
Di kamar Bram.
Setelah suaminya keluar Kiara menelpon ibunya yang ternyata lagi ada orderan dadakan di hajatan sunatan tetangga. Jadi gak bisa datang ke rumah besar.
Lagian di rumah besar terlalu ramai pengunjung, bisa sesak napas katanya. Kiara tidak tega memberitahukan pada Dwi kalau ia jatuh di kamar mandi, takutnya ibunya itu akan khawatir.
Kiara berjanji, nanti akan permisi pada Bram agar besok ia diijinkan pulang ke Krisant cluster mengunjungi ibunya. Kiara sudah kangen rumahnya, terutama pada kamarnya.
"Kalau besok mau datang, kamu mau dimasakin apa Nak?" tanya Dwi.
"Masak seblak ceker ya bu, yang pedas." jawab Kiara.
"Baiklah, kebetulan banyak ceker di kulkas ibu kumpulin dari kaki ayam hajatan, nanti ibu masak." ujar Dwi.
"Makasih Bu."
Setelah menutup telepon, Kiara terbengong.
Lebih baik aku ke ruang keluarga nonton tv, dalam hati Kiara.
Kiara merapikan dirinya menyisir rambutnya, memoles bedak ke wajahnya. Semua masih pakai barang-barang kepunyaan Bram.
Maksud hati tadi mau belanja, gak jadi deh..ah. Potong rambut juga gak jadi, dalam hati Kiara.
Kiara beranjak ke pintu dan keluar dari kamar Bram. Di ruang keluarga ia bertemu Laras yang lagi nonton TV sendirian.
"Kiara." panggil Laras.
"Hm." gumam Kiara sembari duduk di samping Laras.
"Ra pinjam mukena dong, gue belum ashar. Ini dah mau maghrib, sholat di tempat ibadah luar rame banget, ngantri. Manusia berjubel, gilak ya nikahan lo."
"Oh ya udah Kita ke ruang ibadah keluarga di lantai dua aja yuk, gue anterin lo."
"Okeh." jawab Laras mengikuti Kiara naik tangga rumah mewah. "Ra, rumahnya Tuan muda seluas GBK."
"Lebay." Kiara menanggapi dengan senyum memandang Laras. Gak lama mereka sampai di lantai dua ruang sholat keluarga.
"Sholat di sini Ras, gue tungguin." ujar Kiara.
"Thanks Kiara." Laras mengambil wuduk gak jauh dari ruang ibadah.
Sambil menunggu Kiara buka akun sosial medianya. Rumah besar masih trending topik peringkat tiga terbanyak dibagikan. Pernikahannya juga masih banyak komentar berupa ucapan selamat bahkan dari luar negeri, Hongkong, Taiwan, Arab saudi. Padahal gak kenal.
Yang menyebalkan adalah komentar dari salah satu akun.
@Tuan muda terlalu tampan untuk Kiara.
Yang menuai pro dan kontra sampai puluhan juta komentar, gilak.
Setelah Laras selesai sholat, Kiara dan sohibnya itu ngobrol di balkon. Sambil menunggu Maghriban Laras, biar gak bolak balik.
"Seru ya nikahan lo Ra, rame banget tuh lihat di bawah. Makanannya enak-enak."
"Iya, sudah kayak PRJ, pusing sampai ibu aja malas datang."
"Ha ha ha." Laras ngakak. "Ra lo udah ena2 dong, gimana rasanya?" lanjut Laras keponya kumat.
__ADS_1
Dasar.
"Gue lagi datang bulan, Ras." jawab Kiara jengah, sudah maklum dengan sifat temannya ini.
"Ha ha ha, Tuan muda stres dong gak bisa mp." Laras ngakak lagi.
Ih, manusia satu ini. "Ras, lo jadian aja sama Beno." Kiara mengalihkan pembicaraan.
"Gak! Beno ketuaan, gak mau gue. Bau keju." jawab Laras.
"Lo tau gak, store kita dia yang punya?Dia lebih kaya lah dari Tuan muda Bram."
"Biar benar lo Ra!" mata Laras membulat dan wajahnya memucat.
"Jadi Beno itu owner, bos kita. Bosnya Hendra juga!" lanjut Laras.
"Benarlah! Beno itu orang baik, gue kenal dia dari kecil selagi masih di Panti."
"Tapi gue belum ada hati sama dia, gimana dong?"
"Gak ada hati gimana? Lu digandeng mau aja, dipeluk gak nolak." sindir Kiara.
"Ha ha ha, masa sih!" Laras tertawa lagi.
"Kan enak lo jadi istri bos kaya sekalian tuh memperbaiki keturunan."
"Dasar si Kiara matre tapi kan Beno sukanya `ma lo Kiara. Apa semudah itu dia move on? gue liat waktu di nikahan lo, dianya mpe nangis."
"Nggak Ras, gue udah dianggap adik sama dia. Setiap abang juga pasti terharu lah kalau adiknya nikah."
Kiara dan Laras tidak menyadari Marissa mendengar dan merekam pembicaraan mereka, cemburu melanda hatinya.
