Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
194


__ADS_3

Subuh waktu Amrik masih di kamarnya.


Betapa terkejutnya Laras saat bangun melihat ke kasur atas, ada kepala bayi susun tiga memandang ke kasur bawah diam tak bersuara. Mata besar, lidah menjilat jilat bibir.


Sudah biasa bagi Laras terbangun di jam jam saat bayinya haus, walaupun ia baru saja tertidur. Ke tiga bayinya menjadi alarm bagi Laras seolah tubuhnya tersambung ke pikiran bayinya.


Laras tersenyum pada tiga wajah cute yang melongo memandang nya.


"Ini Mama Laras bukan ya?"


Begitulah kira kira dalam pikiran bayi kalau diartikan. Jarang jarang Laras menggerai rambut keritingnya mungkin tampak asing di mata ketiga bayinya.


Laras bertambah surprise, karena ini pertama kali ia melihat baby Duta tengkurap. Lebih lambat dari dua bayi Sebi dan Sevi yang bahkan sudah bisa bolak balik terlentang tengkurap sendiri.


Laras mengurai pelukan, namun lengan Yudi sangat erat melingkari pinggangnya dengan senyuman di bibirnya, cis.


"Abang!" panggil nya mengusap lembut kepala gundul Yudi yang berbaring memeluk nya.


"Hm." jawab Yudi.


Sebenarnya ia juga bangun, Yudi tidak berani tidur takut kalau kalau ini cuma mimpi.


"Nanti lagi pelukan nya, aku mau memberi baby Lara minum susu."


Yudi membuka mata sayu, memonyongkan bibirnya. Cis, Laras mengecup kilas menunjuk ketiga bayi di kasur atas dengan memajukan mulutnya, Yudi ikut menoleh.


Astaga! Betapa lucu ketiga anaknya keriting semua mengikuti rambut Laras. Wajah serupa Sebi dan Sevi cuma beda alis dengan Duta menandakan bahwa ia bayi lelaki.


Yudi mengusap wajah Laras lalu mencubit nya geram. "Laras, kamu sungguh kejam! Kalau aku tidak menemukan mu, sampai kapan kamu akan menyembunyikan ketiga permata ini dariku?" ujar Yudi nada tanya.


"Selama mungkin, sampai mereka sendiri yang menemukan kamu. Seperti Sabit dan Sora, mereka juga bisa hidup tanpa ayah." jawab Laras.


Pletak! Satu sentilan di kening Laras.


"Aduh!" pekik nya.


Yudi mengusap dahi Laras lalu mengecup nya bertubi tubi. "Laras, aku mencintai mu." ucap nya menatap Laras intens.


"Iya, aku tau. Sekarang waktunya memberi bayi bayi minum susu." Laras balas menatap intens.


Tidak cinta juga tidak apa apa.


Dalam hatinya yang bisa dibaca Yudi.


Hm, bagaimana membuat agar Laras bisa merasakan cintaku padanya, masih saja tidak percaya diri.


Dalam hati Yudi.


"Laras, bukalah hatimu agar kamu bisa merasakan cintaku."


"Aaaa! Eum, mamma ma." rengekan bayi bayi, membuyarkan tatapan mereka.


"Bang kasihan bayi haus." Laras menoleh pada bayinya, jengah membahas tentang cinta.


Hm, desah Yudi melepaskan Laras dari kungkungan nya meraih boxernya, selesai memakai celana Yudi menciumi ketiga bayinya bergantian.


Gemas sekali rasanya luar biasa punya anak sendiri, Yudi mengangkat Duta menggendong bayi laki lakinya memeluk di dadanya.


"Eum, mamma ma." Sebi dan Sevi merengek.


Yudi tak kuasa menahan haru buliran bening kembali jatuh di sudut matanya, mengusap kepala Sebi dan Sevi bergantian.


Sementara Laras, setelah memakai bajunya lalu mengikat rambutnya ke atas, berjalan menuju meja makan mengambil termos susu.


"Eum mamma ma." terdengar lagi rengekan Sebi dan Sevi.


Laras kembali ke kasur mengeluarkan dodot susu dari dalam termos memberi Yudi satu buat Duta.


