Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
Bonus bab 8


__ADS_3

Sore hari 16.30 waktu NYC.


Yudi sedang meeting bersama bosnya, Bramasta Wijaya si Tuan muda omes di ruangan kerja. Tidak ketinggalan Manager Arjit, sekalian mau teleconfrens dengan beberapa manager terkait dari WJ Grup Jkt.


"Bos yakin mau menggandeng pengusaha lokal untuk proyek tahap tiga?" Yudi memastikan lagi rencana Bram.


Hm...Bram mengangguk pasti. "Perusahaan dalam keadaan stabil, kita punya pengalaman dua tahap. Apa yang perlu dikhawatirkan? Dengan begitu juga memberi kesempatan kepada anak negeri untuk kita sama-sama berkembang."


Mendengar itu. "Baiklah Bram, Paman ada kandidat untuk bagian IT yang punya track record bagus, juga bagian interior design yang berkualitas internasional," sambung Arjit setuju dengan usul keponakan sekaligus bosnya itu.


"Nah itu bagus, nanti asisten Yudi ikut menyeleksi kandidat apakah memang qualified." Bram senang.


"Saya sudah mendapatkan datanya dan memang dua kandidat Manager Arjit adalah yang terbaik se Indonesia untuk saat ini Bos," jelas Yudi.


"Good, semoga tidak ada masalah dikemudian hari." Yudi dan Arjit mengangguk bersamaan.


"Usahakan kamu di Jkt tidak lewat seminggu, Yudi!" tegas Bram.


Merasa tidak bisa lama-lama dia jauh dari asistennya itu, sudah ketergantungan.


Belum pergi udah rindu, oh no! Pekik dalam hati Bram, apa aku acdc?


Hm, Yudi senyum membaca pikiran Tuan mudanya. "Siap, bos!" Jawabnya.


Saya juga gak mau lama-lama jauh dari...anak-anak dan istri saya, bos haha.


***


Laras dan ketiga bayi Lara ikut main ke kamar bayi Moni dan Choi. Dwi dan Alisha kumpul meramaikan, Daniel dan Icha juga ikut bergabung.


Tidak ketinggalan Sora. Kan Zainal si calon suami ada di atap Penthause malas-malasan dengan kakaknya si muka jutek, Sabit Putra Yudian. Waktu kerja mereka sudah cukup untuk hari ini, jadi ia pun ikutlah kemanapun Om Ze pergi.


Tidak ada Pedro karena memang orangnya Beno jadi dia kembali ke Ludwig Hotel tempatnya menginap. Sementara Zainal kan memang diangkat jadi asisten Laras jadi harus stay behind.


"Baby Moni...Baby Choi." Panggil Sora suara gak bisa pelan. Ia lebih suka pada anak-anak Kiara karena belum terlalu lasak seperti tiga Lara, kan masih bayi banget jadi dia berani gendong.


"Kiara, kenapa gak suka sama Moni dan Choi, sih!" Sinis Sora melihatnya jarang menggendong anak-anaknya, nyusuin juga gak pernah. Lebih sering main sama Duta kalau kebetulan berkunjung ke kamar bayinya.


Kiara mendelik tersinggung. "Gue udah gendong mereka tujuh bulan lebih, Sora!" Ketusnya di telinga adik beda ayah beda ibunya itu.


"Ih!" Sora gak senang dong, "lo kira gue budek!" Pekiknya marah, Moni di pangkuannya sampai kaget.


"Bikin naik pitam sih lo, bawel!" Pekik Kiara lagi suara masih kencang.


Bahkan Icha sampai mengusap perutnya takut bayinya terkejut begitu juga Daniel reflek memeluk pinggang lebar istrinya.


"Kan emang benar lo cuek sama Moni dan Choi!" Sora menurunkan suaranya, tapi masih termasuk kencang untuk ukuran manusia yang punya pendengaran normal.


"Cuek, lo kata gue cuek!" Kiara menengking, pengen jambak bibir Sora, uh! "Gak usah sotoy ya, dasar bocah. Tau apa lo tentang beranak!!!" Pekiknya suara semakin kencang, gak senang dirinya didikte anak-anak.


