Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
128


__ADS_3

Di kamarnya di atas kasur, Yudi bertelanjang dada.


"Buka bajunya Laras." Yudi suara serak mengulur tangannya pada atasan piyama Laras.


"Aku aja Om."


Suara Laras pelan lalu membuka kancingnya satu persatu. Yudi membiarkan nya, memandang tak berkedip saat Laras melepas bajunya.


Kelihatan dua bukit berbalut renda warna hijau pupus, suatu pemandangan yang sangat kontras di kulit tubuh Laras yang putih halus.


Yudi meraih pinggang Laras tak sabar ke arahnya sehingga tubuh mereka menempel. Sembari mencium leher, Yudi mengulur tangannya pada punggung Laras mencari, kok gak ada pengait? Yudi mengerut dahi tak sabar ingin membuka pembungkus daging.


Menyadari sesuatu. "Kancingnya di depan, Om." desah Laras, Yudi mengurai pelukan membuka pengait, ternyata yang depan lebih susah.


"Buka!" titahnya. Laras pun bantu membuka nya.


"So beautiful."


Desis Yudi menyentuh pundak melepas tali hijau pupus itu dan melemparnya begitu saja sehingga kedua benda kenyal dengan bentuk yang sempurna, kini terpampang di depan mata.


Yudi menangkup dengan kedua tangannya meremas lembut. Serasa ada aliran panas membakar ditubuhnya, Laras menatap sayu Yudi gak kuat menahan sensasi sentuhan, Laras menahan tangan Yudi.


"Om." suara Laras tercekat di tenggorokan.


Di ujung bukit Yudi memilin, Laras semakin gelisah sebuah erangan lolos dari mulutnya. Yudi menyergap parau, menghempaskan tubuh mereka baring di kasur.


Mencium Laras dari kening, mata, hidung, seluruh wajah perlahan turun di leher meninggalkan beberapa jejak, gak tahan Yudi melepas boxernya selanjutnya menarik piyama bawah Laras, kelihatan pembungkus lembah warna yang sama hijau pupus, Yudi pun melepasnya.


Bermanja-manja di lembah, Yudi menikmati agar-agar bening, rasa yang manis dan memabukkan Yudi menyedot sampai di kedalaman lembah.


Laras menggelepar, tubuhnya lemas meremas di rambut Yudi yang telungkup di bagian tersensitif dirinya itu.


"Yudi." Laras mendesah nama Yudi untuk pertama kali.


"Iya, sayang. Sebut Namaku Laras." desah Yudi manjat kembali ke bukit setelah puas di lembah, masalahnya si otong udah gelisah minta jatah.


*


Kiara di kamarnya di Krisant, gak bisa tidur. Bram di sebelahnya sudah terlelap dan mendengkur halus.


Jemarinya menari mengikuti lekuk wajah Bram yang tampan. Karena wangi, Kiara mengecup hidung tinggi suaminya itu, gak tahan turun ke bibir.


Ternyata Bram membalas ciuman nya, kaget Kiara menarik bibirnya berbalik badan membelakangi suaminya itu, gak berani mengusik lagi.


Sebuah tangan ramping mengikat tubuhnya semakin merapat. "Kenapa belum tidur?" bisik Bram di telinga Kiara.


Kiara berbalik badan, "Tidak tau." jawab nya mengusap wajah Bram yang terpejam.


Hm, masih merem Bram duduk dari baringnya bersandar di headboard. "Sini sayang."


Bram membuka jubah tidurnya, memang agak panas cuacanya, ia sendiri gerah. Membawa Kiara duduk diantara dua kakinya yang terbuka.

__ADS_1


Lalu melepas gaun tidur Kiara juga. Karena di rumah mertua takut kedengaran kamar sebelah, Bram menahan hasratnya. Namun gak bisa juga karena Kiara telah mengusik ketenangan nya.


Bram mencium Kiara, memanjakan istrinya itu dengan belaian nya.


*


Sementara itu di rumah besar, di ujung lorong.


Dengan semangat Yudi memacu dirinya yang sudah terujung. Walau terasa sempit dipaksa nya juga nyelip di kedalaman lembah hangat dan basah. Kali ini lebih mudah, Yudi membaca Laras juga masih merasakan sakit.


Yudi mengatur tempo mengikuti jalan pikiran Laras, menyentuh titik-titik kelemahannya, gak sia-sia Laras gak putus-putus mendesah, mengerang, menjerit di saat yang tepat Yudi melepaskan tembakan cepat-cepat.


Akh! hirnya ia terhempas berpeluh-peluh dengan napas terengah-engah. Laras mendekap sayang Yudi yang terbaring di atas tubuhnya itu.


Matilah aku.


Dalam hati Laras malu mengingat suara jeritannya.


Jangan-jangan seluruh penghuni rumah besar mendengar nya, ah!


