
Kemudian Bram menurunkan Kiara, mengurai pelukan dan mengusap wajah gadisnya yang pucat dan basah air mata.
Kiara mengusap bibir Bram yang berdarah kemudian berjinjit mengecupnya.
"Masuk ke dalam Kiara, kalian mau pamer kemesraan di sini!" sergah Beno.
Para pengawal rumah Beno yang semula tegang sekarang geleng kepala melihat kelakuan dua anak manusia yang dimabuk asmara itu, pada baper melihat drama romantis langsung di depan mata.
Cuma Dwi dan Lucita yang merasa mual dan mau muntah.
Bram menggendong Kiara ala bridal membawa masuk ke rumah Beno. Kiara mengusap bibir Bram yang pecah tapi sudah tidak berdarah.
Mereka duduk di sofa. Dwi mengawasi dari ruang makan, sekalian ia membantu Lucita menyiapkan meja karena sebentar lagi mau makan siang.
"Maafkan aku Kiara?" ucap Bram mengusap pipi Kiara.
"Tidak apa-apa Ka Bram gak salah, lain kali aku akan jaga jarak sama Beno." bisik Kiara di telinga Bram takut kedengaran Beno.
Bram kegelian saat bibir Kiara menyentuh daun telinganya, ingin menerkam ini rumah orang. Sabar Bram.
"Sayang menikahlah denganku?" pinta Bram.
Kiara mengerutkan dahinya.
"Melamarlah yang benar, mana cincin dan bunga?" ujar Kiara mengulurkan jemarinya.
"Haha ha." Bram tertawa menjentikkan jarinya di hidung Kiara. "I love you Kiara."
"I love you too, Bram." jawab Kiara.
"Sayang, Kita ke rumah besar sekarang, aku gak tahan lagi berjauhan denganmu. Kamu mau kan kita menikah saat empat puluh hari Papa dan Om Burhan? Setelah itu kita umumkan dengan pesta yang meriah." ujar Bram, jemarinya mengelus-elus anak rambut di kening gadisnya.
"Bagaimana dengan Evita?" tanya Kiara.
"Bagaimana dengan luka lututnya, apa sudah kering?" tanya Bram pura-pura gak dengar mengalihkan pembicaraan.
******
Masih di kediaman Beno.
Sebelum masuk ke rumahnya, Beno menerima laporan melalui telepon. Raharja telah berhasil ditekan, polisi sedang menuju rumahnya untuk mencari ruang rahasia yang dimaksud Yudi.
Saat memindai otak Bryen, Yudi teringat bahwa di Mansion Raharja ada ruang rahasia, ia segera memberi tahu detektif.
Yudi yang tak jauh dari Beno berdiri tak lupa memindai lokasi sejauh batas memindainya. Sekalian ia memindai otak Beno.
Saat Yudi tau Beno berencana mau menghancurkan Raharja, ia pun bernapas lega. Tidak perlu mengotori tangannya untuk membalas dendam atas kematian Tuan besarnya.
Selesai bertelepon Beno menoleh menatap Yudi yang tak jauh berdiri darinya.
__ADS_1
Ada yang aneh dengan orang ini. Dalam hati Beno.
Yudi tersenyum tawar jakunnya bergulung. Terintimidasi dengan wibawa Beno kemudian ia menunduk memberi hormat pada Beno.
Dengan tatapan dingin Beno masuk ke rumahnya. Di ruang tengah Beno melihat Kiara dan Bram saling bergenggaman tangan, senyum-senyum berdua.
Kelihatan Kiara sangat bahagia. Beno jadi tidak tega menghancurkan si Tuan muda Wijaya sudah pasti Kiwawa akan membencinya, hah!
Melihat Beno masuk ke ruang tengah, Bram berdiri memberi hormat.
"Ka Beno, Bram minta maaf telah membuat kekacauan di rumah Ka Beno, mengenai tembok yang berlubang biar Bram yang akan menambalnya." ucap Bram.
Ka Beno, ih! Beno jadi geli mendengarnya. "Sejak kapan saya jadi kakak anda?" tanya Beno ketus.
"Ya, sejak sekarang saja." jawab Bram dengan pedenya.
Kiara mencubit pinggang Bram. "Beno, aku akan ke rumah besar ikut Ka Bram." ujarnya tersenyum.
"Asal kamu bahagia Kiara. Kalau si kunyuk ini menyakiti kamu, bilang! Dengan senang hati aku akan menghabisinya."
Gleg. Bram menelan ludahnya.
