
Di ruang Spa, selesai scrub body lulur Alisha meminta Salma menunggu Samsir di balkon, di luar kamar yang dekat dengan ruang sholat untuk menandatangani kontrak kerja sementara Alisha masih harus menjalani serangkaian perawatan tubuh lainnya.
Sambil menunggu Samsir, Salma melihat-lihat ke bawah, ia sangat takjub dengan keindahan kebun bunga rumah besar Wijaya.
Ada hasrat ingin bekerja di sini walaupun hanya jadi pelayan asalkan ia bisa bertemu putrinya entah itu seminggu sekali cukuplah, tidak harus kontrak dua tahun di Mansion reklamasi kota mandiri gak bisa ke mana-mana.
Apa kabar Sora di panti? Melihat kenakalan nya, sepertinya ibu panti akan sakit kepala dibuat nya,
Dalam hati Salma dilema, melihat layar ponselnya ada gambar Sora putri kecilnya. Tak terasa air mata rindu mengalir di pipinya.
"Apa yang membuat anda begitu sedih?"
Suara Samsir mengejutkan Salma, buru-buru ia menutup ponselnya dan menghapus air matanya.
"Akh tidak apa-apa, maaf."
"Saya Samsir, asisten pribadi Nyonya besar merangkap supir hehe."
Samsir berusaha melucu siapa tau gadis ini terhibur lalu mengulurkan tangannya, Salma menerima uluran tangan Samsir.
"Salma." ucap Salma menyebutkan namanya.
"Silahkan di baca dulu baru ditanda tangani."
Samsir memberi Salma satu map berisi berkas kontrak kerja dan sebuah ballpoint kemudian meninggalkan Salma sendirian di balkon, ia sendiri kembali ke urusan nya yang lain.
*
Di kamar Yudi
Setelah memakaikan baju Sora, menyisir rambut dan memoles bedak di wajahnya, Laras meminta Sora menunggu di sofa sambil bermain game di ponselnya dan menonton TV, memberikan nya juga cemilan snack keripik kentang rumput laut.
Yudi belum selesai mandi, di ruang tidur Laras membereskan kasur. Berhubung ini hari minggu sekalian Laras menggantinya dengan yang bersih.
Yudi keluar dari kamar mandi, biasalah handuk-an. Ia kepikiran membaca Laras lalu menarik nafas dalam.
Karena Laras sudah pernah bertemu Suganda dan mereka saling mengenal, akan lebih mudah menjelaskan nya nanti.
Dalam hati Yudi sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil, tatapan nya pada Laras yang menungging di atas kasur merapikan sprei, bantal, guling dan melipat selimut.
Celana bawahan piyama Laras yang pendek terangkat menampakkan pangkal pahanya dan garis cd nya yang ngecap di bokong Laras yang megal-megol, Yudi menelan liurnya.
Sudah tau diburu waktu masih lihat pemandangan begini.
Dalam hatinya namun tak jua mengalihkan pandangan nya, terbayang betapa manisnya air yang keluar dari lembah itu Yudi jadi haus kepingin minum, hm.
Selesai membereskan tempat tidur, Laras mengumpulkan sprei bekas, sarung bantal dan guling tanpa memperdulikan Yudi.
Saat Laras hendak membawa kain kotor itu keluar, Yudi menahan nya. Sprei bekas dan sarung bantal guling jatuh di lantai, kala Yudi menyentak Laras ke arahnya mendekatkan tubuh mereka hingga tak berjarak.
Yudi meraih dagu Laras mendaratkan satu luma tan yang cukup kencang di bibirnya. Laras gelagapan menarik wajahnya, melihat ke pintu ruang tidur yang terbuka di mana ada Sora duduk di sofa, hah! Untung saja anak itu membelakangi mereka.
Yudi masih menahan tubuhnya, "Laras." desis Yudi suara berat menarik wajah Laras kembali menghadap nya.
"Ha." Laras mendesah menghindari tatapan Yudi menarik dirinya memberi jarak antara mereka, menolak secara halus.
Yudi menarik Laras ke sisi dinding samping jauh dari pandangan Sora agar tidak melihat mereka, siapa tau anak itu tiba-tiba berbalik badan lalu meraih tengkuk Laras dan melu mat bibirnya dalam dengan penuh perasaan semakin mengeratkan pelukannya di pinggang Laras.
Sehingga Laras sesak nafas baru Yudi melepaskan pagutan nya dengan masih mengecup-ngecup ringan.
