
Minggu 00.45 wib dini hari.
Di kamarnya Bram lagi mengeringkan rambut istrinya pakai dryer dengan penuh kasih sayang.
"Bram aku lapar." ujar Kiara.
Pandangan Bram jatuh pada bayangan Kiara di cermin. "Baiklah sayang, setelah ini kita makan." Jawab Bram memutari rambut panjang Kiara memberi angin hangat.
"Gak jadi potong rambutnya tadi." gumam Bram menyadari rambut istrinya masih panjang.
"Sayang sebentar aku hubungi dapur untuk menyiapkan makanan." Bram menekan tombol off dryer nya. Biar gak berisik saat menelepon, lalu Bram menekan tombol microphone di dinding.
"Ya Tuan." terdengar suara Samsir.
"Samsir buatkan makanan lalu antarkan ke kamar." titah Bram.
"Baik Tuan, ada permintaan spesifik?" tanya Samsir.
"Bisa buatkan Mie rebus seafood." jawab Bram.
Yudi juga tadi pingin makan mie rebus seafood, dalam hati Samsir.
"Baik Tuan." sambungan di putus.
Samsir segera memerintahkan chef keluarga yang bekerja sift malam untuk memasak pesanan Tuan muda nya.
*
"Om." suara Laras tercekat di tenggorokan.
Yudi baru keluar dari kamar mandi saat ia memanggil Yudi makan. Laras melongo di depan pintu, langsung berbalik badan bersandar di dinding dekat pintu.
Siluet Yudi memakai handuk sepinggang, dengan tetesan-tetesan air dari atas kepalanya merembes di kulit tubuh Yudi yang liat, suatu pemandangan yang hot dan seksi yang membuat jantung Laras berdebar kencang.
"Kenapa, kamu mau bicara apa?" Yudi sudah di samping Laras tanpa berniat mau menutupi tubuhnya.
Penampakan bagian dada Yudi dengan perut kotak-kotak membuat Laras menelan ludah.
"O-om, sesuai bumbu dan bahan yang Om b-bawa, mie rebus seafood nya sudah matang, Om makan sekarang selagi hangat." suara Laras hilang-hilang timbul.
"Hm." gumam Yudi memandang Laras intens.
Ia dengan jelas bisa mendengar bunyi debaran di dada Laras. Wajah Laras yang begitu dekat dan polos juga memicu jiwa kelaki-lakian Yudi.
Laras merasa risih dipandangi Yudi, "Laras tunggu di meja makan, Om." ucap nya pelan hampir tak terdengar, memandang Yudi dengan mata sayu.
Laras dengan cepat berjalan ke dapur, ia mengambil air putih hangat lalu meminumnya.
Ya Tuhan
Laras menepuk-nepuk dadanya, berusaha meredakan debaran jantungnya. Ia menunggu Yudi di meja makan, membuang pikiran liar dari otaknya.
Gak lama Yudi keluar dari kamar dengan kaos hitam fit body dan Jogger pants warna senada. Kelihatan makin tampan di mata Laras, sangat macho di tubuh Yudi yang atletis. Laras menelan liurnya, menundukkan pandangannya.
Laras membagi mienya jadi dua mangkok. Ia tidak tahan dengan baunya jadi ingin makan juga.
Yudi menarik bangku di samping Laras, deg. Jantung Laras berdegub, wangi tubuh Yudi menyeruak indra penciuman nya.
Padahal Laras meletakkan satu mangkok mienya di seberang meja, agar mereka makan dengan duduk berhadap-hadapan, gak nyangka Yudi malah memilih duduk di sampingnya.
Ukuran meja yang kecil sehingga dengan mudah Yudi meraih mangkok mie yang di seberang menarik ke depannya.
__ADS_1
"Kelihatan nya enak." dengan santai Yudi mulai menyantap mienya, sesendok masuk ke mulutnya.
Lumayan lah, masih bisa ditelan, dalam hati Yudi menilai masakan Laras.
Walaupun ia bisa memasak lebih lezat dari masakan Laras, namun di hati Yudi makanan yang dimasakkan menambah nilai plus apalagi dari seorang yang bergelar istri.
"Kamu gak makan." tanya Yudi menoleh pada Laras yang terbengong memandangi nya makan.
Laras tersipu. "Iya, gimana rasanya Om?" tanya Laras pura-pura sekalian ia menikmati wajah bersih Yudi, sepertinya ia habis cukuran.
Jantung Laras gak berhenti berdebar kencang bukan karena menanti jawaban Yudi terhadap nilai masakannya, namun karena lengan Yudi yang bersentuhan dengan bahunya. Mengalirkan aliran listrik tegangan tinggi.
Yudi mesem-mesem merasakan getaran di hati Laras yang seperti gempa bumi itu.
Sepertinya dia akan gemetar jika mengangkat sendok nya, dalam hati Yudi.
"Aa." Yudi menyodorkan sesendok mienya ke arah mulut Laras. "Kamu rasakan sendiri." ujarnya menatap Laras, pandangan mereka bertemu.