Hangat nya pas. "Bismillah." ucap Yudi menyumbat mulut Duta, segera Duta menyedot nya. Yudi menyadari Duta agak pendiam dari Sebi dan Sevi lebih bawel.


Laras melihat ke Yudi, wajahnya basah air mata. Kenapa malah menangis, batinnya.


"Eum, mamma ma." rengek bayi lagi.


"Iya." jawab Laras membaringkan Sebi dan Sevi.

__ADS_1


"Bismillah." ucap nya segera menyumbat mulut kedua bayi. Lara Sebi dan Sevi menyedot gak sabar sampai mengeluarkan bunyi.


"Hei, pelan pelan nanti ke sedak."


Laras mengomeli Sebi dan Sevi, Yudi tersenyum memandang kedua bayi perempuan nya.


Pantas saja ibunya kurus. Pasti repot sekali mengasuh tiga bayi sendirian, si Zainal itu ah!


Desah dalam hati Yudi mencoba membaca pikiran bayi bayinya.


Sepertinya mereka heran melihat ku, kemana saja selama ini. Beruntung masih bayi anak anakku ini sudah pintar berpikir, mereka bisa tau bahwa akulah ayahnya bukan Zainal.


Dalam hati Yudi takjub betapa kuat ikatan batin anak ke orang tuanya. "Laras!" panggil nya.


"Hm." jawab Laras.


"Tanggung jawabku mencukupi kebutuhan kamu dan anak anak, ada rumah sederhana aku beli di Jkt. Dua bulan lagi setelah Tuan muda mendapat gelar doktornya, kita tinggal di sana. Apa kamu keberatan?" tanya Yudi hati hati.


Laras terdiam, Yudi membaca pikiran nya.


Sepertinya Laras suka dengan pekerjaannya di sini, akan susah meminta nya berhenti bekerja.


Hah! Desah dalam hati Yudi.


"Nanti aku bicarakan dengan Beno, kamu jangan khawatir." Yudi suara tegas.


"Aku masih ingin bekerja, aku suka mendesign tas tas." jawab Laras.


"Tentu saja, kamu masih bisa melakukan nya. Aku akan membuatkan kamu bengkel serupa di rumah kita" jelas Yudi.


"Hm." angguk Laras akhirnya.


*


Di Mansion Daniel juga sudah dikabari bahwa Yudi sudah menemukan Laras. Icha berbagi kabar pada Dwi saat mereka sarapan di ruang makan.


"Alhamdulillah." Ucap Dwi dan Sabit bersamaan.


"Hari ini Daniel membantu penjemputan mereka, ada tiga bayi." jelas Icha antusias, lega rasanya setelah sekian lama ia merasa bersalah atas hilangnya Laras.


"Tidak Sora, kita tunggu di Mansion." jawab Icha.


"Cis, gak seru." ujar Sora.


"Kalau kamu ikut malah merepotkan, Sora." sergah Sabit.


"Mana merepotkan, aku gak sabar mau lihat bayi Mama Laras." jawab nya suara keras.


"Makanlah yang banyak, agar kamu ada tenaga menjaga bayi Mama Laras sudah gede bisa digendong. Bukankah kamu kepingin menggendong bayi." Icha.


"Iya, kepingin. Buat bayi juga aku kepingin." jawab Sora santai.


"Aduh!" jerit nya saat Dwi menjewer telinganya. Icha tak kuasa menahan tawa.


"Datang bulan aja kamu belum, buat capek pun gak bisa jadi bayi." jelas Icha.


"Jadi kalau sudah datang bulan boleh?" tanya Sora semangat.


"Eh eh, tidak boleh. Nikah dulu baru boleh!" Icha cepat cepat meralat ucapan nya, hehe dia tersenyum mesem memandang Dwi.


Ck, Dwi berdecak. Inikah dinamakan dunia akhir zaman, batinnya.


Aku harus ekstra ketat menjaga si mesum ini, jangan sampai dimanfaatkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab.


Dalam hati Sabit, menatap Sora geleng kepala.


*


Di Penthause Daniel, Kiara sudah bangun siap siap menyambut kedatangan Laras dan ketiga bayi.


Pagi pagi Kiara sudah mandi, Bram menemani nya berendam.


"Sayang, aku mencintai mu." ucap Bram berbisik di telinga Kiara sambil menggosok tubuh istrinya itu lembut, tak lupa dengan kecupan kecupan ringan.


"Aku juga mencintai mu, apa kamu tidak merasakan nya?" Kiara menangkup wajah Bram, dengan busa sabun.

__ADS_1


"Iya, tapi aku cemburu mengetahui ada orang lain mencintai mu dan lebih cemburu lagi karena orang itu lebih hebat dari aku." Bram suara sendu.


"Bram, aku mencintai mu lebih dari yang kau kira. Saat mengetahui kamu akan menikahi Evita, dengan membuang jauh harga diri dan gak ingat dosa aku serahkan kesucian ku padamu. Tidak perduli apakah kita berjodoh atau tidak yang aku tau hanya ingin menyatu dengan mu." jelas Kiara juga suara sendu, menatap suaminya.


Hm, Bram tersenyum mengingat masa itu. "Sayang aku tersanjung, terima kasih sudah memilih aku." ucap nya.


"Aku lebih terima kasih, karena memilih aku bukan Evita." ucap Kiara.


"Cis, tentu saja aku memilih kamu, Evita itu wanita busuk." ketus Bram.


"Kalau dia perempuan baik jadi kamu mau, aku lihat dia lumayan cantik." Kiara nada sinis.


"Cantik dari mana! Kamu lebih cantik sayang, sudahlah jangan bahas itu! I love you." Bram jengah.


"I love you more." jawab Kiara.


"Hehe." Bram cengengesan.


~


"Hack cih!"


Di Jkt di suatu tempat Evita bersin bersin, membuang jauh wajahnya agar bayinya tidak terkena virus.


Evita melahirkan bayi lelaki seusia bayi Laras. "Sayang, cepat besar nak. Balaskan dendam ayah dan kakek mu." ujar nya pada bayi Kenneth Bryen Junior.


Plak!


Karen menepuk tengkuk Evita.


"Mama!" sergah nya terkejut.


"Jangan ngajarin cucuku jadi pembunuh seperti ayahnya ataupun kakeknya." tegas Karen.


Ck, Evita berdecak.


*


Zainal datang ke bengkel Laras seperti biasa. Ia sudah diberi tahu Beno, bahwa Yudi ada bersama Laras di kamarnya. Zainal menarik nafas berat sebelum membuka pintu.


Hah!


Desah Zainal melihat sekat pembatas bengkel dengan kamar tertutup, tidak biasanya Laras menutup nya.


Seperti biasa Zainal memeriksa bahan keperluan Laras dan bayi juga bahan peralatan membuat tas.


Gak lama Laras membuka penutup sekat antara bengkel dan kamar lalu keluar menghampiri Zainal.


Zainal melirik kilas, kelihatan Yudi di kasur bersama ketiga bayi.


"Lo baru datang Zai?" tanya Laras gak biasa Zainal datang lambat.


"Hm." gumam Zainal tanpa memandang Laras.


Memang ia agak terlambat, biasanya Zainal datang cepat membantu Laras memberi bayi minum susu atau bantu memakaikan popok lalu bermain sebentar. Sekarang sudah ada Yudi sepertinya tidak perlu lagi.


"Lo udah tau dong, Yudi semalam berhasil menemukan aku dan bayi." suara Laras pelan namun sangat jelas bagi Yudi.


"Hm, bos Beno memberi nya akses." jawab Zainal.


Hm, pantes saja. Bukan mudah menembus sistem keamanan pabrik, batin Laras.


"Begitu, apa bos Beno juga tau bahwa Yudi sudah mengatur penjemputan aku dan bayi hari ini?" tanya Laras lagi.


"Hm." Zainal mengangguk lagi. "Dia minta gue bantuin lo pindahan." lanjut nya.


"Gimana dengan kontrak gue, Zai?" tanya Laras.


"Itu lo ngomong sendiri ke bos Beno, ini ponsel lo pegang nanti bos sendiri yang akan ngubungin lo."


Zainal memberi Laras paper bag, mau gak mau ia terpandang juga leher Laras yang penuh kiss mark, hah!


*****


♥️

__ADS_1


__ADS_2