Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
125


__ADS_3

Di rumahnya Krisant di kamar Dwi, Kiara melihat seorang anak tertidur mengisap jempol.


Kayaknya bandel sih nih anak, tidur saja matanya kebuka separoh, dalam hati Kiara.


Bram juga masuk pingin melihat, ia berdiri di belakang Kiara memeluk pinggang istrinya.


Jadi ini, bocah yang buat istriku menangis sedih, dan membuat ku harus berlari seperti di kejar setan kabur dari meeting.


Dalam hati Bram geram bercampur senang, emang dia juga gak suka meeting sih.


Melihat Sora Bram teringat masa kecilnya saat ikut Papa dan Om Burhan main ke panti asuhan, saat itu ada bocah gempal yang mendekatinya.


Dengan pedenya ia mengajak berkenalan, lalu menyebut namanya Kiwawa.


Ya Tuhan, bukankan Beno memanggil Kiara, Kiwawa. Juga dari Panti asuhan yang sama. Astaga Oh tidak, jadi si gempal itu istriku sekarang,


Dalam hati Bram kenapa ia bisa lupa, jari rampingnya menangkup dagu Kiara gemas menarik ke arah wajahnya yang tinggi, sehingga Kiara mendongak.


Bram menatap Kiara lekat-lekat, benarkah ini si gempal yang dulu mengusiknya, hais gak salah lagi!


Argh!


Kiara kesakitan, menepis tangan suaminya. "Ka, lucu ya anaknya." ujar Kiara.


Cih, lucu apanya, dalam hati Bram


"Sayang, cepatlah hamil. Kamu akan lihat anak kita akan lebih cute."


Bisik Bram sambil mengusap perut Kiara, membuat istrinya itu tersipu malu menepuk dadanya lalu Kiara keluar dari kamar, Bram mengikuti nya tersenyum dikulum.


Setelah melihat langsung seperti apa anak yang diadopsi ibunya beserta kekacauan yang telah diperbuatnya terhadap baju-bajunya. Kiara mau marah pun gak jadi, tertutupi oleh bentuk Sora yang lucu dan menggemaskan.


Bram dan Kiara di meja makan dapur bersama ibu Dwi, membantu Dwi masak seblak seperti keinginan Kiara.


Bram kesempatan melihat Dwi memasak sekalian dia juga menunjukkan kemampuan memasaknya, sehingga seblak nya tidak mengerikan pedasnya namun kaya rasa. Sehingga bayinya tidak kepedasan di dalam perut Kiara, oh seketika Bram terkesiap.


Astaga, perasaan kayak sudah hamil saja si gempal ku ini.


Dalam hati Bram menatap pipi istrinya yang semakin berisi, gak tahan lagi.


"Maaf Bi."


Ujar Bram pada Dwi lalu menyedot bibir Kiara di depan ibu mertuanya itu. Apalagi, habislah si Bram digebukin Kiara dan Bram tertawa-tawa karena Kiara menggelitiknya juga.


Dwi mesem-mesem melihat kebahagian putrinya, hampir jatuh air mata mengingat Burhan, suaminya yang kaku itu gak ada romantisnya. Karena separoh hidupnya sibuk ngurusin Tuan besar Pramudya.


Akhirnya Bram mendapat ide, nanti di korsel ia akan memasak seblak untuk para investor, cuman bawa bahannya yang susah nanti apakah bisa lolos dari pihak Imigrasi.


Hm, kita lihat saja nanti.


*


Selesai shoping Icha mengajak Laras makan, perutnya sudah lapar.

__ADS_1


Maghrib sudah lewat, Laras ingat pada Zainal yang mau ke rumah besar pulang kerja lalu mengirim Zainal pesan chat agar menjumpai nya di restoran hotel WJ, karena si Icha mengajaknya makan di sana.


Tidak perlu membayar kata Icha, karena ia punya kartu akses makan dan nginap gratis sebagai anggota keluarga.


"Baiklah kalau begitu." jawab Zainal di pesan chatnya.


Karena Laras bersama Icha, Zainal inisiatif mengajak Ridho, anak kost yang membonceng Icha naik motor.


Sejak kemaren suara Ridho berisik banget di telinga Zainal. Anak itu sibuk minta dikirim kan salam nya pada Icha melalui Laras, hais dasar!


Urusan percintaan ku saja belum beres mau ngurusin orang, pretlah.


Dalam hati Zainal membawa Mobil yang dirental nya tadi pagi ke pusat kota menuju resto WJ, masih ada waktu sampai besok pagi sebelum mobil dikembalikan.


Tak lupa ia membawa berkas surat lamaran yang akan ditanda tangani Laras.


"Zai, gue deg degan banget mau jumpa si Icha." Ridho kembali mengoceh di samping Zainal.


