
Sabtu, pukul 22.00wib malam bertepatan dengan 40 hari Tuan besar Wijaya dan asisten Burhan, ayah Kiara. Di rumah besar Wijaya digelar pengajian.
Di kamar Bram, Kiara terisak di pelukan suaminya. Ia gak enak hati pada Marissa atas perkataan nya barusan. Tidak seharusnya ia bicara begitu apalagi Marissa ternyata mendengar nya
"Sudah sayang, jangan sedih. Tidak usah perdulikan si Icha itu, di sini kamu istri penguasa rumah ini, hm." Bram membawa Kiara duduk di sisi tempat tidur, lalu memeluknya
Kiara menenggelamkan tubuhnya di dekapan hangat suaminya. Bram mengusap sayang belakang kepala Kiara, ia kepikiran pada Yudi.
"Sebentar sayang, kita telepon si Yudi dulu." ujarnya.
Kiara mengangguk, Bram mengurai pelukan lalu menghubungi Yudi melalui ponselnya.
"Hallo Bos." jawab Yudi di ujung panggilan.
"Bagaimana, apa kamu sudah jadi menikah?" tanya Bram.
"Belum, Bos sudah sampai mana? Kalau masih lama, mau gak mau saya yang harus menikahi Non Laras. Penghulunya sudah sampai." jawab Yudi.
Yudi semula mau menolak walaupun di ancam Laras akan lompat dari atas gedung, karena ia bisa membaca pikiran Laras tidak mungkin ia berani.
Tapi setelah Yudi tau siapa pria yang mau dinikahkan dengan Laras akhirnya ia menerima usulan Laras, nikah pura-pura.
Yudi membaca pikiran si Samsul, ternyata ia bukan orang yang alim seperti kelihatannya. Pulang kerja ia sering ngumpul bersama teman-temannya. Laki dan perempuan campur bareng melakukan ritual panas bergantian dan mengkonsumsi obat terlarang.
Yudi juga berencana mau memberitahu polisi rahasia di mana markas mereka. Sebenarnya bukan apa, agar Ayahnya Laras tidak lagi memaksakan kehendaknya. Karena kalau bukan menyangkut dirinya, Yudi juga malas ikut campur.
"Kamu menikah saja, si Beno juga sakit jadi kita tidak bisa datang." ujar Bram suara pelan.
Ia terpaksa mengikhlaskan sekretarisnya itu menikahi teman Kiara tapi sayangnya hanya pura-pura. Bram menarik napas dalam.
"Oh, baiklah Bos kita akan segera masuk." jawab Yudi terbengong.
Jadi juga aku menikahi Non Laras, dalam hati Yudi.
"Setelah menikah, saya akan bawa Nona Laras ke rumah saya dulu Bos, baru saya ke rumah besar." lanjut Yudi.
Yudi punya rumah peninggalan orang tuanya, di komplek biasa. Ia jarang pulang kecuali kalau rindu. Lagian waktunya banyak dihabiskan di luar, melakukan tugas yang diberikan Burhan semasa hidupnya.
Apalagi sekarang dia jadi asisten pribadi Presdir, langsung gak ada istirahat. Dua puluh empat jam bersama Bos kecilnya itu.
Namun Yudi tetap merawat rumahnya, sehingga rumahnya tetap bersih dan layak huni.
__ADS_1
"Kenapa kamu gak bawa ke rumah besar saja dulu. Banyak kamar tamu, pakailah salah satu. Biar kamu gak bolak-balik, perumahan kamu kan jauh di pinggir kota." Bram mengusulkan.
"Jangan Bos, nanti apa kata Nona Marissa." ucap Yudi.
"Jangan khawatir si Icha sudah tau, Dani yang akan mengurusnya. Fokus saja pada pernikahan mu, kalau bisa jalani dengan serius, jangan hanya pura-pura." ujar Bram terharu juga dia. Tidak bisa ikut menyaksikan pernikahan Yudi.
"Terima kasih bos, kami akan masuk dulu." Yudi juga merasa haru.
Pernikahan apa ini, nikah Koboy, dalam hati Yudi miris.
"Hm." Bram menutup panggilan dan melempar ponselnya di nakas. Ia memandang wajah sembab Kiara, istrinya ini cepat sekali mengeluarkan air mata.
"Gimana, apa kita sudah bisa menyatu sayangku Kiara." Bram memeluk Kiara gemas.
"Cis." Kiara merah padam. "Belum mandi wajib." jawabnya.
"Kita bisa mandi sekarang, apa kamu gak kepingin menyatu denganku?" tanya Bram tersenyum jail memainkan matanya.
Kiara mengusap wajah Bram dengan kedua tangan kecilnya. "Nanti saja habis pengajian ya Ka, kan sebentar lagi juga selesai." jawab Kiara.
