
Ck. "Pakai ponsel ku, berapa nomornya sayang?" tanya Bram yang sudah siap dengan ponselnya.
"Sini, aku yang ketik." Kiara merampas ponsel suaminya.
Cih. Bram merengut. Ia tidak percaya pada tukang urut kampung tapi istrinya mau, ya sudahlah.
Sembari Kiara menelepon, jemari Bram menjajah di tubuh Kiara. Membenamkan wajahnya di dada istrinya.
"Bram, Bentar dulu, a~ah!"
*******
Di ruang tengah Utama, Alisha bersama Arjit sedang menjamu rombongan walikota.
Yudi tidak melihat keberadaan Marisa di ruang keluarga. Lalu ia memindai lokasi ternyata gadis itu tengkurap di kamar tamu di lantai dua sedang menangis berurai air mata. Hati Yudi nelangsa.
Yudi menghadap Alisha di ruang tengah. Ia memindai Arjit, ternyata tadi Marissa pamit mau pulang membawa mobil Papinya itu.
Namun Arjit tidak mengijinkan Marissa bawa mobil di Jakarta. Nanti saja pulang bareng, kata Arjit sepertinya.
Hm, Marissa belum menceritakan apa-apa pada Arjit tentang kejadian tadi, dalam hati Yudi sedikit lega tapi juga kecewa.
Melihat Yudi, Alisha permisi pada walikota dan meminta Arjit agar terus menemani mereka.
Alisha menarik Yudi ke ruang keluarga. "Mana dua anak itu, Bram dan Kiara? tanya Alisha.
"Kenapa dengan wajahmu!?" lanjut Alisha terkejut, baru nyadar kalau wajah Yudi penuh bekas cakaran.
"Gak apa Nyonya, Tuan muda sudah di kamarnya sedang mengobati panggul Nona yang terluka." jawab Yudi. Walaupun tidak melihat langsung dia tau apa yang terjadi di kamar Tuan mudanya.
Dasar mesum, dalam hatinya menelan ludahnya.
"Kenapa bisa terluka, apa mobil kalian tabrakan!?" tanya Alisha gusar.
"Tidak Nyonya, Nona jatuh terduduk di kamar mandi Mall ini." jawab Yudi.
"Kenapa bisa jatuh?" tanya Alisha lagi semakin gusar.
"Mungkin terpeleset." jawab Yudi lagi asal bunyi. Karena Yudi malu mau cerita, biar nanti bosnya saja yang bicara pada Mamanya.
"Kenapa Bram tidak segera bawa Kiara ke dokter? Kamu juga, kenapa wajahmu belum diobati? Mana Samsir? Samsir!"
Teriak Alisha sambil menyeret Yudi agar lebih cepat berjalan ke ruang keluarga. Sampai di ruang keluarga, matanya membulat terpana.
"Tuan Bernard." desisnya.
"Ah, saya Nyonya."
Beno berdiri dari duduknya di sofa. Di sana juga ada Laras ikut berdiri. "Tante." sapanya menunduk hormat.
"I-iya, hi semua. Silahkan, apa kalian sudah makan siang?" tanya Alisha gugup.
"Belum, tante." jawab Laras spontan.
Karena ia juga sudah lapar. Apalagi tadi di Mall ini, tenaganya sudah habis dipakai buat berantam. Hanya sempat minum teh herbal yang tersedia di mobil.
"Di halaman luar banyak stand makanan, boleh pilih yang mana suka. Nanti diantar ke ruang makan, silahkan Laras ajak Tuan Bernard. Kamu bisa kan bantu tante." ujar Alisha.
"Bisa tante." jawab Laras. "Ayo mbeb, kita makan." ajaknya menarik tangan Beno.
Beno mengangguk tersenyum pada Alisha sebelum pergi diseret Laras. Alisha membalas senyuman Beno, harinya hambar.
Mbeb! Bergandengan tangan, apa mereka jadian? Ada rasa tak biasa di dalam hati Alisha namun ia segera menepisnya.
