, tidak sia-sia aku mendapatkan Daniel.


Dalam hati Icha bahagia, mengingat betapa kaya Daniel. Dia sudah pernah ke pulau pribadi Daniel sekarang ke kota metropolitan united state of Amrik, seketika ia lupa dengan cita-citanya jadi model terkenal.


Masih dini hari waktu Amrik, Daniel pulang menjelang 04.00 waktu Amrik. Perbedaan waktu membuat Icha tidak bisa tidur karena Jakarta sekarang masih sore.


"Babe, i miss you." Icha menggelayut mengalung lengan di leher Daniel.


"I miss you too, baby." Daniel mengecup bibir Icha.


"Kita sudah di darat, sekarang boleh dong." tuntut Icha genit-genit manja mengedipkan mata.


Cis, "As you wish, baby." Daniel tak kuasa menolak.


*


Hi pembaca setia, ikutin terus Tuan muda romantis. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2