Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
56


__ADS_3

Di ruang tengah di rumah besar Wijaya.


Alisha bersalaman dengan Ben. Ia merasa canggung, tatapan orang ini mengintimidasinya. Sungguh wibawa dan sangat tampan.


"Se-lamat datang Tuan Beno." sapa Alisha.


"Hm" Beno tersenyum datar. "Saya ingin bertemu Kiara." jawabnya to the point.


"Ten-tu boleh, saya akan membawa anda padanya bersama Dwi juga." ujar Alisha.


Kenapa suaraku bergetar, dalam hati Alisha.


Kemudian Alisha meraih tangan Dwi.


"Dwi maafkan aku. Aku telah meletakkan Kiara dalam bahaya, hampir-hampir celaka. Aku menyesal Dwi, restui lah Bram menikahi Kiara aku akan menjaganya dengan baik. Mulai dari sekarang kebahagian Kiara adalah prioritasku." ucap Alisha pada Dwi dengan kesungguhan hati.


"Iya mbak, saya yang penting Kiara kalau dia sudah setuju saya hanya akan merestuinya." jawab Dwi. Ia juga gak mau memperpanjang lagi masalah ini.


Sementara Beno di sebelahnya mengurut dada, mencoba ikhlas.


Ternyata Kiara baik-baik saja tapi kenapa ponselnya dibuang? Mungkin yang membuang bukan Kiara tapi si Wijaya. Ahh, Kalau bukan karena Kiara sudah kuhancurkan hidupnya, dalam hati Beno mengepalkan tangannya.


Gak lama rombongan wali nikah datang, dikawal satuan pengaman menghadap Alisha.


"Sebentar ya Dwi." pamit Alisha ingin memanggil adiknya.


"Arjit!" Alisha memanggil adiknya.


"Iya, mbak." jawab Arjit


"Ikut sama adik saya ya." ujarnya pada rombongan wali nikah.


Alisha mempersilahkan mereka mengikuti Arjit mengambil tempat yang telah disediakan.


Setelah itu.


"Dwi, Tuan Beno, kita ke ruang keluarga, ayo silahkan." ujar Alisha dengan hormat.


"Bibi Dwi!" Dwi menoleh saat sebuah suara memanggilnya.


"Laras."


"Bi, Laras mau jumpa Kiara boleh ya." mohon Laras tanpa basa-basi.


Dwi menoleh pada Alisha, Alisha tersenyum pada Dwi.


"ini teman karib Kiara dari kecil." ujar Dwi memperkenalkan Laras pada Alisha.


Bernard mengetahui identitas Laras tapi Laras tidak mengetahui Bernard adalah bos besarnya. Jadilah ia cuek saja.


"Baiklah, dia boleh ikut ke ruang keluarga." ajak Alisha.


"Terima kasih tante." jawab Laras. Kemudian mengikuti Alisha masuk ke ruang keluarga bersama Dwi dan Beno.


Diruang keluarga, Dwi, Beno dan Laras duduk di sofa.


"Saya tinggal dulu ya mau melihat Bram dan Kiara." ujar Alisha.


******


Di kamar Alisha Kiara di pelukan Bram. Hampir tertidur karena merasa hangat dan nyaman. Di bibir Bram tersungging senyuman, Kiaranya membalas pelukan.


Yudi memberi laporan melalui pesan chat, wali nikah sudah di ruang tengah utama.


"Sayang." Bram membangunkan Kiara.

__ADS_1


"Hm." jawab Kiara pelan.


Bram meraih dagu Kiara, mengangkat wajahnya perlahan. Ditatapnya lekat-lekat. "Aku mencintaimu, sungguh-sungguh mencintaimu." ucapnya.


"Hm." balas Kiara seadanya.


Bram mengurai pelukan dan berlutut di depan Kiara, mengambil satu kotak kecil dari saku celananya. Bram membukanya, terdapat sebuah cincin indah bermata berlian.


"Will you marry me?" Bram memohon pada Kiara dengan tatapan penuh harap.


Kiara menatap lekat ke manik Bram. Memang ada kesungguhan di sana dan sesungguhnya dia juga mencintai pria ini. Tapi udah ilfeel.


Hm, apa aku sanggup menghadapi sifatnya yang over protective. Sudah sejauh ini pengorbananku, memberikan kesucian ku, jadi korban penculikan dan hampir kena tembak sniper juga.


"Yes." jawab Kiara.


Bram tak kuasa menahan haru, matanya berkaca-kaca. "Terima kasih sayang." ucapnya mengecup kening Kiara.


Lalu Bram menyematkan cincin di jari manis Kiara, ternyata ukurannya gede satu angka terpaksa dipakaikan di jari tengah.


"Ini aku beli di Amrik waktu masih kuliah. Aku kepikiran akan melamar kamu, saat dipanggil pulang ke jakarta jadi aku buru-buru membelinya, hehe." ujar Bram sambil tersipu malu.


