
Setelah 7 jam lebih kurang perjalanan, Jet pribadi Daniel transit di bandara internasional Korsel selama 3 jam kurang lebih.
Kesempatan itu Laras gunakan menemani Yudi di ruangannya, belajar dari asisten Daniel bagaimana cara mengurus pasien yang koma, dari membuka pakaian, memandikan dan memakaikan kembali bajunya. Bahkan mengganti infus juga, asisten Daniel mengajarkan nya.
Dengan telaten dan kasih sayang Laras mengikuti semua arahan sang asisten.
"Nyonya, anda cepat belajar padahal baru satu kali diberitahu." puji sang asisten.
"Saya justru berharap membuat kesalahan, agar dia bangun dan menyentil kening saya." jawab Laras.
Cis, asisten mendesis lucu. "Anda pasti sangat mencintai tuan Yudi terlalu banyak, Tuan Yudi sangat beruntung."
"Saya yang beruntung. Mencintai orang seperti Yudi sangat mudah, yang sulit itu membenci nya." jawab Laras lagi membuat asisten kehabisan kata-kata.
"Baiklah Nyonya anda menang, saya tinggal dulu kalau ada apa-apa saya di ruang farmasi." ujar asisten Daniel.
"Terima kasih." ucap Laras tanpa mengalihkan pandangan nya dari wajah Yudi.
Kelihatan segar seperti baru mandi padahal cuma dilap menggunakan handuk basah. Laras juga menaburi bedak di wajah Yudi agar tidak kelihatan pucat juga memoles sedikit lip glossy di bibirnya.
"Aku ingin mencium bibirmu tapi gak jadilah, aku takut muntah sepertinya mulutmu bauk karena kamu tidak gosok gigi, maaf ya aku tidak bisa menggosok gigimu. Kamu bangunlah gosok sendiri."
Laras ngoceh sambil menggenggam jemari Yudi lalu mencium nya. Suhu tubuhnya lumayan hangat, syukurlah dalam hati Laras merasa perubahan daripada semalam terasa dingin.
Atau mungkin karena dilap dengan handuk hangat, hm.
"Bang bangunlah, tidur aja sih! Curi kesempatan kamu ya, selama ini gak pernah tidur lebih lama dari 4 jam sekarang kamu balas dendam sudah lebih 20 jam."
Laras bicara sendiri lagi menyatukan jemari mereka terkait namun lemas tidak ada perlawanan dari Yudi, air mata Laras jatuh lagi.
*
Sementara Daniel keluar sebentar ke incheon airport hospital yang letaknya memang di dekat Bandara, ia ingin konsultasi sedikit dengan prof nya yang juga menjadi tenaga pengajar nya semasa kuliah di Harvard universitas of Amrik.
Bram menemani Kiara dan Icha berbelanja di sekitar Bandara yang harganya bisa berkali lipat dari pada kalau kita membelinya di luaran.
Meski begitu, Kiara memborong semua jajanan ala korea. Berbagai cemilan, mulai dari keripik, kacang, coklat, roti burger, kentang goreng dan buah anggur, stroberi juga ginseng yang aneh-aneh yang tidak pernah di lihat dan di makan olehnya, penuh satu karung gede.
Tidak ketinggalan street food yang sering di makan artis korea di drama, cuma tidak semua yang dia pingin bisa dibeli karena beberapa makanan ada yang tidak halal bagi umat muslim, ah! Kiara merengut, mukanya masam.
Melihat itu Bram geleng kepala lalu mengambil photo makanan dan mencatat namanya, berjanji akan membuat nya dalam versi yang halal.
Bram juga tidak bisa berbuat apa-apa saat Kiara membayar menggunakan unlimited card pemberian Beno yang belum sempat dipulangkan, hm.
Beno lagi, tapi tidak apalah. Uangnya terlalu banyak biar kita bantu menghabiskan nya.
Dalam hati Bram mencoba untuk tidak cemburu teringat ledakan, justru kalau ada waktu dan kesempatan bertemu Bram ingin berterima kasih pada nya.
Sedangkan Icha sibuk memburu fashion, baju, sepatu, sendal, tas make up dan pernak-pernik juga penuh masing-masing satu karung.
Bodyguard Daniel yang menemani nya sampai kewalahan membawa barang belanjaan nya belum lagi cemilan.
Mentang-mentang si bos yang bayar.
Dalam hati bodyguard menatap sinis.
*
Walaupun sebenarnya mereka belum puas berbelanja ataupun melihat-lihat namun waktu yang terbatas membuat mereka harus segera kembali ke pesawat karena masih ada setengah hari perjalanan lagi.
Di dalam jet pribadi.
Daniel mengajak Bram membahas hasil pertemuan nya dengan prof nya mengenai Yudi, sementara Kiara mengajak Laras dan Icha menikmati berbagai cemilan yang dibeli nya. Icha juga mengeluarkan hasil buruan nya, bertiga mereka tolong-menolong menghabiskan jajanan.
__ADS_1
Tidak berapa lama tempat mereka duduk sudah seperti kapal pecah, meja penuh dengan kulit kacang, sampah plastik, kertas ataupun mangkok pembungkus makanan dan minuman karena tong sampah sudah penuh sehingga berjatuhan di lantai.
Pramugara tidak bisa berbuat apa-apa selain mengurut dada, bukankah ini pesawat nenek moyang mereka.
Tidak pernah naik pesawat apa! Sedikit pun tidak menjaga image, duduk yang elegan selayaknya orang-orang kaya gitu.
Gerutu dalam hatinya memunguti sampah ke dalam Plastik besar, wajahnya merengut.
"Ka, bisa buatin orenjus?" terdengar suara Icha bertanya, seketika wajah pramugara disetel ceria.