Kelima bayi serentak menoleh bersamaan pada dua orang yang ribut, Alisha dan Dewi bingung harus bela siapa.


Cuma Daniel merasa lucu, lumayan buat refreshing otaknya yang selalu mikirin penyakit dan obat-obatan.

__ADS_1


"Cis dasar menyebalkan," gerutu Sora gak mau meladeni lagi. "Mama kamu gila tuh Choi," ujarnya pada Baby Moni yang berada di pangkuannya, dia gak bisa bedain antara dua bayi kembar mukanya serupa sih.


Kiara berdiri semakin berang, "lo fitnah di depan anak gue biar mereka benci gitu," tangannya dikepal erat-erat agar tidak melayang ke muka sora, ih! "pengen banget lo punya anak ha, bikiiin!"


"....." Sora sudah di ujung lidah.


"E e ehh, kenapa jadi berantem." Alisha melerai sebelum Sora kembali membuka mulutnya.


"Ara, pelan kan suara kamu! Lihat bayi-bayi terkejut, kalau sudah jadi ibu jangan lagi bawa sifat kekanakan mu itu," Dwi gak tahan buka suara.


"Kok ibu nyalahin Ara, sih." Kiara tiba-tiba sedih. "Itu Sora yang asal nuduh, bikin emosi! Wuuu...uu." Cus! Lalu keluar air mata, Kiara menangis sesenggukan.


Hais! Batin Laras memberi tisu pada teman baiknya itu, makin menikah makin manja. Ia ingat saat masih sekolah sampai mereka bekerja di Jaguk store mandiri banget.


"Hiks, hiks." Tangis Kiara meraih tisu, suara semakin kencang, Uwaaaa...aaa..aa.


"Sora ih! Kamu gak boleh gitu sama yang lebih tua," kesal Icha mengelus perutnya, gak tahan ngomelin Sora.


Dia juga pasti gak sanggup ngurus bayi-bayi, lagian untuk apa bayar sitters kalau masih repot sendiri dalam hatinya prihatin pada Kiara.


Bram yang mendengar keributan di ruang bayi, segera keluar dari teleconfrens menghampiri istrinya. Tanpa berkata-kata langsung memeluk, mencium dan menggendong Kiara masuk ke kamar mereka dan mengunci pintunya.


"Kamu juga nyalahin aku kan, bilang gak sayang sama Moni dan Choi, hiks hiks." Kiara tersedu di pelukan suaminya.


Bram membawa Kiara ke kasur. "Tidak ada yang salah denganmu sayang, biarkan saja mereka tidak usah perdulikan. Bayi sudah ada sitter yang urus jadi kamu bebas santai sesukamu," pujuk Bram.


Karena dia dulu juga begitu, sejak lahir langsung dilepas ke sitter gak pernah tuh nyalahin Mama Alisha.


Bram memeluk Istrinya, membungkus tubuh mereka dengan selimut. Jilatan serta luma tan lembut yang menenangkan dia persembahan di bibir Kiara. Setelah melahirkan istrinya ini semakin hot dan tebal dimana-mana.


Dalam hati Bram mengambil keuntungan sendiri untuk dirinya, dengan semangat mencopot pakaian Kiara satu persatu.


***


"Bu, gak mau gendong lagi." Sora merajuk, menyerahkan Baby Moni pada ibu angkatnya.


"Mau kemana?" tanya Dwi segera mengambil cucu tercintanya dari pangkuan Sora.


"Ke atap!" jawab Sora jutek, segera kabur dari ruang bayi. Tertegun sebentar saat melewati pintu kamar Kiara, enaknya punya suami dalam hati Sora ingin cepat gede biar bisa nikah sama Om Ze.


"Kamu masih mau disini?" bisik Daniel ditelinga Icha, pertunjukan sudah selesai.


"Hm," geleng istrinya itu. "Aku mau nge-Mall aja," lanjutnya.


"Aku temani," ujar Daniel.


