
Di mansion Baru pulau reklamasi.
Menjelang pagi selesai subuh saat hendak bertolak kembali ke Jakarta, Sora merengek minta ikut pada Yudi tak mau melepaskan tangannya.
"Ayah ikut, hiks hiks." Sora mewek keluar air mata.
"Sora, tinggallah di sini nanti ayah datang lagi bersama Mama Laras." Yudi memujuk Sora
"Hiks, gak mau."
Sora masih merengek belum mau melepaskan Yudi, air mata keluar ingusnya juga keluar.
Hm, melihat itu Zainal inisiatif membujuk nya, mengajak Sora naik motornya. "Ikut Om mau gak, naik motor."
Zainal mengulurkan tangannya, segera Sora meraih tangan Zainal kesenangan diajak.
Biarlah naik motor yang penting ikut, dalam hatinya.
Zainal membawa Sora duduk di depannya menjalankan motor sebentar putar keliling Mansion, di taman ada kolam ikan mereka berhenti lalu Zainal mencoba memberi pengertian pada Sora.
Zainal memutar Sora duduk hadap-hadapan di atas motornya. "Sora tinggallah di sini, nanti kita datang lagi sama ayah Yudi juga Mama Laras." pujuk Zainal mengusap-usap punggung Sora.
Sora memonyongkan bibirnya, lalu manjat di pangkuan Zainal mengalung lengan di lehernya.
Takut Sora jatuh Zainal menahan pantat Sora dengan lengannya dan memeluk tubuh kecilnya yang gempal.
"Ayo kita buat dedek bayi." bisik Sora tiba-tiba di telinga Zainal.
Ha' cih! Eh, eh eh!
Zainal kaget sampai bersin, saking kagetnya mereka berdua hampir jatuh dari motor.
Hihihi.
Bukanya takut Sora malah ketawa lucu semakin memeluk Zainal.
Astaga! Bagaimana anak sekecil Sora bisa ngerti buat dedek bayi, yang pantatnya saja masih pake pampers.
Dalam hati Zainal meremas geram pampers Sora sepertinya sudah penuh ompol.
Karena penasaran seperti orang bodoh Zainal bertanya. "Memangnya Sora tau gimana buat dedek bayi?" Zainal menepuk punggung Sora.
Sora mengurai pelukan. Hm, mengangguk yakin lalu mengecup bibir Zainal, seketika Zainal mendelik.
Oh my god, anak si Yudi.
Dalam hati Zainal senyum dikulum lalu ikutan berbisik di wajah Sora.
"Tunggu Sora segede Mama Laras juga cantiknya harus seperti Mama Laras, baru Om mau." ujar Zainal nada serius menatap Sora.
Sora menatap Zainal intens sambil merengut.
Masih lama aku sampai sebesar Mama Laras, dalam hatinya
Melihat itu Zainal memberi jari kelingkingnya, "Janji."
Sora ragu-ragu namun tetap mengaitkan jari kelingkingnya di jari Zainal.
"Sekarang Sora tinggallah di sini, makan yang banyak biar cepat besar. Harus jadi anak baik kalau mau buat dedek bayi sama Om."
Ujar Zainal mengusap rambut keriting Sora yang berkibar mirip rambut Laras, hm.
"Janji." ucap Sora akhirnya.
Cup.
Zainal memberi hadiah Sora satu kecupan di keningnya, semua itu tak luput dari pindaian Yudi, hm.
Kemudian Zainal membawa motornya kembali ke gerbang utama, akhirnya Sora mau turun dari motor Zainal.
"Dah Sora." Zainal melambaikan tangannya, Sora juga melambai tapi sambil melamun masih berat berpisah dengan Ayah Yudi dan Om Ze.
Salma meraih tangan Sora masuk ke dalam Mansion, hatinya lega. Akhirnya ia dan putrinya bisa hidup menetap seperti orang kaya tinggal di rumah yang indah layak nya sebuah istana.
Yang terpenting aman dari jangkauan Suganda.
*
Yudi dan anak buahnya kembali ke jakarta bareng Zainal dan genk motornya, sepanjang jalan ia memindai tidak melihat lagi bayangan anak buah Suganda maupun anak buah Bryen.
__ADS_1
Yudi memanggil Zainal saat mereka akan berpisah jalan. "Zainal!"
"Iya, Om." jawab Zainal.
Cis, Yudi merengut dipanggil Om meskipun pantas mengingat usia Zainal yang sebaya dengan Laras masih 19 tahun jalan dua puluh.
"Terima kasih, semalam sudah mengawal kita ke Pulau." ucap Yudi dengan wajah tulus.
"Saya melakukannya karena Laras, Om tau kan bagaimana perasaan saya padanya. Saya sudah mendekati nya semenjak dari kami masih di bangku sekolah."
