Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
76


__ADS_3

Setelah menutup panggilan pada Yudi, Bram menatap Kiara yang masih berbaring. Ia menarik napas dalam membuangnya pelan. Keinginannya bermanja-manja dengan Kiara harus ditunda dulu.


"Sayang, sebentar aku ke ruang tengah utama mau pengajian. Kamu tunggu di sini jangan ke mana-mana, ngerti Kiara." ujar Bram gemas mencubit pipi Kiara.


"Iya, tapi pastikan Laras diantar pulang Bram."


"Baiklah sayang, kamu adalah bosnya." jawab Bram.


"Aduh!" Kiara terhenyak.


Bram bukannya beranjak malah berguling di atas tubuhnya dengan senyum menyeringai, he he he he.


"Ah, Ka Bram!" panggil Kiara kesal. Ia menepuk punggung suaminya.


"Hm." jawab Bram malas semakin memeluk Kiara.


"Katanya mau pengajian." Kiara berusaha mendorong Bram.


Ck. "Iya bawel sayang, baiklah." Bram bangun dan bergerak malas ke kamar mandi yang ada di ruang ganti setelah mencuri nyedot bibir istrinya itu.


"Uh dasar." Kiara duduk dari baringnya di tepi ranjang. Ia menghela napasnya. "Sayang, aku bantu kamu bersiap." teriaknya.


"Tidak usah, nanti semakin lama sayang. Kamu kan tau, aku gak sanggup jauh darimu tapi lebih tidak sanggup lagi berdekatan denganmu." teriak Bram juga dari ruang ganti.


Cis, desis Kiara.


Setelah bersiap dengan pakaian mengajinya, Bram keluar dari ruang ganti dengan sangat tampannya. Ia merapikan rambutnya di kaca rias kamarnya.


Kiara terpana dengan pandangan kekaguman.


Dengan wajah setampan ini, bisa saja dia jadi kelinci tuxedo kalau mau, untungnya suami ku ini Buaya, setia hanya pada satu pasangan, dalam hati Kiara menelan salivanya


"Kenapa sayang, apa aku begitu menggiurkan?" senyum Bram sangat menawan.


"Ge-er, pergilah sana! Bram aku ke ruang keluarga ya, jumpa Laras." mohon Kiara.


"Sayang, jangan bandel ya. Tunggu aku di kamar." Bram ingin menyentil Kiara tapi dia sudah ada air wuduk.


"Dah sayang." ucapnya sambil memakai kopiah dan beranjak ke pintu. Di depan pintu Bram memandang sayu istrinya.


Kiara memonyongkan bibirnya. "Hei, jangan menggodaku." teriak Bram dari balik pintu.


"Hehe maaf, sensi amat. Sayang, cepat kembali ya atau aku yang keluar dari kamar." ujar Kiara.


"Baiklah, tunggu aku." Bram mengedipkan matanya dan menutup pintu.


Setelah kepergian suaminya, Kiara mengambil ponselnya dari atas nakas dan menelpon sahabatnya Laras. Apakah sudah di antar atau belum, mereka tadi bertukar nomor saat ngobrol di balkon waktu ashar.


*****


Bram berjalan menuju ruang tengah utama melewati ruang keluarga. Tatapannya terpaku pada Beno yang sudah siap mengenakan pakaian yang mirip dengan pakaian Papanya.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, kenapa kamu pakai baju mendiang Papa!" sergah Bram.


Beno mengangkat bahunya. "Nyonya Alisha yang meminta saya mengenakan ini." jawab Beno.


"Astaga Mama!" teriak Bram ke arah lantai dua.


"Apa sih Bram." Alisha muncul di balkon, ia turun ke bawah di mana Bram berteriak.


Alisha juga sudah mengenakan gamisnya yang senada dengan baju Koko yang dikenakan Beno.


"Gimana, mama cantik kan." ujarnya berputar-putar di depan Bram.


Ah, Papa baru empat puluh hari wajah Mama sudah ceria, seperti abg yang lagi jatuh cinta, dalam hati Bram.


"Ma, jelaskan pada Bram! Apa Mama menyukainya?" Bram menunjuk sinis pada Beno dengan memajukan mulutnya.


Beno nyengir kuda merasa geli dengan pertanyaan Bram yang to the point, namun ia juga penasaran dengan jawaban Alisha.