Gak tenang rasanya membiarkan Marissa jalan sendiri, kebetulan jadwalnya kosong sampai besok pagi. Waktu yang berharga harus dihabiskan bersama istri.


"Thanks Babe," ucap Icha kesenangan ditemani suami tercinta.


"Bibi, ikut gak?" Daniel bertanya pada Alisha.


Bolehlah dalam hatinya. "Ayo Dwi!" Alisha mengajak besan satu-satunya itu biar ada teman jalan, gak bengong celingak-celinguk jadi nyamuk. Merasa kasihan juga semenjak datang, Dwi belum kemana-mana.

__ADS_1


"Hm," angguk Dwi senang, kepingin juga dia jalan-jalan. Belum pernah soalnya sementara minggu depan sudah harus balik ke Jkt.


"Laras mau ikut? Bawa saja si kembar tiga sama sitternya sekalian," tawar Icha.


"Enggak ah Cha," tolaknya. Laras khawatir membawa tiga bayinya ke tempat ramai. "Gue disini aja bersama bayi-bayi."


Kalau semua pergi, gimana dengan Moni dan Choi dalam pikiran Laras gak tega ninggalin dua bayi imut dan baik budi kesunyian.


"Kita pergi dulu ya," pamit Icha gak mau memaksa.


Hm. Angguknya, tinggallah Laras dan sitters dengan lima bayi lucu-lucu.


*


Gak lama Yudi keluar dari ruang sebelah menghampiri Laras, memeluk pinggang istrinya itu dari belakang. Si kembar tiga bermain di dalam box bayi, si kembar dua lagi diberi susu sama sitter masing-masing.


"Ada apa tadi?" tanya Yudi berbisik di telinga Laras, basa-basi. Dia tau jelas apa yang terjadi walaupun tadi sedang memimpin rapat.


"Cuma ribut kecil," jawab Laras merasa canggung banget dengan sikap mesra Yudi di depan sitters.


"Kecil tapi kenapa Nyonya muda menangis?" tanya Yudi semakin mengeratkan pelukannya, tau Laras menolaknya halus.


"Biasa ibu baru, sensi." Laras melirik ke Sitter semakin segan dengan perlakuan Yudi. "Bang!" tegurnya melonggarkan pelukan.


Yudi tidak melepaskan, semakin menempelkan bibirnya ke telinga Laras. "Kamu dulu begitu, waktu baru jadi Ibu?" bisiknya pengin tau, apa Laras juga pernah bete pada anak-anaknya.


"Iya," jawab Laras jujur. "Beruntung ada Zainal yang sabar ups..." mengatup bibirnya sadar, kemungkinan dia telah salah bicara.


Hm, Yudi mengerti pikiran istrinya. "Maafkan aku," ucapnya sedih.


"Aku juga minta maaf." Laras terbawa suasana.


"Kalian gak salah." Yudi menarik ujung bibirnya.


Ha kalian, bukankah istrinya aku doang dalam hati Laras mengernyit.


Membaca Laras, Yudi geli dalam hati. "Karena perempuan itu selalu benar."


Menekan bibirnya di pipi Laras yang semakin bening, Yudi menghirup baunya. Bau susu, ih gemas.


"Idih, gombal!" Cebik Laras.


Hehe, Yudi menangkup dagu istrinya, mengecup bibir Laras bertubi-tubi seperti Yang Yang mencium Dilraba.


Spontan mendorong Wajah suaminya. "Ih, abang!" desis Laras menoleh ke sitter-sitter, menepuk dada Yudi lumayan kencang. Tapi lebih ke perasaan malu dari pada marah.


"Don't worry, ini Amrik sayang...umph!" Yudi mendaratkan lagi bibirnya. Memaksa lidah nyelip membuka mulut istrinya, mencium semakin dalam.


Oh, ya Tuhan!


Laras bingung mau balas apa enggak neh, wahai para readers.


***Tbc.

__ADS_1


Bab ini hadiah bagi yang ngasi hadiah, thanks. Yang like juga walau belum penuh 💯 like.


Semoga jadi berkah bagi anda semua.


__ADS_2