Tuan Muda Romantis

Tuan Muda Romantis
Bonus bab 7


__ADS_3

Selesai serah terima kedua bayinya pada Mama Alisha, Bram menghampiri Kiara yang sedang duduk di sofa kelihatan depresi. "Sayang," panggil nya mengambil duduk di samping istrinya itu sambil mencium pipinya dengan penuh kasih sayang. "Sudah dapat berapa botol?"


"Satu aja, tangan udah pegel," rengek Kiara. Capek dan bosan membuatnya bahkan mau bernafas pun susah. "Maaf bukannya mau ngeluh, tapi emang pegal." Kiara hampir keluar air mata.


"Iya, ngerti." Bram memeluk Kiara prihatin dengan keadaan istrinya itu. Untungnya si gendut ini semakin montok semakin enak dipeluk batinnya.


Walaupun pekerjaan memeras susu sangat menyiksa tapi Bram menyukai siksaan itu. Membuat jantungnya berdenyut, cukup memacu adrenalin alam bawah sadarnya yang selalu minta dikenyot, benar-benar sakit. "Ya udah sini gantian aku yang meras. Selagi ada suamimu ini, sayangku gak usah stress, hm." Bram mengangkat Kiara ke pangkuannya, biar acara memeras terasa lebih mesra.


Hah! Kiara menarik nafas lega, memberikan alat sedotnya ke tangan Bram. "Moni dan Choi baru sebulan, kenapa air susu udah mau kering?" tanya nya.


Hm. Ini bukan kering sayang batin Bram, istrinya aja yang manja bikin gemas. "Sedapatnya saja, tidak usah dipaksa," jawab nya. Kasian juga bayi-bayinya kalau langsung stop ASI hanya gegara ibunya kena sindrom baby blues.


Dengan susu semontok ini, Bram yakin masih banyak stok ASI cuma harus sabar. Bram tidak ingin menyakiti istrinya, karena susu Kiara merupakan benda favoritnya juga kan. Jadi jangan sampai kenapa-kenapa.


Barulah Kiara bisa santai dipangkuan Bram, sementara suaminya memerah. Sesekali bibirnya mendarat di pipi, di leher nyambi tangannya membelai susu dengan lembut dan hati-hati. Benar-benar suami yang pengertian dan romantis. Tidak dipungkiri Kiara, acara memerah susu jadi lebih menyenangkan dengan adanya Bram.


"Ntar gantian ya, kamu meras aku," bisik Bram di telinga Kiara, tidak lupa kunyahan mautnya yang selalu bikin istrinya itu merinding. Bram sudah hapal kelemahan Kiara, setiap pancingannya gak ada yang pernah meleset.


Cis, dengus Kiara. "Kamu maunya gitu mulu, gak siang gak malam.


"Hehe, kebutuhan sayang. Lagian bagus itu sekalian olah raga, bikin keluar keringat."


"Kamu rakus, Bram."


"Tapi kamu suka, gak?"


Ish! Kiara mentoel hidung mancung suaminya. "Dasar pemaksa!"


"Aku! Pemaksa?" Dahi Bram mengerut.


"Iya, aku terpaksa suka. Kamu dah ubek-ubek perasaan orang, siapa yang gak lemas."


Hahahaha. Bram tertawa.


***


Di ruangan bayi.


Alisha bersyukur melihat kebahagiaan putranya dan juga kedua cucunya. Rasanya hidup sangat sempurna tapi jadi sedih teringat suaminya di alam arwah. "Semoga kamu juga bahagia disisi Tuhan, Mas Pramudya."


Diam-diam Alisha mengirimkan surah Al-fatihah. "Ya Allah, berikanlah aku jodoh yang baru...amiin."

__ADS_1


***


Selesai mandi, Sora buru-buru pakai baju, bedak dan baby cologne. Merasa dirinya sudah wangi, langsung capcus mau ke bengkel.


"Sora sarapan dulu, gak lapar apa?" teriak Dwi yang lagi ngumpulin pakaian kotor mau di loundry. Tadi sebelum manggil Sora mandi, ia bantuin chef dulu masak menu Nusantara jadi baru sempat sekarang beresin kamarnya.


"Iya, nanti ambil di dapur kan!" Jawab Sora juga teriak, gak sabar dia mau nyium Om Ze.


Sora sering bingung. Seingatnya, setiap tidur malam bareng dengan kakaknya Sabit dan Om Ze si calon suami. Tapi kenapa tiap bangun keesokan harinya dia ada di guest house 2 bersama Ibu Dwi. Yaitu kamar bekas Ayah Yudi dan Mama Laras pertama, benar-benar penasaran siapa yang mindahin. Sora ngarep nya sih Om Ze, tapi gak mungkin dipikirannya. Kalau gak Sabit ya Ibu Dwi lah pokoknya antara dua.