"Tentu saja Mama suka."jawab Alisha menatap Beno, mata Beno membulat jakunnya menggulung. Maksudnya, dalam hati Beno memandang Alisha


"Ah." Bram mengeluh kasar.


"Karena Beno sudah menyelamatkan Kiara, secara tidak langsung dia juga menyelamatkan mama dari rasa bersalah telah membuat Kiara hampir celaka." lanjut Alisha tersenyum jail.


"Yakin cuma itu?!" Bram gak percaya. Beno menarik napas lega.


"Iya, satu lagi. Beno itu tampan bahkan lebih tampan dari anak Mama." ujar Alisha mencolek dagu Bram menggoda putranya itu.


Ck, Bram membuang mukanya, menghindari colekan mamanya.


Gak lama Daniel juga datang mengenakan pakaian mendiang Tuan Besar, warnanya juga senada dengan pakaian Alisha dan Beno. Bram lebih menyukai yang versi Daniel.


"Bram, aku pinjam baju mendiang Paman." ujar Daniel.


"Hm." gumam Bram.


Antara Beno dan Daniel siapa lebih tua. Kalau dari tampang sih lebih tua Daniel, gak tau dari segi usia, dalam hati Bram.


Kalau dengan Daniel, Bram setuju jika sekiranya mamanya ingin menikah lagi.


Cih, nikah lagi.


Bram melengos melihat kedua pria duplikat mendiang papanya itu. Membuang jauh pikirannya.


Ck, si Mama ada-ada saja. Mana si Yudi apa dia sudah pergi, dalam hati Bram sambil berjalan ke ruang tengah utama.


*****


Di kamar Bram, Kiara sedang bertelepon dengan Laras.


Laras lagi di mobil menuju rumah sakit, di antar Yudi. "Kenapa ke rumah sakit Ras?" tanya Kiara.

__ADS_1


"Gak tau, barusan Ayah telpon minta datang ke rumah sakit sekarang juga." ujar Laras.


"Emang siapa yang sakit?" tanya Kiara.


"Itu, Ayahnya Samsul yang dijodohin ke gue tempo hari, Ra. Lo ingat?"


"Oh, apa masih berlaku jodoh-jodohan. Bukankah lo gak jadi ke kota kembang"


"Nah itu dia, gue juga belum jelas untuk apa ke rumah sakit. Ayah cuma nyuruh datang doang."


"Ntar lo mau dikawinin buru-buru kayak di novel-novel. Kan ada tuh, alasannya papanya sakit, pengen anaknya cepat nikah." Kiara terkikik


"Ya Kiara, jangan gitu ngomong nya.Gue belum mau kawin."


"Hehe, itu karena lo belum bertemu orang yang lo suka."


"Ck, sekiranya begitu gue minta Om Yudi aja yang ngawinin gue, iya kan Om." ujar Laras.


"Hah." terdengar suara Yudi.


"Ha ha ha amiin." jawab Kiara tertawa ngakak.


"Yaaa, amin lagi si Kiara." suara Laras lemas.


"Emang lo gak suka sama tuh cowok bernama Samsul kenapa, apa dia jelek?" tanya Kiara.


"Bukan, emang gue gak mau nikah muda." jawab Laras.


"Ya dah, semoga saja tidak terjadi pernikahan terpaksa lo."


"Tau nih. udah dulu Ra, udah nyampe rumah sakit kita."


"Ya dah, bye Laras." ucap Kiara


"Oke Ra, bye." terdengar suara lemas Laras menutup panggilan.


Kiara meletakkan ponselnya di nakas, bersandar di headboard ranjang Bram.


Ngapain bengong sendirian di kamar, dalam hati Kiara.


Kiara berjalan ke sofa, membawa bantal dan selimut. Ia membaringkan tubuhnya, mengambil remot dan menghidupkan tv.


Kiara memencet-mencet tombol remot mencari siaran, gak ada yang menarik hatinya. Akhirnya dia nonton sembarangan acara ketawa-ketawa, tapi Kiara malah mengantuk,


Gak lama pintu kamar terbuka. Hm, cepat banget Bram ngajinya, dalam hati Kiara menoleh ke pintu.


Kiara kaget melihat siapa yang datang.


"Ayah." desis Kiara, matanya berkaca-kaca. "hiks..hiks." Kiara menangis.


"Ayah, ayah...hiks...hiks " desis Kiara di sela isak tangisnya.

__ADS_1


*******


enjoy reading and see you to the next part. like dan votenya terima kasih. 🙏


__ADS_2