
Kiara bergeming, ia duduk di sebelah Bram. Bram menggantung kakinya di satu kaki yang lain, memeluk Kiara di bahunya.
"Aku merindukanmu." Bram meremas benda kerinduannya.
Ah, jadi yang dirindukannya benda ini bukan aku, dalam hati Kiara kesal.
Bram membuka satu persatu kancing kemeja denim yang dipakai Kiara. Darahnya berdesir, saat hendak mengeluarkan benda kenyal itu suara ponsel berbunyi. Ponsel milik Kiara.
"Siapa itu yang nelpon, suara ponselmu berisik sekali seperti orang budek." tanya Bram kesal sedikit emosi.
Kiara menepis tangan Bram di dadanya yang terbuka dan merogoh tasnya.
"Laras, tadi kami janjian mau jumpa di warung sate." ujar Kiara menunjukkan layar ponselnya.
"Angkatlah, katakan lain kali saja kita akan ke suatu tempat."
"Setelah membatalkan janjinya dengan Laras, Kiara meletakkan ponselnya di meja. Sohibnya itu berhenti nyerocos setelah ia berjanji akan mentraktirnya.
Bram meraih ponsel Kiara membuka aplikasi taksi online dan mengetik satu alamat dan membuat pesanan. Ia meletakkan kembali ponsel di meja, menarik Kiara duduk di pangkuannya. Kali ini Kiara nurut.
"Coba lihat kuku kamu, dari tadi cubitanmu seperti capit kepiting."
Kiara tergelak melihat wajah Bram menatap ngeri pada kuku-kukunya yang sedikit panjang, "apa sakit?" tanya Kiara bodoh.
"Hm", Bram mengangguk imut.
"Bram aku rindu padamu", desis Kiara menangkup wajah dan mencium pipi sok imut Bram kilas.
"Hm", Bram melirik di bawah dagunya.
"Menyadari arah tatapan Bram, Kiara mendekap wajah Bram di dadanya, menekan sedikit kencang kepala bayi kolot itu.
"Umph sayang aku gak bisa napas" erang Bram dengan nafas ngap-ngapain.
Kiara melepas dekapannya. "Memang rencananya aku mau membunuhmu." tangan Kiara mencekik di leher Bram.
"Ha!" Bram menatap ngeri menelan salivanya.
Ponsel Kiara berbunyi lagi taksi online telah menunggu di depan rumah, Bram membenahi kancing kemeja Kiara yang tadi dibukanya. "Ayo", ajaknya menurunkan Kiara dari pangkuannya.
"Kemana?" tanya Kiara.
"Ikut aja." jawab Bram.
Setelah memastikan kompor dan listrik sudah aman, Kiara mengunci pintu rumahnya. Pada ibunya ia permisi akan menginap di rumah Laras.
Kata Bram, mereka akan menghabiskan malam ini berdua gak tidur.
Berdua gak tidur lebih seram dari pada tidur berdua, batin Kiara.
Semula Kiara ingin membahas tentang pernikahan Bram tapi diurungkannya. Malam ini Bram adalah miliknya jadi jangan merusak suasana.
__ADS_1
Setelah satu jam mereka tiba di sebuah rumah yang besar, rumah ini sedikit jauh dari perumahan lainnya agak terpencil.
Turun dari taksi Kiara meremas jemari Bram, suasana yang sunyi ditambah maghrib mulai gelap membuat aura mencekam bagi Kiara.
Bram berjalan menggandeng Kiara, pintu terbuka dan lampu menyala otomatis. Beberapa perabotan terbungkus kain putih.
Ini menyeramkan. Kiara bergidik, seolah-olah ada makhluk pucat yang bisa keluar kapan saja menghisap darahnya.
"Jangan takut." Bram memeluk Kiara, mencium bibirnya.
Kiara kaget, "umph ini rumah siapa?" tanya Kiara melepaskan ciuman Bram.
"Rumah Kakek." Bram kembali mencium Kiara menjelajah turun ke lehernya.
"Sepi tak berpenghuni."
Ahh, Vampir ini menggigit leherku.
Mana yang membuat merinding sebuah gambar dengan bingkai besar beberapa orang berpakaian tempo dulu ataukah hisapan Bram di seluruh wajah dan lehernya. "Bram, ayo kita pergi dari sini." ajak Kiara.
"Kenapa? Takut! Aku bahkan belum ngapa-ngapain." bibir dan tangan Bram menjajah tak henti.
Katanya belum ngapa-ngapain, jadi ini apa?
