Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
138


__ADS_3

Selesai Sora mandi di kamar mandi dapur utama Laras memakaikan bajunya, bedaknya dan menyisir rambut keritingnya.


Sebentar ia duduk menemani anak-anak sebelum kembali ke kamar Yudi, mau nyapu, mau nyuci.


Masak gak usah lagi, nanti Om Yudi makan di meja makan utama aja, banyak.


Dalam hati Laras, sempat juga ia sarapan di ruang santai dapur barusan ada menu mie rebus kepiting jadi keluar selera.


Udah selesai kali ya buat debai nya, kan sudah satu jam juga gue di sini.


Dalam hati Laras teringat Kiara, lalu menatap Sora. "Sora di sini dulu, Mama Laras mau lihat Om Yudi?" tanya Laras pada Sora yang lagi mencoret-coret di buku Sabit.


"Iya." Jawab Sora fokus ke pola abstraknya, kelihatan dia sangat suka dengan buku dan pensil. Banyak sudah coretan di kertasnya ada juga yang menyerupai angka dan huruf cakar ayam.


Apa Sora tidak bersekolah,


Dalam hati Laras prihatin lalu menatap Sabit. "Sabit, Mama Laras ke kamar dulu, kamu jaga Sora?" tanya Laras nada memohon.


Sabit mengangguk. "Sabit, kamu jangan tinggalkan aku, tau." ujar Sora.


"Iya." jawab Sabit geli mendengar cara bicara Sora padanya, macam lah usia mereka sebaya.


"Ya udah, Mama Laras tinggal dulu ya." pamit Laras pada kedua anak ketemu gedenya.


Laras menyusuri lorong, saat melewati kamar Kiara ia berjalan cepat-cepat, menggeleng-gelengkan kepalanya menghalau pikiran jorok dari otaknya.


Sampai di ujung lorong Laras membuka pintu kamar. Ia ke dapur mengambil ponselnya di meja makan lalu perlahan membuka pintu ruang tidur, mengintip.


Mana Om yudi,


Laras melihat di kasur gak ada Yudi, terdengar bunyi air di kamar mandi.


Hm, cepat sekali bangun nya.


Laras masuk, mau membereskan kasur, menyusun bantal melipat selimut, gak lama Yudi keluar dari kamar mandi basah-basah.


Laras terpana seketika membuang muka, fokus merapikan alas kasur. "cepat sekali sudah bangun?"


Tanya Laras basa-basi tanpa menoleh, mengutip baju bekas pakai Sora yang tadi dibawa nya dari dapur utama, lalu membawa nya ke kamar mandi menyatukan dengan baju di keranjang kotor.


Laras keluar dari kamar mandi, bertemu pandang dengan Yudi yang berdiri sedang menatapnya, deg. Pemandangan yang masih membuat jantung Laras berdebar gak karuan.


"Iya, mau mengantar Nyonya muda ke makam ibu kandungnya."


Suara Yudi sambil mengusap-usap rambutnya dengan handuk kecil.


"Ya udah." Laras menjawab cepat lalu menuju pintu mau keluar dari ruang tidur.


"Laras." Yudi memanggil nya.


"Ya." jawab Laras menoleh pada Yudi.


Yudi duduk di tepi kasur masih handuk-an. "Sini." panggil nya meletak handuk kecilnya, mengulurkan tangan pada Laras

__ADS_1


Laras mendekat, Yudi meraih keranjang baju kotor meletakkan nya di lantai lalu membawa Laras duduk di sampingnya.


Yudi menarik nafas dalam sebelum bicara, "Maaf jadi merepotkan kamu." ucap Yudi menggenggam jemari Laras satu tangannya terulur menghapus bulir keringat di hidung Laras.


"Sora akan diasuh oleh Nanny cuma belum dapat, aku usahakan secepatnya ya. Tidak apakan sementara dia dengan kita dulu." jelas Yudi, sesungguhnya ia juga gak nyaman.


"Hm." Laras mengangguk.


"Tidak apa, anak nya juga lucu. Sekarang sudah ada Sabit yang menemani nya bermain jadi tidak melulu dengan ku." jawab Laras.


"Terima kasih Laras." ucap Yudi menatap Laras intens.


Ditatap Yudi Laras salah tingkah. Tidak mau terjebak oleh perasaan salting nya. "Aku ke dapur dulu, mau nyuci." pamit Laras hendak berdiri.


"Ehm, ehm." Yudi menggeleng menahan Laras.


"Kamu antar baju kotor ke ruang pakaian saja pagi, sore diambil atau besoknya." ujar Yudi.


"Gak apa aku bisa nyuci, kan pakai mesin." Laras alasan, ia hanya suka mengurus semua keperluan Yudi sendiri.


Yudi membaca pikiran Laras lalu membawa ke pelukannya. "Aku sudah tua Laras, pingin cepat punya anak. Jadi kamu jangan terlalu capek ya, ngerti Laras." tegas Yudi mengusap rambut belakang Laras.