"Aku juga belum tau apa sebenarnya yang terjadi ini, jadi aku belum bisa menjelaskan apa-apa. Aku sendiri juga bingung, aku harap kamu bisa bersabar tetap setia di sampingku." desis Yudi dengan nafas masih memburu sambil mengusap bibir Laras yang basah.
"Hm." Laras mengangguk juga mengatur nafasnya.
__ADS_1
"Tapi kamu jangan terlalu pasrah Laras, membantah lah kalau ada yang tidak berkenan di hatimu." ujar Yudi.
"Iya nanti kalau ada." jawab Laras menarik tubuhnya lagi namun lagi-lagi Yudi menahan nya dan menekan tubuhnya.
Apalagi, bukannya mau ambil sampel ya.
Dalam hati Laras risih banget karena berciuman tadi handuk Yudi melorot membuat dirinya gak nyaman dengan benda yang mengacung menyesak di perutnya, gimana kalau Sora tiba-tiba masuk melihat Yudi polos tanpa sehelai benang.
"Bukankah sudah ditunggu dokter di halaman utama." Laras suara ketus namun pelan agar tidak didengar Sora, karena Yudi tak kunjung melepaskan nya.
"Asal kamu tau, aku tidak perduli dengan test itu. Karena aku percaya dan yakin hanya kamu perempuan yang aku gauli seumur hidupku juga baru kali ini pertama. Aku memang punya mantan lima belas tahun yang lalu namun berciuman saja aku tidak ingat pernah melakukan nya." jelas Yudi.
"Iya, aku percaya. Apa ada waktu untuk ini sementara dokter sedang menunggu mu dan Sora." ujar Laras nada gelisah.
"Hm, biarkan saja gak jadi ambil juga tidak apa-apa, aku ingin kau percaya padaku yang sekarang dan masa depan kita."
"Terus, sekarang mau kamu apa?" tanya Laras suara sedikit keras gak ngerti apa maksudnya Yudi bertelanjang di depannya.
Tanpa pikir panjang, Yudi meraih handuk membalut di pinggangnya. "Ayo ikut, aku haus!" Yudi suara tegas menyeret Laras ke kamar mandi.
Haus ya ke dapur ada air minum, ngapain ke kamar mandi? Apa mau minum air keran.
Dalam hati Laras bingung, jangan bilang mau, ah! Seperti dugaan Laras, di kamar mandi Yudi mengunci pintu mengangkat nya ke meja toilet.
Tingginya pas sepinggul Yudi, lalu ia melepas bahan yang menutup bagian bawah Laras, mengangkat tungkai melebar di meja toilet sehingga lembah terpampang nyata di depan mata.
Lalu Yudi menghidupkan air di wastafel menampung air dengan tangannya membasuh lembah, menggosok nya perlahan mempermainkan jemarinya. Jakunnya menggulung tak tahan melihat keindahan di depannya.
Tubuh Laras terasa terbakar merasakan sensasi tangan Yudi, tungkainya gemetar begitu juga perutnya bergetar.
"Lepaskan baju atasan kamu Laras." desis Yudi namun Laras bergeming tak bisa berbuat apa-apa tubuhnya lemas, tangannya terulur meraih wajah Yudi menatap dengan sayu.
Hm, Yudi menunduk membenamkan wajahnya di lembah, menghisap manisnya air seperti orang haus habis lari maraton Yudi menenggaknya.
Memancing lagi air keluar dengan menyedot di kedalaman lembah dengan lidahnya sampai dahaganya puas baru kemudian Yudi melepasnya.
Yudi memandang Laras tatapan bernafsu lalu ia membenamkan bagian tersensitif dirinya yang sudah meronta-ronta memohon gantian minta giliran agar diberi kesempatan berkubang di air lembah.
Tangannya terulur membuka atasan Laras sehingga polos sama seperti dirinya sambil mengayun pinggulnya.
Laras menggelinjang memeluk di leher Yudi menahan goncangan dan hentakan, tidak ingin desahannya keluar Laras membenamkan wajahnya di leher Yudi menghisap dengan bibirnya, mungkin akan ada bercak merah nantinya, ya sudahlah bukan urusan ku dalam hati Laras.
Di ruang tidur ponsel Yudi menjerit-jerit memekak di telinga Sora, melihat ke kamar tidak ada orang lalu ia turun dari sofa ingin melihat siapa yang nelpon, itu ponsel berisik banget.
