Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
153


__ADS_3

Di dalam mobil di parkiran antara hotel WJ dan Apartemen Bram.


Laras di atas pangkuannya, Yudi menahan dirinya agar tidak lebih-lebih memperlakukan Laras, hanya ciuman lembut di bibir. Cuman yang namanya ciuman kalo udah syor ya pasti semakin menuntut lebih dalam.


Kali ini Laras inisiatif ingin memanjakan Yudi dengan mencium nya lebih agresif dari biasanya, menyesap dan melu mat turun sampai ke leher-lehernya.


Laras bekerja keras walaupun itu berlawanan dengan sifatnya sebagai istri yang malu-malu di depan suaminya, berusaha memancingnya lagi dengan membenamkan wajah Yudi di antara dua gundukan mulus, empuk dan kenyal di balik kancing piyamanya yang sudah terbuka, namun Yudi hanya mengecupnya ringan lalu menyandarkan kepalanya.


Secara halus Yudi menghentikan Laras dan juga dirinya sendiri agar tidak terpancing lebih jauh lagi dengan memeluk Laras dalam diam sambil meredakan nafas mereka yang memburu.


Masih berpelukan, belaian lembut Laras pada rambut kepala Yudi terasa menenangkan jiwa nya yang sedang dilanda gundah gulana, hm Yudi menarik nafas berat.


Benarkah Junior itu darah daging ku? Sesuatu yang harus diusut tuntas, bisa bahaya di kemudian hari karena ada Sora anak perempuan untuk menghindari pernikahan sedarah.


Dalam hati Yudi mengetatkan lagi kedua lengannya di pinggang Laras. Sengaja ia menunggu Laras bicara duluan mengenai vidio syur mirip dirinya dan Olivia, namun Laras tak kunjung buka suara.


Mumpung masih hangat siap gak siap ini harus segera diungkap, dalam hati Yudi.


"Bang." panggil Laras saat Yudi baru saja hendak membuka mulutnya.


Yudi memandang Laras menelan kembali kata-kata yang hendak diucapkan nya, "hm", gumam Yudi menarik ujung bibirnya tersenyum dipaksakan.


"Apa abang akan di mobil, semalaman?" tanya Laras yang matanya mulai ngantuk.


Habisnya Yudi seperti orang suci tidak terpancing melakukan lebih jauh, yang ada desah-desah.


Yudi tersenyum dikulum, "hm, baiklah ayo kita kembali ke kamar." ajak Yudi menurunkan Laras dari pangkuannya, keluar dari jok belakang pindah ke bangku kemudi.


Laras melangkahi tuas perseneling pindah ke depan duduk di samping Yudi. Sambil mengemudi Yudi menggenggam jamari Laras, memutari gedung sambil melihat-lihat apa ada yang mencurigakan.


Kelihatan di atas gedung di atap, Junior masih mengawasi mereka dengan softlens berskala besar megapixels yang bisa dikendalikan dengan otak, hm. Itu juga yang membuat Yudi agar tidak bertindak lebih jauh pada Laras.


Darimana dia memperoleh alat pengintai itu, apa sama dengan kamera lalat kecil Lucita? Hm, nano tekhnologi bisa salah gunakan bila jatuh ke tangan orang yang salah juga.


Dalam hati Yudi. Turun dari mobil Yudi meraih lagi jemari Laras, jalan bergandengan masuk ke hotel WJ dari pintu utama.


Manager dan karyawan yang juga mengenal Yudi pandang-pandangan. Si misterius man, Yudi menggandeng tangan perempuan muda, sesuatu hal yang gak mungkin terjadi dalam pemikiran mereka.


Karyawan yang jomblo di resto WJ melihat Laras tak berkedip. Setelah Kiara, perempuan cantik dari kalangan biasa berhasil memikat hati Tuan muda, kini Laras yang jauh dari kesan mewah juga berhasil menaklukkan si gunung es.


Semoga masih ada perempuan seperti Kiara dan Laras tersisa di luar sana, tapi apa mereka mau itu yang jadi masalah, begitu kira-kira pemikiran mereka yang terbaca oleh Yudi.


Di pintu kamar VIP room di lantai atas Yudi disambut anak buahnya, menunggu perintah selanjutnya.

__ADS_1


"Kalian awasi Junior, saat pergantian sift pagi juga jangan lupa info pada anggota berikutnya untuk mengawasi gerak-geriknya." titah Yudi.


"Siap Bos." jawab anak buah Yudi berbarengan.


Itu psykopat bisa nekad, terbukti dengan dikirim nya vidio Mom nya sendiri ke Laras, maksud nya apa?


Apa biar Laras meninggalkan ku dan menikahi Olivia? Tidak mungkin itu.


Dalam hati Yudi, baginya Laras adalah satu-satunya wanita yang akan menemani nya hingga hari tua lalu Yudi membuka satu kamar yang berbeda dari Sabit dan Sora yang sudah tertidur pulas.


Di hotel WJ, lantai paling atas ada tiga kamar. Satu kamar khusus untuk Bram, satu untuk Yudi yang sekarang digunakan Sora dan Sabit dan satu lagi untuk tamu spesial Bram, yaitu kamar yang pernah dipakai Daniel waktu menginap di hotel WJ, ke situlah Yudi membawa Laras.


"Aku ke kamar mandi bentar, kamu baring lah duluan." ujar Yudi melepaskan tangan Laras mencubit pipinya pelan namun Laras kembali meraih tangan Yudi, menatap sayu penuh arti.