Sementara Beno dan Laras pergi ke luar. Alisha mengajak Yudi ke kamar Bram.
"Kamu bisa ceritakan apa yang terjadi. Kenapa Bernard dan teman Kiara bisa datang bersama. Bram! Si Bram, apa dia juga terluka?" Alisha memberondong Yudi, saat mereka menuju lorong mau ke kamar Bram.
"Tuan muda, tidak apa-apa Nyonya." jawab Yudi.
"Syukurlah kalau gitu." Alisha sedikit lega. " Oh iya, Mana Samsir? Samsir!" panggil Alisha lagi baru ingat.
"iya, Nyonya." jawab Samsir yang sudah dari tadi ngekor di belakang Alisha menunggu perintah.
__ADS_1
Alisha menoleh kaget. "Ah, kamu! Panggilkan dokter Koo sekarang, cepat!" titah Alisha pada Samsir.
"Baik, Nyonya." jawab Samsir. Ia pun pergi membuat panggilan pada dokter keluarga kerajaan Wijaya itu.
"Kamu jujur Yudi apa yang terjadi? Tadi si Icha juga pulang dengan wajah kusut dan maksa minta pulang ke rumahnya. Ada apa dengan kalian? Pergi gak lama, aneh aneh sudah terjadi." suara Alisha gusar dan kesal.
Ah, Yudi merasa bersalah dan pasrah. Siap siap akan dipecat, berani-beraninya mencium putri majikan.
*******
Di kamar Bram.
"Bram ah, jangan digigit." desah Kiara.
"Hm." desis Bram masih asik dengan dua buah favoritnya.
"Sayang udah dulu ya please, nanti lanjut lagi." mohon Kiara menahan geli di dadanya. Dari tadi mau telpon gak jadi2.
"Sayang, aku pingin menyatu." desis Bram di sela hisapannya.
"Jangan Ka, kan lagi pms."
"Seperti semalam aja ya, di bathtub."
"Gak mau." tolak Kiara nanti di suruh, "uwek", membayangkannya saja Kiara mau muntah. Ia masih trauma dengan rasanya.
"Nanti buangnya di luar, ya please."
Tok tok tok.
"Gak ma..." ketukan di pintu seiring suara Kiara.
tok tok tok.
Sambil mengetuk, telinga Alisha menempel di pintu. Kepo mau mencuri dengar ada aktifitas apa kira kira di dalam.
Apa lagi ena. Bukankah si Kiara lagi datang bulan ha ha ha, kasian si Bram.
Sepertinya sifat mesum bos diturunkan dari Mamanya, dalam hati Yudi geleng kepala melihat kelakuan Alisha.
Tok tok tok.
"Bram! Kiara! Buka pintunya." suara Alisha.
Kiara menoleh ke pintu lega, untung tadi sudah dikunci. Kiara berusaha mendorong suaminya agar bangun dari atas tubuhnya.
"Ka, buka pintu! Ada Mama Alisha mengetuk di luar." sergah Kiara.
Bram bergeming. "Gak mau buka." Bram menggeleng terus menghisap.
Tok tok tok. "Bram! Kiara!" suara Alisha lagi.
Ah, dasar omes.
Dalam hati Kiara, gak mau lebih lama lagi mertuanya mengetuk akhirnya ia mengalah.
"Baiklah Bram nanti di bathtub." ujarnya pasrah.
Yes! Bram mengangkat wajahnya, mengusap mulutnya. Mencuri nyedot bibir istrinya kilas.
"Makasih sayang." ucapnya dengan sumringah, ia bangun dari tubuh Kiara beranjak ke pintu.
"Hah!" Kiara bernapas lega tubuhnya merasa ringan karena telah terlepas dari beban himpitan tubuh suaminya.
"Ada apa Mama, ganggu aja!" tanya Bram pada Mamanya ketus.
"Kamu!"