Ujar Zainal tidak sungkan lagi tentang perasaannya, mabuknya juga sudah hilang.
Hm, Yudi melengos merasa bersalah juga, kalau tidak ada dirinya bisa saja di masa depan Laras dan Zainal jadian.
Tapi tidak juga, bisa jadi Laras menikah dengan Samsul, ha! Siapa ligat dia dapat.
Dalam hati Yudi tidak jadi merasa bersalah.
"Sebaiknya segera kamu masukkan lamaran kerja, perusahaan membutuhkan orang yang bertanggung jawab seperti kamu." Yudi menawarkan lagi pekerjaan buat Zainal.
"Saya kan harus resign dulu Bos, kita harus meninggalkan kesan yang baik pada perusahaan yang telah memberi kita kesempatan saat kita belum tau apa-apa." jelas Zainal masih jual mahal.
"Saya suka sikap itu, satu lagi kalau ada masalah jangan lari ke minuman lalu balapan. Hargai masa muda, banyak hal positif yang bisa dikerjakan." nasehat Yudi.
"Baik, Om. Terima kasih ceramahnya." jawab Zainal sudah mulai panas kuping.
"Saya transfer kamu sejumlah uang, cek saja mungkin sudah masuk."
Zainal mengerut dahi tak lama ponselnya berbunyi tanda pesan masuk dari m-banking.
"Darimana Om tau nomor rekening saya, pada Laras saja saya belum beritahu?" tanya Zainal heran.
"Bukan urusan kamu, ingat saya mengawasi kamu jangan mabuk dan balapan liar."
Tegas Yudi masuk ke mobilnya, sebelum menjemput Bram tujuan nya adalah rumah besar bertemu Sabit, mengenai Junior Yudi akan memikirkan nya nanti.
*
Yudi menghubungi Bram, diputuskan hari ini mereka tidak ke kantor, Sore barulah mereka akan gerak langsung ke Hotel WJ menyambut tamu perwakilan dari Jaguk Korsel.
Di ruang santai dapur Yudi memanggil Sabit.
"Sabit, ini adalah test DNA saya dengan orang ini, test kamu dengan orang ini dan juga test DNA kita berdua."
Sabit mengerut dahi melihat photo dan hasil test.
Bukankah ini satu photo Ayah Yudi masa muda dan yang satunya penjahat yang baru-baru ini diberitakan media cetak maupun televisi.
Dalam hati Sabit bingung
Maksudnya apa aku anak Ayah Yudi dan Suganda sekaligus. Apakah orang di photo ini manusia yang sama ataukah berbeda.
Membaca pikiran Sabit, "Ini adalah orang yang sama dengan orang yang menikahi ibu kamu, dialah Suganda. Yudian asli ayah kandung kamu sedangkan saya adalah Wahyudi. Lima belas tahun yang lalu wajah kami masih serupa, Yudian mengalami kecelakaan menyebabkan kerusakan pada wajahnya sehingga dia melakukan operasi memperbaiki kerusakan jadilah seperti ini."
Jelas Yudi menunjuk di wajah Suganda berhenti sejenak ingin melihat reaksi Sabit.
"Saya juga baru tau kalau saya punya kembaran, kemungkinan Yudian Suganda sudah lama tau kalau dia anak kembar. Dia mengenali saya, tapi saya tidak mengenali nya sampai saat kita bertemu di makam itu pertama saya tau kalau saya punya kembaran."
Lanjut Yudi lagi maklum melihat Sabit yang bingung, dia sendiri aja bingung.
Lalu Yudi menjejerkan sejumlah photo wanita yang pernah berhubungan dengan Suganda atau Yudian asli.
"Di antara wanita-wanita ini cuma ibu kamu yang dinikahi nya secara sah. Yudian Suganda juga memiliki anak dari ibu Salma, kamu sudah kenal nama putrinya Soraya anak kecil yang beberapa saat lalu masih bersama kita." jelas Yudi lagi.
"Satu lagi wanita ini." Yudi menunjuk Olivia.
"Saya sudah mendapatkan test DNA nya, Junior yang kamu temui di toko buku kemaren adalah putra dari wanita ini dengan Yudian Suganda. Kelihatan nya mereka sudah mengakui satu sama lain karena saya sudah melihat kebersamaan mereka."
Yudi menambahkan, menyatukan photo Olivia, Junior dan Suganda di mobil yang berhasil di tangkap kamera CCTV lobby kantor.
"Kemungkinan Yudian Suganda masih punya anak lain dari wanita-wanita ini, mereka enggan mengakui karena takut pada Suganda atau karena sudah menikah dan punya kehidupan sendiri, entahlah."
Jelas Yudi lagi menunjuk 3 photo wanita lainnya.
