Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
111


__ADS_3

Senin 22.30 wib malam.


Laras dan ayahnya keluar dari rumah Tuan Suganda dengan membawa satu tas uang sejumlah 1.2M.


Zainal dan satu orang lagi temannya yang tadi mengantar Pak Toyo dan Laras dengan mengemudikan mobil butut ayah Laras, sudah menunggu mereka di depan gerbang rumah Tuan Suga.


Laras masuk duluan ke mobil disusul Pak Toyo membawa tas uang dengan muka masam. Zainal menatap heran. "Ngapa dibawa lagi uangnya Ras." tanya nya.


"Dia gak mau terima sekarang, mau nya bulan depan beserta bunganya." jawab Laras, Pak Toyo menarik nafas berat.


"Seharusnya tadi kita bayar dengan bunganya langsung, jadi gak panjang urusan nya." kesal Pak Toyo.


"Masih ada sisa uang nikahan kamu dari, ..." Pak Toyo menggantung ucapannya malas menyebut nama Yudi.


"Maaf Ayah, Laras takut kita gak bisa keluar dari rumah itu."


Ucap Laras, ia juga merahasiakan pada ayahnya bahwa Yudi ada mengirimi nya uang sejumlah 1M. Kalau ayahnya tau gawat, bisa-bisa ia dipalak sama ayah sendiri.


Mana tiap bulan asal gajian Laras harus setor ke ayahnya sejumlah 2.5 juta dari gajinya yang 3 juta. Beruntung ada Kiara yang rajin mentraktirnya makan, jadi masih bisa nutup biaya bulanan nya beli bedak, sabun, shampo, pembalut dll. Kalau ngarep sisa gajinya ya gak cukup.


"Ada juga paman kamu Thamrin, kenapa harus takut."


Pak Toyo masih ketus, ia sendiri juga takut padahal, mengingat tadi para pengawal rumah Tuan Suga. Semua pria berbadan tegap, berotot mirip Algojo. Berbanding terbalik dengan penampilan Tuan Suganda yang modis mirip aktor Korea.


Laras dan semua yang ada di mobil terdiam sepanjang jalan. Gak lama mereka sampai, Zainal berhenti di gang rumah Laras karena ke dalam sekitar tiga rumah sampai rumah Laras tidak muat masuk mobil.


Ehm, Zainal berdehem sebelum bicara. "Pak Toyo, biar nanti saya dan beberapa anak kost berjaga malam di depan rumah."


Ujarnya sesaat sebelum Pak Toyo membuka pintu mobil, mengerti dengan ke khawatiran bapak kost nya itu. Laras keluar terlebih dahulu dari pintu sebelah, syukurlah dalam hatinya.


Hm, Pak Toyo merasa bersalah sudah meminta anak kostnya buru-buru pindahan. Sekarang justru mereka lah sandaran Pak Toyo untuk menjaga rumahnya. Kost-kostan Pak Toyo ada lima kamar, satu kamar dua orang semua nya pria, jadi Anak kost Pak Toyo ada sepuluh orang.


"Iya, makasih Zai. Kalian tidurlah di ruang tengah. Nanti Saya minta ibunya Laras menyediakan makanan atau minuman untuk kalian." jelas Pak Toyo.


Pembicaraan itu dapat didengar Yudi dengan jelas. Karena ia memarkir mobilnya di luar dari pasar induk jarak 20 meter agar mudah baginya membaca keadaan Laras. Dia juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk berjaga-jaga.


Saat Pak Toyo keluar dari rumahnya bersama Laras membawa tas uang yang seharusnya dibayarkan padanya, Yudi inisiatif untuk mengikuti ke mana mereka akan pergi. Sekalian mengawal istrinya dan bapak mertuanya itu.


Sesampai di rumah Tuan Suga, alangkah terkejutnya Yudi saat membaca keadaan rumahnya, salah satu mobil yang terparkir ia melihat ada mobil Panther jadul dengan nomor plat yang sama seperti yang disebutkan oleh kakek Sabit.


Siapa sebenarnya Tuan Suga ini, dalam hati Yudi membrowsing ponselnya kali-kali ada berita tentang Tuan Suga. Hasilnya nihil.


Gak lama ponselnya berbunyi, panggilan masuk dari si bos.


"Maaf Bos, saya belum bisa ke rumah besar sekarang." ucap Yudi menjawab panggilan.


"Yudi." terdengar suara kecil perempuan.

__ADS_1


"Nyonya muda." Yudi mengerutkan dahi.


