
Sebelum itu di ruang tengah.
Bram merasa kesal ditugaskan mamanya harus bantu bagi-bagi amplop.
Apa! Aku ini Presdir Wijaya group, si mama benar-benar tidak menjaga wibawa ku.
Dalam hatinya kesal. Gak tahan Bram memberikan amplop sisanya pada Samsir. "Samsir, aku ke toilet dulu." alasan Bram pura-pura kebelet.
Pikiran buruk menghantuinya, ia gak kuat membayangkan Kiara bercengkrama dengan Beno sambil ketawa-ketawa lalu bergegas ke ruang keluarga.
Tidak ada siapa-siapa, kemana mereka, dalam hati Bram panik.
Nampak Beno keluar dari kamar tamu bawah sambil merapikan kancing celananya, ia baru dari toilet. Bram merah padam langsung melabrak Beno mencengkeram kerah bajunya. "Mana Kiara?!" bentaknya.
Beno kaget. "Lepaskan tanganmu!" balas membentak dan menyentak tangan Bram dari lehernya.
Bram terdorong, ia melongo ke dalam kamar tamu.
Ck, Beno geleng kepala, "Hei, apa yang kau pikirkan, apa seburuk itu Kiara di otakmu. Apa mungkin kami berduaan di dalam kamar di rumahmu ini!" Beno geram.
"Bacot, lalu di mana dia?! Katakan!" Bram membentak lagi.
Gak tahan, gantian Beno menarik kerah baju Bram. "Jangan membentak ku sialan! Kalau sekali lagi aku bertemu Kiara wajahnya sendu dan sembab, aku akan membawa nya ikut denganku dengan rela atau terpaksa, ngerti kamu!" sergah Beno dihadapan wajah Bram lalu mendorong nya, melepaskan cengkeraman nya.
Bram menggosok lehernya menatap sinis pada Beno. "Karena sikapmu ini aku harus keras menjaga Kiara. Aku akan menyakitinya jika ia memberikan perhatiannya sedikit saja padamu. Jika kamu ingin Kiara bahagia maka jauhi dia, jangan pernah muncul di hadapan kami lagi, ngerti!" ujar Bram mengarahkan telunjuknya pada Beno.
"Ha!" Beno terpelongo mengepalkan tangannya geram, seolah di sini dialah penjahat nya.
Apa IQ nya jongkok, dalam hati Beno gak habis pikir. Ingin sekali ia menonjok mulut si Wijaya sinting di hadapannya ini.
Namun Bram tidak memperdulikan lagi, ia bergegas ke kamar nya. Berlari sepanjang lorong, sampai di depan kamar ia membuka pintu perlahan.
Bram melongok ke dalam, di atas kasur seseorang terbungkus selimut menutup seluruh tubuhnya. Dengan mengendap Bram berjalan ke kasur lalu melompat ke atas Kiara.
"Aaaaaaaaaaaa." Kiara menjerit, Bram tersenyum senang. Ia menarik selimut turun ke bawah kaki. Kelihatan wajah Kiara kekasih hatinya.
Kiaranya melengos berbalik badan. Bram gemas memeluknya dari belakang.
"Sayang." rayunya semanis madu.
Kiara bergeming memejamkan matanya.
"Sayang, maafkan aku." bisik Bram di telinga Kiara, semakin erat memeluknya. Ia bahkan mengunyah daun telinganya.
Kiara berbalik badan melotot pada Bram, mendorong Wajahnya. "Pergi sana, aku benci padamu." suara Kiara serak.
"Tapi aku cinta padamu." rengek Bram seperti Bayi kolot. Mengusap wajah sembab Kiara.
"Itu urusan mu, menjauh dariku atau aku yang keluar." ancam Kiara menyentak jemari Bram dari wajahnya.
Melihat Kiara serius. Bram mengalah, mengurai pelukan.
Aku ingin menghukumnya, kenapa jadi galakan dia.
Dalam hati Bram manyun menatap Kiara, ia menarik selimut menutupi tubuh Kiara. Kiara berbalik badan membelakangi Bram.
Terdengar suara berisik, di luar. "Suara apa itu, kenapa helikopter lewat rumah besar. Apakah kamu tau Kiara, ada apa?" Bram bertanya pada Kiara pura-pura bodoh.
__ADS_1
Melihat Kiara diam saja, Bram mencari akal gimana caranya agar Kiara merespon ucapannya.
"Hei, pacarmu si Beno mau pergi itu, apa kamu tidak ingin mengantarnya." toel Bram di bahu Kiara akhirnya.
Kiara panas berbalik badan. "Pacar siapa katamu?! Kalau gitu aku keluar dan ikut dengannya sekarang." ia menyibak selimut, beranjak dari kasur.
Dengan gercep Bram menangkap tubuh Kiara, memeluknya erat. "Aku bercanda, sayang jangan marah hm." wajah Bram memelas memohon belas kasihan.
"Lepaskan aku." teriak Kiara.
"Gak mau." rengek Bram.
"Lepas kataku!" bentak Kiara lagi hampir keluar air mata.
Gak tahan Bram menekan tengkuk Kiara menarik ke arahnya, menenggelamkan bibir Kiara ke dalam mulutnya. Dengan rakus, seolah makanan Bram menyantap bibir mungil dan kenyal itu.
********
Di halaman luar sebelah Utara rumah besar sebuah Helikopter mendarat. Beno bergegas naik, ingin segera menjauh dari Kiara. Tadi ia merenungkan kata-kata si Wijaya sialan itu.
Gak apalah yang waras ngalah, demi ketenangan Kiara.
