
"Ku beri tahu satu rahasia, aku sangat tergila-gila pada si junior." Kiara berbisik di telinga Bram.
"Cih." desis Bram membuang muka, menjauhkan telinganya yang geli. Ingin tersenyum tapi gengsi, kan ceritanya dia lagi ngambek.
"Aku menyerahkan diriku padamu padahal aku tau kau akan menikah dengan orang lain. Tidak bisakah alasan itu membuatmu percaya padaku?" tanya Kiara.
Ia meraih wajah Bram agar menoleh menatap padanya. Walaupun gelap dan merengut kenapa wajahnya selalu tampan, dalam hati Kiara mengagumi suaminya.
"Aku percaya padamu tapi tidak padanya. Cara dia menatapmu aku tidak suka, apalagi aku melihatmu bahagia di sampingnya." ujar Bram akhirnya bersuara.
"Jadi bagaimana, apa aku harus bersedih? Ini kan hari bahagia, aku telah sah menjadi istrimu. Hei, suamiku lho kamu sekarang." ujar Kiara menggelitik Bram.
Bram tersenyum, seperti remaja labil tiba-tiba ceria.
"Istriku." ujarnya membawa Kiara ke pelukannya.
"Suamiku." balas Kiara memeluk suaminya.
"Sayang, kenapa kamu datang bulan? Harusnya aku menghajarmu sepuluh ronde malam ini." ujar Bram merengek manja.
Cih. "Ayo kita ke dalam ka! Kasian Beno jadi korban perasaan."
"Nah kan! Kamu kasihan padanya, padaku gak!" protes Bram mengetatkan rahangnya.
"Cih, jangan alay deh!"
"Apa alay!" tanya Bram ketus.
"Artinya tampan." jawab kiara.
"Bagus dong tampan, Kamu gak suka kalau aku alay?" tanya Bram.
Ini orang dari planet mana, gak tau alay. dalam hati Kiara.
"Ayo Ka! Di sini banyak nyamuk."
Kiara ingin bangun namun Bram menyentaknya.
"Ah." Kiara kaget, ia terduduk di pangkuan pria itu.
"Ayo bernostalgia, ini tempat pertama kita berciuman." ujar Bram menyerang bibir Kiara. Menyelipkan lidah menerobos masuk ke dalam mulutnya.
Kiara jadi teringat saat pertama kali Bram menciumnya. Bau mulut ini sangat seksi, bau rokok perment mint.
Yang membuat Kiara hampir gila saat pulang ke rumahnya dua tahun yang lalu, saat pertama kali Bram mengecup bibirnya di taman samping gedung WJ.
Kiara mengalungkan lengan di leher suaminya. Perasaan berbeda saat telah sah sebagai suami istri, jiwa terasa lebih tenang.
Lebih deg degan pas lagi pacaran. Mungkin karena ada setannya kali ya, lebih menantang adrenalin.
*****
Di ruang makam.
Semua telah berkumpul kecuali Bram dan Kiara.
Beno mendapat kehormatan duduk di ujung meja tempat biasa Tuan Pramudya selagi masih ada.
Karena Arjit sudah pamit mau ke Bandara menjemput putrinya yang baru sampai dari London tiba-tiba pulang ke Jakarta.
Alisha di sisi kirinya, dua kursi kosong disisakan untuk Bram dan Kiara, lalu Yudi.
Di sisi kanannya ada Dwi, diikuti Lucita, Laras dan Zainal.
"Yudi, mana anak asuh mu si Bram, kenapa belum kemari?" tanya Alisha.
__ADS_1
"Apa Ma!" suara Bram yang baru masuk ruang makan bergandengan tangan dengan Kiara.
Melihat ke meja makan seketika Bram meradang.
"Ma, kenapa kasih dia duduk di bangku Papa?!" tanya Bram melihat pada Beno.
"Kenapa Bram, kamu keberatan?" Alisha balik bertanya.
Saat Beno hendak berdiri, Alisha menahannya.
"Bram, kamu duduk di sini di sebelah Mama. Ayo Kiara tunggu apa lagi, katanya lapar." titah Alisha.
Ah, Bram mengusap wajahnya kasar. Di hari pernikahannya kenapa bawaannya panas terus.
Apa gak cocok fengshuinya, dalam hati Bram, mengepalkan tangannya menahan geram.
"Ayo ka duduk." ajak Kiara menggoyang tangan suaminya.
"Bram tunggu apa lagi?" Alisha melotot pada putranya.
Dengan berat hati Bram duduk, melirik pada Beno memasang wajah senewen nya.
Semua makan dengan tertib, Alisha melayani Beno dengan telaten. Memberi makanan pertama kali pada Beno, baru kemudian sisanya pada yang lainnya. Yang mendapat tatapan heran dari Bram.
