
Setelah kepergian Yudi, Laras termangu tubuhnya lemas hampir jatuh. Ibunya dan Zainal yang berdiri lebih dekat segera menangkapnya, namun segera juga Laras menepis Zainal.
"Lo kan yang ngomong ke Ayah!" ujarnya lirih menatap tajam pada Zainal.
"Memangnya kenapa, ini akibatnya kalau mempermainkan pernikahan dan berbohong pada orang tua!"
Sergah Pak Toyo yang mendengar Laras menyalahkan Zainal, balas memarahi putrinya.
"Abang juga sih, kenapa memaksa Laras menikah padahal anaknya belum siap!" balas ibu Laras berteriak pada suaminya, suaranya serak dari tadi ia sudah banyak menangis.
"Sudahlah, Laras masuk ke kamar kamu!" titah Pak Toyo, ia melirik tas uang yang ditinggalkan Yudi.
Masih ada waktu mengembalikan sebelum dihitung bunga.
Dalam hati Pak Toyo, dia ingat tadi Yudi mengikhlaskan uangnya untuk Laras. Sebenarnya Yudi itu menantu idaman hati Pak Toyo, namun karena gengsi dan harga diri ia mengambil sikap begini.
Lalu Pak Toyo menoleh pada paman Laras yang dari tadi diam saja ikut menyaksikan drama keluarga mereka.
"Mas Thamrin, bisa dikembalikan lagi uang ini pada bosnya Mas Thamrin, saya ucapkan terimakasih atas bantuannya." ucap Pak Toyo
"Hm." Pria yang dipanggil Pak Toyo, Mas Thamrin itu menarik nafas sebelum bicara.
"Tapi Mas Toyo bukan begitu aturan mainnya. Si bos tidak akan menerima nya sekarang, simpan saja sampai bulan depan dan kembalikan beserta bunganya. Karena percuma juga kalau sekarang dikembalikan karena akan tetap dihitung sama bunganya."
Jelas Pak Thamrin serba salah. Tadi ia sudah memperingatkan pada adik iparnya itu bahwa meminjam uang pada bosnya bisa-bisa seumur hidup terikat utang gak lunas-lunas.
Laras mengerut dahi menoleh lagi pada Ayahnya sebelum masuk kamar. Ibunya membawa paksa Laras masuk ke kamarnya.
"Laras, kenapa gak dimakan buburnya Nak?"
Tanya ibu Laras ingin membereskan bekas makan Laras, melihat mangkok buburnya belum disentuh.
"Bu, darimana Ayah dapat uang ganti rugi sebanyak itu?" tanya Laras menatap ibunya sendu.
"Dari mana lagi, ya dari juragan kaya kampung Koneng."
"Tuan Suga!" Laras mendelik gak percaya. Tuan Suganda adalah rentenir yang terkenal kejam di pasar induk.
Setidaknya Yudi pergi tidak mengambil ganti rugi uang nikah dari ayah.
Dalam hati Laras merasa ada harapan bahwa Yudi belum menyerah terhadap dirinya.
Apa ia, uang segitu kan kecil saja bagi Yudi, bahkan aku diberi uang jajan lima puluh juta. Berapa ya, kira-kira bunga nya,
Dalam hati Laras meraih ponselnya di meja belajar, ia ingin menghitung. Ponselnya berkedip tanda masuk dua pesan, satu notifikasi dari bank dan satu lagi pesan chat dari Yudi. Laras membuka chat dari Yudi duluan.
"Aku menunggu sampai kamu siap datang padaku atau kapan saja kamu mau aku datang menjemputmu, katakan sekarang juga aku balik ke rumahmu, aku belum jauh." tulis Yudi di pesannya.
Laras menarik nafas, melempangkan dadanya yang sesak. Lalu membuka pesan dari mobile banknya, matanya mendelik sebesar 1M lagi masuk ke rekeningnya.
Kemudian masuk satu pesan chat lagi dari Yudi.
"Aku kirim sedikit uang pakailah berobat, tapi ingat itu tidak cuma-cuma hitung ya artinya sebelum kamu melahirkan anak untukku maka seumur hidup kamu akan selalu terikat padaku. Oh ya, bisa beritahu aku apa kata dokter mengenai sakit mu." tulis Yudi lagi di pesannya dihiasi dengan emoticon love-love, cis.
Aku akan terikat pada Om Yudi seumur hidupku, ck.
__ADS_1
Sudah menjadi rahasia umum kalau meminjam dari Tuan Suganda akan dikenakan bunga sejumlah 25%.
Laras lalu mengetik angka-angka di ponselnya. Berapa kira-kira 25% dari 1,2M, haa!
Nafas Laras kembali sesak sejumlah tiga ratus juta tertera, artinya aku harus mengembalikan sejumlah 1.5M
Dalam hati Laras menyesali dirinya telah meminta Kiara mengantarnya ke rumah ayahnya.
"Laras, ayo dimakan buburnya."
Laras membuka mulutnya saat ibunya mengulurkan sesendok bubur ke arahnya.
Malam ini juga aku akan meminta ayah mengembalikan uang Tuan Suga beserta bunganya, dalam hati Laras.
*****
Kiara membuka matanya, menggeliat melihat di dinding jam menunjukkan pukul 20.10wib.
Aaaaa!