"Baik, Nona." jawab pramugara.
Mendengar Icha ngomong jus, Kiara jadi pengen juga.
"Ka, jus terong belanda ada?"
Suara Kiara menghentikan langkah pramugara. "Ada kiwi sama buah naga, Nyonya." jawab nya.
Ehegh, Kiara sendawa, "Tapi saya mau terong belanda." ujar nya ngotot menepuk-nepuk dadanya.
Icha dan Laras pandang-pandangan tersenyum geli.
"Maaf Nona, tidak ada." jawab pramugara undur diri.
Hm, "Bentar ya."
Ujar Kiara pada Laras dan Icha, lalu bangun menemui Bram duduk di pangkuan suami nya itu, memeluk di lehernya sambil menjilat-jilat bibirnya tanpa memperdulikan Daniel.
"Ada apa sayang?" tanya Bram memandang wajah merengut Kiara.
"Tadi kita lupa beli terong belanda, aku pingin jus terong belanda." jawab Kiara mulutnya maju satu inchi.
"Jus lain kan ada, apa harus terong belanda?" tanya Daniel menatap Kiara geli kayak orang ngidam aja harus terong belanda.
Ehegh. Kiara sendawa. "Maunya itu." jawab Kiara.
"Mau banget." jawab Kiara dimanja-manja.
"Sebentar Dani, aku mau kasih Kiara terong belanda." pamit Bram bangun dari duduknya.
Dani mengerut dahi heran namun begitu ia diam saja saat Bram membawa Kiara masuk ke kamar dan menguncinya.
Aih dasar!
*
Di dalam kamar Bram masuk ke toilet.
"Sayang, kamu kok ingat membawa terong belanda?"
Tanya Kiara penasaran membuka kulkas kecil di pojok kamar, mengira Bram menyimpan nya di situ. Hm, gak ada Lalu menutup nya.
"Aku bawa kemana-mana." jawab Bram keluar dari kamar mandi hanya mengenakan bathrobe, Kiara mengerut dahi mulai curiga apa dia mau dikerjai.
"Kamu tau sayang, nenekku orang belanda jadi aku keturunan belanda dan aku punya terong. Nikmatilah terong Belanda mu ini." Jawab Bram menyingkap bathrobe nya.
Astaga!
Kiara memeletkan lidahnya, Bram menarik Kiara ke pelukannya lalu menanggalkan gaun Kiara sehingga polos.
"Sayang, sepertinya tubuh kamu semakin berisi." Bram meraba-raba pinggang, pinggul dan bokong Kiara.
"Ini juga." ujar Bram menggenggam ke dua buah Kraby patty.
__ADS_1
"Apa jelek?" tanya Kiara geli-geli gimana.
"Tentu saja tidak, kamu semakin menggemaskan seperti lumba-lumba."
Ujar Bram terus membuat sentuhan-sentuhan sensual di tubuh Kiara lalu mencium bibirnya.
"Ayo mandi, sayang. Aku ingin bercinta puluhan ribu kaki di atas permukaan laut." bisik Bram membawa Kiara masuk toilet.
*
Daniel mendatangi Icha dan Laras, melihat banyaknya sampah di plastik yang ditinggalkan pramugara sementara membuat jus, ck ck ck Daniel berdecak.
"Babe, ini sampah Kiara lebih banyak. Dia makan seperti lambungnya ada empat." jawab Icha takut disalahkan.
Hm, Daniel menarik nafas pelan. "Sudah malam, kalian tidurlah di kamar satunya, aku akan menjaga Yudi." ujar Daniel menyentuh atas kepala Icha, mengusap nya lembut.
"Saya juga ingin menjaga nya, dokter." mohon Laras.
"Masih bisa gantian perjalanan masih lama, sebaiknya kalian tidur duluan." jelas Daniel,
"Oke babe, ayo Laras!" ajak Icha lalu berdiri dari duduknya.
Laras mengikuti Icha masuk kamar, mereka baring di kasur. "Gue, kenyang banget." ujar Laras.
"Hm, gue juga kenyang banget. Ngikutin Kiara makan kayak babi rakus."
Hahaha, gak tahan Laras tertawa mendengar Icha.
"Maunya jus terong belanda lagi, hm." desis Icha.
"Jus gue!" pekik nya tiba-tiba teringat jusnya.
"Ya udah sono ambil." ujar Laras.
"Bentar ya Ras."
Segera Icha bangun dari tidurnya keluar dari kamar, Laras melihat jam ponselnya jam 24.45wib lalu memejamkan matanya.
Hm, sudah lebih 24 jam Yudi belum bangun juga.
*
Selain bangku penumpang, jet pribadi Daniel di design seperti hotel, ada kamar tiga masing-masing ada toilet, ada kitchen set, meja konprensi bahkan ada teater mini. Dengan standard keamanan ngalahin Air force one, pesawat kepresidenan Amrik.
Setelah mendapatkan jus nya, Icha mencari Daniel di ruang konprensi sesuai kata pramugara.
"Baby, kenapa belum tidur?" tanya Daniel melihat Icha menghampiri nya.
"Tadi aku pesan jus, lupa."
Jawab Icha meminum jusnya, Daniel membawa Icha duduk di sampingnya.
"Kamu juga mau jus terong belanda?" tanya Daniel.
Hm, Icha mengerut dahi. "Ini oren jus, Babe." jawab Icha menunjuk jus nya, apa sih jelas-jelas warna nya kuning.
"Oh, oke." Daniel senyum dikulum.
"Kiss me, baby." Daniel menatap Icha sayu.
Cis, Icha mendekatkan bibirnya, Daniel melu mat nya.
*
__ADS_1
Hi, pembaca setia ikutin terus ya Tuan muda romantis. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjut nya. 🙏