"Saya memberi Junior sejumlah data jadi dia juga tau kamu adalah saudara se-ayah dengan nya, dia juga mengambil salinan asli test DNA dan memalsukan yang lainnya kecuali sampel kamu dan Suganda." Yudi menunjukkan laporan dari email dan salinan aslinya untuk perbandingan.
Sabit mengangguk, walaupun masih bingung.
"Jadi kamu, Junior dan Sora adalah satu ayah lain ibu. Kamu seumuran dengan Junior cuma beda beberapa hari kamu lebih tua dari nya. Dan kemungkinan Suganda sudah tau kamu adalah putranya, begitu juga Sora adalah putrinya."
__ADS_1
Sedikit banyak Sabit mengerti pointnya adalah bahwa Yudi bukanlah ayah kandungnya, seketika mendung menyelimuti hatinya.
"Kamu sudah menjadi anak saya Sabit masuk akta keluarga kita, DNA kita juga cocok karena saya adalah kembaran ayah kandung kamu jadi kamu jangan sungkan. Alasan saya menyampaikan ini hanya untuk jaga-jaga agar kamu dan Junior tidak boleh ada pernikahan dengan Sora di masa depan, dan anak dari wanita-wanita lainnya karena kalian adalah saudara." jelas Yudi membaca pikiran Sabit.
"Baik Ayah saya mengerti."
Jawab Sabit merasa lega dalam hati ia bersyukur, Yudi tidak bermaksud menyerahkan nya pada penjahat seperti Suganda.
"Baiklah belajarlah yang benar, nanti kamu akan dilatih bekerja jadi seperti saya melayani Tuan muda, siapkan dirimu. Ayah mau lihat Mama kamu dulu di kamar." tegas Yudi lalu ia berdiri.
"Baik Ayah." jawab Sabit.
Hampir lupa, saat Yudi melihat tablet Sabit.
Bisa jadi Junior sedang menguping pembicaraan.
Dalam hati Yudi lalu mengulurkan tangannya menunjuk tablet, Sabit memberikan tabletnya pada Yudi.
"Ini adalah alat untuk mendengar pembicaraan orang."
Yudi mencabut stiker memasukkan ke dalam sakunya lalu berjalan ke lorong menuju kamarnya.
Seketika Sabit mendelik.
Ternyata si jenius Juni ada maksud mendekati ku.
*
Di kamar Yudi Laras menunggu dengan dada berdebar, ia sudah tau Yudi sedang bersama Sabit di ruang santai dapur.
Cklekk.
Yudi membuka, Laras berdiri di depan pintu menyambut nya.
Melihat itu Yudi melebarkan tangannya agar Laras bisa masuk ke dalam pelukannya. "Apa segitu kangennya?" Yudi berbisik di telinga Laras menghirup daun telinganya.
Laras cuma diam hanya tangannya melingkar di pinggang Yudi semakin erat memeluk nya.
Sesaat hening lalu Yudi mengurai pelukan, menatap wajah Laras. "Maaf telah membuat mu khawatir." ucap Yudi mengusap mata sembab Laras.
"Hm." gumam Laras juga mengusap wajah Yudi, terasa dingin.
"Baiklah ayo kita tidur sebentar, sepertinya kamu juga tidak tidur semalaman."
Yudi menarik Laras masuk ke ruang tidur lalu membawa nya naik ke kasur.
Memeluk Laras seperti memeluk guling, Yudi memejamkan matanya Laras juga demikian.
*
Di Apart nya, Bram mengajak Kiara ke ruang olah raga.
"Bram aku tidak mau olah raga nanti badanku berotot." Kiara alasan.
"Ya sudah tidak usah sayang, sini lihat aku saja."
Ujar Bram lalu baring di alat angkat beban mulai mengangkat besi-besi sejumlah empat, dua kiri dua kanan sejumlah seratus-seratus kilo.
Kiara seram melihat Bram keluar otot-ototnya.
"Sayang, jangan terlalu berat nanti tangan mu patah." pekik Kiara bergidik.
Lima kali angkat Bram melepaskan bebannya, Kiara mendekati Bram menghapus peluh di wajahnya.
"Jangan angkat berat lagi, aku tidak suka melihat kamu melakukan nya!"
Seru Kiara memberi Bram mineral water, lalu Bram menenggaknya.
"Iya, sini aku ngangkat kamu aja."
Ujar Bram langsung mengangkat Kiara memutar nya di udara.
"Ah!" jerit Kiara.
Daripada bosan gak ada kerjaan lebih baik menjaili Kiara.
Dalam hati Bram tertawa-tawa.
*****
__ADS_1
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis. Jangan lupa tekan jempol ya, Vote dan juga hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.
Jumpa lagi episode selanjutnya.🙏