
Yudi keluar dari kamar mandi, seperti semalam dengan handuk putih melilit di bawah pinggang sampai atas lututnya.
Benar kata pepatah, pandangan pertama begitu menggoda selanjutnya Laras menelan ludah. Ia membuang wajahnya, jantungnya nyuut melihat sesuatu yang menonjol di bagian tengah.
Hais, kenapa mesti bagian itu duluan sih yang gue liat, gerutu dalam hati Laras.
Semula Laras menurunkan pandangannya agar tidak melihat dada seksi Yudi, eh malah terlihat yang lebih hot.
Dia juga sih, dari semalam pamer tubuh six pack. Pengen aja gue tarik tuh handuk biar burungnya terbang ha ha ha, dalam hati Laras menertawai pikiran konyolnya.
Membaca pikiran Laras, Yudi melempar handuk kecilnya pada Laras yang duduk di sisi ranjangnya. Handuk nemplok tepat di rambut Laras yang sudah tercepol rapi.
Sementara Yudi senyum melihat Laras gelagapan, Laras merengut meraih handuk dari atas kepalanya, cis. Laras menjeling Yudi, lagi-lagi dia terpesona.
Bisa senyum juga dia, mana manis lagi, ah. Wahai jantung jangan norak ya, stay cool Laras.
Apanya yang cool, dada Laras makin berdebar manakala Yudi mendekat lalu duduk di sampingnya.
Mau apa dia, bukannya pakai baju, Laras mendelik.
"Keringkan!" Yudi menunjuk rambutnya.
Cih, Laras naik ke kasur bertumpu pada lututnya mulai mengeringkan rambut Yudi dengan handuk.
Karena ancaman Yudi tadi, Laras jadi patuh duduk dengan manis di tepi ranjang nungguin Yudi mandi.
Asalkan ia tidak menuntut pengembalian uang nikah dua kali lipat, apalagi kalau ayah sampai tau pernikahan ini hanya sandiwara, habislah saya, Laras mengurut sedikit kencang, sehingga kepala Yudi terdorong-dorong.
"Yang lembut." suara Yudi.
Laras melihat dari pantulan cermin lemari di depan mereka, mata Yudi terpejam menikmati urutannya, cih! Laras sengaja menggoda, menyandarkan perutnya di punggung polos Yudi.
Yudi dapat merasakan permukaan yang empuk di dada Laras, kepalanya bersandar di tengah antara dua gunung, hm! Yudi menarik napas dan membuangnya perlahan.
Boleh juga, dalam hati Yudi.
Cara ngeringin rambut paling seksi ala Laras. "Apa kamu mau libur hari ini?" tanya Yudi.
Laras mengernyit. "Kenapa saya harus libur? Kalau libur kan rugi, potong gaji, potong bonus, potong uang rajin, gak mau."
"Jadi kapan mau bikin?"
"Bikin apa?" tanya Laras bego, pandangan nya jatuh pada wajah Yudi di cermin.
"Tadi kamu bilang, mau menerima tawaran ku. Tawaran apa yang kau maksud?" tanya Yudi mulai bahasa santai.
Laras merah padam, setelah ia ngeh maksud Yudi. "Terserah mau kapan." jawab Laras senyum di tahan, sambil menekan perasaannya agar jantungnya jangan sampai lompat keluar dari tenggorokan.
"Tapi saya gak mau libur kecuali hari off. Kalau ada lembur saya juga mau ambil." lanjut Laras jutek, takut kelihatan raut senangnya.
"Kamu seperti ayahmu, gila uang. Tapi Ayahmu lebih gila."
"Hei, jangan menghina Ayah." Laras mencekik leher Yudi pelan, pura-pura menggeram. Di cermin kelihatan Yudi melotot pada nya.
Bibir Laras mengerucut. "Ini sudah, kalau mau benar-benar kering pake dryer." ia mengembalikan handuk nya pada Yudi.
Ck. "Di dapur ada pintu kamu buka! Di luar ada jemuran, jemur di sana!" suara Yudi sedikit keras.
"Baiklah, gak usah marah kali." ujar Laras turun dari kasur.
__ADS_1
"Hei!" panggil Yudi saat Laras di dekat pintu.
"Apa!" Laras menoleh.
"Ini juga." Yudi hendak menanggalkan handuk yang di pinggangnya.
Tidak!
Teriak dalam hati Laras hampir keluar biji mata, astaga, burung itu, Laras menahan nafas.
"Apa yang kau pikirkan sampai melotot gitu!" hardik Yudi melempar handuknya.
"Ha!" Laras bernafas lega, menangkap handuk. Ternyata Yudi mengenakan boxer, walaupun masih menonjol setidaknya masih terbungkus.
Karena malu, seperti magic Laras lenyap dari hadapan Yudi. Di dapur Laras mengutuki Yudi habis-habisan.
Dasar, kutu kupret!
Ia bersandar di pintu, meredakan debaran dadanya sebelum keluar menjemur handuknya.