Di kamar mandi Yudi memeluk pinggang dengan satu tangan menahan bokong Laras sambil terus bergerak-gerak, pinggulnya menjauh mendekat menjauh mendekat, sampai pada satu titik di mana ia merasakan sesuatu memaksa ingin keluar dari tubuhnya Yudi memacu dirinya, ah!
Tungkai Laras terkulai jatuh menggantung, tubuhnya benar-bener lemas mulutnya terbuka ngos-ngosan.
Yudi menahan dengan tubuhnya memeluk Laras menyatukan dada mereka mengusap-usap punggungnya.
"Ayah Yudi, tok tok tok ada telepon?"
Panggil Sora mengetuk pintu kamar mandi, Yudi menoleh ke pintu sementara Laras sudah tidak sanggup lagi bergerak.
"Ayah Yudi! Mama Laras tok tok tok!" jerit Sora lagi.
Karena tidak ada jawaban, "Hallo ini siapa?" Sora menjawab telepon.
"Ini Samsir, ayah Yudi kemana kenapa kamu yang jawab telepon......" suara di ujung panggilan.
"Samsir, Ayah Yudi di kamar mandi Mama Laras juga." jawab Sora.
Di dalam kamar mandi, masih dalam penyatuan Yudi mengangkat Laras ke bawah Shower dan menghidupkan keran. Menurunkan Laras lalu melepas penyatuan sejenak menahan nya.
__ADS_1
Laras menyandar di dinding menahan tubuhnya jangan jatuh, hah! Menjeling ke arah Yudi merengut.
"Mandilah, aku keluar dulu."
Bisik Yudi di telinga Laras setelah membasuh tubuhnya ia mengambil handuk membalut pinggangnya ingin keluar dari kamar mandi.
*
Di halaman utama di dalam mobil box, Daniel menggerutu Yudi tak kunjung muncul-muncul sebentar lagi ia ada jadwal penting klien papan atas istri orang nomor dua terkaya di ibu kota.
"Samsir, kenapa Yudi belum keluar juga?" tanya Daniel gak sabar pada Samsir, Samsir yang bertelepon tak jauh dari mobil box menggeleng.
"Kata Sora ayah Yudi di kamar mandi bersama mama Laras juga." jawab Samsir keras-keras.
Semua yang mendengar mulai dari asisten Daniel, satuan pengaman, bahkan pelayan tertawa, ada yang terbahak-bahak ada yang mesem-mesem.
"Hais, huh!" Daniel mengeluh.
"Lima belas menit gak datang kita tinggal." perintah Daniel pada asisten nya.
*
Di kamar Yudi.
Cklekk.
Yudi keluar dari kamar mandi. "Nah ayah telepon dari Samsir." Sora memberi Yudi ponselnya.
"Pegang dulu."
Jawab Yudi gerak cepat berpakaian seadanya segera membopong Sora keluar kamar berjalan cepat menuju halaman utama.
*
Di kamarnya Bram berbantal lengan Kiara, setelah penyatuan ia tersenyum sumringah mengecup ujung bukit istrinya dan menciuminya dengan lembut.
Cis, Kiara mengusap rambut kepala Bram geram pengen jambak, "Tadi aja sok marah sudah dikasi cengengesan." Kiara mencebik.
Hehe, "Biar begitu kamu jangan makan pedas lagi sayang, efeknya bukan sekarang tapi nanti saat kamu usia tiga puluhan."
Bram menganti posisi gantian Kiara berbantal lengannya.
"Sekali-sekali bolehkan." ujar Kiara membenamkan wajahnya di dada suaminya.
"Tidak boleh Kiara, jangan kata ku jangan membantah!" Bram suara tegas.
Cih, Kiara melengos berbalik badan, Bram semakin geram menciumi tengkuk istrinya.
"Sanalah, aku benci padamu." sentak Kiara merajuk.
Bram bangun, membuat urutan di tubuh Kiara yang tengkurap, dari kening tengkuk turun ke pundak terus ke pinggang manjat ke bokong.
Enak banget gak nyangka Bram pandai mengurut, ah.
Dalam hati Kiara lalu memejamkan matanya, cis.
Plak!
Bram menepuk bokong geram.
*
Hi, pembaca yang Budiman. Ikutin Tuan muda romantis ya. Like vote serta hadiahnya author ucapkan terima kasih banyak.
__ADS_1
Jumpa lagi episode selanjutnya. 🙏