Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
172


__ADS_3

Protokol membawa Yudi ke Amrik telah diatur sesuai dengan prosedur ketat standard kesehatan dokter Daniel.


Sebagai dokter, lingkungan sekeliling Daniel selalu tersedia alat-alat medis begitu juga dengan heli maupun jet pribadinya.


Telah diputuskan tetap membawa Laras, ia duduk di samping Icha satu heli bersama Bram dan Kiara.


Daniel mendampingi Yudi bersama asistennya satu heli, dari atap gedung hotel WJ mereka menuju airport.


Olivia dan Junior dikawal di dalam kamar mereka menginap oleh satuan pengaman tidak boleh keluar, atas perintah Bram karena ditakutkan membuat kekacauan.


Dari kamarnya Junior mengambil drone rakitan miliknya, kebetulan juga heli terbang se arah dengan kamarnya.


"Mampus lah kalian semua!" teriak Junior emosi tingkat dewa.


Karena Bram memerintahkan mengurung ia dan Mom Olivia, pertama Junior mengarahkan dronenya pada heli yang dinaiki Bram lalu menjalankan satu drone lagi ke arah heli yang di tumpangi Yudi


Drone melesat ke arah heli tidak disangka sebelum jauh drone yang kedua meledak di udara, serpihan drone mengenai wajah Junior yang berdiri di depan jendela dengan mulut menganga tertawa lebar.


"Aaaaa!"


Derai tawanya berubah jadi jeritan yang memilukan, Junior memegangi wajah dan lehernya. Tubuhnya ambruk jatuh ke lantai menggelepar menahan rasa panas.


Dari ketinggian 50 meter di atas gedung heli yang ditumpangi Bram merasakan goncangan, dengan sigap pilot mengatur keseimbangan.


"Bos, ada ledakan di hotel WJ." lapor pilot pada Bram.


Merasa heran ledakan di hotel kenapa guncangan terasa pada mereka kan sudah jauh juga, Bram melihat jauh ke gedung Hotel WJ yang berasap di sebelah sisi utara gedung.


"Cepat cari tau apa yang terjadi!" teriak Bram memerintah.


"Siap Tuan muda."


*


Sementara itu di dalam mobil, Lucita menghubungi Beno melalui sambungan aman Internasional.


"Tikus kecil sudah dilumpuhkan, Tuan." lapor Lucita.


Hm, "Kerja bagus Lucita, pastikan tetap memberi laporan. Siapa saja yang ingin mencelakai Kiara hancurkan! Segera musnahkan dari muka bumi, jangan beri ampun!" suara Beno nada marah di ujung sambungan.


Karena Junior mengarahkan dronenya ke arah heli yang ditumpangi Bram di mana ada Kiara di dalamnya makanya Lucita bertindak, menjalankan tugasnya sebagai pengawal pribadi Kiara atas perintah Tuan Beno.


*


Dua puluh menit berlalu dalam kecemasan hati para penumpang, kedua heli sampai di airport. Masih dengan standard keamanan kesehatan, Yudi yang masih belum sadar dibawa naik ke dalam jet pribadi Daniel masuk ke ruangan khusus yang menyerupai ruangan ICU sebuah rumah sakit.


Di dalam jet pribadi Daniel, Bram menerima laporan dari Manager Arjit melalui panggilan video.


"Tidak ada kerusakan yang signifikan, kecuali kaca jendela gedung yang pecah, Bram." Manager Arjit memulai laporannya.


"Kamu lihat sendiri melalui hasil rekaman CCTV yang di ambil dari berbagai sudut."


"Ledakan satu berada di bawah heli yang kamu tumpangi Bram."


Gleg.


Bram menelan ludahnya mendengar dengan seksama, mengepal tangannya geram sampai merinding. Jakunnya menggulung ngeri membayangkan ternyata barusan tadi mereka sangat dekat dengan kematian.


"Dan yang ke dua seperti yang kamu lihat, posisi di luar hotel jarak 6 meter utara gedung di ketinggian sejajar dengan sebelah jendela kamar Miss Olivia menginap. Adapun drone memang Junior yang menembakkan nya namun drone dihadang oleh benda serupa, diduga dari seseorang di dalam mobil yang terparkir antara hotel dan Apart. Dari plat mobil diketahui bahwa pemiliknya bernama Bernard Ludwig." jelas Arjit.


Beno.


Dalam hati Bram menoleh ke Kiara yang duduk bersama Laras dan Icha tak jauh dari ia duduk.


"Sementara Junior ditemukan mengalami luka seluruh wajah dan lehernya dalam keadaan masih bernyawa." lanjut Arjit.

__ADS_1


"Masih hidup?" tanya Bram nada kecewa kembali fokus pada Arjit.


"Masih Bram, setelah mengevakuasi ruangan Junior dirujuk ke rumah sakit besar Sibolon." jawab Arjit.


"Pastikan menuntut anak sialan itu Paman! Aku tidak perduli dia di bawah umur atau terluka parah." tegas Bram.


"Pasti Bram, pengacara sudah menyusun sejumlah berkas tuntutan dengan pasal-pasal yang berat."


Yakin Arjit nada geram. Bagaimana tidak, putri kesayangannya hampir saja menjadi korban kebiadaban Junior.


Nyawa dibuat mainan bocah ingusan, sialan.


Dalam hati Arjit, tadi saat melihat Junior yang sekarat saja ia tidak merasa kasihan bahkan pengen sekalian dibakar jadi arang.


"Terima kasih paman, saya serahkan kepengurusan perusahaan pada Paman selama saya di Amrik." ucap Bram.


"Sama-sama Bram, semoga selamat sampai tujuan. Tolong perhatikan adik kamu si Icha sekalian Bram."