"Bukankah sudah ada Sabit." ujar Laras hati-hati takut menyinggung perasaan Yudi.


Yudi mengurai pelukan menatap Laras. "Laras, aku sedang mengurus bukti-bukti bahwa aku bukan ayah kandung Sabit, bersabar ya. Percayalah, aku belum pernah membuat dedek bayi selain dengan mu."


Laras menatap mata Yudi lekat-lekat melihat memang ia tidak berbohong karena waktu pertama melakukan mereka sama kaku dan sama bodohnya, Laras bergidik membayangkan dirinya pertama kali sampai tumpah darah banyak.


Tapi belakangan Yudi sudah pintar, setiap hentakan nya tidak ada yang meleset. Semua nikmat, enaknya sampai terasa ke jantung sehingga Laras kepingin nambah lagi, tapi mungkin karena faktor usia juga jadi si Om satu kali putaran saja sudah lemas.


Membaca pikiran Laras, Yudi melayangkan satu sentilan di kening Laras.


"Aduh!"


Kenapa malah jadi kena sentil, ah.


Dalam hati Laras bibirnya berkerut. "Lalu Sabit anak siapa?" tanya Laras penasaran.


"Ini lagi mau diambil sampel test DNA karena menggunakan darah, hasil testnya keluar gak sampai menunggu lama, paling satu hari." jelas Yudi.


"Ya udah, selagi Om ke,.."


"Kenapa masih manggil Om Laras." Yudi memotong Laras bicara.


"Terus manggil apa dong?" tanya Laras.


"Panggil ayang mbeb, seperti si staf gudang itu."


"Apa? Tidak mau, norak!" pekik Laras menolak spontan, gak tahan Yudi pun tersenyum juga, memang aneh sih.


"Jangan aneh-aneh deh Om, bukan Om banget."


Sentak Laras sambil berpikir-pikir manggil apa ya enaknya, manggil mas juga lidahnya agak kelu saat ia harus berpura-pura memanggil Yudi di depan ayah ibunya.

__ADS_1


"Ya udah terserah saja." Yudi membaca pikiran Laras, sebenarnya ia juga sudah nyaman dipanggil Om.


"Gimana kalau panggil abang." usul Laras.


Hm, Yudi merasa seperti dipanggil anak buahnya. "Bolehlah." ujar nya pasrah.


"Selagi Om, eh ab-bang pergi ke makam bolehkan aku ke rumah ayah sebentar." mohon Laras.


Yudi membaca pikiran Laras ada maksud apa dia pulang ke rumah ayahnya, mau memberikan uang dari Suga.


"Baiklah, karena searah kita pergi bareng, nanti kamu aku turunkan di gang rumah kamu. Cepatlah antar baju ke ruang pakaian lalu bersiap!" tegas Yudi.


"Makasih abang." jawab Laras tersenyum lucu karena belum biasa.


"Ehm ehm." Yudi berdehem.


Laras mengerut dahi, apa lagi?


Yudi membaca kamar Bram, bosnya itu lagi sibuk membuat dedek bayi, Daniel juga begitu.


Aku juga mau lah, dalam hati Yudi.


'Ayo buat dedek bayi.' Yudi menggerakkan bibirnya.


"Ha," tanya Laras lagi karena gak paham dan gak kedengaran.


Yudi berpikir-pikir, buat tidak ya, hm. "Cepatlah bersiap." akhirnya itu yang terucap dari mulutnya.


"Iya." jawab Laras meraih keranjangnya keluar dari ruang tidur.


Yudi menarik nafas berat, masih banyak yang harus dikerjakan, termasuk memeriksa berkas kantor yang masuk ke email-nya. Sudah numpuk terbengkalai menunggu tanda tangan Bram sementara si bos lebih suka bersenang-senang dengan istrinya, hm.


Kapan dia akan tertarik dengan urusan kantor,


Dalam hati Yudi berjalan ke lemari mau mengambil pakaiannya. Namun Yudi mengurungkan niat memandang ke dalam handuk tiba-tiba ada yang berdiri tegak, ah!


*


Laras di dapur membereskan meja dan kompor sebelum ia mengantar cucian sambil berpikir-pikir nanti ke rumah ayah bawa Sora tidak ya.


Kasian Sabit, dia juga kan masih harus belajar dan bekerja, hm.


Selesai Laras menutup pintu dapur, tiba-tiba tubuhnya dipeluk dari belakang terasa ada suara nafas berat di leher dan telinganya.


"Om Yudi." desis Laras tercium bau wangi yang familiar.


"Hm, aku mau Laras."


Bisik Yudi, membalik Laras menghadap nya. Meraih pinggang menekan tengkuk, mendekatkan wajah, cup.


Laras tergagap mendapat serangan tiba-tiba, hanya pasrah menerima anu gerah, ah ah ah.


****

__ADS_1


Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏


__ADS_2