Cis, "Jangan terlalu berharap pada gadis kaya dan cakep seperti Icha, Do. Gue aja ngarepin Laras anak bapak kost yang levelnya di bawah sederhana, akhirnya lo lihat sendiri."


๐ŸŽถ merana~a aku merana~a, hemm hm hemm๐ŸŽถ." Zainal bernyanyi lagu bang Haji.


Hm, Ridho menarik nafas kasar membuangnya pasrah.


Sepertinya memang hilal bakalan ditolak udah kelihatan.


Zainal membawa mobil masuk di area parkir hotel WJ, janjian makan dengan dua cewek di resto hotel mewah kira-kira siapa nanti yang bayar, sisa duit Laras ada 7 juta setelah di potong kontrakan 2 juta setengah, ditambah rental mobil 5 ratus.


Semoga sisanya cukup buat traktir, Laras ku tunggu jandamu.


*


Di hotel WJ, selesai meeting Yudi memindai-mindai sekeliling. Menikmati kebebasan nya sementara tanpa Tuan muda.


Yudi menghubungi anak buahnya yang mengawasi Tuan muda di Krisant dan juga Nyonya besar. Tak lupa menghubungi intel yang mengawasi Laras dan Icha.


Menurut laporan anak buahnya, mobil Marissa sedang menuju hotel WJ, Yudi mengerut dahi.


Ha, mau apa kemari?


Yudi membaca sejauh lima puluh meter keliling, kelihatan mobil yang dikendarai Icha bersama Laras memasuki area parkir arah resto hotel WJ.


Yudi duduk di VIP room di lantai dua yang tertutup, namun ada kaca yang bisa melihat ke lantai bawah resto.


Keluar dari mobil, benar saja Laras dan Icha berjalan memasuki resto menuju satu meja yang sudah ada dua pria yang terlebih dahulu duduk di sana.


Seketika darah di tubuh Yudi tersirap naik ke ubun-ubun, kalau melihat cermin mungkin wajah Yudi sudah berubah merah sekarang.


Dadanya berdebar kencang, tangannya mengepal dari hidung dan telinganya keluar asap.


"Sudah lama Zai?" kedengaran suara Laras.


"Kira-kira lima belas menit." jawab Zainal.

__ADS_1


Kenapa aku gak perhatikan,


Dalam hati Yudi menyadari siapa pria yang satu meja dengan istrinya.


"Hei, kamu ikut juga." sapa Marissa pada Ridho.


"Hm."


Ridho mengangguk malu-malu, ada peluh dingin yang mengalir di pelipis dan belakang telinganya, tangannya juga berkeringat. Jika menurut kedokteran pertanda jantung kurang sehat karena berdetak lebih cepat dari normal.


"Pesan apa aja sepuasnya, karena pemilik hotel ini adalah sepupu saya, Bramasta Wijaya group."


Pamer Icha membuat Ridho semakin lemas, Zainal menatapnya kasihan namun di dalam hati ia tertawa ngakak.


Mungkin habis ini ada orang mati bunuh diri makan kerupuk beling, karena patah hati.


Dengan jelas Yudi melihat keempat orang anak muda sezaman itu berinteraksi, sangat serasi. Membandingkan dengan dirinya yang beda generasi hatinya miris, tua dan jadul.


Anak buah Yudi datang menghampiri nya.


"Bang, ini sampel yang abang minta."


Ujar anak buahnya menyerahkan satu paper bag pada Yudi.


"Hm."


Yudi mengeluarkan isi di dalamnya ada botol cairan darah. Di botol tertulis nama Suganda, serta map kuning bertuliskan RAHASIA, cih.


Setelah author ngintip ternyata berkas berisi keterangan daftar riwayat hidup Suganda.


Artinya tinggal sampel Sabit dan juga sampel ku.


Dalam hati Yudi melirik ke bawah resto, di meja makan kelihatan Laras sedang menanda tangani sesuatu, Yudi mempertajam penglihatan nya.


Surat lamaran pekerjaan, hm desah Yudi.


"Bang, apa kami masih ada pekerjaan lain?" suara anak buah Yudi mengalihkan perhatian Yudi.


"Oke, silahkan kalian mau makan apa?" tanya Yudi.


"Biar kami makan di bawah bos." jawab anak buah Yudi.


Hm, begitu aku juga belum makan, dalam hati Yudi ada ide.


"Kalian turun dulu pesankan juga untukku nanti aku menyusul, pilih meja dekat dengan Nona Marissa,...."


Unjuk Yudi ke bawah resto lalu menatap anak buahnya, ngerti! Itulah maksudnya.


Kedua anak buah Yudi saling melihat, yang satu bukankah istri bos Yudi, hais gawat!


"Siap bos." jawab mereka serentak keluar dari ruangan menuju lantai bawah resto.


******

__ADS_1


Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya, Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih, semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi pada episode selanjutnya. ๐Ÿ™


__ADS_2