Pandangan Kiara menyipit.


"Belinya udah lama, kenapa baru ingat memberinya sekarang." tanya Kiara.


"Sayang, melamar juga perlu persiapan mental." jawab Bram.


"Mental apa lagi yang harus disiapkan? Karena mu aku udah gak perawan." ujar Kiara.


"Karena mu juga aku udah gak perjaka, hi hi." Bram terkekeh.


Ck. "Kalau gitu mas kawinnya nanti apa yang akan kau berikan?" tanya Kiara.


"Ha!"


Bram menggaruk kepalanya yang gak gatal.


"Ya tau lah, masa gak tau." jawab nya.


"Apa dong, Bukannya mas kawin pihak wanita yang nentuin. Kalau gak ada, gak jadi nikah kita." ujar Kiara.


"Sayang, jangan minta yang aneh-aneh ya, seperangkat alat sholat aja."


"Cuma itu yang bisa kau berikan?" Kiara memutar bola mata malas.


"Hm, di lemari mama banyak mukena baru jarang dipakai sholat." jawab Bram cengengesan.


"Ish dasar, kamu." Kiara menarik hidung mancung Bram.


"Aa." rengek Bram suara sengau.


Bram mengecup bibir atas Kiara lembut penuh perasaan. Lalu ia duduk di sofa membawa Kiara ke pangkuannya. Membuang celemek make up, mengangkat naik kaos Kiara sampai atas dada. Bram kepingin makan buah.


Memang gak bisa lama-lama aku membenci si mesum ini.


Kiara mengusap rambut kepala kekasihnya yang terbenam di dadanya.


tok tok tok


"Bram! Kiara!" suara Alisha.


*******


Dwi bersama Beno dan Laras di ruang keluarga Rumah besar Wijaya.

__ADS_1


"Bi, yang menikah dengan Tuan muda si Kiara ya?" tanya Laras.


"Iya Ras." jawab Dwi.


"Buset si Kiara nikah, baru umur berapa?" desis Laras pelan.


"Mungkin sudah jodoh, Ras." jawab Dwi mendengar desisan Laras.


Laras tersenyum canggung.


Udah gak sabar mau ena'' dia, apa si Kiara hamil ya? Soalnya belakangan aku lihat wajahnya kusut dan agak murung, dalam hati Laras.


"Nak Beno,.Lucita gak diajak?" tanya Dwi pada Beno.


"Ada Bu, mungkin di mobil." jawab Beno.


"Dipanggil masuk Nak Beno, kasian." ujar Dwi.


Beno berpikir-pikir, Lucita adalah pelayannya. Ya sudahlah,


"Baik Bu." jawab Beno. Kemudian membuat panggilan.


"Bi, Zainal teman Laras dan Kiara juga ada di luar boleh masuk ya Bi." mohon Laras.


"Iya." Dwi mengangguk.


Yes, Laras memanggil Zainal melalui telepon.


"Zai, lo ke ruang utama yang ada pelaminan entar gue jemput di situ." panggil Laras pada Zainal.


Mungkin Zainal jawab , "oke." , Laras langsung bangun dari duduknya, memutus panggilan.


"Bentar ya Bi, Laras mau jemput teman di ruang tengah."Pamit Laras pada Dwi. Dwi mengangguk.


"Om, saudaranya kayak apa? Biar saya panggilkan sekalian kemari." tanya Laras pada Beno.


Ck, Om. Apa aku mirip om om.


Dalam hati Beno, ia mengeluarkan ponsel dan menunjukkan gambar Lucita yang ada di layar ponselnya.


"Wah cakep, napa dibiarin di luar? Om kejam deh." ujar Laras menepuk bahu Beno sok akrab.


Beno menatap gak senang


"Ups sori, saya jemput mereka ya Bi." Laras cabut sesaat Beno melotot padanya.


Waduh, bule tampan tapi galak, dalam hati Laras.


Dwi tersenyum manatap Beno yang kesel dengan sikap Laras.


"Kiara gak bisa dihubungi." ujar Dwi memecah keheningan antara ia dan Beno.


"Hm." Beno tersenyum tawar.


Bagaimana bisa dihubungi , ponselnya dibuang ke septi tank, dalam hati Beno.


"Nak Beno apa gak punya pasangan?" tanya Dwi.


"Belum ada Bu, maunya si Kiara. Tapi dia sudah mau nikah." jawab Beno tersenyum datar.


"Ha ha ha." Dwi menanggapinya dengan tertawa. "Nak Beno sangat tampan, muka bule pasti banyak cewek yang kesemsem." ujar Dwi.


******tbc


enjoy reading and see you to the next part.

__ADS_1


Dukungan like dan votenya saya ucapkan terima kasih. 🙏


__ADS_2