Dari guest house 2 ke Mansion utama lumayan jauh untuk kaki pendeknya. Berlari kecil sambil berpikir-pikir Sora berpapasan dengan Icha di ruang tengah. "Tante, maaf. Sora buru-buru mau nyium Om Ze," ujarnya langsung kabur naik tangga, malas basa-basi.


"What!" Seru Icha. "Emang gue nanya, dasar bocah aneh." Geleng Icha mengelus perutnya, amit-amit. Berjalan dengan perut gendutnya menuju ruang makan, kemudian mengambil duduk di satu bangku. Segera chef dan anggotanya berbaris melayani Nyonya besar yang lagi hamil gede.


Sebagai dokter, Daniel harus lebih banyak berada di rumah sakit. Maka pagi-pagi buta dia telah berangkat sebelum Icha bangun.


***


Di bengkel.


Zainal, Pedro dan Sabit sedang serius memasang mesin-mesin.


Gubrak!


"Om Ze!" panggil Sora sembari mengatur nafasnya, hah...hah...hah! Ketiga pria menoleh bersamaan.


"Sora udah wangi, ciumnya mana?" tembak Sora menagih janji.


Oh! "Tapi sekarang Om ze nya yang bau neh, kan kerja jadi keringatan." Jawab Zainal alasan mau ngeles.


Sora gak mau percaya gitu aja dong, segera mendekati Zainal lalu mengendus-endus. "Enggak kok, gak bau. Kan ruangan AC gak mungkin keringatan." Tangan kecilnya meraba-raba di tubuh Zainal bagian punggung sampai dada. "Enggak ada basah, tuh!"


Alamak!


Zainal memandang Sabit, maaf ya abang ipar itulah maksud tatapannya. "Jadi Sora mau dicium neh?" Senyum Zai pada Sora gak bisa ngelak lagi.


"Iya, kan dah janji." Kata Sora bersungguh-sungguh.


Posisi Zai duduk di depan satu mesin yang belum selesai dipasang, Sora berdiri di sampingnya nyender di paha. "Baiklah, kemarikan pipinya." Zainal memonyongkan mulutnya. Sora menangkup kedua pipi, cup! Mencium bibirnya.


Astaga! Sabit mendelik, melihat kemesraan dua orang di depannya.

__ADS_1


Hihihihi! Gak tahan Pedro terkikik, cemburu melihat bocil seagresif Soraya. Andai Lucita juga begitu, alangkah senangnya. "What a lucky guy, yar!" Senyum nya pada Zainal


Zainal juga gak kuku, segera melepaskan bibirnya. Walau bagaimanapun dia lelaki normal. "Hah! Masih bocil Man, gak bisa ngapa-ngapain." Zainal malu merasa dirinya pedopil.


Hahaha, tawa Pedro.


"Kan tadi bilang pipi, ngapa jadi bibir?" tanya Zainal beralih ke Sora, kelihatan gak puas dengan ciumannya.


"Pipi juga mau," jawab Sora serius gantian memonyongkan mulutnya.


"Oh, my...kalian jangan iri ya." Ledek Zai pada dua pria jomblo. Pedro dengan tatapan gelinya, Sabit dengan pandangan kekinya.


Jadilah Zainal menyerahkan wajahnya pada Sora. Cup! Cium pipi yang kiri. Cup! Cium pipi yang kanan.


Cup! Gantian Zai mencium kening Sora. "Bonus," katanya. Hehe, Sora tersenyum bahagia.


Hah! Sabit tepuk jidat sementara Pedro mengurut dada.


"Sora!" Suara Dwi dari lantai bawah.


"Iya, ini mau turun!" jawab Sora, sekarang perutnya baru terasa minta diisi. "Sora sarapan dulu ya Om, ntar datang lagi bantuin Om Ze."


"Oke," senyum si Zai terpaksa, merasa miris dengan nasib percintaannya.


Dengan perasaan lega bercampur haru, Sora cabut keluar dari bengkel dengan perasaan lapar buaanget!


"Kenapa harus bocil sih thor, kasi yang seumuran dong!" Ketus Zainal tiba-tiba pada Othor.


Oh! Othor kaget dong, gak nyangka si Zai akan protes. "Sabarlah Zai! Bocil juga bisa tumbuh jadi remaja cantik, kan." Jawab othor jadi gak enak hati.


"Ah lama, keburu Laras nambah anak lagi!" Zainal tambah kesal, "gimana bisa move on kalau gini!"


"Maaf Zai, nikmati aja dulu yang ada ya. Please understand me," mohon othor nada bersalah.


Cis! Percuma bicara sama othor, dengus dalam hati Zainal kembali konsen pada mesinnya.


Hah! Desah othor sedih.


***tbc.


Kalau tap like pastikan berubah warna ya guys, soalnya ada notif tapi gak ke publish.

__ADS_1


Terimakasih, jumpa lagi.


__ADS_2