*****
Selesai makan Beno berpamitan.
"Terima kasih Tuan Beno, besok ada pengajian datanglah lagi." undang Alisha.
"Ah, maaf Nyonya. Malam ini juga saya akan balik ke NYC." ujar Beno.
"Kenapa buru buru?" tanya Alisha.
"Sudah seminggu pekerjaan saya terbengkalai." jawab Beno.
"Cih. Kamu ini, Tuan Beno menyelamatkan Kiara. Mama hanya ingin berterima kasih."
"Baguslah, kirain Mama ada hati." sindir Bram.
Plak.
"Aduh!" Alisha memukul tengkuk Bram.
"Mama!" teriak Bram.
"Makanya jangan kurang ajar."
"Cih." Bram merengut.
Dwi juga pamit, ikut mobil Beno dan Lucita. Besok saja dia akan datang lagi.
Karena pengajian disatukan dengan pesta hari kedua pernikahan Bram dan Kiara, Dwi tidak perlu memasak lagi.
Lagian bahan-bahan belanjaannya juga sudah habis dimasak untuk malam ini.
Disusul Laras dan Zainal berbarengan.
"Ra, selamat malam pertama." teriak Laras dari atas motor Zainal.
"Siip!" Kiara mengangkat jempolnya.
Setelah semua pergi, Bram langsung menggendong Kiara.
"Ah!" Kiara terkejut.
__ADS_1
Begitu juga Alisha yang sudah melangkah langsung berbalik badan. Kirain ada apa, cih.
"Mama! Bram dan Kiara mau tidur dulu. Besok mau bangkong kalau bangun siang jangan heran ya." ujar Bram.
"Gak usah bangun sekalian." ujar Alisha melengos naik ke kamarnya di lantai dua.
******
Bram menggendong Kiara menuju kamarnya.
Ingin membawa Kiara ke Apartemennya tanggung, besok malam masih ada pengajian.
"Ka, aku bisa jalan sendiri." ujar Kiara memeluk leher suami yang menggendongnya.
"Diamlah sayang! Biarkan aku memanjakan kamu. Ini malam pertama kita sebagai suami istri, kamu malah datang bulan, ah. Sayang berapa hari kira kira aku harus menunggu?" tanya Bram sambil menggendong Kiara sepanjang lorong. Menatap istrinya dengan air liur yang mau menetes.
Kiara menangkup wajah suaminya.
"Hm, seminggu." jawab Kiara yang juga pengin banget mencium bibir seksi suaminya.
Cih, Bram merengut, Kiara tersenyum prihatin dalam hati.
Sepanjang lorong dindingnya dari kaca sehingga terpantul wajah Kiara di cermin.
"Ka, aku pakai kerudung cantik ya?" Kiara iseng bertanya mengalihkan pikiran kotornya. Soalnya ia lagi datang bulan tak elok memancing suaminya. Kasian kalau tidak tersalurkan.
"Hm." Bram kelihatan berpikir. "Iya sayang tapi lebih cantik kalau kamu gak pakai apa-apa." jawabnya.
Kiara terkekeh. "hehe dasar, Ka besok aku masuk kerja ya."
"Sayang, kamu kan sudah resign dari Jaguk Jkt. Jaguk kota Kembang, kamu gak jadi berangkat. Jadi sudah ya, jangan mikir kerja dulu." jelas Bram.
"Ka, entar aku bosan di rumah. Aku minta kerja aja lagi di Jaguk Jkt, ya ya ya." usul Kiara.
"Tidak!" tegas Bram melotot pada Kiara. "Kamu ikut aku kerja ke kantor lusa." lanjutnya.
"Tugas dan jabatan aku apa di kantor kamu?"
"Hm, jabatanmu adalah Nyonya Presdir, tugasmu adalah ngerjain Presdir."ujar Bram tersenyum mesum.
"Cis, dasar."
Setelah sampai kamar, Bram mendudukkan Kiara di sisi tempat tidur. Kemudian Bram mengambil paper bag dan memberikannya pada Kiara.
"Apa ini?" tanya Kiara.
"Bukalah."
Kiara membuka ada dua tiket holiday.
"Kita akan bulan madu?"
"Iya, kamu senang?"
"Iya, kita akan ke mana?" tanya Kiara.
"Chicago, Amrik."
"Kapan bulan madunya?"
"Dua minggu dari sekarang."
*****
Enjoy reading and see you to the next episode.
__ADS_1
Segala bentuk dukungan like dan votenya saya ucapakan terima kasih banyak. Semoga jadi berkah bagi anda semua. 🙏