
Masih di rumah sakit umum Pasar induk. Laras termangu menatap tak percaya atas permintaan ibunya.
Melihat itu, "Hm, permisi sebentar Bu." Marissa tersenyum menunduk hormat pada ibu Laras. Ibu Laras membalas tersenyum tawar.
Lalu Marissa menarik tangan Laras yang terbengong menjauh dari ibu Laras.
Setelah agak jauh. "Maaf Ras. Bukannya gue mau ikut campur, berapa jumlah uang yang hilang sampe lo harus menikah dengan si Suga itu?" tanya Marissa berbisik pada Laras.
Hm, Laras menarik nafas berat. "Satu koma dua em, berikut bunga tiga ratus juta jadi gue harus bayar semuanya sejumlah satu koma lima em." jawab laras berbisik juga tertunduk lemas.
"Eh buset!" Marissa mendelik, menutup mulutnya.
"Untuk apa ayah lo minjam ke Suga duit gitu banyak?" tanya Marissa masih bisik-bisik.
"Panjang ceritanya, Icha." Lalu Laras mempersingkat cerita, bahwa ia terpaksa meminta Yudi menikah pura-pura dengannya dari pada nikah dengan si Samsul. Gak nyangka kalau ayahnya kesempatan memeras Yudi.
"Dan si Yudi juga nekan lo." sambung Marissa ketus.
"Gue rasa si Yudi dan si Suga itu sama saja. Sebelas dua belas." Marissa pun naik emosi.
"Dasar si Yudi brengsek!" Maki Icha makin naik darah tinggi mengepal tangannya.
"Lo tau gak, pertama Bram mau gue nikah sama si Yudi dan untungnya gak jadi. Gue dapat Daniel yang lebih tajir." jelas Icha bangga.
"Bukan Yudi yang salah, gue dan ayah juga." Laras membela Yudi.
"Iya, tapi kan ada kesempatan waktu itu buat lo berdua menunda pernikahan. Emang si Yudi nya aja yang udah gatel mau manfaatin tubuh lo, secara dia lama jomblo."
Kesal Marissa jadi menghasut Laras, kadung benci sama si Yudi. Masih jelas di ingatannya bagaimana Yudi mencuri kesempatan memeluk dan mencuimnya.
Aku juga mau balas dendam ke si Yudi sialan itu belum kesampaian, dalam hati Icha bertambah panas.
Ck, iya juga sih, dalam hati Laras.
"Kasian banget ibu lo harus nyicil uang gitu banyak. Apa menurut lo si Suga itu akan setuju, gue rasa enggak deh. Sebelum dapetin lo, gue yakin Suga pasti akan terus nekan keluarga lo."
Laras terdiam.
Udah pasti itu, tapi kenapa Tuan Suga mau menikah dengan ku, dalam hati Laras.
"Kemungkinan ada dua." jawab Marissa.
Ha, "Maksudnya?" Laras menatap Icha bingung.
"Pertama, jangan-jangan ini siasat si Suga buat dapetin lo. Bisa jadi uangnya gak hilang, bukan mau jelek-jelek-in orang tua lo dan si Suga itu kemungkinan bekerja sama." jelas Marissa antusias, jiwa detektifnya tiba-tiba keluar.
Laras aja sampai terpesona memandang Marissa. Lalu memandang ayah dan ibunya bergantian, apa mungkin? Kemudian menoleh ke Marissa mau mendengar kemungkinan selanjutnya.
"Kedua, mungkin orang tua lo emang benar gak terlibat, tapi diancam. Lihat saja, ayah lo sampai tidak sadarkan diri." lanjut Marissa seolah yakin dan pasti bahwa kemungkinan kedua lah yang benar.
Ya Tuhan bagaiman ini? kalau kemungkinan yang kedua, kasian benar emak bapak gue. Ah, masih ada uang Om Yudi yang 1M. Berarti tinggal bunganya yang lima ratus. Di mana cari lima ratus juta lagi, aku benar-benar musibah bagi Om Yudi, selalu merepotkankan nya.
Laras memandang ayahnya yang terbaring lemah dan juga ibunya bergantian.
Dasar memang aku anak tidak berguna, membuat repot semua orang,
Laras mengutuki dirinya sendiri. Kemudian menimbang-nimbang, palanya jadi pusing.
__ADS_1
"Baiklah Bu, biar Laras yang ke rumah Tuan Suga, ibu di sini jaga ayah." ucap Laras setelah mengambil keputusan.
"Laras, kamu jangan sendiri, biar ibu ikut menemani." ujar ibu Laras.
"Lalu siapa yang jaga Ayah, Bu?" tanya Laras.
Cklekk.
Pintu ruangan dibuka, paman Laras berdiri di depan pintu.
"Biar mereka yang jaga, ayo Paman akan antar kalian." ujar nya membawa dua pria tegap masuk ruangan.
Gleg.
Laras dan Marissa pandang-pandangan, kok tiba-tiba. Apakah dari tadi paman nguping?
Marissa memandang ibu Laras yang biasa aja memandang dua pria seram-seram itu menjaga suaminya, dan memilih ikut anak perempuan nya masuk ke kandang macan. Ada apa ini, kalau anak buahnya aja seram gini, gimana bosnya dalam hati Marissa.
"Bu, biar saya yang ngantar Laras, Ibu di sini saja jaga Bapak, oke!" ucap Marissa pada ibu Laras mengacungkan jempolnya.
