
Masih di pesawat.
Di ruang rawatnya, Yudi menatap tak berkedip pada layar ponsel Laras, bagaimana bisa wajahnya kelihatan lebih tua dari ingatannya.
Sepertinya aku bukan pindah dimensi, apa mungkin melintas waktu.
Dalam hati Yudi menatap Laras.
"Laras tahun berapa sekarang?" tanya Yudi.
Laras menarik ujung bibirnya mencoba tersenyum walau hatinya nyesek. "Dua ribu dua satu, Abang."
Jawaban Laras sontak membuat Yudi hampir menjatuhkan ponsel Laras.
Sudah beberapa tahun yang lalu, saat aku dihajar preman. Kenapa seperti baru kemaren, jangan-jangan Olivia juga sudah menikah dengan orang lain dan punya anak banyak, ah.
Dalam hati Yudi, melongo seperti sapi ompong menatap ponsel.
"Sudah Bang tidak usah diliatin terus, itu memang wajah abang tampan kemana-mana kan?!"
Laras mencoba bercanda walau hatinya sedih melihat ekspresi bingung Yudi.
"Nih abang minum dulu, Tuan muda ngajak meeting itu." lanjut Laras lagi menyodorkan gelasnya pada Yudi.
Hm, gimana aku bisa terlempar jauh melintas waktu sampai lima belas tahun.
"Laras, kamu bilang tadi kita sudah menikah dan abang punya benda seperti ini lebih canggih."
Tanya Yudi menatap Laras membuka mulutnya menerima gelas, Laras menuangnya penuh kasih sayang.
Selesai Yudi minum, Laras mengangguk. "Ada Abang, Tuan muda yang simpan. Ayo buruan bersiap, aku antar jumpa Tuan muda." ujar Laras meraih ponselnya memasukkan ke saku belakang jeans nya.
Hm, "Laras, abang mau pipis di mana ya?" tanya Yudi, tiba-tiba merasa kebelet.
"Apa Abang bisa jalan?" tanya Laras.
"Bisa Laras, abang sehat ngapain juga ini kepala diperban."
Yudi menarik perban di kepalanya lalu melempar nya begitu saja kemudian ia turun dari kasur. "Tuh, lihat." ujar nya berjalan mondar-mandir.
Laras melihat rambut Yudi yang dicukur seadanya, jelek sekali. "Ya udah, ayo sini masuk." Laras membuka satu pintu yang tertutup.
"Kamu tunggu di luar!" titah Yudi suara tegas masuk ke kamar mandi.
"Cis, aku sudah liat malu apa lagi."
Laras mendengus menjauh dari pintu kamar mandi, melipat selimut membereskan kasur.
"Laras, airnya mana?"
Jerit Yudi tiba-tiba dari dalam kamar mandi yang memang tidak ditutup pintunya.
__ADS_1
Cih, Laras masuk ke kamar mandi, Yudi nyengir menutup anu nya. "Air." ujar nya menunjuk ke bawah anu nya.
"Bang, di kamar mandi kita juga ada ini, napa lah abang lupa."
Suara Laras mengomeli Yudi nada sedih lalu menekan tombol keran air keluar menyiram urin.
"Sini, cebokin lepas tangannya." lanjut Laras menepis tangan Yudi.
Walaupun aneh perasaan hatinya, Yudi mau aja membuka tangannya mendekatkan anu nya pada Laras.
Sebuah bayangan melintas di pikiran Yudi, saat-saat di mana Laras mengulum nya, juga saat-saat mereka bercinta dengan penuh gairah di mana dirinya menghentak-hentak di atas tubuh Laras.
Yudi menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan dari otaknya namun begitu ia membiarkan Laras membasuh dirinya. Yudi merinding geli-geli gimana gitu, saat Laras menggenggam benda paling sensitif di tubuhnya itu dan membuat urutan lembut.
Terdengar nafas berat Yudi, lengannya terulur memeluk Laras merapatkan tubuh mereka, Laras terpaku merasakan pelukan sensual Yudi di pinggangnya.
"Benarkah kita sudah menikah?" tanya yudi berbisik di telinga Laras.
"Hm." angguk Laras, jantung nya dag dig dug merindukan sentuhan dan belaian Yudi.
Sambil membasuh Yudi, Laras mendongak menatap wajahnya sayu, tatapan mereka bertemu.
