Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
169


__ADS_3

Di ruangan VIP di kamar Yudi terbaring lemah.


Arjit sudah kembali dari kantor polisi, memberi laporan pada Bram.


"Pertama, Olivia dibebaskan dari tuntutan membuat keonaran atas bukti yang diberikan oleh Junior bahwa ibunya tidak bersalah, ceo yang cari gara-gara melecehkan Olivia."


Yang membuat Bram gak habis pikir adalah bagaimana si Junior di depan matanya dengan softlens terkutuknya itu, membiarkan Mamanya sendiri dilecehkan kalau bukan karena sengaja ingin mengacaukan makan malam.


"Kedua, Ceo mengancam akan memutus kerja sama kalau ia tidak dibebaskan dari tuntutan. Karena ceo merasa tidak bersalah terhadap Olivia dengan alasan bahwa di sini dialah yang jadi korban keganasan Olivia. Ia hanya sebatas merayu, Olivia saja yang over reaksi menghajar wajahnya sampai putus gigi."


"Tidak akan sebelum Yudi bangun."


Tegas Bram tidak perduli, bahkan akan menuntut ceo 10 x lipat dari jumlah investasi Jaguk Korsel kalau Yudi belum bangun dalam waktu 1 x 24 jam.


Bram juga memberi perintah agar mengawasi Olivia dan putranya secara ketat. Jaga jarak 100 meter dari Yudi dan mengambil keputusan membebas tugaskan Olivia dari jabatannya sebagai PR perwakilan Mossen Amrik.


"Baiklah paman, terima kasih. Paman boleh istirahat sudah larut juga." ujar Bram setelah menerima laporan dari Manager Arjit.


"Sama-sama, Bram."


Jawab Arjit lalu menoleh pada Icha yang duduk di samping Laras.


"Icha ikut Papi pulang, nak."


Ajak Arjit pada Icha, melihat anak dan calon menantunya berdekatan sebenarnya hatinya merasa tidak tenang.


"Pi, ke Amrik nya tinggal besok. Icha di sini nemanin Laras ya, kasian dia." Icha memohon, alasan menolak pulang dengan Arjit.


Ck, Arjit menatap putrinya tak berdaya, "Baiklah Bram, paman pulang dulu." Arjit pamit pada Bram.


Bram mengangguk. "Hati-hati paman."


"Daniel, jaga jarak kamu dari putriku sebelum menikah." lanjut Arjit menatap tajam pada Daniel.


"Yes, papi I will." jawab Daniel, lalu not lanjut nya dalam hati.


*


Laras menatap Yudi yang terbaring pucat di atas kasur, mengusap kepalanya yang diperban.


Demi Olivia kamu tidak memperdulikan nyawamu sendiri. Kalau tidak ada rasa cinta yang mendalam mana mungkin ada orang yang mau mengorbankan nyawa demi orang lain.


Dalam hati Laras, berjanji akan mengalah demi kebahagiaan Yudi.


Kamu benar-benar tidak memikirkan perasaanku. Kamu tau kan semalam saat mengantar Sora betapa khawatirnya aku, setengah mati rasanya memikirkan kamu terancam bahaya. Sekarang sepertinya tidak perlu lagi karena ada orang lain yang lebih kamu khawatirkan daripada nyawa mu sendiri.


Hm, 'Cepatlah sembuh Yudi aku akan menyingkir dan kamu bisa kembali pada cinta sejati mu.' gumam Laras berbisik di telinga Yudi.

__ADS_1


Ternyata perasaanku tidak penting bagimu, maaf aku salah paham akan sikap manis mu padaku. Akan aku pastikan kamu kembali pada cinta sejati mu, kembalilah pada mereka yang kau sayangi dan cintai. Sabit, Sora, Olivia Junior bahkan Suganda pasti kamu lebih perduli karena mereka keluargamu.


Laras berjanji akan mengikhlaskan semuanya, toh dia belum hamil jadi belum terlambat sebelum ada ikatan batin.


Kiara duduk di sofa di pelukan suaminya menatap Laras iba.


"Sayang, sudah larut apa kamu belum ngantuk?"


Bisik Bram menempelkan bibirnya di telinga Kiara, Kiara mendorong wajah Bram mengusap nya dengan perasaan kasih sayang.


"Bram, tolong jaga dirimu dari bahaya, aku tidak akan memaafkan mu jika kamu rela berkorban demi wanita lain ingat itu." Kiara berbisik juga nada mengancam.