"Baiklah sayang. Bagaimana kalau kamu cium dulu suami tampan mu ini, sepertinya dia sangat rindu." Bram memonyongkan bibirnya, "umph".
"Kamu ini alasan." Kiara mencibir mendorong wajah suaminya.
Sepertinya aku butuh asupan susu, dalam hati Bram mengences memandang dada istrinya.
*****
Di ruang utama, pengajian sudah hampir selesai. Sebentar lagi waktunya bagi-bagi amplop. Melihat barisan laki-laki, Alisha geleng kepala. Hanya ada Arjit adiknya sedangkan Bram, Beno dan Daniel tidak kembali lagi ke ruang utama.
Mana si Icha malas ikut ngaji, si Kiara lagi datang bulan. Apa yang dilakukan pria-pria itu di dalam, kenapa tidak kembali ke ruang utama, dalam hati Alisha.
Lalu ia permisi pada Ibu Haji yang duduk di sebelahnya mau masuk sebentar. Alisha menuju ruang keluarga, ada Beno berbaring lemas di sofa.
"Apa yang terjadi, kenapa wajahnya pucat?" tanya Alisha suara kaget pada Lucita.
"Tidak apa-apa hanya pusing." Beno yang jawab, Lucita di dekatnya sedang membuat urutan di telapak kaki Beno.
"Kenapa tidak bilang, kan bisa panggil dokter keluarga." ujar Alisha penuh perhatian.
"Saya juga ada dokter pribadi Nyonya, sebentar juga sampai." jawab Beno masih lemas.
__ADS_1
"Begitu, sebaiknya istirahat di kamar tamu Beno, di lantai bawah juga ada mari saya tunjukkan." ujar Alisha.
Gak lama Arjit masuk ke ruang keluarga. Alisha menoleh pada adiknya itu."Ha, Arjit kamu bantu Samsir bagi-bagi amplop ya, mewakili keluarga." titah Alisha.
Arjit mengangguk pada Alisha dan mengernyit memandang Beno. Ia memandang aneh pada aura wajah Beno. Seolah ada yang ingin merasuki nya, namun jiwa Beno lumayan kuat, tidak bisa ditembus. Efeknya cuma meriang dan keluar keringat dingin.
"Apa yang kamu rasakan?" tanya Arjit pada Beno.
Beno memandang Arjit, "Antara sakit perut atau dada tidak bisa saya bedakan." jawabnya lirih.
Arjit menarik nafas dalam dan membuangnya pelan, "buka pakaiannya, pakaikan bajunya sendiri." ujarnya memandang Lucita.
Lucita mengangguk. "Baik Tuan." jawabnya.
"Permisi Tuan." ucap Lucita pada Beno lalu membuka baju Koko yang dipakai Beno, meninggalkan kaos dalamnya. Ia ke kamar tamu tadi saat Beno berganti pakaian dan mengambil pakaian Beno yang digantung nya.
Arjit menarik Alisha menjauhi Beno dan Lucita. "Sepertinya ada arwah diantara kita, dia berputar-putar di sekitar Beno." ucapnya pelan.
Alisha terkesiap, "Apa mungkin..ha!" ia menutup mulutnya, matanya membelalak, "mungkin karena ia memakai bajunya?"
"Bisa jadi." angguk Arjit mengerti yang dimaksud kakaknya.
"Apa kamu bisa bicara dengan Pram." tanya Alisha menyebut nama suaminya.
"Tidak bisa, aku hanya feeling dan mencium baunya di sekitar Beno tadi." jawab Arjit.
"Sekarang bagaimana?" tanya Alisha melihat kiri kanannya. jangan-jangan sudah berdiri di sebelahnya.
"Perasaan sudah hilang, tidak ada bau lagi." jawab Arjit.
"Astaghfirullah, sebaiknya besok kita ziarah, Arjit. Siapkan waktu mu." ujar Alisha. Arjit mengangguk.
"Si Bram mana lagi, aku akan panggil ke kamarnya. Arjit, jangan lupa bagi-bagi amplop, kamu bantu Samsir. Biar tamu pada cepat pulang, kita juga butuh istirahat." lanjut Alisha.
Sekali lagi Arjit mengangguk dan pergi ke ruang tengah utama. Alisha berjalan ke lorong menuju kamar Bram.
******tbc
Hai, masih setia ngikutin Bram dan Kiara, segala bentuk dukungan saya ucapakan terima kasih banyak.
Maaf belum bisa up tiap hari. Jam terbitnya juga tidak tetap. Klik favorit 💙aja biar terus terupdate ya.
__ADS_1
Jumpa lagi di episode berikutnya. 🙏