
Di ruang VIP 3 hotel WJ.
Daniel duduk menyandar di headboard kasur, pikirannya menerawang.
Bagiamana bisa alat itu ditanam di kepala Yudi. Pabrik mana yang memproduksi nya, siapa dokter yang memasang nya?
Dalam hati Daniel gak habis pikir, menarik nafas berat berharap semoga ia tidak salah saat memasang kembali alat aneh itu.
Berbentuk seperti micro sd card namun lebih kecil dari memory ponsel yang paling kecil jaman sekarang, sepertinya longgar atau melenceng dari tempatnya mungkin karena terkena benturan.
Beruntung tidak ada damage atau kerusakan, Daniel hanya tinggal mengetatkan namun karena susah ia menarik keluar lalu memasukkan lagi pada slot tempat alat itu seharusnya berada.
"Babe, kamu mikir apa?"
Tanya Icha pada Daniel yang melamun. Dari tadi dia sudah standby malah dianggurin padahal di dalam selimut tubuh mereka sudah sama-sama polos.
"Ha." gumam Daniel tersadar segera meraih wajah Icha ingin mencium bibirnya.
"Setop!"
Icha menahan wajah Daniel, sehingga lidahnya yang melet sudah keluar ditarik kembali. "What?"
"Seandainya aku dan Bram hanyut di sungai, siapa di antara kami yang akan kamu selamatkan duluan?"
Tanya Icha pada Daniel, Daniel mengerut dahi kenapa tiba-tiba nanya itu pula.
"Ngapain diselamatkan, kalian dua-duanya bisa berenang mana mungkin bisa hanyut. Apalagi Bram bisa menyelam di laut tanpa peralatan oksigen selama setengah jam bahkan lebih. Aku heran jangan-jangan dia punya sirip dan insang yang sewaktu-waktu bisa keluar saat lagi berada di dalam air." Jawab Daniel selow no tension.
Cis, Icha mendengus mendekatkan wajahnya meraih bibir Daniel lalu melu mat nya dalam.
Daniel membalas, lama tidak bercumbu perasaan birahinya bergejolak mencium Icha dengan rakusnya. Marissa semakin agresif manjat di atas pangkuan Daniel ambil posisi memimpin.
Puas ciuman dibibir, Daniel turun ke leher melorot ke dada, Icha meremas rambut Daniel mendekap nya agar menyesap nya lebih intens.
"Babe, aku ingin membesarkan tetiku ini terlalu lepes kayak telor ceplok, bisa kamu tolong isi implan." ujar Icha disela-sela desahan nya.
"No baby, you don't. Aku suka seperti ini."
Jawab Daniel menyesap susu sambil meremas yang satunya, terdengar suara kecapan yang membuat setiap orang yang mendengar nya auto mesem.
Hah!
Desah Icha mendorong wajah Daniel yang nemplok di dadanya. "Apa karena aku mirip Bram, makanya kamu..." Icha tidak meneruskan bicaranya menatap Daniel tajam, kelihatan bibirnya yang memerah basah.
Gleg, Daniel menelan ludah susah payah.
Maksudnya, apa si Icha tau aku pernah menyukai Bram.
Dalam hati Daniel.
"Hanya burung saja yang aku gak punya, selebihnya sama kalau aku dan Bram telanjang tubuh kami persis pinang di belah kampak apalagi dadaku mirip dada lelaki, aku cuma kalah tinggi dari Bram."
__ADS_1
Ceplos Icha tidak tahan lagi, Daniel menatap nanar mencoba mencerna kemana arah bicara Icha.
"Contoh di depan mata, si Yudi. Bahkan setelah berpuluh tahun dia belum bisa move on dari mantannya si Olivia itu. Bagaimana kamu menjelaskan itu mr. nice guy." sental Icha seketika jadi hilang mood bercinta.
Di sebut guy Daniel bukannya tersinggung malah memandang Icha tersenyum lebar. "Thanks God, baby kamu cemburu artinya kamu memang mencintai ku." ucap Daniel senang memeluk Icha serta merta menindih tubuhnya.
"Ah! Bukan itu pokok permasalahan nya."
Teriak Icha meronta-ronta namun Daniel tidak mau melepaskan nya. Dengan lututnya melebarkan tungkai Icha memposisikan diri, makjleb. Masuklah sesuatu yang harus masuk.
"Oh babe, i hate you." desis Icha, tak ayal ia senang tubuhnya menggelinjang.
"I love you too, baby. Rasakan diriku di dalam dirimu, apakah jantungmu tidak berdenyut merasakan cintaku!"
Daniel menarik tungkai Marissa melingkari tubuhnya sambil mencium, daniel menghentak-hentak di kedalaman Icha.
*
Setelah pamit pada Laras ingin ke market, di depan pintu Sabit disambut satuan pengaman.
"Saya ingin ke market sebentar Pak." sabit permisi basa-basi pada satuan pengaman.
"Baiklah Sabit, kita akan menemani kamu." ujar salah seorang satuan pengaman mempersilahkan sabit berjalan duluan.