Masih berciuman Bram menggendong Kiara ke lantai atas.
Ciuman Kiara lebih agresif, ditekannya bibir dingin dan basah itu seiring deru nafas berpacu dari dalam dada. Desahan-desahan erotis yang lolos disela-sela hisapan kenikmatan, Kiara menjambak rambut Bram dan mengacak-acaknya mencoba berhenti dari kegilaan ini.
"Gak salah lagi, hihi." Bram terkikik geli padahal ia sudah sangat bernafsu seketika ambyar.
Ciuman terlepas, Bram menatap dingin dan tajam pada gadisnya yang bermain-main setelah menggodanya. Kiara tertawa dan mengusap bekas ciumannya di bibir Bram lembut.
Cup, "Sai-yaang." rayunya pada pria ngambek itu.
Dengan manyun Bram menurunkan Kiara dari gendongannya di depan pintu sebuah kamar di lantai dua. Ia membuka pintu kamar berjalan ke arah tempat tidur dan membuka kain putih penutup spring bed king size itu.
Alas kasur yang indah lengkap dengan bantal, guling dan selimut berbahan halus dan lembut.
"Kita tidur di sini malam ini."
Bram melempar tubuhnya ke kasur membawa Kiara ke pelukannya, Kiara berbantal lengan Bram.
Hah!! Bram lebih menyeramkan dari rumah berhantu.
Mereka berpelukan sesaat hening, saling menahan keributan yang diciptakan oleh debaran jantung masing-masing.
"Bram, ada yang ingin kau katakan?" tanya Kiara memecah kecanggungan di antara mereka, ia mengurai pelukan memandang wajah Bram yang kelihatan berpikir.
Bram menarik napas dalam membuangnya pelan. "Aku hanya ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, hanya dirimu tidak ada yang lain di hatiku."
Bram menyentuh dagu Kiara lembut mengecup bibir mungilnya kilas. "Aku tidak ingin dimiliki siapapun, hanya kamu yang berhak atas cinta dan tubuhku." lanjutnya mengusap punggung Kiara.
__ADS_1
Jadi siapa yang mau nikah minggu depan, batin Kiara.
"Walaupun kita menempuh jalan yang sulit tetaplah di sisiku jangan jauh dariku apalagi meninggalkanku." direngkuhnya tubuh mungil Kiara menempel di tubuhnya, Bram mengecup puncak kepala gadisnya.
Mudah bagimu susah bagiku, batin Kiara lagi
Bram mengangkat dagu Kiara lagi mendaratkan bibirnya di kening, mata, pipi, hidung dan terakhir dibibir Kiara, cup.
"Maukah kau berjanji." tanya Bram mencubit pipi gadis itu dengan gemas.
Kiara terdiam.
Mana mungkin ia akan berjanji seperti itu, lebih baik ia minta aku melupakannya. Walau sulit akan kulakukan dari pada jadi orang ketiga dalam rumah tangganya. Kejam sekali si mesum ini.
Cup.
"Kenapa diam? Berjanjilah kau hanya milikku, akan kupastikan aku hanya milikmu." Bram menyeringai di dalam hatinya, apa Kiara akan termakan bujuk rayunya?
"Terang bulan terang di kali buaya timbul disangka mati." oceh Kiara.
Bilang tidak juga gak mungkin pasti kau akan memaksaku, lanjut Kiara dalam hati.
"Apa itu bulan di kali buaya mati?" tanya Bram mengernyitkan dahi.
"Gapa, ia aku janji." ucap Kiara tersenyum tawar.
Kenapa aku yang harus janji ada yang tau, dalam hati Kiara.
"Buktikanlah." Bram menatap tepat ke manik Kiara.
Ini sedikit lagi batinnya.
"Bagaimana?" tanya Kiara menelan salivanya.
Masih bertanya, hah! Sudah jelas aku tau arah pembicaraannya.
"Benar kamu tidak tau?" tanya Bram sinis.
"Iya, bagaimana membuktikannya?"
Kiara menatap nanar menangkap sinyal bahaya dari niatan Bram.
"Berjanjilah bahwa cinta dan tubuh kita akan menyatu malam ini." Bram menanti dengan berdebar apa gombalannya kemakan.
Gedek, walau sudah menduga maksud Bram tetap saja Kiara terperangah.
"Apa Ka Bram bawa pengaman? "
Ahh, dia tidak benar-benar ingin melakukannya kan.
****tbc
__ADS_1
Enjoy reading, mohon dukungnya dengan like dan vote ya guys. thanks🙏