Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
123


__ADS_3

Selesai menyapu dan mengepel, Laras di meja sofa duduk di lantai beralas karpet mau melanjutkan setrikaan nya yang kemaren terbengkalai sambil scroll2 ponselnya. Laras teringat uang yang dititipkan nya pada Icha.


Mau diapain ya itu duit, gak nyangka banget gue dapat rejeki nomplok. Salah sendiri si Suga, kemaren mau dibayar jual mahal. Ketangkap deh, gimana ya nasib Paman.


Lalu mengetik di pencarian, apa ada berita tentang pasar induk ataupun Suganda. Benar saja, ada beberapa berita tentang rumah bertingkat tiga warga pasar induk inisial S, dengan gambar di garis polisi.


Ponsel Laras berbunyi Masuk pesan dari Zainal. Laras membuka pesannya.


"Ras, bisa datang ke Jaguk sore ini gak? Gua dah buatin surat lamaran, lo tinggal tanda tangan besok biar langsung masuk." tulis Zainal di pesan.


Hm, gimana ya.


"Lihat entar ya Zai, lo kan tau gue baru pulang." Laras menjawab pesan.


"Kalau gitu, gue aja yang ke rumah besar pulang kerja, oke." tulis Zainal lagi


"Iya boleh juga, entar kabarin ya." Laras.


"Sip!" tulis Zainal membubuhkan emoticon jempol


Laras menutup ponselnya tidak membalas lagi, meneruskan setrikaan nya.


Keranjang baju kotor juga sudah lumayan penuh, nyucinya besok sajalah sekalian baju hari ini biar gak sayang sabunnya.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu. "Laras, buka pintu." panggil suara perempuan muda.


"Si Icha, mau ngapain dia?"


Gumam Laras pada diri sendiri lalu bangun membuka pintu, benar saja ada Icha di depan pintu.


"Taraaaa! Karena pria-pria sudah pergi kerja, ayo kita bersenang-sen...."


Icha melotot melihat meja sofa. "Ya Tuhan, emak-emak tradisional. Setrikaan dan baju kotor antar ke ruang pakaian aja kali Ras, ayo buruan bersiap kita jalan-jalan."


Dengan cekatan Marissa bantu memasukkan kembali semua pakaian ke dalam keranjang, lalu menghubungi dapur.


"Hallo." ternyata Samsir yang jawab.


"Samsir, minta salah seorang bagian pakaian ke kamar Yudi." titah Icha.


"Baik Non." jawab Samsir sambungan di putus.


"Tidak usah Icha, biar gue aja yang nyuci setrika pakaian Om yudi, lo mau jalan ke mana?" tanya Laras.


"Lo traktir gue makan di Mall, gue lapar." tegas Icha.


"Di ruang makan banyak makanan yang masak juga chef profesional, gue traktir lo di situ aja ya."


Ujar Laras menolak halus, sebenarnya ia malas keluar hari ini selain segan mau minta ijin pada Yudi, suasana mendung tapi gak hujan-hujan juga membuat Laras ingin baring-baring di kamar selesai nyetrika entar.


Ck, decak Icha.


"Jangan pelit ngapa! Duit lo gak sekalian simpan di Bank aja, kan si Suga udah di tangkap tuh. Lo benar Ras, tampan ya dia." Icha memainkan matanya.


Cis, "Sesiang ini, Bank apa masih terima?" tanya Laras.


"Adoy orang kaya, ini masih setengah tiga siang Bank tutup jam empat. Kalau setor jam mau tutup juga mereka terima aja kali. Makanya buruan siap sana biar sempat." Marissa mendorong Laras ke ruang tidur.


Di ruang tidur, jadi ini kamar si Yudi, dalam hati Icha.


"Ras, lo gak info sih sudah di rumah besar. Beruntung tadi gue jumpa Samsir bilang lo udah pulang, padahal gue udah siap mau jemput lo ke rumah sakit." ujar Icha.


Ck, "Besok aja perginya ngapa Cha, gue segan mau permisi ke Yudi."


