Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
Bonus bab. 9


__ADS_3

Di atap Sora melihat Zainal sedang berbaring di bangku malas mulutnya ngemut-ngemut permen. Makan apa batin Sora gak sabar pengen lompat ke pangkuan Om Ze nya.


Sudah lewat setengah tahun si Zai berhenti ngerokok, sejak dia ke Amrik bertemu Laras. Semula memang berat banget tapi karena khawatir Laras yang waktu itu lagi hamil kena imbasnya, akhirnya bisa juga diganti permen.


Kalau ada cewek kan enak bisa ngemut bibir, ah...ah.


"Om Ze!" Lamunan omesnya terhenti dengan kehadiran istri masa depannya.


Zai menoleh begitu juga Sabit si anak sholeh yang duduk disampingnya.


Beberapa pengawal di setiap sudut atap gedung yang berpakaian resmi ala Men in black juga ikut menoleh pada si gempal. Sejak ada keluarga Wijaya di Penthause rumah sakit, atap jadi rame karena mereka sering BBQ an.


Nunggu Sora gede, kasian benar perkutut ku ea...


Batin Zai meronta, dia udah niat mau nikah muda biar bisa move on dari Laras. "Kenapa kamu sedih?" Tanyanya setelah Sora dekat kelihatan wajahnya mendung seperti mau hujan.


"Uwaaaaa!" Benar saja spontan anak kecil itu menangis kencang, menghambur ke pelukan Zainal.


Modus apa lagi ini dalam hati Zainal geli tapi tidak dengan Sabit, sebagai kakak laki-laki dia merasa gagal dan tidak berdaya membimbing Sora agar jangan terlalu nempel pada laki-laki yang bukan muhrim.


"Ada apa kamu, pura-pura nangis biar dipeluk?" ketus Sabit.


"Uwaaaaa," semakin Sora mengencangkan suaranya.


"Ush ush ush, sudah sudah jangan sedih kan ada Om Ze." Zainal membujuk balas memeluk Sora mengusap-usap punggungnya.


Wajahnya telungkup di dada Zainal, kesempatan Sora semakin memeluk suami masa depannya itu. "Uwaaaaa! Bagaimana, uuuu..kalau uuu, pernikahan kita dipercepat saja..uuuu..." ujar Sora disela tangisnya.


"What!" Pekik Zainal kaget, Sora mendongak ikutan kaget. "Kenapa tiba-tiba?" tanya Zai di wajahnya, mulut Sora mewek tak tau mau jawab apa.


Hah! Sabit mendesah tak sanggup berkata-kata.


"Sora baru umur berapa, yang ada Om Ze dimasukkan ke penjara karena menikahi anak kecil." Zainal mengusap wajah Sora yang basah air mata.


"Kamu sudah umur delapan belum bisa baca belum bisa nulis, mau nikah pula. Kalau masih bocah pikir tuh sekolah dulu, jangan mikir nikah. Paling muda lulus SMA baru boleh."


Sambung Sabit gak tahan pengen ngomel dia, jarang-jarang kan dia bicara banyak.


"Usia ceweknya minimal 19 tahun, gak usah mikir ngurus rumah tangga, suami dan anak-anak deh. Tanda tangan apa kamu sudah punya, surat nikah tuh perlu tanda tangan!"


Hahaha. "Apa sih Sabit ikutan stres, segala tanda tangan dibawa-bawa gak nyambung tau," gelak Zainal.


Hehe, sabit terkekeh.


Lama amat, nunggu sepuluh tahun lagi. Nunggu setahun aja gak tahan...ah!


Batin Sora kembali memeluk Zainal. "Wuuuu...uuu...tante Icha bilang kalau sudah datang bulan, boleh...uuu," Tangis Sora semakin sedih.


"Apa kamu sudah datang bulan?" tanya Sabit melunak


Ck, "belum...uuuu."


"Itu artinya belum boleh, ngerti Sora."


Ada-ada saja! Aku aja belum kepikiran, even mau pacaran harus tunggu mapan.

__ADS_1


Dalam hati Sabit pengen seperti Ayah Yudi, sukses dulu baru mikir nikah.


"Tapi Sora mau cepat nikah, biar gak ada yang anggap remeh...uuuuu," ujar Sora tak lupa dengan tangisnya.


Anggap remeh?


Zai mengernyit, bertemu pandang dengan Sabit. Mengusap pucuk kepala Sora, lucu abis neh bocil batinnya. "Sudah jangan nangis," pujuk Zai mendekap Sora di pelukannya. "Coba cerita ke Om Ze ada apa tadi, siapa yang marahin kamu?"


Uuu...Sora mewek serasa disayang suami seperti Kiara, enak ada tempat bersandar. "Kiara bentak-bentak, terus tante Icha juga...uuu." Sora suara disedih-sedihkan, semakin memeluk Zainal.


