Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
55


__ADS_3

Rumah besar Wijaya dikelilingi pagar bambu yang rimbun. Tidak ada warga yang pernah melihat ke dalamnya. Ini pertama kalinya dibuka untuk umum karena Tuan muda Wijaya akan menikah.


Di ruang tengah Utama sudah berdatangan tamu bahkan di halaman yang luas juga sudah dipenuhi massa.


Warga sekitar antusias bahkan yang dari luar daerah juga berdatangan ingin melihat langsung seperti apa kemewahan rumah besar.


Mereka semua penasaran, siapa kira-kira gadis yang beruntung itu. Gimana kali cantiknya, sehingga mampu memikat hati Tuan muda. Karena yang mereka tau, Tuan muda bertunangan dengan Nona Evita yang sekarang masih buronan bersama pengawal pribadinya.


Mereka semua yang hadir tertegun melihat Rumah besar Wijaya. Di dalamnya sangat indah layaknya sebuah istana. Rumput-rumput yang halus seperti permadani, penuh dengan bunga-bunga aneka warna.


Suasana malam yang dihiasi dengan lampu-lampu, semakin menambah semaraknya suasana pesta.


Para pengguna sosial media sibuk ber selfi ria. Mengunggah photo mereka dengan latar belakang Rumah besar Wijaya.


Yudi hampir kewalahan, harus mengerahkan 50 orang satuan pengaman ditambah petugas kesehatan untuk mengendalikan keadaan. Baik itu di dalam maupun di luar kawasan.


Bahkan di jalan-jalan polisi juga dilibatkan untuk mengatur lalu lintas kenderaan yang keluar masuk area kawasan rumah besar.


Samsir juga kerepotan mengatur pelayan rumah tangga agar menjaga makanan jangan sampai berebutan. Dan menyewa beberapa koki untuk memasak makanan tambahan.


Agar barisan tidak berantakan terpaksa dibuat panggung dadakan dengan menghadirkan sebuah band lokal. Bagi siapa yang suka bernyanyi silahkan bakatnya dikembangkan.


Di daerah itu kebetulan ada artis dangdut papan atas yang sedang melakukan pertunjukan akhirnya sepi gak ada yang menyaksikan. Mereka malah ikut kondangan, bernyanyi di pesta jadi artis gratisan.


*******


Kiara lagi di make-up di kamar Alisha.


Penata rias sudah bolak balik mendempul wajahnya tapi belum berhasil meriasnya. Karena Kiara tak berhenti menitikkan air mata sehingga wajahnya jadi sembab dan basah.


Kalau begini kapan selesainya ini, dalam hati penata rias mulai putus asa.


"Jangan nangis lagi Nona, nanti dikira Nona telah dipaksa menikahi Tuan muda seperti judul novel sebelah." ujar penata rias mencoba memujuk Kiara.


Memang terpaksa, Ini Tuan muda mesum dan jahat. Baju dibuang, ponsel dibuang hanya karena cemburu dia sanggup menyakitiku, dalam hati Kiara.


Walaupun Kiara sudah berusaha meredam kesedihannya, entah kenapa dadanya masih terasa sesak.


Mana ibu belum datang, ngomong-ngomong kenapa lama.


"Ini bibirnya kenapa Nona? Saya akan mempertebal riasan bibir Nona untuk menyamarkan bengkaknya." ujar penata rias.


Terserah aja, dalam hati Kiara. Ia sudah tidak semangat mau menikah.


******


Di ruangan sebelah adalah ruang kerja, Bram bersama Yudi sedang memantau keadaan melalui layar lebar CCTV.


Ada-ada aja Nyonya, bisa-bisanya bikin pesta dadakan bikin macet jalanan, dalam hati Yudi.


Namun perhatian Bram hanya pada monitor CCTV dari kamar Mamanya, di mana Kiara sedang dirias dengan linangan air mata.


Tak tahan dengan perasaannya, Bram mendatanginya. Meminta penata rias meninggalkan ruangan kemudian mengunci pintunya.


Bram duduk di sofa membawa Kiara ke pelukannya.

__ADS_1


"Sayang, maafkan aku." Bram mengusap punggung kekasihnya.


Kiara hanya tersenyum sedikit di ujung bibirnya, dipaksakan.


"Kiara ku sayang, jangan menangis lagi ya." pujuk Bram mengecup kening Kiara, mata, hidung dan pipinya. Saat pandangan Bram jatuh pada bibirnya yang terluka, Kiara membuang mukanya.


Bram merasa nelangsa, sepertinya Kiara belum bisa memaafkannya. Akhirnya Bram hanya bisa memeluknya.