"Itu tidak akan terjadi sayangku, cintaku hanya kamu yang bisa membuatku berbuat nekad seperti Yudi tidak ada orang lain. Ayo ke kamar kita, aku tidak tahan lagi ingin menyatu denganmu."


Ajak Bram lagi masih berbisik di telinga Kiara tersenyum jahil, dia sudah tidak tahan ingin menguyel-uyel istrinya.


Melihat Daniel dan Icha sudah duluan ke kamar satunya sesaat setelah Arjit pulang, dasar dalam hati Bram.


Di suruh jaga jarak aman, malahan mereka duluan ngamar.


Cis, Kiara mendengus menatap suaminya.


"Ras, kita ke kamar sebelah kalau ada apa-apa panggil saja jangan segan-segan ya."


Pamit Kiara pada Laras yang diam termenung, Laras menoleh lalu mengangguk pada Kiara.


"Ini adalah bel, kamu tekan saja. Nomor satu kamar saya, nomor 3 kamar dokter Daniel, kalau lapar nomor 4 pantry pesan saja." Bram menjelaskan.


Bram memandang Sabit sambil membandingkan dengan sifat Junior, kenapa bisa berbeda.


"Siap, Tuan muda." jawab Sabit.


"Terima kasih Tuan muda." ucap Laras.


Bram membawa Kiara ke kamarnya, tinggal Laras dan Sabit berdua.


"Sabit kalau ngantuk tidur lah di sofa panjang, besok kamu harus bangun pagi bukan." ujar Laras.


"Ma, ayah sudah memberitahu Sabit, Junior bukan anak Ayah percayalah pada ayah Ma."


Ujar Junior nada sedih prihatin pada ayah dan Mamanya.


"Tidurlah Sabit, apa kamu mau pesan cemilan atau minuman."


Ujar Laras tidak mau membahas lagi, keputusan nya sudah bulat akan meninggalkan Yudi demi cinta sejatinya, Olivia.


"Tidak Ma, di kulkas banyak kalau mau."

__ADS_1


Ujar Sabit menuju kulkas di pojok kamar lalu mengambil dua kaleng minuman kopi dingin. Ia akan bergadang menemani Mama Larasnya, besok permisi saja pada Danu bahwa ia tidak akan menyiram tanaman dulu sampai ayah Yudi baikan.


"Ya sudah, kalau gitu jangan ngobrol lagi ayahmu sedang tidur." ujar Laras menatap mata Yudi yang terpejam.


"Baik Ma, Mama juga jangan banyak mikir."


Ujar Sabit khawatir Mama Laras nya akan membenci ayah Yudi karena salah paham terhadap Olivia dan Junior.


Brengsek si Junior, jadi maksudnya mengirim aku video agar Mama membenci ayah dan mereka bertengkar.


Dalam hati Sabit geram, timbul rasa marah pada sikap Junior.


Terdengar ponsel berbunyi, Sabit mengerut dahi.


Junior, mau apa lagi dia mengirimi aku pesan.


*


Masih di hotel yang sama dua lantai di bawah kamar VIP.


Di kamarnya Olivia menangis sesenggukan, hatinya tidak tenang memikirkan Yudi.


Kenapa penyesalan selalu datang terlambat..


kerena iseng mau mengacaukan makan malam justru orang yang aku cintai dengan setulus hati yang jadi korban. Kalau tau akibatnya begini aku tidak akan menerima usulan Junior mengacaukan makan malam, akh!


Olivia menepuk-nepuk dadanya yang sesak.


Sementara Junior menyeringai.


Ternyata mudah sekali menghancurkan si Yudi, tidak sia-sia usahaku walaupun malam kemarin aku gagal mau membunuh nya di pertigaan jalan baru, hahaha.


Dalam hatinya tertawa gembira seperti mendapat jackpot.


Si Yudi sudah mati otak, chip yang ada di kepalanya pasti korslet paling tidak terformat ulang, sehingga memorinya semua ke hapus. Tenanglah Mom, setelah ini yang ada diingatan si Yudi sialan itu, hanya dirimu.


Dalam hati Junior memandang Olivia hatinya miris melihat nasib ibunya.


Menyesal sekali aku mendekati Suganda, anak buahnya semua tidak ada yang berguna.


Sekarang tinggal menghancurkan si Suganda brengsek itu sampai mati, sebelum ia menikahi Mom Olivia.


"Mom, aku keluar sebentar."


Pamit Junior menatap ponselnya. Baru saja Sabit membalas pesannya bahwa Sabit bersedia bertemu dengannya di cafe depan market lantai dua.


*****

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan Muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote dan hadiah juga semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏✌️😂.


__ADS_2