Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
64


__ADS_3

Masih di ruangan Hendra.


Kiara memeluk suaminya. "Kenapa malah jadi berantam." Kiara mengomeli Bram.


"Sayang." ujar Bram pada Kiara yang seketika menitikkan air mata.


"Maafkan aku, seharusnya kita tidak kemari." ucap Kiara menyesal.


Tidak ada barang berharga di loker itu, datang kemari malah jadi melukai hati suamiku, dalam hati Kiara.


Melihat Kiara menangis.


"Ki-ara, maafkan aku. A-ku gak bermaksud , .." ucap Beno terbata.


"Jangan bicara padaku!" sentak Kiara memotong ucapan Beno.


Bram menghapus air mata Kiara.


"Bram, ayo kita pergi dari sini." ajak Kiara terisak di pelukan suaminya.


Bram semakin sakit hati pada Bernard, Mamanya direndahkan sekarang istrinya menangis.


"Aku menantangmu duel di atas ring." ujar Bram menatap Beno tajam.


"Silahkan, terserah saja mau kapan?" jawab Beno menerima tantangan Bram.


"Tidak, jangan lakukan Bram! Aku tidak setuju." teriak Kiara terisak.


"Sayang, aku ingin menghajar si kurang ajar itu. Dia sudah merendahkan Mama Alisha." jelas Bram.


"Saya yang akan menggantikan anda di atas ring, Tuan muda." ucap Yudi juga tersulut emosi menatap Bernard.


"Hei, jangan pecundang. Kalau mau lawan aku sendiri jangan diwakilkan." suara Beno nada mengejek.


Bram menggertakkan gigi, mengepalkan tangannya.


"Kiara, ijinkan aku menantangnya." Bram mencoba melepaskan pelukan Kiara. Ia sudah gak tahan mau menghajar Beno.


Namun Kiara menggeleng, memeluk Bram semakin kencang. "Jangan lakukan! Jika masih mau ku anggap suami." tegas Kiara.


"Jangan berlindung dibalik wanita." Beno mengejek lagi.


"Beno , diamlah!" bentak Kiara.


Cklek. berbarengan itu pintu dibuka.


Marissa melongok, melihat ke dalam ruangan Kiara menangis di pelukan Bram.


Apa yang terjadi?


"Ternyata kalian disini." ujarnya santai, ia telah kembali dari nyasar nya.


Seketika matanya membulat melihat Beno.


Bukankah ini si Bernard Ludwig, pemilik model agency di Milan, dalam hati Marissa.


"Mr. Ludwig." desis Marissa terpana.


Beno menoleh pada Marissa yang baru masuk menggumamkan namanya.

__ADS_1


"Hah! Ada apa ini, kenapa masuk kemari beramai-ramai , Hendra!" bentak Beno melotot pada Hendra.


Hendra terkejut, baru ini Beno memarahinya.


Siapa yang tadi nyuruh bawa Kiara kemari, ah serba salah, dalam hati Hendra.


"Beno, tenang dulu biar aku jelaskan." Hendra menyabarkan Beno.


Marrissa mengulurkan tangannya pada Beno.


"Saya Marissa sepupunya Bram."


"Apa perduliku kamu sepupu siapa!" sergah Bernard. Ia memandang Marissa dari atas sampai bawah, ting! Sebuah ide muncul di pikirannya.


Sepupu? Ah, baiklah dekati sepupunya dulu baru larikan istrinya ha ha ha. Sekali mandi biarlah basah, beri pelajaran pada si Wijaya ini, lanjut dalam hati Beno menyusun sebuah rencana.


"Maaf dengan Nona , ..?" Beno merubah modenya jadi ramah.


"Ma-rissa." ucap Marissa segera mengenalkan diri dengan raut wajah senang.


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" tanya Beno.


"Tidak tapi saya mengenal anda. Saya pernah ikut audisi di Agency model milik anda yang di Milan. Tapi tidak lolos. I lived in London before." jawab Marissa malu-malu.


Hm, begitu.  "I see, nice to meet you." ucap Beno.


"Nice to meet you too." ucap Marissa.


"Apa anda masih tertarik jadi model?" tanya Beno melempar umpannya.


"Tentu saja masih, tolong beri saya kesempatan Mr. Bernard." Marissa memohon, ia memberanikan diri maju menggenggam jemari Beno.


Dalam hati Beno merasa jijik tapi ditahan. Kemudian menarik jemarinya perlahan melirik ke Kiara dengan sudut matanya.


Maafkan aku Kiwawa kalau bukan karena mu, aku tidak akan melakukan ini.