"Sini ponsel lo, biar kirim chat aja."

__ADS_1


*


Yudi mengemudi, membawa mobil ke hotel WJ tempat meeting berikutnya sekalian makan siang.


"Yudi, Bryen dan Evita tertangkap di pasar induk." suara Bram tiba-tiba dari jok belakang.


"Hm." gumam Yudi, ternyata si bos baru baca beritanya.


"Ya Tuhan, kasihan sekali dia." desis Bram menatap gambar wajah mantan tunangan nya itu di tab, layu dan tak bermaya.


"Apa bos mau menjenguk nya di tahanan?" tanya Yudi iseng.


Ck, "Apa kamu mau ku hajar Yudi."


Yudi tersenyum dari kaca spion.


"Bagaimana Mama Evita, tante Karen aku ingat dia orang baik." tanya Bram lagi.


"Ia menempati rumah sederhana orang tuanya, dekat dengan perumahan peninggalan ayah saya." jawab Yudi.


Bram teringat Mamanya. "Yudi, kamu lakukan pengawasan diam-diam pada Nyonya besar, ngerti! Sekarang dia rajin keluar rumah." suara Bram menggeram.


Sejak gak ada papa, mama Alisha jadi tidak betah di rumah. Di suruh ngantor di WJ gak mau, maunya kelayapan. Mengingat tadi juga Alisha keluar nyetir sendiri tidak bawa Samsir, beruntung perginya bersama Daniel jadi Bram tidak terlalu khawatir.


Ponsel Yudi berbunyi, masuk pesan chat dari Laras.


"Sayang, aku ke Mall bersama Icha ya, muach." tulis di pesan Laras lengkap dengan emoticon love-love.


Yudi senyum-senyum membaca pesan Laras. Ia sudah tau tadi saat membaca kamar ujung lantai dua, bahwa Icha memang ingin mengajak Laras ke Mall pusat kota.


"Hm." balas Yudi di pesannya.


Laras kesal dengan ulah si Icha, dia yang mengirim pesan ke Yudi.


Betapa malunya nanti jumpa Om Yudi, dia kira aku tuh yang tulis, hais dasar si Icha.


*


Kiara di kamarnya terbangun karena mendengar bunyi perutnya sendiri. Tiba-tiba kepingin makan seblak pedas buatan ibunya lagi, hm.


Kiara membuat panggilan. "Hallo." suara perempuan kecil di seberang sambungan."


Kiara kaget, "Kamu siapa, Mana ibu Dwi." sentak Kiara.


"Saya anaknya, Ibu di kamar mandi." jawaban anak kecil membuat Kiara semakin emosi.


"Jangan sembarang lo, gue anaknya satu-satunya gak ada yang lain. Mana Ibu!?"


Bentak Kiara hampir menangis, pikiran buruk menghantui nya


"Ada apa Ra, ini Ibu Nak." mendengar suara Dwi, Kiara bernapas lega.


"Bu, anak siapa itu?" tanya Kiara ketus nada gak senang.


"Ah, kemarin bertemu ibu panti asuhan Al fallah di hajatan Pak Rt, ibu minta satu anak cewek usia 6 tahun untuk menemani Ibu, hari ini langsung diantar. Syukurlah kamu telpon, kebetulan ibu juga mau telpon kamu Ra, sekalian ibu mau permisi. Sora akan tidur di kamar kamu, gak apa kan."


Mendengar jawaban Ibunya, Kiara merasa seperti tersambar petir, dadanya sesak sedih tak terkatakan. Merasa ia telah di buang oleh ibunya sendiri, Kiara menutup panggilan tanpa menjawab maupun salam, hatinya kesal. Kalau boleh jujur, ia tidak sudi anak itu menempati kamarnya.


Di ujung sambungan Dwi mengerut dahi memandang Soraya anak yang baru di adopsinya itu. Bukankah terlalu lancang atau perasaan nya saja.