"Ah, tidak usah, saya bisa sendiri." ujar Laras menunduk, pura-pura mau makan. Ia hanya menyentuh sendok nya tidak berani mengangkatnya takut jatuh dari tangannya.
"Aa, buruan tangan saya pegal ini." Yudi masih kekeh mau menyuapi Laras.
Laras mengangkat wajahnya, malu-malu ia membuka mulutnya, dengan perlahan ia mengunyah.
Astaga, kenapa jadi grogi gini, dalam hati Laras ia menundukkan wajahnya lagi.
"Aa..lagi?" Yudi menyodorkan lagi sendok mie nya.
"Sudah Om, Om makan aja sendiri nanti gak kenyang kalau terus nyuapin saya, hehe." Laras cengengesan berusaha meredakan debaran di dadanya.
"Aa, Buka mulutnya." paksa Yudi.
Setelah Laras menerima suapannya, gantian Yudi menyuapi dirinya.
"Ha!"
******
Di sofa kamar Bram, Kiara juga lagi disuapin makan. Siapa lagi yang nyuapin kalau bukan suaminya si Bram, yang sifatnya kadang romantis kadang menyebalkan itu.
"Ka, udah kenyang." ujar Kiara setelah suapan kelima.
"Sayang, sedikit sekali baru beberapa suap, aa lagi." Bram menyodorkan sendok nya ke arah mulut Kiara.
"Nanti gemuk, gak mau aku kan pendek." Kiara alasan.
"Mau gemuk mau pendek, aku gak mau kamu kelaparan sayang, aa." Bram memaksa makanan masuk ke mulut Kiara.
"Sekarang aja gitu ngomongnya, tunggu sebentar lagi. Kalian pasti melirik wanita yang lebih seksi." ujar Kiara dengan mulut penuh.
"Kiara, kamu benar-benar tidak mengenalku." ucap Bram.
"Kenapa tidak kenal, semua lelaki sama saja kan."
"Jangan Sekali-sekali samakan aku dengan pria jelek diluar sana. Aku ini tampan dan setia, ngerti Kiara aa."
"Cis." Kiara menerima lagi suapan Bram di mulutnya.
"Sayang, apa Yudi dan Laras Sudah di rumah besar?" tanya Kiara.
"Oh iya sayang, hampir lupa." Bram melihat ponselnya, GPS keberadaan Yudi posisi berada di rumah besar.
__ADS_1
"Seperti nya sudah sayang." jawab Bram.
"Apakah Laras jadi ikut ke rumah besar?" tanya Kiara lagi.
"Sudah sayang aa, besok saja lihat. Jangan bilang kamu mau jumpa teman mu itu."
Cih, Kiara memonyongkan bibirnya.
"Sayang, aku mencintaimu." ucap Bram menyuapi mulut Kiara lagi.
"Aku enggak." jawab Kiara.
Bram senyum dikulum, ia bisa melihat dengan jelas terpancar dari mata Kiara rasa cinta yang besar kepadanya. Namun ia belum bisa mengontrol rasa cemburunya, sehingga sering gemas pada kiara dan menyakiti fisik istrinya itu. Bram menarik napas membuangnya pelan.
"Apa kamu mau satu gaya lagi sayang, sebelum tidur."
Kiara menggeleng spontan.
"Ya udah, dua gaya."
Kiara mendelik, melotot pada suaminya lalu dia akting tidur pura-pura ngorok.
Bram terkekeh melihat ekspresi Kiara. "Minum dulu kiara sayang."
*
Di kamar Yudi, Laras tidur gelisah di kasur sendirian karena Yudi memilih tidur di sofa luar.
Hm, Laras menarik napas dalam-dalam mencoba memejamkan matanya.
Tidur Laras, besok lo kerja sift pagi.
Laras mensugesti dirinya bahwa Yudi menolak tidur di kasur bukan karena tidak tertarik dengan dirinya.
Buktinya, tadi dia minta aku melahirkan anak untuk nya.
Walau di hati Laras maunya agar Yudi sedikit lebih agresif, dia juga gak akan menolak.
Hais, Laras apa yang kau pikirkan.
Laras mencoba memejamkan matanya, tapi pikirannya pada Yudi.
Kasian Om Yudi tidur di luar. Laras sampai kiamat lo gak akan bisa dapat lagi, cowok sekeren Yudi, dalam hati Laras bolak-balik.
Entah setan mana yang mengerakkan Laras bangun keluar dari kamar, kelihatan Yudi sedang merokok.
Bunyi pintu dibuka Yudi menoleh.
"Ada apa?" tanya Yudi pura-pura, jelas-jelas ia tau kegelisahan Laras.
"Om, ayo tidur di kamar bareng." ucap Laras malu-malu. Seketika wajahnya terasa melebar.
Yudi mengernyit, ingin tertawa tapi ditahan. "Tidurlah duluan, besok kamu kerja pagi." ucapnya kalem.
Laras menggigit bibir bawahnya membawa wajah malunya kembali ke kamar.
Laras, lo dah gila ya.
******
Hai, masih ikutin terus Tuan muda romantis ya. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih, semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi episode berikutnya 🙏