"Kalau suami istri boleh dong melakukan hubungan badan?" desis Yudi lagi ingin menguji Laras, siapa tau cuma sandiwara.
Hm, angguk Laras lagi.
Gleg, Yudi menelan liurnya saat Laras mendekatkan wajahnya menempelkan bibir mereka. Yudi membelalak, membuka mulutnya kaku seolah baru pertama kali berciuman.
Yudi ingat belum pernah berciuman bahkan pada kekasihnya Olivia, namun kenapa pada gadis ini ia lemah bahkan merasakan gairah.
Dalam hati Yudi semakin memeluk Laras memperdalam ciuman, apalagi Laras menggenggam kema luannya.
Laras menyelipkan lidah memejamkan mata, tubuhnya terdorong menempel di dinding kamar mandi yang memang tidak terlalu luas, Laras membalas ciuman gak kalah agresif.
Akh!
Sebuah erangan lolos dari mulut Yudi bahkan tangannya tidak bisa diam menjelajah di tubuh Laras. Melu mat bibir sambil menggenggam dua gunung kembar bergantian, meremas gemas mengikuti adegan yang terekam di otaknya.
Pintu ruang rawat Yudi terbuka. "Nyonya, Tu... ups maaf."
Langkah asisten Daniel terhenti melihat pintu kamar mandi yang terbuka lalu keluar lagi menutup pintu ruang rawat Yudi, tidak mau mengganggu dua anak manusia yang sedang gelut.
Si gadis menjambak rambut si pria, si pria meremas bokong si gadis sambil menggigit lehernya.
Bahkan suara asisten Daniel tidak bisa menghentikan Yudi dan Laras, mereka terus berciuman bahkan meminta lebih.
"Aku mau masuk, Laras."
Desah Yudi suara berat seperti yang biasa sering Laras dengar saat-saat mereka bercumbu.
Ha! Laras terkesiap.
__ADS_1
Apa mungkin ingatan Yudi sudah kembali.
Dalam hati Laras lalu menendang pintu kamar mandi menutup nya.
Biarin, Tuan muda bisa menunggu.
Dalam hati Laras teringat Bram tadi, habis makan mau ngajak meeting Yudi.
*
Di ruangan konprensi Bram dan Daniel duduk berdampingan wajah ke arah layar monitor di dinding dengan pikiran masing-masing, menunggu Yudi.
"Dani, berapa jam lagi perjalanan sampai ke Amrik?" tanya Bram pada Daniel tanpa menoleh.
"Waktu indonesia barat sekarang jam 05.00wib, mudah-mudahan lancar masih 4 jam sampai bandara JFK lalu ke hospital makan waktu satu jam dengan pesawat kecil." jawab Daniel.
"Apa nanti sampai Amrik kamu langsung operasi lagi otak si Yudi yang korslet itu?" tanya Bram lagi.
"Kalau Yudi nya mau. Bagaimana kalau dia menolak, kita juga tidak bisa memaksa nya Bram." jelas Daniel.
"Hm." Bram menarik nafas berat.
"Maaf dokter, sepertinya Tuan Yudi dan Nyonya Laras sedang sibuk di kamar mandi."
Lapor asisten Daniel masuk ke ruangan konprensi sedikit gak enak hati mau menjelaskan secara detail apa yang dilihat nya.
Bram dan Daniel pandang-pandangan. "Apa kamu memikirkan seperti yang aku pikirkan Daniel?"
Tanya Bram, Daniel menarik ujung bibirnya tersungging.
Hais, "Si Yudi, bagaimana dia bisa lupa ingatan tapi tetap ingat buat dedek bayi." suara Bram menggerutu.
Hahaha, tak tahan Daniel tertawa, asistennya garuk-garuk kepala.
"Sayang."
Suara Kiara dari pintu ruang konprensi tubuhnya berbalut selimut, Bram menoleh lalu berdiri menghampiri istrinya.
"Sayang, kenapa bangun?" tanya Bram memeluk Kiara.
"Aku takut sendirian." suara Kiara dimanja-manja.
Hm, "Daniel aku ke kamar dulu, kamu istirahatlah." ujar Bram pamit pada Daniel.
Bagaimana bisa meeting, si korslet itu sedang sibuk.
Dalam hati Bram membawa Kiara masuk kembali ke kamar mereka.
Daniel bangun dari duduknya teringat Icha yang ia tinggal di ruang teater mini juga sedang tertidur sendirian, hm.
*****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