"Tuan Beno, Kiara dan saya akan menikah besok malam saat empat puluh hari Papa dan Om Burhan ayah Kiara, di rumah besar. Saya harap anda bisa ikut jadi saksinya." lanjut Bram.
Beno menarik napas dalam, jadi saksi?
"Tapi saya maunya jadi mempelai." ujar Beno memandang Bram tajam.
"Untuk itu anda harus membunuh saya dulu." jawab Bram menantang.
Beno memandang Kiara.
"Bagaimana Kiara, dia minta aku membunuhnya?" tanya Beno meminta pendapat Kiara pura-pura serius.
Kemudian Kiara melingkarkan tangannya di pinggang Bram.
"Kalau mau, kamu boleh membunuh kami berdua." jawab Kiara menyembunyikan wajahnya di dada Bram.
Bram memeluk kepala Kiara di dadanya, mendaratkan bibirnya di pucuk kepala gadis itu. Tersenyum licik dengan penuh kemenangan menatap Beno.
Cih, Beno tak berdaya tapi sudah tidak kecewa. "Pergilah setelah makan siang." ujarnya meninggalkan Bram dan Kiara masuk ke dalam kamarnya.
Dwi memandang mereka dari ruang makan hanya diam saja. Siapapun di antara mereka ini yang jadi menantunya yang penting baginya adalah kebahagiaan Kiara.
Bram memandang Dwi tersenyum hambar. Siap-siap, kalau-kalau Dwi mau memarahinya.
Tapi Dwi tidak berkata apa-apa, pergi menuju dapur membantu Lucita menyiapkan makan siang.
"Sayang." ujar Bram tersenyum senang memeluk Kiara sayang. Mereka duduk di sofa pandang-pandangan sambil menunggu waktunya makan siang.
__ADS_1
Di halaman Rumah Beno, Yudi mendapat telepon dari Alisha, "Bagaimana, kapan Kiara dibawa ke rumah besar?"
"Nyonya, Tuan muda sedang bersama Nona. Habis makan siang akan ke rumah besar." jawab Yudi.
"Baiklah Yudi, pastikan Kiara ikut ya." ujar Alisha memutus sambungan.
*****
Saat makan siang berjalan tertib, Beno mengambil tempat di ujung meja.
Di sebelah kiri Beno ada Bram, di sampingnya ada Kiara setelahnya ada ibu Dwi.
Di sebelah kanan Beno ada Yudi satu barisan dengan Lucita di sampingnya.
Bram mengambilkan nasi dan lauk pauk buat Kiara.
"Makan yang banyak sayang." ujar Bram lembut mendayu.
Kemudian menyuapi Kiara.
"Ka, biar aku makan sendiri saja." ujar Kiara malu-malu.
"Diamlah sayang, buka mulutnya, aa." paksa Bram menyendok makanan ke mulut Kiara. Mau gak mau Kiara menerima suapan Bram dengan wajah malunya.
"Ka Bram juga makan." Kiara mengambil sendok Bram dan gantian menyuapinya, "aaa." Jadilah mereka suap-suapan.
Semua orang yang di meja makan jadi enek melihatnya, terpaksa harus minum air agar makanan bisa lewat di kerongkongan mereka.
Saat makan Kiara memandang Yudi dan Lucita yang ada di sebrang meja bergantian. Sepertinya seru juga jika mereka bisa bersama, dalam hatinya.
"Sayang, ada apa kamu melirik Yudi?" tanya Bram memberi Kiara lauk tambah.
Ups, Kiara terkesiap. Sudah tau Bramnya cemburuan, ah. Kiara hanya bisa memamerkan giginya menerima suapan Bram di mulutnya.
Cis, Yudi mendengus dengan kecemburuan Bram lalu memindai otak Kiara.
Apa sih yang dipikirkannya, dalam hati Yudi.
"Uhuk, uhuk." kemudian terbatuk-batuk setelah mengetahui isinya.
"Kalian makan berisik sekali!" sentak Beno bersuara.
Semua kembali konsen dengan makanannya. Bahkan Bram aja takut mendengarnya, 'cih.' hanya berani mendengus di dalam hati saja.
Kemudian Yudi iseng memindai otak Lucita. Seketika hatinya menciut. Bela diri Lucita sangat mumpuni. Yudi takut kalau jadi suaminya, salah sedikit bisa-bisa langsung digepreknya.
Ah enggaklah, kalau ada perempuan biasa aja, dalam hati Yudi.
*****tbc.
__ADS_1
hi, dukung dengan Like dan vote ya. Klik ❤️ biar terus terupdate ya guys. jumpa lagi di bab berikutnya. 🙏