Marissa dan Beno berbicara berdua seolah tidak ada orang lain di ruangan Hendra. Bram menjadi kesal dengan sikap sepupunya itu.


"Marissa!" suara Bram menahan geram.


Marissa menoleh. "Ya." jawabnya santai.


"Jangan cepat percaya pada orang yang baru kamu kenal." tegas Bram.


"Kenapa? Ada masalah denganmu?" tanya Marissa pada kakak sepupunya.


"...."


"Nona Marissa, ini hanya salah paham." potong Beno sebelum Bram membuka mulutnya.


Bram mendengus. "Salah paham apa nya? Ingat urusan kita belum selesai." sergah Bram.


"Bagaiman kalau masalah ini diselesaikan dengan kepala dingin bukan dengan marah-marah?" Beno.


"Hah!" sinis Bram.


"Setelah merendahkan ibu seseorang, anda masih bisa bersikap santai?"


"Saya tidak ada niat merendahkan. Saya mengagumi Nyonya Alisha, honestly from bottom of my heart." sure Beno membuat jari bentuk V.

__ADS_1


Sebelum suasana kembali memanas, Kiara memujuk suaminya agar tidak terpancing lebih emosi.


"Bram, sebaiknya kita pergi saja sayang. Buat apa buang waktu di sini. Katanya kita mau ngedate? Ayo kita bersenang-senang." ajak Kiara membantu suaminya bangun dari sofa.


Mendengar itu Marissa mengambil kesempatan, dengan membuang rasa malunya ia mengajak Beno.


"Mr. Bernard." panggil Marissa.


"Hm." Beno menoleh. "Panggil saya Beno." ujarnya lembut dengan senyuman semanis madu.


"Baiklah Beno, panggil saya Icha kalau begitu." ujar Marissa dengan mata berbinar. Mr. Ludwig pimilik Agency papan atas mengizinkan ia berbicara santai dengannya.


Di Benua Eropa dan USA, Ludwig yang tampan sangat populer. Pengusaha muda berbakat. Model yang bernaung di bawah Agency nya mendapat bayaran termahal. Banyak model profesional berharap bisa jadi salah satu gadisnya.


Khayalan Marissa jadi semakin tinggi. Bahkan makin melunjak, mendamba pingin menjadi kekasihnya juga.


"Ayo, ikut kita hang out." ajak Marissa pada Beno.


"Dengan senang hati." jawab Beno antusias.


"Siapa yang mengijinkan kamu mengajak dia." ketus Bram.


"Bram ayolah, kamu dengan Kiara. Aku dengan siapa?" ujar Marissa bertanya.


"Kamu dengan Yudi kalau masih mau ikut mobilku." tegas Bram.


Hah! si aki2 ini gak sudi aku, dalam hati Marissa memandang sinis pada Yudi.


Yudi memindai isi pikiran Marissa.


Hah! Belum tau rasa dia, berani bilang aku aki2. Biar aki2 juga, aku bisa membuatmu lemas, dalam hati Yudi lalu ia memindai pikiran Beno.


Sepertinya Tuan Beno belum sepenuhnya ikhlas melepaskan Kiara. Bagaimana aku harus bersikap, sepertinya Beno akan menggunakan  Marissa agar selalu terhubung dengan Nona Kiara.


"Begini saja, biar pas saya akan meminta teman Kiara dari counter 7 ikut bersama." usul Beno.


"Kiara bagaimana, kamu maukan teman kamu ikut bersenang-senang?" tawar Beno pada Kiara.


"Aku hanya ingin suamimu lebih dekat mengenalku, agar kalau bertemu bawaannya gak marah-marah dan curiga terus." lanjut Beno beralasan menutupi niatnya yang selalu ingin dekat dengan Kiara.


Kiara menatap Bram dilema.


Apakah dengan cara ini bisa memperbaiki keadaan, hubungan Beno dan Bram tidak selalu panas.


"Ka Bram, bolehkah mereka ikut kita date?" tanya Kiara hati-hati.


Yes, Bernard tersenyum di dalam hati merasa Kiara masih perduli padanya


"Masih nanya, tentu tidak!" tegas Bram.


"Yam, tolong jangan kekanakan." Marissa memohon pada Bram.


"Kalau mau pergi dengannya, jangan ikut denganku. Ayo sayang." tegas Bram membawa Kiara keluar dari ruangan Hendra.


"Bram please, kita pergi bersama." Marissa menahan lengan Bram saat lewat di depannya.


******"


Enjoy reading and see you to the next part.

__ADS_1


__ADS_2