Mataku ternoda.
******
Di kamarnya, Marissa terbagun mendengar suara air. Saat membuka matanya ingin melihat jam di nakas, indra penglihatan nya terkunci pada map kuning di samping weker, Marissa bangun meraih map duduk di sisi ranjang.
Ada surat perjanjian dan ada dua card debit dan kredit tanpa batas. Hati Marissa berbunga, di card itu tertulis namanya.
Daniel keluar dari kamar mandi dengan balutan handuk, air menetes-netes dari rambutnya.
"Begitu banyak kamar mandi, kenapa dokter mandi di sini?" tanya Marissa tanpa menoleh. Pandangannya fokus pada surat perjanjian yang tinggal tanda tangan.
"Dokter, kita hanya partner di ranjang jangan bawa perasaan tau." ujar Marissa.
"Saya sudah terlanjur baper, gimana dong?" Daniel mentoel hidung Marissa sambil mengeringkan rambutnya pakai handuk kecil.
"Kedepannya, saya tidak akan melayani dokter kalau tidak pakai pengaman. Saya belum mau hamil, sebelum cita-cita saya tercapai." tegas Marissa meletakkan Map nya di nakas.
"Gimana, puas?" tanya Daniel.
"Aku akan memberimu lebih banyak lagi, kamu gak perlu bekerja." ujar Daniel.
Marissa menggeleng. "Cita-citaku ingin jadi model terkenal, kau sudah berjanji membantuku mewujudkan nya."
Daniel mengusap pucuk kepala Marissa. "Sayang, lahir kan aku anak. Aku akan memberimu separoh hartaku."
"Aku tidak mau punya anak di luar nikah." sergah Marissa.
"Kita bisa menikah, apa susahnya."
"Kalau sudah nikah dan beranak, jadi emak-emak mana bisa jadi model. Ah gak mau, no debat." tolak Marissa tegas.
Panggilan alam membawa langkah nya ke kamar mandi. Daniel menatap punggung Marissa.
Brakk!! Pintu di tutup.
Hm, aku harus mencari akal menundukkan perempuan ini.
******
__ADS_1
Laras di mobil bersama Yudi.
Seperti orang kaya ia naik mobil mewah. Di sebelahnya Yudi sangat tampan, kelihatan berbeda lebih santai dan kasual.
Sehari-hari Yudi mengenakan jas, kalau gak pakai jaket. Gak habis-habis Laras terpesona, masih belum percaya pria di sebelahnya ini adalah suaminya.
Yudi memasuki parkiran Jaguk store. "Kamu libur hari Rabu." ujar Yudi saat menghentikan mobilnya di salah satu line car.
"Iya." jawab Laras membuka seatbeltnya.
"Siapkan dirimu, Selasa malam kita akan mulai membuat anak."
"Uhuk." Laras terbatuk.
Gak ada bahasa yang lebih halus apa, dalam hati Laras.
Jantungnya berdebar ketakutan seperti mau di bawa ke tiang gantungan.
*******
Di kamar Bram, Kiara di pelukan suaminya.
Baru selesai menemani Bram melakukan hot yoga di kasur. Deru napasnya masih berpacu.
"Ka, aku lapar." ujar Kiara. "Uhuk, uhuk." ia terbatuk dadanya sesak.
Suamiku ini gak ada lelahnya, gak ada puasnya, dalam hati Kiara.
Bram memandang istrinya kasihan juga. Tapi ia gak tahan melihat Kiara di dekatnya. Perasaan ingin menyatu muncul setiap saat. "Baiklah sayang, aku hubungi dapur antar makanan ke kamar."
"Tidak!" jawab Kiara cepat. "Aku mau makan di meja makan." Kiara mengurai pelukan.
Kalau ngamar terus bisa gempor aku, habis makan di makan
"Baiklah sayang." Bram terkekeh di dalam hati. Ia menyadari ketakutan istrinya.
"Makasih sayang, aku mandi sekarang." Kiara.
"Iya sayang, aku mandikan." Bram.
"Tidak!" jawab Kiara cepat.
"Aku sendiri bisa." lanjut Kiara menolak. Ia beranjak turun dari kasur.
"Tapi aku juga mau mandi sayang, biar cepat kita mandi bersama, katanya lapar." Bram juga turun dari kasur.
"Ka, sekali-sekali aku butuh privasi oke. Kita mandi gantian." Kiara berjalan pelan ke kamar mandi.
Gak tega Bram bangun, langsung mengangkat Kiara.
"Ah!" jeritnya.
"Jangan khawatir sayang, cukup untuk hari ini. Kita lanjut besok lagi, hm."
Bram tersenyum menyeringai, membopong Kiara ke kamar mandi.
******
Hai, ikutin terus Tuan muda romantis. Segala bentuk dukungan saya ucapkan terima kasih. Semoga jadi berkah bagi anda semua.
__ADS_1
Jumpa lagi pada episode berikutnya. 🙏