"Kamu nakal pasti!" Ketus Sabit, antara kesal dan jelouse.


"Enggak ya!" Sora bangun melotot pada kakaknya, akhir-akhir ini kalau diperhatikan bicaranya selalu ngegas.


"Kau juga kalau bicara kasar!" Jerit Sora di wajah Zainal.


Astaga, ludah muncrat di wajahnya. "Om Ze kasar, benarkah?" tanya Zainal, kenapa jadi dia yang kena semprot.


"Bukan tapi Sabit!" pekik Sora.


Hihi, tawa Sabit gelik dengan kelakuan adiknya.


"Oh, jangan gitu Sabit." Zainal pura-pura marahin Sabit.


"Baiklah Om Ze," jawab Sabit berbarengan dengan masuk pesan di hapenya dari Dwi.


Isinya : "Mau ikut gak jalan-jalan ke Mall?"


Sabit mengarahkan layar ponselnya ke Zainal. "Oke, jawab Yes. Ayo kita ke Mall," ajak Zainal.


Karena Beno meninggalkan satu mobil untuknya. "Katakan kita nyusul bawa mobil sendiri."


"Yeeee," Sora bersorak senang.


Sepanjang jalan menuju parkiran, gak lepas menggandeng tangan Zainal. Di mobil juga Sora duduk di depan di samping Om Ze nya.


***


Di pusat perbelanjaan kota NYC.


Kesempatan Icha belanja keperluan lahiran walaupun sudah banyak dia belanja, suka gak tahan sekarang lihat baju baby lucu-lucu dan imut-imut. Gak sabar menunggu bulan depan bayi-bayinya akan keluar dari perutnya.


Alisha dan Dwi mencari oleh-oleh untuk dibawa ke Jkt, berupa camilan yang tidak ada dijual di sana.


Karena hitungan dollar Dwi tidak berani belanja untuk dirinya. "Dwi, kenapa gak jadi?" tanya Alisha melihat Dwi menyimpan lagi tas dan sepatu yang tadi dicobanya.


"Gak ah, Mbak. Di Jkt lebih murah, untuk apa buang-buang uang," jawabnya segera kabur dari depan counter.


Hahaha, Alisha tertawa. "Kamu mau bawa kemana uang yang banyak itu, sekali-sekali manjakan dirilah."


Hehe, tawa Dwi. Memang sejak jadi mertua Bram tabungannya bertambah banyak berlipat-lipat.


"Ayo ambil!" Alisha memaksa Dwi mengambil tas dan sendal yang tadi disimpannya.


Mau gak mau akhirnya Dwi mengambilnya, ternyata Daniel yang maju membayar tagihan mereka.

__ADS_1


"Alhamdulillah...terima kasih dokter," ucap Dwi tersenyum sampai telinga.


Astaghfirullah, dalam hati Alisha melihat kelakuan Dwi.


***


Zainal memarkir mobil di tempat yang dipesan Icha di samping mobil Daniel diparkir.


Karena ia baru saja mendapatkan Internasional simnya jadi belum hapal jalanan kota NYC, ngikutin GPS malah tambah jauh. Padahal ada jalan motong yang lebih dekat dan cepat.


Mereka berjumpa di foodcourt Mall, memang sudah waktunya juga makan malam. Duduk di restoran Ayam goreng kentaki, Sora bertingkah gak mau makan kalau gak ada nasi.


"Sora, makan Ayam goreng kentaki pake nasi cuma ada di Indo," jelas Icha.


"Aaa...mau nasi," rengeknya pada Zainal.


"Astaga!"


Sabit geram pengen nyubit bibir adiknya, gampang banget mewek sekarang.


"Ayo kita cari nasi," ajak Zainal dari pada malu-maluin.


Sora kesenangan diajak jalan, lagian dia masih kenyang tadi sebelum ke atap baru minum susu. Minta nasi cuma alasan biar mutar-mutar bisa cuci mata, digandeng pacar seperti berkencan, hahaha.


"Dasar udik," ledek Sabit.


"Lain kali kalau ke Mall bawa nasi," ujar Dwi. Dia juga gak biasa makan Ayam goreng gitu aja, mau ada nasi biar nendang.


"Hahahaha," semua tertawa.


Orang-orang di sekeliling mereka menoleh spontan, apanya yang lucu?


***


Berkeliling di foodcourt sambil menggandeng Sora, Zainal ketemu counter makanan khas Indo.


Syukurlah.


Membaca ada soto, gado-gado dan bakso, makanan kegemarannya. "May i have some rice, please?" tanya Zainal pada pelayan perempuan berambut pirang.


Tapi kok hidungnya kemek. "Ada nasi, mbak?" tanya si Zai lagi akhirnya memilih menggunakan bahasa dari negaranya.


***tbc.


Ikuti karya kontrak lainnya, 🙏.


1.



2.



3.

__ADS_1



Thanks, 🙏.


__ADS_2