
Sesampai di ruang Kerja Yudi menunduk hormat pada Alisha dan Bram.
Saat Yudi melihat Dwi juga ada di ruang kerja, ia pun menunduk hormat merasa bersalah karena tidak bekerja dengan baik menjaga Kiara.
Seketika Yudi langsung memindai otak Alisha ada sebuah gambar rumah asing yang sangat besar dan mewah, boleh di katakan sebuah Mansion baru.
Rumah siapa ini, apa Kiara disembunyikan di rumah ini?
Dalam hati Yudi, kemudian ia menatap Bram memberi kode untuk mengikutinya keluar dari ruang kerja.
Saat masih di depan pintu, "Yudi", terdengar suara lemah Alisha memanggil yang masih bisa didengar Yudi dan Bram. Reflek keduanya berbalik badan menghadap Alisha saling berpandangan.
Seketika Yudi mengambil posisi berdiri tegak gerak, "Siap Nyonya!" ujar Yudi menunduk menghormat pada Alisha.
"Saya harap kamu berpihak pada saya sekarang, saya mewakili Tuan besar memerintah kamu!" ujar Alisha tegas dengan sorot mata yang dingin.
"Mama!" lagi-lagi Bram teriak pada mamanya, ah!
"Diam kamu Bram! Kamu sudah tidak ada rasa hormat lagi pada Mama, apa kamu mau jadi anak durhaka?! Mama kepala rumah tangga jadi kamu harus ikut perintah Mama!"
"Ouughh, shit!"
Wajah Bram merah padam menahan marah pada mamanya, tangannya mengepal. Emosinya sudah sampai di ubun-ubun kemudian berjalan ke meja kerja papanya menyapu semua benda yang ada di atasnya ,
Krumpyaaangg!
Hancur berantakan semua barang terjun bebas ke lantai. Semua makhluk yang bernyawa di ruangan itu terkejut, tidak terkecuali cicak dan kecoak.
Yudi merasa dilema seperti makan buah simalakama. Dimakan mati emak gak dimakan mati bapak, ah.
Dwi yang sudah sangat khawatir dengan keadaan Kiara maju bicara.
"Mbak, tolong kembalikan Kiara pada saya, saya akan membawanya jauh dari kehidupan Nak Bram dan juga dari keluarga Wijaya selama-lamanya." Mohon Dwi berlutut pada Alisha dengan berurai air mata.
Seketika Alisha kaget langsung berdiri membawa Dwi juga ikut berdiri.
"Ayo ikut ke kamar saya." ujar Alisha lembut menggenggam tangan Dwi.
Sebelum keluar dengan wajah tegas sebagai seorang ibu Alisha menunjuk pada Bram.
"Kamu, jangan kemana-mana sampai tanggal menikah!" tegas Alisha kemudian keluar dari ruang kerja berdua dengan Dwi menuju kamarnya. Melangkah berhati-hati jangan sampai menginjak benda-benda yang berserakan di lantai.
Bram terpaku dan Yudi tertunduk di tempatnya. Serta merta Bram menghampiri Yudi menghajarnya dengan kalap, menendang-nendang kakinya dengan lututnya bertubi-tubi.
Yudi bergeming menerima semua kekesalan bos kecilnya, baginya tendangan Bram gak ada apa-apanya. Mungkin karena hatinya yang merana jadi tenaganya melemah. Bram duduk terkulai bersimpuh di kaki Yudi.
Bram teriak histeris dengan suara melolong yang sangat memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aarrghhh, aaaaaaaaaaaa...ah!
Bram meringkuk di lantai menangkup kepalanya, gak ada segan nya air mata keluar deras bercucuran jatuh berderai.
__ADS_1
Yudi tak kuasa menahan haru, ia berusaha menahan air matanya jangan sampai keluar. Lebih baik ingusnya yang keluar masuk setidaknya terlihat lebih cool, dari pada Tuan Mudanya yang cengeng.
****
Sesampai di dalam kamarnya Alisha mendapat panggilan dari intelnya, bahwa mobil mereka ditabrak seseorang tak di kenal dan membawa Kiara pergi bersamanya.
Alisha terkejut, tubuhnya menegang. Tangannya yang masih menggenggam jemari Dwi dengan segera dilepaskannya, berjalan menjauhi Dwi.
"Apa maksudnya?" tanya Alisha membentak intelnya kemudian menutup mulutnya menoleh ke arah Dwi yang memandangnya dengan wajah yang tak kalah tegangnya.
intel : "Maap Nyonya sekarang kami berada di rumah sakit babak belur penuh dengan luka-luka." jawab intel.
Alisha : "Apa! Siapa yang melakukan nya? " tanya Alisha mengecilkan suara nya.
Raharja, oh tidak
Dalam hati Alisha, tubuhnya langsung gemetar.
"Apa Kalian ingat wajahnya?" tanya Alisha lagi.
intel : "Mereka memakai masker hitam menutup wajah Nyonya." jawab intel.
Alisha menjadi pucat, ia tidak ada niat mau mencelakakan Kiara. Hanya ingin menahannya saja sampai Bram menikahi Evita.