******
Suzane memandangi Bram dengan perasaan kagum yang tidak bisa ditutupinya.
Suzane tau ia lebih tua dari Bram dan brondong bukan lah tipenya. Tapi si tampan ini berbeda, daya pikatnya sangat kuat.
Dia harus menyembunyikan ketampanannya agar wanita yang baru melihatnya tidak langsung patah hati. Soalnya dia sudah beristri, dalam hati Suzane.
Bram merasa risih dipandangi kakak-kakak, lagipula dia tidak dekat dengan dokter Koo. Maka setelah acara perkenalan ia pamit mau pindah ke meja Walikota.
"Ma, Bram balik ke situ." unjuk Bram ke meja sebelah dengan memonyongkan bibirnya.
Saat menoleh pandangan Alisha bertemu dengan Beno yang juga lagi menatapnya.
Alisha memberikan senyum terimut nya. Beno juga membalas memberikan senyum termenawan yang dimiliknya.
Setelah menunduk hormat pada dokter, Bram berdiri menghalangi pandangan Mamanya dengan punggungnya dan memberikan tatapan tajamnya pada Beno.
Cih, Beno membuang mukanya tersenyum mesem.
Bram kongkow sebentar di meja walikota, gak lama ia pamit lagi. Karena harus kembali ke kamar di mana istri tercintanya sedang menunggunya.
Kiara ku sayang lagi sendirian dan juga perutnya sudah lapar, dalam hati Bram.
"Yudi, aku balik ke kamar. Bilang pelayan bawa makanan ke kamar, Kiara mau makan daging sapi lada hitam dan beberapa menu tambahan lainnya." titah Bram. Yudi mengangguk mengikuti Bram.
__ADS_1
"Oh ya Daniel akan datang, dia dalam perjalanan kemari. Tungguin ya!" lanjut Bram lagi.
Yudi mengangguk lagi, mengacungkan jempolnya. Ia juga sebenarnya gak konsen di meja Walikota, ingin segera meluruskan persoalannya dengan Marissa.
Yudi pergi ke stand memesan makanan, Bram ke arah ruang keluarga mau ke kamarnya.
"Yam!" suara Marissa memanggil Bram saat melewati tangga bawah di ruang keluarga.
Bram mendongak ke arah balkon dalam rumah, di mana Marissa berdiri memanggilnya.
"Ada apa?" tanya Bram.
"Aku mau bicara." jawab Marissa.
"Kalau mengenai Yudi kalian selesaikan berdua. Kalau masalah lain aku gak ada waktu, bye." ujar Bram cuek langsung jalan menuju Kamarnya.
Ia bersiul gembira sepanjang lorong. Saat membuka pintu, ia melihat istrinya tidak ada di kamar. Lalu masuk membuka pintu kamar mandi gak ada juga.
Kemana dia, dibilangin jangan kemana mana juga ah, dalam hati Bram udah mau marah.
Segera ia mengurut dada agar bersabar tidak terpancing emosi. Gak lama masuk pesan dari istriku, segera Bram membuka pesan.
Istriku : Ka aku di lantai dua di balkon depan ruang ibadah.
Ngapain dia disitu, ah!
Bram segera berlari menuju ruang ibadah, ia sudah sangat rindu pada Kiara. Di tangga ia jumpa Marissa yang berusaha mencegatnya.
"Yam, kamu harus dengar ini. Kiara mau menikah dengan kamu itu karena harta."
Saat Marissa mau memperdengarkan hasil rekamannya, Bram memotongnya bicara.
"Satu lagi karena aku tampan. Sudah lah! Kiara itu istriku, kamu jangan coba menjelek-jelekkan nya di depanku, aku yang lebih tau, oke!" Bram melangkah, gak jauh dia berbalik.
"Yudi itu orang baik, sebaiknya kamu pertimbangkan. Aku beri kamu sepuluh persen saham dan Yudi sepuluh persen di proyek yang baru kalau kamu menikah dengannya." ujar Bram berbalik badan jalan menuju ruang ibadah.
Marissa melotot.
Papi aja sahamnya cuma dapat lima persen. "Kamu gak bohong kan?" teriak Marissa.
Bram gak dengar lagi, segera mendatangi Kiara ke balkon luar.
"Ka." sapa Kiara berdiri dari duduknya melihat suaminya datang menghampirinya.
"Sayang, kan tadi aku bilang tunggu di kamar." ujar Bram menubruk Kiara membawa ke pelukannya.
Kiara hanya diam, gak tau mau jawab apa. Ia membalas pelukan Bram.
"Ehem." Laras berdehem. "Tolonglah hargai yang jomblo, pelukannya bisa entar di kamar aja." ujarnya.
Ck, Bram berdecak mengurai pelukan.
"Kamu! Kenapa bawa istri saya berkeliaran." sergah Bram.
Laras kaget Kiara lebih kaget, kenapa marah sama Laras.
******
__ADS_1
enjoy reading and see you to the next part.