"Ayo Ras, gue pingin liat si Suga itu kayak apa. Kalau lebih tajir mending lo milih Suga aja dari pada Yudi yang miskin." ujar Marissa keras-keras tersenyum pada Laras mengedipkan matanya.
Laras tidak menyadari paman dan ibunya tersenyum lega mendengar perkataan Marissa, dalam pikiran mereka ternyata Marissa lebih rasional dari pada Laras. Syukurlah, setidaknya Marissa bisa mempengaruhi Laras agar berpikir realistis.
Ck, dasar si Icha, Laras dilema.
Tapi aku memang harus bertemu Tuan Suga, mau nanya kenapa dia ingin menikah dengan ku, dalam hati Laras.
"Bu, Laras pergi dengan Icha saja, ibu di sini jaga ayah ya." Laras memujuk ibunya.
Ibu Laras memandang Thamrin, Thamrin mengangguk.
"Yes, ayo kita lets go." ucap Marissa dengan semangat.
*
Kiara sampai di kantor Bram diantar supir sampai Lobby gedung perkantoran Group WJ. Karena kehadiran Kiara ke kantor sudah di info ke bagian sekuriti dan juga resepsionis, kepala bagian HRD memerintahkan setiap karyawan yang melihat Kiara wajib menunduk hormat.
Tubuhnya yang mungil, kecil dan imut-imut kelihatan masih seperti anak SMA.
"Bagaimana dia dengan bentuk seperti itu bisa menikah dengan Presdir yang begitu Tampan." bisik seorang di antara karyawan wanita.
"Apa di rumahmu tidak ada cermin, tentu saja bagusan bentuk nya daripada kamu." jawab teman nya sesama berbisik.
"Hi hi hi." yang lain ikut menertawainya.
"Ehm." suara kepala HRD.
Cis, si karyawan wanita melengos pergi, kerumunan pun bubar.
Dengan diantar seorang resepsionis, Kiara naik lift khusus VIP menuju lantai atas kantor Bram. Gak tau mau bicara apa, di dalam lift Kiara pun hanya diam.
Cantik juga resepsionis disini, wajah dan tubuh mereka seperti model,
Dalam hati Kiara merengut, menyadari tadi di lobby juga karyawan wanita yang menyambutnya cantik semua.
Sampai di lantai atas lift terbuka. "Silahkan Bu." resepsionis mempersilahkan.
__ADS_1
Kiara mengangguk, keluar dari lift berjalan hendak menuju ruangan Bram. Tiba-tiba dari belakang ada yang mengangkat tubuhnya melayang di udara.
"Ah! Ka Bram, hentikan!"
Jerit Kiara kaget, udah yakin siapa lagi kalau bukan suaminya. Dari baunya aja Kiara sudah tau.
"Bram please, turunkan aku." mohon Kiara.
"Apa Nyonya muda sudah makan?" tanya Bram masih belum mau menurunkan Kiara, malah mendekatkan wajahnya.
Kiara menahan wajah Bram,
"Ka." panggil Kiara pada Bram menunjuk resepsionis yang menunduk, Bram menoleh namun tidak perduli terus menggendong Kiara ke ruangannya.
"Terima kasih ya." ucap Kiara dari balik punggung Bram.
Kelihatan resepsionis mengangguk dan kembali masuk ke dalam lift.
Di dalam ruangan Bram menurunkan Kiara duduk di sofa.
"Apa kamu merindukan ku?" Bram menatap sayu Kiara.
Kiara mengusap wajah suaminya. "Tentu saja suamiku yang arrogant." jawab kiara sinis.
Hehe, "Apa katamu?" Bram mencubit pipi Kiara gemas.
"Bram, mana Yudi?" tanya Kiara.
"Oo, kenapa tanya Yudi?"
Ck, "Apa dia ke rumah sakit?" tanya Kiara lagi.
"Sayang, Yudi lagi meeting penting. Lagipula istrinya Yudi tidak bilang apa-apa pada Yudi tuh." jawab Bram.
"Mungkin dia pikir Yudi sibuk jadi tidak mau mengganggu, kamu sendiri kenapa tidak bekerja?" ketus Kiara.
"Kan aku bos nya." Bram tersenyum jail.
Cis, dasar. "Jam berapa mau menjenguk ayah Laras?" tanya Kiara lagi.
"Sayang, nanti pulang kerja jam lima sore."
Ck, masih ada empat jam lagi, dalam hati Kiara.
"Ngapain juga aku di sini nganggur, Bram boleh ya aku ke rumah sakit duluan di antar supir yang tadi." mohon Kiara merengek pada suaminya.
"Jadi kamu mau kerjaan, baiklah."
"Ah!!"
Seketika Bram menggendong Kiara lagi, masuk ke kamar di balik lemari buku.
****
Hi, readers yang Budiman. Ikutin terus ya Tuan muda romantis. Like ,vote dan hadiahnya author ucapkan, thanks very much. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
Ada yang nanya Laras sakit apa? Kasus Laras, author ambil dari kisah nyata curhatan teman. Bahwa, karena pendarahan dokter melakukan papsmear yang sakitnya minta ampun juga katanya, namun tidak ada penyakit ditemukan.
__ADS_1
Setelah di beri resep, teman di suruh datang lagi. Karena teman malas jadi bahan praktek dokter, akhirnya si teman berobat secara tradisional. Minum rempah-rempah, gak lama dia hamil, Oke siip 👍.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