Sekarang anak itu menghilang. Oh, apa yang harus ku katakan pada Bram dan..
Alisha memandang Dwi dengan perasaan bersalah.
*****
Di tempat lain menjelang pukul 00.00wib.
Seorang pria tampan memandangi wajah Kiara yang sedang tertidur atau tidak sadarkan diri.
Si pria berbaring miring dengan kepalanya yang bertopang pada satu tangannya. Tangan satunya membelai lembut wajah kecil nan imut, kulit halus mulus seperti baby dan mengusap bibir ranumnya yang lembut menekan dengan jempolnya.
Kemudian pria tampan itu mencium bibirnya dan menyesapnya. Rasa rindu yang tidak tertahankan ditambah kecantikan paras gadisnya yang menggiurkan, lama-lama ciumannya semakin menuntut lebih dalam.
"Permisi Tuan Beno, buburnya sudah matang." suara asistennya menyadarkannya.
"Biarkan tetap hangat Lucita." jawabnya tanpa menoleh, tersenyum mengusap bibir basah yang baru dikulum nya. Matanya tak puas-puas memandangi wajah Kiara.
Lucita menunduk kemudian keluar dari kamar Tuannya. Dengan menarik napas dalam Tuan Beno bangun, duduk menyandar di heaboard kasurnya mulai sibuk dengan Laptopnya sesekali mengusap pucuk kepala Kiara.
Gak lama Kiara menggeliat membuka matanya, perlahan pandangannya yang kabur menjadi terang. Dimana ini?
"Kamu sudah bangun Kiwawa?"
Sebuah suara mengejutkan Kiara, seketika ia menoleh pada pria yang duduk di sebelahnya.
"Pak Bernard?" desisnya.
__ADS_1
Kiara bangun dari baringnya, badannya terasa berat.
"Hm." Tuan Beno mau membantu Kiara bangun tapi Kiara menepis tangannya.
"Bagaimana saya ada disini, apa Bapak yang menculik saya?" tanya Kiara ketakutan beringsut menjauhi Tuan Beno.
"Untuk apa aku menculikmu, Kiwawa." ujar Tuan Beno tersenyum dengan manisnya.
Kiwawa!
Bagaimana Bernard tau nama itu, sudah lama sekali Kiara tidak mendengarnya sejak nama itu tak pernah lagi disebut oleh seseorang.
"Aku beri tahu, kamu itu menjadi target pembunuhan Kiwawa. Ada anak perempuan keluarga Mafia yang menginginkan kematian mu!"
"Hah!" Mata Kiara membelalak tapi tidak mengurangi kecantikannya. Tuan Beno semakin terpesona.
"Sebentar, nanti kita bahas."
Ujar Tuan Beno kemudian memencet bel di satu sudut tempat tidurnya. Tak lama Lucita datang dengan buburnya dan dua gelas air, satu air putih dan satunya air teh manis hangat.
"Minum teh hangat dulu."
Dengan lembut Tuan Beno memberi Kiara gelas kecil yang berisi teh berwarna hijau pucat. Kiara menyesap tehnya karena sedikit bisa langsung habis.
"Ini makanlah bubur, biar kamu ada tenaga dan pengaruh obat biusnya segera hilang." ujar Tuan Beno mengambil mangkok teh Kiara dan memberi mangkok lebih besar yang berisi bubur yang beraroma rempah.
Kiara menatap buburnya dan Tuan Beno bergantian. "Apa kamu mau aku suapi seperti kamu waktu kecil dulu Kiwawa." ujar Tuan Beno masih tersenyum sumringah sampai seluruh wajahnya ikut tersenyum.
Kiara menatap Tuan Beno lagi, mengingat-ingat. Setelah diperhatikan lebih lama memang senyuman itu tidak asing dan dia memanggil namanya seperti seseorang dari masa kecilnya.
"Makan buburnya Kiwawa, jangan mandangin aku terus." ujar Tuan Beno mengucek rambut kepala Kiara.
Kiara menyendok bubur ke mulutnya sedikit demi sedikit. Kiara jadi teringat Laras dan Zainal yang nungguin rumahnya.
"Pak Bernard, tas kecil saya di mana?" tanya Kiara menghentikan suapannya.
"Habiskan buburnya dulu, nanti saya berikan tas kamu." ujar Tuan Beno.
Kiara menghabiskan buburnya, ingin bangun menyimpan mangkoknya tapi Tuan Beno menahannya.
"Mau ke mana? Berbaring saja dulu, badan kamu masih lemah karena pengaruh obat bius."
Ujar Tuan Beno mengambil mangkok Kiara dan meletakkannya di nakas kemudian memberi Kiara air putih untuk diminum.
Kiara memandangi Tuan Beno mencari jawaban, kenapa ia bisa berada di sini bersamanya? Padahal tadi jelas-jelas Nyonya Alisha yang menyuruh orang membawanya ke rumah besar.
Dan ibu oh, bagaimana keadaannya?
******tbc
Hi readers, thanks ya. Dukung terus dengan like dan votenya. Klik favorit biar terus terupdate ya guys. 🙏♥️
__ADS_1