Gak lama terdengar dengkuran halus dari Yudi, Laras menggeser Yudi agar ia bisa beranjak ke kamar mandi mau membersihkan diri


***


Bunyi ponsel menjerit-jerit, Laras kaget menutup mulutnya mengira suara jeritan itu keluar dari nya.


Laras bangun mendapati dirinya di pelukan Yudi, Pria yang barusan tadi menyatu dengannya itu sedikitpun tidak terganggu dengan ke berisikan nada deringnya yang aneh.


Hais, Laras meraih ponsel Yudi melihat Layar pukul 03.00wib dan satu nama wanita.


Dalam hati Laras mengecilkan volume hape, sejenak berhenti kemudian berbunyi lagi.


Merasa tubuhnya ditarik ke pelukan hangat, Laras meletakkan ponsel Yudi kembali ke nakas. Membalik tubuhnya memandang wajah polos Yudi yang terpejam, sesungging seringai devil di bibir Laras.


Pria ini sudah jadi milikku, maka aku akan menjaganya dengan segala daya upaya. Persetan dengan perempuan kuntilanak itu, gak liat jam nelpon tengah malam.


Dalam hati Laras kembali memejamkan matanya. Di dekapannya Yudi membuka matanya tersenyum membaca isi pikiran Laras.


*


Pagi yang cerah di rumah besar, Laras sudah bangun, dia dari dapur utama membawa bahan masakan.


Dari kamar mandi Laras mendengar suara air, artinya Om Yudi juga sudah bangun. Laras ke dapur mau mencuci baju, walaupun kata Icha di antar aja ke ruang pakaian namun Laras ingin mengurus sendiri keperluan Yudi.


Karena gak ada Tuan muda, kali-kali si Om mau makan di kamar aja.


Dalam hati Laras membuat omlet dan orak-arik untuk teman roti bakar di tambah irisan tomat dan mentimun juga selada.


Yudi keluar dari ruang tidur sudah rapi dan wangi, melihat Laras di dapur ia menghampiri.


Laras malu-malu mengingat semalam, ia tidak berani menatap mata Yudi. Menyibukkan diri di mesin cuci, menuang sabun dan mengisi air mengatur waktu mencuci.

__ADS_1


"Pagi istriku." sapa Yudi memeluk Laras di pinggang dari belakang.


"Pagi Om." jawab Laras pelan.


Hm, masih manggil Om. Yudi mengerut dahi.


"Apa ada yang bisa dimakan?" tanya Yudi.


Laras mengangguk. "Itu di meja makan, kalau Om suka." jawab Laras.


"Kamu juga belum sarapan kan, ayo makan bersama." Yudi membawa Laras ke meja makan.


"Bentar aku cuci tangan dulu." ujar Laras berjalan ke wastafel.


Yudi duduk di kursi. "Hari ini mau ke mana lagi?" tanya Yudi meraih roti.


Laras duduk di samping Yudi. "Tidak ada, oh iya Om apa aku bisa pulang ke rumah ayah?"


Hm, "Pergi dengan siapa?" tanya Yudi.


"Mobil online." jawab Laras.


"Jam berapa mau pergi kabari, biar nanti supir dari kantor yang antar kalau aku gak sempat. Hari ini selain beberapa meeting, aku juga mengurus kepindahan Bibi Dwi ke rumah besar." jelas Yudi, rasa heran menghantuinya.


Nyonya melarang online-online masuk kawasan rumah, dia sendiri kelayapan, hais sama aja, dalam hati Yudi


"Nanti kalau mau pergi aku kabari." jawab Laras.


"Om, aku melamar pekerjaan bolehkan?" lanjut Laras bertanya hati-hati.


Karena Yudi sudah tau. "Hm, boleh asal jangan terlalu capek kamu." jawab nya, namun ia sudah mengatur siasat agar Laras jangan sampai diterima kerja.


Yudi memakan rotinya, panggilan masuk dari Bram. "Iya Bos." jawab Yudi.


"Kamu atur, apa kita bisa ke Panti Asuhan Al-fallah hari ini, Kiara mau ke makam ibunya sebelum kita ke Amrik." suara Bram di seberang panggilan.


Yudi mengerut dahi. "Agak siang Bos, pagi meeting dengan Manager Arjit. Hari ini Publik relation dari Amrik akan mulai berkantor."


"Begitu? Ya udah, bisa bawa istrimu kemari menemani Kiara sementara kita ke kantor. Nanti berangkat ziarah nya dari sini."


Yudi memandang Laras. "Baiklah Bos, laksanakan." Yudi menutup panggilan menatap istrinya.


"Laras bersiaplah, aku akan mengantar kamu ke tempat Nyonya muda." titah Yudi.


"Ke rumah Kiara?" tanya Laras.


"Hm." Yudi mengangguk.


"Ya udah." jawab Laras.


*****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua


Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏


__ADS_2