Bagaimanapun aku harus menikahi Kiara malam ini juga dengan rela ataupun terpaksa, dalam hatinya.


Di ruang kerja Yudi lagi mengontrol keadaan melalui CCTV.


Terlihat Lucita sedang membawa mobil mencari parkiran bersama Bernard yang duduk di belakang bangku penumpang.


Mau apa Bernard muncul di sini. Dia gak boleh bertemu Nona, bisa-bisa Tuan muda gagal lagi menikahi Nona.


Saat melihat bayangan Ibu Dwi, Yudi memerintahkan anak buahnya agar mengawalnya masuk ke rumah besar.


Tanpa diduga Bernard turun dari mobil dan menghampiri Ibu Dwi. Bersama mereka masuk ke ruang tengah utama Rumah besar. hm, Yudi menarik napas dalam.


Semoga kali ini pernikahan Tuan muda dengan Nona berjalan lancar, amin, dalam hati Yudi berdoa.


******


Saat memasuki halaman rumah besar Dwi tertegun melihat banyaknya orang yang berdatangan.


Bernard membimbingnya masuk ke ruang tengah utama.


"Nak Beno datang juga?" tanya Dwi.


"Terima kasih Nak Beno sudah perhatian pada Kiara." ucap Dwi.


"Hm, sama-sama Bu. Saya juga senang melakukannya."


"Dwi." sapa Alisha pada Dwi dan pandangannya terpana pada Beno.


Menyadari tatapan Alisha pada Beno, Dwi memperkenalkan mereka.


"Mbak, ini nak Beno Manager yang menyelamatkan Kiara dari penculikan." ujarnya.


"Nak Beno, ini mbak Alisha Mamanya Tuan muda Bram." lanjut Dwi pada Beno.


Alisha mengulurkan tangannya menerima jabatan tangan Beno.


"Beno."


"Alisha."


Mereka bersalaman, saling tersenyum sungkan.


*******


Di halaman rumah besar Wijaya.


Media lokal dan luar tak mau ketinggalan menyesak di keramaian.

__ADS_1


Meraka semua membawa pertanyaan dari netizen.


@siapakah gadis yang akan dinikahi Tuan muda?


@jadwal nikah yang seharusnya besok kenapa dimajukan jadi malam ini?


@Apakah Tuan muda menikahinya untuk menutupi rasa malunya kerena telah ditinggal kabur oleh tunangannya?


Pemburu berita semua menunggu, konpers Tuan muda Wijaya yang dijadwalkan setelah akad nikah.


Papan bunga ucapan selamat juga sudah berdatangan. Yang membuat aneh adalah, tidak adanya nama calon istri Tuan muda tertulis di sana.


*****


Laras lagi ngomel-ngomel, ia memaksa Zainal untuk membawanya ke rumah besar.


"Ayo cepat Zai, kita ke rumah Wijaya! Itu anak telponnya juga gak aktif kenapa ya?" rungutnya.


"Memang lo yakin Ras, Kiara yang nikah sama si Tuan muda Wijaya itu?" tanya Zainal.


Plak.


Tepuk Laras di bahu Zainal yang sudah bertengger di motornya.


"Feeling gue selalu benar Zai, ayo buruan!"


"Aduh." Zainal mengusap bahunya.


"Entar dulu, bagaimana dengan hubungan kita? Karena batal ke kota kembang, lo gak akan nikah sama si Samsul itu kan?" tanya Zainal.


"Tergantung seberapa cepat lo ke rumah besar, entar gue pertimbangkan." ujar Laras.


Mendengar itu Zainal jadi semangat.


"Setengah jam." ucap Zainal.


"lima menit." tawar Laras


"Ya ela, dua puluh menit." tawar Zainal lagi.


"Sepuluh menit ayo buruan, jangan sampai gue berubah pikiran."


Zainal memacu motornya kecepatan maksimal. "Lo naikin gigi napa Zai. Lambat, ah." rungut Laras berteriak pada Zainal.


"Ini udah max, Laras." jawab Zainal juga berteriak mengebut motornya.


Dalam sepuluh menit mereka tiba di rumah besar, Laras turun dari motor Zainal pergi cari parkiran.


Laras menerobos kerumunan berjalan ke arah ruang utama. Pandangannya tertuju pada pelaminan di mana prosesi akad nikah akan dilaksanakan.


****** tbc.


Enjoy reading, see you to the next episode.


Segala bentuk dukungan like dan juga votenya saya ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Semoga jadi berkah bagi anda semua. 🙏


__ADS_2