Alisha ikut mengantar sampai landasan. Melambaikan tangannya saat Heli naik ke udara. Kelihatan Beno juga melambaikan tangan padanya.
Alisha menoleh pada Lucita di sebelahnya. Tersenyum ramah. "Kamu tidak ikut ke NYC." tanya Alisha.
"Tidak Nyonya, Tuan menugaskan saya di sini. Tuan tidak lama hanya dua minggu." jelas Lucita.
"Begitu, ayo kita ke dalam Lucita. Menginap lah di sini barang semalam dua malam." Alisha menawarkan sambil mereka berjalan ke halaman depan ruang tengah.
Alisha mengangguk, lalu Lucita berjalan ke tempat mobilnya di parkiran.
Lebih baik mengawasi Nona dari luar saja lebih aman, dalam hati Lucita.
Alisha masuk ke dalam rumahnya Suasana kembali sepi, hanya ada beberapa orang yang masih ngobrol di halaman utama di tambah petugas keamanan.
Alisha bernapas lega, selesai dulu untuk hari ini.
Sepertinya ide pesta tujuh hari tujuh malam bukanlah ide yang baik, baru dua hari saja sudah lelah, beruntung putraku cuma satu jadi tidak perlu buat pesta dulu dalam waktu dekat, dalam hati Alisha.
Alisha naik ke lantai dua menuju kamarnya. Berbaring di kasur sembarangan, meregangkan tubuhnya. Baru terasa capeknya, pinggangnya serasa mau patah.
*
Gak lama dari kamar ujung di lantai yang sama seorang pria keluar dari dalam kamar dengan senyum merekah di bibirnya.
Rasanya sangat enak, tidak sia-sia. Walaupun aku belum pernah merasakan tapi ini sangat enak.
Dalam hatinya tersenyum menyeringai, ia menuruni tangga menuju lantai bawah di mana asistennya sudah menunggu di ruang tengah utama.
Sementara si gadis di dalam kamar, gak percaya dengan apa yang barusan terjadi padanya.
Secepat ini aku menyerahkan diriku,
Dalam hatinya. Ia juga menikmati pergulatan barusan. Daniel sangat bergairah, memperlakukan nya dengan gentle.
Aku hanya akan menjaga hatiku jangan sampai jatuh cinta padanya.
__ADS_1
Marissa menjilat bibirnya, teringat cumbuan Daniel. Bibir bawahnya masih berdenyut nikmat, jejak Daniel masih terasa mengganjal. Seketika ia tersentak matanya membelalak tadi mereka tidak pakai pengaman.
Ya Tuhan, Marissa mengutuki dirinya dan Daniel, ah dasar bedebah!
*******
Di mobil menuju rumah besar Yudi mengemudi, Laras duduk di sebelahnya. Sudah separoh jalan mereka diam seribu bahasa. Gak tahan Laras bersuara,
"Apa Om menyesal?" tanya Laras pelan.
Yudi menoleh. "Kenapa menyesal?" ia balik nanya lalu kembali fokus mengemudi.
Cih, dalam hati Laras. "Mana tau, kan Om sukanya sama Marissa tiba-tiba harus nikah sama saya." ujar Laras hati-hati, gak berani bawel dia.
"Kamu tau saya suka pada Marissa, kenapa masih minta saya menikahi kamu?" tanya Yudi lagi.
Astaga, Laras membuang mukanya ke jendela.
Ini gunung es, bagaimana cara mencairkan nya, dalam hati Laras.
"Om, sebagai balas budi apa yang harus saya lakukan, katakan. Saya bisa mencuci pakaian Om, memasak makanan buat Om, membersihkan rumah. Pokoknya saya akan mengabdi pada Om." Laras berapi-api.
"Kamu tau berapa yang diminta Ayah kamu untuk biaya pernikahan?" tanya Yudi.
"Enam ratus juta." jawab Laras spontan, dalam hati ia mengutuki ayahnya gak kira-kira tadi ngeluarin harga. Mana harus kontan, cash on the table lagi.
Yudi menarik nafas dalam, tetap fokus pada kemudinya.
"Ya udah, saya akan mengabdi pada Om untuk membayar nya." ujar Laras, ia berakting menghitung.
"Kalau gaji art sekarang dua juta, jadi enam ratus juta dibagi dua juta." gumam Laras membuka aplikasi kalkulator di ponselnya lalu mengetik angka-angka.
"Ya Tuhan, tiga ratus bulan."
Laras terperangah. Haruskan aku jadi pembantunya selama tiga ratus bulan. Berapa tahun itu, "Sepuluh tahun!" jeritnya menoleh memandang Yudi.
"Om, saya akan jadi art Om selama sepuluh tahun." ujar Laras gak percaya.
"Kamu tau umur saya berapa?" tanya Yudi lagi. Laras menggeleng.
"Tiga puluh lima tahun." ujar Yudi.
"Tapi Om kelihatan muda, gak jauh beda dengan wajah Bos Beno dan dokter Daniel." jawab Laras mesem-mesem.
"Walaupun masih kalah dengan Tuan muda Bram, tapi dimata saya Om masih ganteng kok." oceh Laras kembali ke sifat aslinya.
"Tidak perlu sepuluh tahun, dalam satu tahun lahirkan anak satu untuk saya, setelah itu kamu boleh pergi." Yudi.
"Uhuk-uhuk." Laras kaget terbatuk-batuk, menepuk-nepuk dadanya.
What! Ini namanya, lepas dari mulut buaya masuk mulut beruang kutub.
********
Hai, terima kasih masih setia mengikuti Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏
__ADS_1