"Kamu di mana, apa di rumah Laras?" tanya Kiara.


"Iya Nyonya, saya lagi berjaga di luar rumahnya."


"Kenapa di luar?" tanya Kiara.


"Boleh saya bicara dengan Tuan muda." tanya Yudi akhirnya.


"Sayang, Yudi mau bicara padamu." terdengar suara Kiara di ujung panggilan.


"Yudi, ada masalah apa kamu belum pulang!" ketus Bram setelah menerima ponselnya.


"Maaf Bos, saya masih menyelidiki seseorang. Mobil Panther yang disebutkan kakek sabit, saya menemukan nya." jelas Yudi.


"Benarkah, jadi sudah tau pemiliknya siapa." tanya Bram.


"Saya lagi nunggu info dari polisi rahasia Bos." jawab yudi.


"Yudi, kamu jangan sendirian ngerti! Bawa beberapa orang pengawal."


"Sudah Bos jangan khawatir. Besok pagi sebelum Bos ke kantor saya sudah di rumah besar." ujar Yudi.


*


"Ini data yang Tuan minta."


Seorang pria berpakaian jas lengkap memberikan Suga map kuning. Suga membuka isi Map, semua data dan gambar tentang Laras. Saat melihat gambar Laras dan Yudi bersama di sebuah rumah sakit, dahinya mengernyit.


"Itu suami Nona Laras, namanya Yudian." jawab pria berjas.


Seketika barang-barang yang ada di meja Suga, terbang lalu terjun bebas ke lantai.


"Jadi dia masih hidup." desis Tuan Suga menyeringai antara sedih atau bahagia hanya ia dan pencipta nya yang tau.


"Thamrin." panggil Tuan Suga.


"Siap Bos." jawab Thamrin menunduk hormat.


"Saya serahkan tugas ini padamu." tegas Suga.


Sepuluh tahun ikut Tuannya, Thamrin sudah masak dengan sifat bosnya itu.


Hais, bagaimana ini. Benar juga firasat ku bahwa si bos menginginkan Laras,


"Siap Bos." jawab Thamrin, toh si Laras sedang ribut dengan suaminya.

__ADS_1


Mengingat adik iparnya yang matre, semoga bisa dihasut jika ditawari sejumlah uang agar segera mengatur perceraian antara Laras dan suaminya


*


Di kamarnya Laras masuk ke kamar mandi mau ganti pembalut, sekalian siap-siap mau tidur.


syukurlah dalam hatinya, setelah minum obat yang diresepkan Bidan darahnya tidak lagi banyak keluar. Walaupun masih ada setidaknya tidak sederas tadi pagi.


Keluar dari kamar mandi ibunya juga berada di kamarnya.


"Ras, besok kita ke klinik dokter atau ke rumah sakit?" tanya Ibunya.


"Enggak Bu, gak mau! Laras takut ditusuk itunya." Laras bergidik ngeri.


"Lagian obat yang dari Bidan manjur kok, neh darahnya gak deras lagi." lanjut Laras.


Ibu Laras bingung, bagaimana mau menjelaskan pada Laras tentang hubungan suami istri. "Laras!" panggil ibunya.


"Hm." jawab Laras bergumam menoleh pada ibunya, ia sedang mengoles krim malam ke wajahnya.


"Ya sudahlah, kamu tidur aja." Ibu Laras keluar dari kamar Laras dan menutup pintunya.


Yudi yang membaca perbincangan Laras dan ibunya sedikit lega. Lalu membuat panggilan pada Laras.


Mendapat panggilan dari Yudi, Laras ragu-ragu mau ngangkat. Jantungnya juga ikut berdebar gak karuan, pada panggilan ke tiga barulah Laras mengangkatnya.


"Halo." jawab Laras suara pelan.


"Apa kamu bisa keluar sebentar, aku tunggu di gang rumah kamu lewat jalan belakang." suara Yudi membuat darah Laras kembali ser ser-an.


Astaga, apa dari tadi si Om belum pergi, dalam hati Laras kasihan.


"Kenapa Om kemari lagi." tanya Laras.


"Aku masih suami kamu Laras, kita harus bicara." sergah Yudi.


"Ya udah bicaralah, lewat telepon kan bisa." jawab Laras.


"Aku tunggu lima menit kamu gak datang aku yang ke rumah kamu, ikut aku ke rumah besar." tegas Yudi.


Ck, "Tunggulah." jawab Laras.


*****


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Taun muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. 🙏

__ADS_1


__ADS_2