Yudi mengerut dahi membaca pikiran Laras yang ingin ikut dengan nya ke kamar mandi, juga kepingin minum air ketubannya yang penuh dengan kecebong lalu menyatu seperti saat di kamar mandi mereka di rumah besar di mana Yudi menghentak-hentak nya di atas meja toilet, cih dasar!


Yudi tersenyum dikulum, gak tahan ia menyentak Laras, mencium bibirnya, melu mat dengan bernafsu lalu mengangkat Laras membawa masuk ke kamar mandi, menurunkan nya duduk di kloset.


Gleg, Laras berhadapan dengan sesuatu yang ada dipikiran nya, mendelik menelan liurnya.


Bagaimana Yudi tau yang ada di otakku, Ini memalukan, hais!


Dalam hati Laras, namun kadung sudah diberi waktu dan kesempatan lalu dengan menekan rasa malunya Laras mengulurkan tangannya meraih resleting celana Yudi lalu menurunkan nya perlahan. Sesuatu yang menonjol di dalam cangcut itu yang menjadi tujuan nya, tinggal satu langkah lagi.


Laras menelan liur nya menurunkan segitiga berbahan wol itu dan benda berbentuk belalai gajah menyembul tegak, tersenyum padanya, ah!


Dalam hati Laras menggenggam belalai gemuk dan panjang, 'bismillah' lalu mulai mengulum mengunyah, mengulum mengunyah.


*


Laras terbangun, tidak ada Yudi di samping nya, di balik selimut tubuhnya polos tanpa sehelai benang.


Berapa lama aku tidur, kemana dia apa sudah berangkat kerja?


Dalam hati Laras melihat jam di dinding 06.00wib. Hm, sudah lewat subuh, lalu beranjak turun dari kasur mau memenuhi panggilan alam.


Teringat Sora dan Sabit di kamar satunya, Laras bergegas keluar memakai jubah tidur menuju kamar sebelah.


Cklekk. Laras membuka pintu.


"Mama." suara Sora kegirangan dengan susu kotak menggantung di mulutnya dengan tablet di tangannya.


Ada juga Yudi di sofa dengan tablet kerja nya duduk dengan cueknya. "Apa abang tidak tidur, mana Sabit?" tanya Laras sekaligus dua pertanyaan menghenyakkan pantatnya di samping Yudi.

__ADS_1


"Ada tidur, Sora tadi menangis nyariin kamu jadi abang kemari memujuk nya. Apa tidur kamu nyenyak?" jawab Yudi balik nanya.


"Nyenyak banget, sampai tidak tau kamu meninggalkan ku diam-diam."


Lalu pergi ke kamar mantan.


Lanjut dalam hati Laras jutek melipat tangan di dada bersandar di punggung sofa, terbaca oleh Yudi.


Yudi tersenyum dalam hati merasa senang ternyata Laras cemburu pada Olivia. "Sabit sudah pulang diantar supir kantor, karena dia harus menyiram kebun bunga pagi-pagi." lanjut Yudi ekspresi dibuat datar.


Laras diam tidak menanggapi, Yudi senyum dikulum menatap Laras merengut kesal-kesal manja lalu mendekatkan bibirnya di telinga Laras. "Kamu semalam sangat liar, aku senang." bisik nya.


Mendengar itu wajah Laras melebar jengah, kalau lihat cermin mungkin tampak merah seperti habis ditonjok.


Ck, "Ada anak kamu yang bar-bar itu awas dia dengar, ...." Laras mengomeli Yudi suara pelan juga sambil menggertakkan giginya.


Yudi cengengesan. "Nyonya muda ngajak kamu ke daerah Mountain Villa, mau daftar kursus katanya." ujar Yudi memberitahu Laras, barusan ia menerima pesan dari Bram.


Laras mengernyit senang di hati, akhirnya ada waktu bersama Kiara, "Sora, bagaimana, boleh ikut?" tanya Laras.


Yudi menatap Laras haru, ini juga yang menambah rasa suka nya pada Laras. Dia tidak mempermasalahkan semua anak-anak yang muncul dalam kehidupan pernikahan mereka, bahkan tidak mengungkit vidio yang dikirim Junior padanya.


"Kamu istri dan ibu yang menyayangi anak-anak padahal bukan darah daging kita, terima kasih ya." ucap Yudi menjentik hidung Laras, cis Laras menarik wajahnya.


"Ayah pacaran sama Mama, hihi." terdengar suara Sora terkikik baper.


Laras mendelik pada Yudi, tuh kan malu begitulah maksud nya. "Memang harus darah daging, baru bersikap baik?" gumam Laras membuang muka.


"Iya deh, cepatlah bersiap. Ada pakaian yang bisa kamu dan Sora kenakan di walk in closet." ujar Yudi.


Laras mengangguk tersenyum sumringah. "Sora, ayo mandi mau ikut gak, atau kamu pulang ke rumah besar ada ibu Salma?!" tanya Laras bangun dari sofa.


Mendengar itu, "Aku ikut, Ma!" jawab Sora spontan melempar kotak susunya dan meletakkan tabletnya buru-buru turun dari tempat tidur.


Hais, dasar anak ini, Laras mengutip kotak yang berserakan di lantai. "Ya udah cepat, ayo masuk kamar mandi buka baju sendiri bisa kan."


Ujar Laras berjalan ke walk in closet, mau lihat pakaian yang dimaksud Yudi.


"Ma, susah!"


Jerit Sora mengangkat tangannya tinggi-tinggi mohon bantuan Laras agar membukakan bajunya kalut, takut ketinggalan.


*****

__ADS_1


Hi, Pembaca yang Budiman. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Like vote dan hadiahnya author ucapkan terima kasih.


Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏


__ADS_2