Aku mau bertemu Junior, bagaimana ini?
Dalam hati sabit ragu-ragu bicara.
"Pak, saya hendak bertemu Junior sebaiknya saya pergi sendiri."
Satuan pengaman pandang-pandangan. "Maaf Sabit atas perintah Tuan muda, Olivia dan putranya harus jaga jarak dari anda, nona Laras terutama dari bos Yudi." jelas satuan pengaman.
"Silahkan Sabit masuk lagi ke kamar." tegas satuan pengaman tidak membiarkan Sabit menemui Junior.
"Baiklah Pak! Saya akan patuh, lagi pula saya malas bertemu dengan si pembawa masalah itu."
Ujar sabit sedikit keras berharap semoga Junior mendengar nya karena ia sudah mengetahui Junior punya alat pengintai.
Lalu ia masuk ke kamar Yudi lagi, Laras menatap nya.
"Tidak jadi ke market."
Jawab Sabit pada Laras mengerti maksud tatapannya lalu berbaring di sofa membuka ponselnya.
*
Di ruang VIP 1.
Bram di kamar mandi muntah-muntah, Kiara memicit-micit tengkuknya.
"Sayang kamu kenapa sih sekarang sering sekali muntah, apa salah makan?"
__ADS_1
Tanya Kiara nada khawatir lalu teringat obat mual Bram sudah habis.
Selesai memuntahkan semua isi perutnya Bram berjalan lemas, Kiara menopang tubuh suaminya menuju tempat tidur lalu menekan bel nomor 3, kamar dokter Daniel.
Di ruang VIP 3.
Di kasur, Daniel sedang menahan tubuh Icha yang melunjak-lunjak di atas pangkuannya saat mendengar bel kamarnya berbunyi dan lampu nomor satu menyala.
Ada apa si Bram mengganggu saja, tau orang lagi sibuk.
Gerutu dalam hatinya meringis merasakan dorongan dari dalam tubuhnya.
"Apa si Yudi ada masalah, ah! Babe!" tanya Icha disela desahannya terus bergerak-gerak up and down up and down.
Akh! "Itu si Bram baby, biarkan saja ayo sayang sedikit lagi." desis Daniel membantu Icha menekan lebih keras dan mendorong lebih dalam.
Kembali ke ruang VIP 1.
Di kasur, Kiara memeluk Bram yang lemas menggosok-gosok punggungnya, kesal dokter Daniel tidak menjawab panggilan nya
Dasar! Apa mereka sedang mesum, hais ngalahin orang yang sudah menikah.
Gerutu dalam hati Kiara memeluk suaminya semakin erat, Bram melorotkan tubuhnya. Wajahnya berbantal perut Kiara, terasa nyaman.
Kiara mengusap-usap rambut kepala Bram menyisir dengan jemarinya melihat suaminya akhirnya tertidur Kiara memejamkan matanya.
*
Di ruang VIP 2.
Laras di kamarnya duduk di sisi ranjang di samping Yudi, tangannya terulur meraih jemari Yudi. Entah kapan ia tidak sadar akhirnya Laras tertidur wajahnya menelungkup di kasur.
Sabit tidak tidur sengaja mau berjaga malam, beberapa pesan masuk dari Junior namun Sabit langsung mendelete nya malas mau membalasnya.
Sehingga akhirnya ia tidak tahan lagi, "Jangan ganggu aku! Ayah dan Mamaku, percayalah kamu hanya buang waktu. Aku tidak mau berurusan dengan mu!" tulis Sabit di pesannya.
"Sabit, tidak ada dari mereka yang berhubungan dengan mu. Ayo ikutlah dengan ku, Mom Olivia baik dia akan menikah dengan ayah biologis kita. Apa kamu tidak tau Suganda, dia ayah kita. Sesama saudara kita harus bersatu, bantu aku mengambil Sora dari mansion pulau reklamasi." tulis Junior di pesan nya.
"Jangan harap! Kamu tau Suganda itu penjahat bagaimana kamu setuju Mom Olivia menikahi nya dimana akal pikiran mu." tulis Sabit di pesannya.
"Kalau begitu bantu Yudi menikah dengan Mom Olivia, wanita itu masih muda dia masih bisa mencari jodoh yang lain. Aku tau seorang teman sekolahnya menyukai nya sampai hampir gila namanya Zainal, kamu juga mengenalnya."
"Dasar gila, kamu mau nya apa? Tadi bilang mau menikah dengan suganda sekarang bilang mau sama ayah yudi, apa kamu sakit jiwa. Pergi kau brengsek sialan, aku tidak butuh saudara seperti kamu." balas Sabit langsung log out.
Di kamarnya Junior menggeram, Sabit mematikan ponselnya.
'Sepertinya si Sabit juga sudah bosan hidup, baiklah aku akan membantu mengakhiri nya hahaha.'
Junior bergumam tertawa sendiri seperti orang mabuk.
*****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis, jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga ya semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏.