
Minggu pagi di rumah besar.
Laras terbangun setelah mendengar bunyi alarm, ia mengucek matanya. Melihat weker di nakas samping menunjukkan angka 6.30wib. Masih belum terlambat kerja, namun sudah terlambat subuh, hm. Laras hanya bisa istighfar.
Laras teringat semalam setelah masuk kamar ia membungkus tubuhnya dengan selimut dan juga menutup matanya paksa. Telinganya di sumbat headset memperdengarkan ayat-ayat suci Al quran, benar saja ia langsung gak sadarkan diri.
Pernikahan apa ini, tidak ada malam pertama, dalam hati Laras.
Kefikiran Yudi, Laras berjalan ke pintu yang memang semalam sengaja tidak ia tutup dan ternyata masih terus terbuka sampai pagi.
Ia melongo ke luar, sunyi tidak ada siapa-siapa, hm. Sofa juga kosong, bantal dan selimut terlipat rapi.
Apa yang kau harapkan Laras, bukankah pernikahan ini hanya sandiwara. Kalau iya pun Yudi ingin anak itu hanya sebagai pembayar utang bukan karena ia menyukaimu, dalam hati Laras.
Mungkin nunggu sepuluh tahun kelamaan makanya si Om nawarin setahun aja, kan rugi udah bayar mahal-mahal gak di pake.
Laras berpikir-pikir sambil menyiapkan baju kerjanya di atas kasur agar nanti siap mandi gak nyari-nyari lagi.
Jelas-jelas si Yudi suka nya sama Marissa, gak lihat di depan lo dia nyium perempuan kasar itu dengan gairah.
Merasa gak ada orang, Laras menutup pintu kamar menanggalkan baju piyamanya lalu menggantung nya, di balik pintu ada gantungan baju. Malam nanti masih bisa di pakai. Karena memang persediaan baju gak banyak, jadi harus cuci kering untuk menghemat.
Baiklah, mau sepuluh tahun atau satu tahun terserah yang punya duit, batin Laras.
Laras beranjak ke kamar mandi, cepat-cepat ia membersihkan diri. Keluar dari kamar mandi Laras kepikiran Kiara. Walaupun satu rumah, sepertinya akan susah juga mau jumpa. Si Tuan muda itu mana mungkin membiarkan istrinya bergaul dengan orang seperti dirinya.
Keturunan Wijaya orangnya kasar-kasar, gak laki gak perempuan sama, dalam hati Laras mengingat perlakuan Marissa dan Bram kepadanya
Pagi ini aku sarapan apa.
Ia ingat semalam di kulkas ada telur dan roti tawar. Setelah berpakaian rapi Laras keluar kamar, Yudi masih belum muncul.
Aku bisa makan roti balut telur buat ganjel perut, dalam hati Laras.
Terus pergi kerja naik apa? Astaga, mana ada angkutan umum dalam jarak satu kilo, bengek juga kalau jalan kaki. Apa aku minta jemput Zainal nanti tinggal bayar uang ojek satu mangkok bakso.
Sambil berjalan ke dapur, Laras mengetik pesan di ponselnya. Benar saja ia langsung dapat jawaban, oke dengan emoticon love-love.
"Ck, dasar!" gumam Laras tersenyum.
Ia mengeluarkan telur dan roti dari kulkas, mengambil mangkok lalu memecah telur. Mengoles wajan dengan mentega menghidupkan api. Sebelum di panggang Laras mencelupkan rotinya ke dalam telur.
Om Yudi sarapan apa, aku buat empat aja. Siapa tau sebentar lagi ia balik kamar pengen sarapan. Jadi satu orang dapat dua keping, dalam hati Laras.
__ADS_1
*
Ketiga pria sedang melakukan gym di lantai paling atas rumah besar yang memang di khususkan untuk ruang olah raga. Sekedar info, di atas juga ada kolam renang standard olympic lintasan pendek, sebanyak tiga jalur.
Untuk membentuk tubuhnya, Bram menyukai olah raga gym dan untuk pernapasan ia melatihnya dengan berenang bahkan menyelam tanpa tabung oksigen.
Sambil olah raga, Yudi memberi laporan pada bosnya. Bram mendengarkan dengan seksama sambil angkat beban
Daniel sudah lebih dulu istirahat, ia menyesap teh susu yang disajikan chef dengan cara ditarik-tarik, lengkap dengan roti Sandwich bawang Bombay krispy.
Daniel melirik tubuh Bram memang sangat sempurna, dan terlihat menggoda. Namun jiwa laki-lakinya tidak lagi bangun.
Apa karena semalam sudah muntah banyak, dalam hati Daniel.
Daniel ingat dulu waktu Bram kecil, tubuhnya gempal. Ia paling suka meremas susu Bram yang berisi. Merasa geli Daniel membuang pandangan nya, ia teringat Marissa.
"Yudi, aku masuk dulu mau mandi." pamit Daniel pada Yudi, gak mau mengganggu konsentrasi Bram.
Yudi mengangguk. Daniel beranjak ke lift turun satu lantai tujuan nya satu yaitu kamar Marissa.
Membaca pikiran Daniel, Yudi menelan ludahnya jadi teringat Laras. Semalam setelah Laras tidur ia masuk ke kamar. Memandangi wajah gadis yang telah sah jadi istrinya itu. Hampir-hampir ia khilaf, kalau gak ingat Laras kerja masuk pagi.
Nanti saja pas malam dia off day, dalam hati Yudi. Ia juga ingin merasakan surga dunia, sebelum usianya kadaluarsa.
Bram meletakkan barbel nya, menarik napas membuangnya kasar. Keringat bercucuran di tubuhnya.
"Boleh, karena ini hari minggu kita libur. Tapi hari kerja tidak boleh, Yudi. Tanya dia apa bisa bawa mobil, kalau bisa beri dia bawa satu mobil di garasi." ujar Bram mengambil air putih hangat menyesapnya sedikit buat kumur lalu membuangnya.
"Terima kasih bos." ucap Yudi.
Mana bisa si Laras bawa mobil, naik sepeda gak bisa bawa motor gak bisa. Hais, apa yang dia bisa, dalam hati Yudi.
Yudi melihat jam masih 7.30 wib, masih ada waktu dua jam. Ia memindai kamarnya, kelihatan Laras lagi di meja makan, mengunyah sesuatu. Seketika matanya membelalak.
Astaga, tanggal expired roti sudah lewat seminggu, batin Yudi, dia aja yang lupa buang karena sibuk sana sini, ngurusin Tuan mudanya.
Apa gak liat itu roti sudah keluar jamur, Yudi gak habis pikir, berharap Laras gak sakit perut nantinya.
*
Laras lagi menikmati roti panggang telurnya, sudah habis dua lembar ternyata masih kurang. Dia makan lagi yang seharusnya jatah Yudi.
Biarlah nanti dia buat sarapan sendiri, dalam hatinya.
__ADS_1
Dengan nikmat Laras mengunyah roti panggang nya sambil scroll2 akun sosmed nya, sembari nunggu jemputan Zainal.
Laras melihat jam di ponselnya 7.30 wib, masih ada dua jam sebelum buka Store. Lebih baik keluar cepat, segan juga tinggal di rumah orang asing, mana statusnya di cuekin.
Kemana dia? Kemana lagi ya tentu ngurusin Tuan muda, Laras.
Memikirkan Yudi, Laras seperti orang gila tanya sendiri jawab sendiri. Gak lama ponselnya berbunyi tanda pesan masuk, dari Zainal.
"Gue nunggu lo di luar gerbang." tulis Zainal di pesannya.
"Tunggu gue keluar sekarang." dengan cepat Laras membalas.
Sebelum sarapan Laras sudah lebih dulu membereskan kompor dan alat memasak nya, jadi tinggal berangkat. Ia menyambar tas kecil yang sudah disiapkan nya di meja sofa. Bergegas keluar dari kamar Yudi, berjalan cepat sepanjang lorong. Saat melewati kamar Kiara, Laras membatin.
Mana anak itu, apa sudah bangun. Enak ya menantu orang kaya, dimanja suami pula.
Laras berjalan cepat, takut Zainal menunggu lama.
"Laras."
Melewati ruang keluarga, seseorang memanggil namanya. Laras menoleh ke arah suara. Ada tante Alisha keluar dari ruang makan.
"Tante, selamat pagi." sapa Laras.
"Gimana, apa kamu tidur nyenyak?" tanya Alisha mendekati Laras.
Laras tersenyum canggung. "Iya tante, nyenyak banget, sampai gak sholat subuh." jawab Laras terkekeh.
Alisha tersenyum. "Sarapan dulu gih, di meja makan sudah tersedia banyak." ujar Alisha. Ia sudah menerima laporan dari Yudi, bahwa dia mendadak nikah dengan teman Kiara.
"Eng, makasih tante. Tapi Laras sudah sarapan barusan roti tawar telur."
"Oh, gitu. Mau bawa bekal juga boleh Laras. Kamu jangan segan-segan ya di rumah ini kalau mau makan."
"Baik tante, makasih. Besok saja, sekarang saya buru-buru, sudah di tunggu ojek." Laras pamit.
Alisha mengernyit, sejak kapan ojek bisa masuk kawasan rumah besar.
*******
Hi, selalu ikutin Tuan muda romantis ya. Semua komentar saya baca, kalian lucu-lucu deh. Jadi penyemangat nulis.
Segala bentuk dukungan saat ucapkan terima kasih banyak. Semoga jadi berkah bagi anda semua, berlipat ganda.
__ADS_1
Jumpa lagi episode berikutnya. 🙏