Matanya mendelik tapi menyadari bahwa ia berada di kamar Bram dengan kaos berbayang, itu artinya ia di rumah besar seketika bernafas lega, kirain masih di kantor.
Kiara bergegas ke kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan air hangat. Badannya pegal semua teringat tadi di kamar ruangan kantor Bram, suaminya itu menghajarnya, terpaksa Kiara pura-pura tidur agar Bram tidak melanjutkan lagi ke ronde empat.
Memang menyatu tubuh dengan Bram itu diakui Kiara mengasikkan namun mengingat sifatnya yang menyebalkan itu Kiara suka dibuat kesal.
Selesai berpakaian Kiara meraih ponselnya menghubungi Laras apakah sudah di rumah besar. Tadi kata Bram, Yudi sudah pergi menjemputnya.
"Hallo." terdengar suara Laras di ujung panggilan.
"Gue di rumah Ayah, Ra."
Kiara termangu. "Dengan Yudi?" tanya Kiara hati-hati karena gak yakin mengingat jabatan Yudi sebagai asisten bram mana bisa lama-lama jauh dari bosnya itu.
"Yudi gak ada di sini. Tadi memang Om Yudi datang tapi sudah pergi lagi." jelas Laras.
Hm, sudah ku duga,
Dalam hati Kiara lega, setidaknya Laras sudah bertemu Yudi. "Gimana sakit lo, apa kata dokter?" tanya Kiara penasaran.
"Untuk lebih jelas, Bidan nyaranin gue ke Praktek dokter untuk USG trans V, di klinik Bidan gak ada alatnya." jelas Laras.
"Kapan mau pergi?" tanya Kiara.
"Gak tau, lihat dulu. Tadi sudah diberi resep kalau pendarahan nya berhenti, gue gak pergi."
"Loh kenapa?" tanya Kiara.
"Gila aja, besi dimasukin ke itu kita, ih." Laras bergidik ngeri membayangkan saat dokter tadi menunjukkan gambar alatnya, ia teringat saat Yudi memasuki dirinya, enggak deh.
"Hm, artinya Yudi udah tau dong. Apa dia gak mau ngantar lo ke Rumah sakit?" tanya Kiara merasa Laras takut gak ada suami yang mendampingi.
"Ah, gak gitu juga udah dulu ya Ra. Gue mau keluar bentar dengan ayah, nanti lagi ngobrolnya." ujar Laras gak mau memperpanjang lagi.
"Iya, maafin laki gue Ras."mohon Kiara.
__ADS_1
"Iya, bye Kiara." jawab Laras.
"Bye Laras." panggilan ditutup dari sebelah Laras.
Keluar dari kamar, tujuan Kiara ruang makan. Perutnya lapar.
Di mana suami cabul ku sekarang berada.
Dalam hati Kiara berjalan di lorong, di ruang keluarga ia melihat Marissa di sofa dengan tab nya. Browsing-browsing entah apa, Kiara juga malas mau menyapa.
Kapan dia balik dari pulau, dalam hati Kiara.
"Wah Kiara, enak ya idup lo." suara Marissa ternyata mengikutinya ke ruang makan.
"Bukannya lo yang lebih enak, jalan-jalan ke pulau naik pesawat pribadi."
"Hehe, iya juga sih. Teman lo si Laras mana, bukannya dia udah nikah sama Yudi, kok gue gak lihat dia tinggal di sini?" tanya Marissa.
"Untuk apa lo masih perhatian, bukannya lo gak suka sama dia." ketus Kiara tanpa menoleh pada Marissa, fokus melihat menu di meja.
"Sayangku, sudah bangun?" tiba-tiba Bram masuk ke ruang makan dan memeluk Kiara dari belakang menciumi telinga istrinya itu.
Cis, Marissa mendengus. "Norak lo." ketus nya buang muka keluar dari ruang makan.
Ciuman Bram turun ke leher Kiara tanpa memperdulikan Marissa. Kiara berbalik badan menghadap suaminya. "Bram, mana Yudi?" tanyanya.
Bram melotot berhenti mencium. "Oo, ngapain nanya Yudi, aku gak suka Kiara!"
Cis, "Norak lo." gantian Kiara mengatai suaminya.
"Hehe." Bram terkekeh.
"Sepertinya aku kurang menghajar mu ya, masih ada tenaga bawel." Bram semakin memeluk Kiara dan mencium bibirnya.
Ah! Kiara melepas ciuman paksa. "Bram bentar lah, aku mau makan." sergah nya.
"Oke sayang." Bram mengusap bibir Kiara dan bibirnya bergantian.
"Kamu mau makan apa, aku ambilkan. Kamu taukan sayang, aku ini suami yang bisa diandalkan."
Bram mengambil piring. "Mau makan pake nasi?" tanya nya, Kiara mengangguk.
"Sayang, Laras butuh pemeriksaan lanjutan ke rumah sakit, apa Yudi boleh menemani nya?" tanya Kiara pada Bram yang cekatan menyendok nasi ke piringnya.
Bram balas menatap istrinya. "Tentu saja boleh sayangku, tapi biarlah itu jadi urusan mereka, ngerti Kiara!" Bram menjentik hidung istrinya.
"Mau lauk apa?" lanjut nya menunjuk meja yang penuh makanan.
"Mau makan sate!" unjuk Kiara ke menu makanan daging yang di tusuk lidi bambu
******
Hi, readers yang Budiman. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏
__ADS_1