Mata Alisha membulat melihat Bram cuma pake cangcut dan singlet. Kiara di kasur juga bahunya polos dibalik selimut.
"Katanya Kiara terpeleset di toilet Mall ini, kenapa belum dibawa ke dokter?"
Tanya Alisha masuk mendorong Bram yang menyumpal di pintu dengan gak tau malunya. Yudi nunggu di pintu membuang mukanya ke arah luar.
__ADS_1
"Sudah panggil dokter, malam nanti baru sampai." jawab Bram.
"Kenapa malam? Bilang sekarang kan bisa!"
"Dokter Daniel masih di pesawat, Mama." jawab Bram.
"Daniel, dokter kecantikan itu?" tanya Alisha, bola matanya melebar.
"Hm." Bram mengangguk.
Kebetulan sekali, aku mau konsultasi sekalian perawatan.
Dalam hati Alisha, lalu mendatangi Kiara ke sisi tempat tidur.
"Kiara, gimana kamu bisa terpeleset Nak? Cerita sama Mama, apa yang terjadi. Si Yudi gak mau buka mulut, katanya tanya sama kalian berdua?" suara Alisha lembut bertanya pada menantunya.
Bram menatap geli pada Yudi yang pucat pasi, wajahnya penuh dengan luka cakaran.
"Sebaiknya kita semua kumpul dulu baru bicara Ma." jawab Bram mengerti kenapa Yudi gak mau memberitahu Mamanya.
"Begitu!" Alisha menatap Bram kemudian menoleh ke Kiara.
"Apa lukanya parah Kiara?" tanya Alisha pada menantunya.
"Memar di pantat Ma." Bram yang jawab.
"Yudi tolong tunggu di luar dan tutup pintunya." titah Bram pada Yudi. Yudi segera menutup pintu.
Cih, dari jarak jauh juga aku bisa tau.
Dalam hati Yudi, ia pergi ke kamar tamu di lantai dua mau menjumpai Marissa.
"Ya Tuhan."
Ucap Alisha terkesiap Saat Kiara membuka selimut menunjukkan pantatnya.
"Astaga." ucap Bram kaget juga. "Kenapa lebamnya tambah lebar, sayang?"
"Kamu apain barusan si Kiara?" tembak Alisha pada Bram, ia menatap sinis pada putranya dari atas sampai bawah.
"Mana ada!" jawab Bram spontan. Menutup bagian tengah tubuhnya yang menonjol dengan kedua tangannya.
Alisha menelan ludahnya, tingkah putranya persis seperti Pramudya suaminya. Like father like son.
"Cuma kelon Mama, mana bisa lebih-lebih Kiara lagi datang bulan. Ah Mama!" sergah Bram jengah ditatap Alisha.
Apa benar karena ku timpa tadi set, lanjut Bram dalam hati menyesal.
Cih, sinis Alisha memandang Bram tak percaya. "Kamu sudah mengoleskan obat lebam memar, Bram?" tanya Alisha akhirnya.
"Sudah Mama." jawab Bram mengambil duduk di sisi Kiara satunya, mengusap sayang kepala istrinya.
"Biarkan obatnya bekerja, memecah darah yang beku." jelas Alisha.
Bram bernapas lega, ia memeluk kiara.
"Maafkan aku sayang." ucapnya pelan di telinga Kiara.
"Padahal Pak Walikota mau jumpa kalian berdua, apa kamu bisa jalan Kiara?" tanya Alisha.
"Mama! Biar bisa jalan juga gak boleh! Bram sendiri yang akan jumpa Walikota, Kiara gak boleh kemana mana." tegas Bram.
"Yudi, cepat pesankan kursi roda." teriak Bram memanggil Yudi.
Tangan Yudi tertahan saat mau mengetuk kamar tamu Marissa mendengar jeritan bosnya.
Ck, untuk apa kursi roda.
*******
Enjoy reading and see you to the next part.
Like dan vote saya ucapkan terima kasih. 🙏
__ADS_1