Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
193


__ADS_3

Di kamar Laras yang tersembunyi, mendapat panggilan Yudi merasa bersalah jadi lupa melapor pada si bos saking bahagia nya.


"Bentar, aku angkat telpon. Sepertinya Tuan muda."


Ujar nya beringsut bangun dari atas tubuh Laras meninggalkan sarung nya yang terlepas, berjalan hanya memakai fit boxer dengan atasan kaos Laras yang nge-pas di badan.


Si abang kurus sampai ke tulang tulang.


Dalam hati Laras melihat kaki Yudi tambah langsing. Laras bangun dari baringnya membenahi baju atasnya yang terbuka.


Yudi merogoh saku celana bahannya yang tergantung di dinding dekat pintu lemari baju.


"Hallo bos."


Terdengar suara Yudi menjawab panggilan.


"Hallo Yudi." suara Bram di ujung sambungan.


"Maaf Bos, ini mau laporan. Saya sudah bertemu istri dan ketiga bayi saya. Permisi malam ini saya nginap di sini, besok baru akan membawa mereka ke Mansion karena saya perlu bertemu Beno." jelas Yudi nada senang memandang sendu Laras.


Akhirnya, dalam hati Bram.


"Baiklah Yudi, take your time. Need some help, let me know." jawab Bram.


"Thanks, Bos." balas Yudi nada gembira terdengar Sambungan diputus dari seberang.


~


Yudi menghampiri Laras meletak ponselnya di keranjang baju bayi agar mudah dijangkau kalau kalau masih ada panggilan.


Yudi memandang Laras yang juga menatap nya. "Sampai di mana kita tadi?" tanya nya.


"Bagaimana kabar Kiara?"


Laras balik nanya, betapa ia sangat rindu pada teman dari masa kecilnya itu.


Yudi merengkuh Laras ke dalam pelukan, dilema mau memberi tahu Laras atau tidak tentang Kiara yang keguguran


"Nyonya muda baru melahirkan seminggu yang lalu, bayinya kembar dua duanya perempuan." jawab Yudi suara pelan.


"Baru seminggu!" seru Laras mengerut dahi.


"Hm, Nyonya melahirkan dalam usia kandungan tujuh bulan." jelas Yudi lagi.

__ADS_1


Astaga!


Laras mengurai pelukan memandang Yudi. "Tujuh bulan, prematur apakah Kiara dan bayi sehat?" tanya nya nada khawatir.


"Alhamdulillah sehat. Tuan muda menjaga Nyonya muda seperti kristal sangat ketat begitu juga bayinya."


Laras terdiam, kirain Kiara lahiran duluan atau paling tidak bersamaan dengan dirinya ternyata ...


Melihat Laras termenung. "Laras sayang, peluk aku masih rindu."


Yudi mengalihkan perhatian, tau apa yang dipikirkan Laras. Laras melebarkan tangannya membiarkan Yudi memeluk nya lagi, ternyata Yudi mengangkat Laras ke pangkuannya mereka hadap hadapan.


Hm, Laras kembali deg degan membayangkan adegan selanjutnya.


"Kamu sangat kurus, apa kamu tidak makan."


Desis Yudi, satu tangan memeluk di pinggang satu tangan menangkup belakang kepala, mengusap nya penuh kasih sayang. Tubuh menempel hingga tak berjarak, masing masing mereka bahkan bisa merasakan jantung yang berdetak gak karuan.


"Aku makan banyak tapi disedot lagi sama anak anak mu."


Laras memandang ketiga bayinya yang tertidur menggemaskan, Yudi ikutan menoleh pada bayi.


"Kamu dan baby adalah anugerah terindah dalam hidupku." gumam Yudi menghirup leher mulus.


Ah, Laras merinding. "Ayolah kita tidur, sebentar lagi pagi." ajak nya, walaupun ia tau untuk apa Yudi mengulur waktu.


"Buka baju!"


Yudi nada memaksa tidak perduli apa yang dipikirkan Laras, bantu melepas baju istrinya mencopot bra meninggalkan cdnya.


"Ayo kita tidur." Ujar Yudi memeluk Laras lagi merasakan dada empuk dan kenyal.


Hah! Berpelukan hampir telanjang gini, yang benar saja. Apa yang dimaksud dengan tidur di sini.


Dalam hati Laras. "Gimana bisa tidur." desis nya.


Yudi menarik ujung bibirnya, menjatuhkan Laras berbaring lalu menimpa di atasnya. Laras mencubit kedua pipi Yudi geram, merasa jengah dengan bagian tengah dirinya yang mekar dimana sesuatu yang keras terasa sangat mengganjal.


"Abang." desah nya menatap sayu Yudi.


"Baiklah sayang, otw."


Segera Yudi melepas kaos dan boxernya dan mengulur tangan melepas cd Laras kembali menimpanya.

__ADS_1


'Ah, jadi ini maksudnya tidur', desah Laras gak bisa mengelak lagi.


Yudi memposisikan diri, mencium Laras mengayun pinggulnya. Dua benda paling sensitif pada dua manusia berjenis kelamin beda itu bergesekan. Jemari Yudi menari nari di dua bukit. Dada bergemuruh berpacu dengan nafas yang memburu.


"Apa kamu menutup nya?"


Tanya Yudi merasa kesusahan mau masuk, padahal sudah sangat basah.


"Aku lahiran operasi perut dibelah, tidak ada yang menyentuh nya selain kamu terakhir saat hilang ingatan." jawab Laras.


Yudi menatap Laras gak tega, membaca luka sayatan juga sudah kering. "Tahanlah sedikit Laras mungkin akan sakit." Yudi memohon, mau gimana lagi udah kebelet


"Hm." Laras mengangguk, ia juga merindukan rasa sakit itu.


Membaca Laras, Yudi kembali mencium nya, meraba raba tubuhnya dengan gerakan sensual memancing gairah lalu memposisikan diri lagi perlahan lahan Yudi menekan.


Apa dia kembali perawan.


Dalam hati Yudi merasa terjepit, jantungnya berdenyut.


Ah! Desah Laras dan Yudi bersamaan.


*


Di Penthause rumah sakit Daniel.


"Yudi sudah bertemu istrinya." Bram memberi tahu Arjit.


Alhamdulillah, suara Arjit begitu juga dalam hati Kiara mengucap syukur.


Yudi sudah bertemu Laras, bagaimana aku harus bersikap pada perempuan menyebalkan itu.


Dalam hati Bram memandang Kiara teringat saat keguguran, karena mikirin temannya yang kabur. Bram tidak bisa tidak kesal, ternyata perempuan itu baik baik saja sementara ia harus kehilangan bayinya.


"Bram." panggil Kiara


"Hm." Bram menoleh. "Ada apa sayang?" Bram mendatangi istrinya, sementara Arjit ke ruang bayi bergabung dengan Alisha.


"Ada apa kamu sepertinya ada yang dipikirkan?" tanya Kiara.


"Tidak ada apa apa, ayo tidurlah."


Jawab Bram ikut baring di samping istrinya membawa Kiara ke pelukannya.

__ADS_1


******


♥️


__ADS_2