Mohon Arjit, tak bisa menghindari air mata jatuh di sudut matanya tak sanggup membayangkan bagaimana jika drone mengenai heli di mana putri kesayangannya ada di dalam.


"Baiklah, Paman jangan khawatir. Sudah dulu ya ada Mama di line 2."


Bram memutus sambungan, menerima panggilan masuk dari Alisha.


"Iya, Mama." jawab Bram.


"Hiks hiks." terlihat di layar Alisha menangis.


Hm, "Ma, Bram tidak apa-apa jangan menangis." Bram memujuk Alisha.


Alisha mengusap air matanya, saat mendengar berita ledakan ia hampir pingsan karena shock.


"Sayang, Mama sudah hubungi bodyguard yang mengawasi kamu saat masih sekolah di Amrik, mereka akan mendampingi kamu selama di sana."


Alisha nada khawatir, Bram mengangguk sendu. "Iya Ma terima kasih, Daniel juga sudah menyiapkan bodyguardnya. Sudah dulu ya kita mau terbang."


"Baiklah Bram." ujar Alisha lalu memutus sambungan.


"Bagaimana Dani?" tanya Bram menutup layar laptopnya.


"Aman Bram, pesawat siap berangkat pilot memilih transit di incheon dari pada Abu dhabi, tiga jam kurang lebih di mana laporan cuaca juga bagus. Berdoalah saja serahkan pada yang Maha kuasa semoga tidak ada hambatan sampai ke Amrik." jawab Daniel.


Amin, dalam hati Bram.


"Lalu Yudi?" tanya Bram lagi.


"Yang aku khawatirkan antara dua Bram, buta atau hilang ingatan."


Akh! Desah Bram mengusap wajahnya kasar. "Tolong lakukan sesuatu Dani, jangan biarkan itu terjadi pada Yudi."


"Bram, aku tidak tau apa fungsi alat yang ditanam di kepala Yudi. Karena nyangkut aku melepas nya baru bisa lempang saat dimasukkan lagi, bersyukurlah tidak ada ditemukan kerusakan pada alat."


Jawab Daniel, menarik nafas berat masih ragu dengan persepsinya.


Ck, "Semoga tidak buta Dani, kalau masalah ingatan kita bisa pelan-pelan mengembalikan nya. Lalu kapan dia bangun?" tanya Bram.


"Sabar Bram belum juga 24 jam."


"Tolong lakukan yang terbaik Dani."


"Siap Bram."


Daniel suara tegas, karena hubungannya dengan Icha bisa dikatakan ia dan Bram sekarang jadi saudara.


Pilot keluar dari kokpit melapor. "Siap terbang bos."

__ADS_1


"Hm." Daniel mengangguk.


Bram mendatangi Kiara. "Sayang, sini duduk bersamaku." ajak nya meraih tangan istrinya ke bangku dua.


"Ras, gue ke sana ya." pamit Kiara pada Laras.


"Cha, gue titip Laras." ujar nya menatap Icha.


"Hm."


Laras mengangguk sementara Marissa mencibir pada Bram.


"Gak pengertian amat sih lo Yam, mau dekat istri mulu." gerutu Icha.


"Serah gue." jawab Bram cuek menarik Kiara.


"Baby, aku ada di ruangan Yudi." Daniel pamit pada Icha.


"Oke, Babe. I love you." ucap Icha memonyongkan bibirnya, Laras membuang mukanya tak mau melihat.


Hehe, "I love you, too." ujar Daniel mengecup ujung bibir Icha beberapa kali bahkan menekan tengkuk Icha memperdalam ciuman, sehingga Icha terkekeh menahan wajah Daniel.


"Sudah sana." Icha mendorong nya, dengan berat hati Daniel masuk ke ruangan Yudi.


"Silahkan pakai sabuk pengaman, Nona-nona cantik."


Pramugara datang mempersilahkan dengan ramah.


Jadi ini perempuan yang berhasil meluruskan si belok, pantas saja mirip pria sih!


Batinnya memandang Icha yang mirip Bram bahkan di wajahnya ada kumisnya halus kasar, ha!


"Ayo Ras, pakai sabuknya."


Icha dengan telaten membantu Laras, tau ini pertama Laras naik pesawat.


"Hm." Laras mengangguk mengikuti arahan Icha namun pikirannya hanya pada Yudi.


"Tenang saja tarik nafas dalam, buang perlahan." Icha tersenyum menggenggam tangan Laras.


"Iya, tadi di heli lebih seram." jawab Laras mencoba tersenyum.


"Benar banget Ras, tapi tuh bocah sudah dapat balasan yang setimpal." ujar Icha nada puas.


Laras menarik ujung bibirnya, prihatin teringat Olivia.


Hm, betapa hancur hatinya, setelah Yudi satu lagi orang terkasihnya mengalami celaka.


*


Sementara Bram dengan telaten juga memasang safety belt Kiara. "Sayangku, kalau mual bilang ya."


"Hm."


Kiara mengangguk, ini pengalaman naik pesawat pertamanya tapi tadi sudah naik heli jadi sudah gak deg degan. Apalagi pesawat sangat mewah, interior seperti kamar hotel VIP hotel WJ.


Bram meraih wajah istrinya, menatap sendu mencium bibirnya lembut.


Akh!


Sebuah erangan keluar dari mulutnya saat bayangan Beno melintas di benaknya, hampir saja mereka jadi korban bocah psyco namun karena kasih sayang Beno pada Kiara nyawa mereka masih betah di raga.


****


Hi, pembaca setia. Ikutin terus Tuan muda romantis ya. Jangan lupa tekan jempolnya, vote serta hadiah semoga jadi berkah bagi anda semua.

__ADS_1


Jumpa lagi episode selanjutnya 🙏


__ADS_2