Baru satu hari anak ini sudah berani membuka tas kecilnya mengambil ponsel dan mengangkat panggilannya. Sebenarnya dalam hati Dwi juga tidak suka.


Kiara meringkuk di kasur, keinginan nya makan seblak buatan ibunya jadi ambyar. Tak terasa air matanya mengalir jatuh berderai. Kiara tidak menyangka ibunya sampai hati menggantikan posisinya dengan anak lain.


Ponselnya berdering, panggilan vidio masuk dari suami tampanku. Kiara menggeser tanda hijau. Kelihatan di layar wajah manis suaminya berubah kecut.

__ADS_1


"Sayang, kamu menangis?" tanya Bram.


"Uwaaaa!!"


Kiara tambah sedih semakin menjerit, wajahnya telungkup di bantal. Panggilan Bram tidak dipedulikan nya lagi.


Bram sedang makan bersama klien, sengaja ia ke toilet tadi ingin melakukan panggilan vidio pada istrinya.


Melihat Kiara menangis Bram langsung ke parkiran setelah berkirim pesan pada Yudi.


"Yudi aku pulang ke rumah besar, kamu lanjutkan meeting." tulis Bram di pesannya.


Yudi yang mendapat pesan segera membaca posisi bosnya, sedang di mobil tergesa keluar dari halaman hotel WJ menyetir sambil ngebut, hais ada apa lagi? Segera Yudi meminta satuan pengaman mengawal bosnya.


Samsir sudah diberitahu kepulangan Bram oleh Yudi, segera memberi tahu Satpam agar memudahkan akses.


Tidak sampai sepuluh menit Bram Sampai di rumah besar, memarkir mobilnya di halaman pintu depan utama. Bergegas turun dari mobil berlari sekencang-kencangnya menuju kamarnya.


"Kiara!"


Panggil Bram membuka pintu kasar lalu menghempasnya begitu saja. Melihat istrinya masih telungkup, Bram bergegas naik ke tempat tidur.


Mengangkat wajah istrinya yang telungkup di bantal tidak bergerak.


"Kiara, Kiara!" suara Bram panik menggendong Kiara duduk di pangkuannya.


Kiara lemas di pelukannya, wajahnya basah air mata. Bram mengusap wajah sembab istrinya.


Siapa yang telah berani membuat istriku menangis sampai begini sedih.


Bram menggeram naik emosi memeluk Kiara.


"Sayang, ada apa katakan."


Tanya Bram suara lembut memeluk istrinya, wajah Kiara terbenam di ceruk lehernya. Seketika Bram teringat di kamar ruangan kantornya, Kiara juga teriak menangis karena takut sendirian.


Shit!


"Maafkan aku sayang, meninggalkan mu sendirian." Ujar Bram mempererat pelukan nya.


Kiara membuka matanya perlahan masih terisak dan mengurai pelukan suaminya. Kelihatan wajah meweknya yang menggemaskan bagi Bram.


"Maaf." ucap Bram lagi.


Kiara menggeleng, mengalung lengan di leher suaminya merapatkan tubuh mereka. Bram balas memeluk istrinya.


"Ka Bram, ibu ada anak baru." ujar Kiara pelan.


"He'." Bram mengerut dahi.


"Anak baru gimana maksudnya?" tanya bram.


"Ibu mengambil anak baru dari panti dan menempati kamarku, aku tidak suka Bram, uwaaaa!" Kiara kembali teriak.


Bukan cuma masalah kamarnya yang diambil, yang membuat Kiara lebih sedih adalah karena anak baru itu yang telah menggantikan tempatnya di hati ibunya.


"Uwaaaa!" teriakan Kiara semakin pilu.


Jadi itu penyebabnya, dalam hati Bram lega, itu mah gampang.


"Jangan khawatir sayang kita akan mengusirnya. Malam ini kita tidur di sana, biar dia gak ada tempat untuk tidur." Bram memujuk istrinya.


*****


Hi pembaca yang Budiman, ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like, vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.

__ADS_1


Semoga jadi berkah bagi anda semua.


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏


__ADS_2